JINGGA

JINGGA
179


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Selama masa renovasi nenek Kinan berikut beberapa asisten rumah tangga yang lainnya berpindah tempat ke rumah Jingga dan Fajar. Minggu depan renovasi kediaman Bramantyo telah selesai di lakukan. Jingga dan nenek Kinan berniat untuk mengadakan tasyakuran untuk menempati rumah itu. Mereka ingin mengadakan


pengajian membuang segala kenangan buruk yang ada di sana. Juga melakukan doa untuk almarhum dan almarhumah orang tua Jingga.


Acara di pilih bertepatan dengan hari minggu, agar semua undangan dapat hadir di acara


tersebut. Selain itu hari minggu juga jauh lebih santai karena Fajar, telah terbiasa mengosongkan satu hari untuk keluarganya.


Jingga yang di dampingi nenek Kinan, mulai berjalan kembali menyusuri area dalam rumah.


Hampir sembilan puluh persen ia merubah susunan tata ruang rumah itu. Ia bahkan mengganti semua furnitur yang senagaja di beli oleh Hermawan dan menyerahkan pada siapa saja yang membutuhkan. Jingga akan menyisakan beberapa barang dan tata letak yang di pilih rang tuanya.


Kamar utama dalam rumah itu masih sama. Ia akan memakai kamar orang tuanya sebagai kamarnya nanti. Jingga tak merubah apapun di kamar itu, ia hanya menambahkan beberapa


furniture baru yang sama dengan yang ada sebelumnya.


Sesuai dengan rencana, kamar Jingga yang berada di dekat gudang sudah di sulap menjadi


ruang baca. Terhadap banyak sekali buku-buku yang berjajar rapi di sana. Mulai dari majalah anak-anak, majalah kesehatan. Novel bermacam-macam genre dan juga komik. Tak lupa Jingga menyelipkan beberapa buku bacaan tentang agama di sana. seperti buku tentang kisah-kisah sahabat Rasulullah, tentang tata cara


sholat maupun mendukung lainnya. Ia memberikan penerangan yang luar biasa

__ADS_1


banyaknya pada area tersebut. Berharap siapa saja yang membaca buku di sana akan betah untuk berlama-lama.


Untuk kamar Gendhis. Ia menyiapkan kamar yang bersebelahan dengannya. hal ini bertujuan


untuk mempermudah ketika ingin mengontrol keadaan sang anak saat tertidur. Jingga menghias dengan sedemikian rupa kamar anaknya menjadi kamar impian ketika ia masih kecil. Kamar yang hanya ada dalam bayang-bayang nya saat membersihkan


kamar Dahlia dulu. Kini dengan tangannya dan dengan kekuatan finansial yang di milikinya, ia bisa membuatkan kamar impian untuk Gendhis.


Pagi yang riuh seluruh keluarga tengah bersiap ke rumah Bramantyo, Jingga dan Fajar sudah


di sana bahkan dua hari sebelum acara di mulai. Ia tengah sibuk untuk mempersiapkan semuanya. Jingga menggunakan akan jasa catering dari tempatnya bekerja dulu. Ia sengaja memesan makanan di Resto milik Bu Retno Astuti, selain makanan yang tersedia di sana cukup lengkap dan enak, ia juga ingin menyambung silaturahmi dengan kaan-kawan di sana.


Rumah sudah di bersihkan di tata rapi di setiap sisinya. Nenek Kinan sengaja mengundang


dan menantunya. Bu Nadin dan Oma sudah sibuk sejak tadi. Mereka turut berhamburan untuk menyalami tamu yang datang.


Kalian tanya Gendhis?


Gendhis anteng dalam dekapan Fajar, ia sama sekali tak mau lepas dari gendongan sang


Papa. Bayi kecil itu begitu manja ketika melihat Papanya sedang tidak sibuk dan libur, sudah dapat di pastikan jika Fajar libur maka Gendhis tidak akan pernah lepas dari tangannya.


Beberapa kerabat dan juga tetangga sudah berdatangan dalam acara tasyakuran rumah ini.

__ADS_1


Banyak dari mereka yang dibuat melongo dengan desain baru dari rumah ini. Mereka juga tidak menyangka jika Jingga adalah pemilik yang sebenarnya rumah ini.


Setelah acara ngaji bersama di lakukan maka tibalah acara ramah tamah. Seluruh undangan


di perkenankan untuk makan semua hidangan yang tersedia di sana.Mereka juga mendapatkan bingkisan yang luar biasa banyaknya dari keluarga Jingga. Sesuai dengan janjinya, Jingga akan menggunakan harta kekayaan orang tuanya dalam hal kebaikan. Termasuk dalam sedekah atas nama orang tuanya yang telah meninggal.


Pak Angga, Oma, Nenek Kinan dan juga Bu Nadin sedang sibuk berebut Gendhis untuk


menggendongnya. Terdengar tawa dan suka cita yang menguar hingga menggema mengisi kekosongan rumah nan megah.


Jingga tersenyum dan melihat interaksi yang ada di hadapannya. Sejurus kemudian, ia berjalan ke depan menyaksikan aneka tanaman indah yang ada di sisi kanan rumah. Saat itu waktu mulai beranjak sore. Seluruh undangan sudah kembali ke rumah masing-masing menyisakan doa-doa dan selamat yang telah mereka sematkan untuk


keberkahan dan kebaikan keluarganya.


Terimakasih ya Rab, atas segala limpahan kebaikan dan kasih sayang yang tengah engkau


berikan padaku dan keluarga. Hidupku jauh lebih membaik dari sebelumnya. Aku sangat bahagia ketika bisa berada di lokasi yang aku senang'i bersama dengan orang-orang tercinta.


Terimakasih Mama dan Papa, yang telah memberikanku Nama Jingga, kini aku tahu apa maksud dari pemberian nama dari kalian. Jingga, melambangkan sesuatu yang indah. Jingga hanya akan hadir ketika sore menjelang. Semua orang tanpa terkecuali akan terpesona dengan indahnya pesona warna Jingga. Jingga mengajarkan pada kita semua bahwa mendapatkan sesuatu yang indah dan berharga melalui jalan yang terjal dan dalam waktu lama.


Aku kembali tersenyum ketika mendapati tangan kekar yang melingkar di pinggangku dengan


sempurna. Kecupan manis yang teka berhenti menghujaniku dengan kasih dan sayangnya. Trimakasih Mas Fajar.

__ADS_1


__ADS_2