JINGGA

JINGGA
93


__ADS_3

“Non masuk ini sudah malam. Udara di luar begitu dingin tak baik untuk kesehatan.” Rayu Susi, yang kini sedang duduk di bawah, memohon pada Nonanya untuk masuk kedalam rumah.


Jingga memang Nyonya dalam rumah itu, tapi hingga saat ini ia masih enggan untuk di panggil Nyonya. Telinganya terlalu risih dengan sebutan kata itu. Jika boleh memilih, ia lebih suka di panggil “Jingga” saja, namun sayangnya semua pelayan tak ada yang mau menyebutnya hanya dengan sebuah nama. Menurut mereka itu tidaklah sopan, meski Jingga, sendiri tak pernah mempermasalahkan, mengingat dia juga dulu seorang pelayan di kediaman Hermawan.


“Non, ayo masuk ini sudah malam” lagi-lagi Susi merayu Nonanya untuk masuk ke dalam rumah.


Diam,


Jingga enggan untuk menjawab ajakan Susi, alih-alih menjawab ia semakin bengong menatap cahaya rembulan malam yang bersinar terang kala itu.


“Non, ini sudah lebih dari jam sepuluh malam. Sebaiknya kita masuk dulu”


Saat ini Jingga, masih berada di taman rumahnya, taman yang terletak di bagian depan pintu gerbang utama. Taman itu di desain khusus oleh Fajar, sebagai hadiah pertama untuk istrinya setelah menikah. Taman di hiasi dengan banyak bunga yang cantik, semuanya terawat dengan begitu indah. Warna putih dan jingga mendominasi taman rumah mereka.


Warna putih sebagai lambang membuka hari dengan kebaikan, sementara warna jingga menggambarkan menutup hari dengan kehangatan. Fajar secara khusus menyiapkan beberapa tenaga kerja hanya untuk merawat taman miliknya.


Tak hanya ada bunga dan beberapa tanaman mahal, taman ini di lengkapi dengan beberapa kursi berbentuk batu dan kayu sebagai pemanis. Lampu-lampu yang saling berkolaborasi dengan manik cahaya semakin mempercantik area tersebut. Jingga kerap kali menghabiskan waktunya di sana, terlebih sejak kepergian Fajar, beberapa hari yang lalu. Ia akan menunggu kepulangan suaminya di sana.


Jingga kembali mendongak menatap cahaya malam. Sesuai dengan yang Susi katakan, jika hari memang sudah terlalu malam, ia juga merasakan jika udara dingin mulai menembus pori-pori kulitnya. Jingga, menghembuskan nafasnya dengan pelan, kemudian bangkit dari tempat dudunya. Ia menyerahkan beberapa novel dalam genggamannya pada Susi.


Kini langkah kakinya mulai masuk ke dalam kamar, tak ada obrolan yang berarti di sana, hingga membuat Susi, kebingungan akan perubahan sikap Jingga yang mendadak menjadi irit berbicara.


“Non, apakah Non Jingga membutuhkan sesuatu?” tawar Susi, yang masih setia bejalan di belakang Nonanya.


Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Non Jingga belum makan, sebaiknya makan dulu ya. Pelayan sudah menyiapkan makanan kesukaan Non Jingga”


Tak ada jawaban.


Lagi-lagi Jingga, hanya menggelengkan kepalanya saja.


“Kamu bisa pergi sekarang, istirahatlah” Jingga menutup paksa pintu kamarnya, ia sama sekali tak ingin di ganggu.

__ADS_1


Malam itu, waktu sudah menunjukan lebih dari jam sepuluh malam, suasana Surabaya juga sedang dingin, mengingat saat itu musim penghujan. Tapi hati Jingga, mengatakan jika ingin berendam malam itu.


Ia mengusap layar ponselnya sejenak, menanti kabar sang suami yang tak kunjung di terima. Lagi-lagi ia menghembuskan nafasnya dengan pelan.


Apakah Mas Fajar, tidak merindukanku di sana. Mas aku menunggumu di sini.


Hatinya bergejolak, membayangkan segenap angan-angan yang tak pasti, Jingga memilih untuk beranjak dari ranjangnya. Berendam adalah salah satu pilihan yang terbaik malam itu sebagai cara untuk merelaksasikan tubuhnya.


Ia mulai menuangkan beberapa aroma terapi di sana.


Hoek...


Perutnya terasa mual tiada terkira, ketika beberapa tetes aroma terapi mulai tertuang dalam bet up nya. Dengan terpaksa Jingga, membuang air dalam bet up tersebut dan mengisinya dengan yang baru.


Hoek...


Rasanya masih sama tidak enak sama sekali, kini tangannya terulur untuk meraih aromaterapi yang biasanya di gunakan Fajar untuk berendam. Perlahan tangan Jingga mulai meneteskan ke dalam genangan air di bathtub.


Hah ini wangi sekali, aku suka dengan bau ini.


Tiga mulut menit berlalu, Jingga masih menikmati berendam dalam bathtub tersebut, hingga ia merasakan sedikit menggigil dan mulai menyudahinya. Ia kembali bangkit menggenakan jubah handuk menuju ranjangnya.


Calling suamiku.


Perlahan tangannya yang basah mulai meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Ia menggeser tombol hijau di sana untuk menerima panggilan masuk. Tak butuh waktu yang lama wajah tampan Fajar, yang menggunakan setelan jas warna hitam lengkap dengan dasinya mulai memenuhi layar ponsel miliknya.


“Sayang, Susi bilang kamu tidak mau makan hari in.” ucap pria yang terlihat tenang dan penuh dengan wibawa.


Jingga diam saja tak memberikan jawaban, ia hanya menunjukan ekpresi wajah yang masam.


“Maaf aku baru sempat menghubungimu malam ini, apa kau baik-baik saja?”


Jingga masih diam saja tak menunjukan suaranya. Sorot matanya menatap langit-langit kamar demi menghindari tatapan dari suaminya.

__ADS_1


“Sayang, maaf aku sungguh lupa. Hari ini banyak sekali urusan yang harus aku selesaikan. Hay cantik lihat mataku”


Perlahan hatinya mulai melunak.


Jingga mulai sedikit menatap layar ponselnya, guratan wajah lelah terpancar di wajah Fajar yang ganteng. Seketika itu juga membuat Jingga, merasa bersalah pada suaminya.


“Tidak apa-apa, hubungi aku saat malam saja. Aku tidak ingin menggangu aktivitas Mas Fajar di sana”


“Aku akan mengusahakan untuk menghubungi di setiap waktu senggang ku” Fajar tersenyum tipis penuh arti pada wanita yang sedang jauh di sana.


“Sayang, makan ya. Aku tak mau kamu sakit”


“Aku tidak selera makan mas” ia menguap, dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Ayolah sayang, aku tidak mau jika saat aku pulang nanti kamu malah sakit” lagi-lagi laki-laki itu memaksa dengan segala caranya.


“Aku tidak mau Mas” Jingga menutup wajahnya dengan bantal.


“Harus makan sayang! Sedikit saja. Aku akan menyuruh pelayan untuk membuat makanan kesukaanmu”


“Aku tidak mau Mas, tolong jangan di paksa. Aku tidak lapar sama sekali. Perutku terasa tidak enak ketika bersentuhan dengan nasi atau jenis makanan yang lain. Semuanya terasa penuh dan begah” Tiba-tiba Jingga menangis tersedu-sedu.


Fajar gelagapan mendapati sikap istrinya yang begitu emosional saat itu.


“Aku tidak butuh makan, aku tidak mau makan!”


“Harus makan!”


“Pokoknya harus!”.


“Jangan memaksa aku tidak mau, mengertilah Mas!. Aku tidak butuh makanan yang aku butuhkan saat ini adalah Mas Fajar di sampingku saat ini, pokoknya aku mau saat ini juga Mas Fajar pulang!” hiks hiks hiks....


Jingga kembali menangis, air matanya meluncur begitu saja. Fajar tak kuasa melihat itu, ingin rasanya meminjam pintu Doraemon saat itu juga dan merengkuh tubuh istrinya membawa dalam dekapan hangatnya.

__ADS_1


“Sayang” Fajar melembut, ia bingung harus berbuat apa untuk menenangkan istrinya.


__ADS_2