JINGGA

JINGGA
117


__ADS_3

Sejurus kemudian ia kembali memberikan istrusi.“Hancurkan!!!”


Reza, yang berada di tempat berbeda terdiam, menunggu perintah sang atasan.


“Baik” jawabnya dengan singkat lekas mematikan sambungan telfon yang ada dalam gengamannya. Ia lekas bersiap dan membawa beberapa pasukan yang lainnya dalam misi ini.


Sementara Fajar mulai menyusul Pak Angga kembali ke kamar istrinya, ia membuka pintu kamar ruang rawat dengan cukup pelan sekali, mengigat suasana di dalam sana terlihat sepi. Tubuhnya yang tegap, perlahan mulai masuk ke dalam kamar. Matanya mengedar sekeliling, Pak Angga memberikan intrusi untuk masuk.


“Kami pulang dulu, jaga baik-baik anak dan istrimu” sambung Oma kemudian setengah berbisik dan pergi meninggalkan ruangan Jingga.


Fajar mengangguk patuh tak ingin bersuara, terlebih ketika melihat wajah damai sang istri tertidur dengan pulas. Sungguh hatinya merasa lega sekali saat itu, dari pada harus menyaksikan Jingga merintih kesakitan saat terbangun. Ia tak mengantar keluarga yang lain untuk keluar ruangan. Fajar lebih memilih duduk membersamai istrinya di tepi ranjang.


.


.


.


Satu minggu berlalu, keadaan Jingga sudah mulai membaik, ia sudah di perkenankan untuk kembali ke rumah. Namun kondisinya masih dalam pengawasan. Keluarga Dirgantara, secara khusus membayar beberapa Dokter dan perawat untuk tinggal di rumah mereka demi memantau perkembangan Jingga selama masa pemulihan ini.


Ia tidak bisa melakukan aktivitas yang lebih mengingat harus berada di atas kursi roda. Tentu ini sangat tidak nyaman sekali untuknya. Terlebih ketika hamil Jingga, menjadi kian aktif. Ia sangat tersiksa dengan keadaan yang ada.


Susi, adalah salah satu pelayan yang harus ada di sampingnya, selama hampir dua puluh empat jam. Fajar hanya memberikan waktu Susi, untuk beristirahat saat Jingga berada di dekatnya.


Pagi itu, udara Surabaya berhembus lebih dingin dari biasanya. Jingga yang sedang duduk di atas kasurnya ingin menyapa hawa dingin di luar sana. Pikirannya penat setelah terkurung dalam ruang yang hampa, tanpa warna beberapa hari yang lalu.


“Mas” tangannya yang halus mulai membelai wajah sang suami, menurunkan selimut yang menutupi setengah tubuh Fajar.


Fajar masih terdiam, tak memberikan respon. alih-alih menjawab panggilan Jingga, ia malah menarik kembali selimut yang ada.


“Mas, bangun” ucap Jingga kembali dengan memberikan beberapa kecupan di pipi dan kening Fajar. Seperti biasa ia akan merengek dan mencoba untuk menggoda Fajar sampai pria itu bangun dari tidurnya.

__ADS_1


“Mas” lagi-lagi hal sama di lakukan Jingga, kini jemarinya turut beradu untuk memberikan sentuhan-sentuhan kecil di tubuh Fajar, agar pria itu terbangun dari tidurnya.


“Stttt, jangan nakal. Kau membangunkan yang lain sayang” ucap Fajar dengan mata yang masih terpejam. Satu tangannya meraih tangan Jingga, yang sedang bermain-main di bawah sana.


“Bangun Mas” ucapnya kembali, dengan tangan yang masih meronta untuk menyusuri beberapa area terlarang milik suaminya.


“Sayang, jangan bermain-main di sana. Kau tahu bukan resikonya apa? Sedang kamu sendiri masih terluka” Suara Fajar yang serak khas bangun tidur mulai terdengar, tapi matanya masih tertutup rapat.


“Aku ingin...” Jingga menjeda ucapannya. Sontak ucapan Jingga, seketika dapat membangunkan Fajar, saat itu juga. Pria itu lekas membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia duduk dan menatap lekat wajah sang istri.


“Aku juga pengen sekali, aku akan lakukan dengan pelan. Percayalah” jawab Fajar, dengan menatap mata sang istri. Tatapan mata Fajar begitu mendamba setelah sekian hari berpuasa menahan gejolak yang ada.


“Apa sih mas? Aku tuh pengen jalan-jalan ke luar, mumpung sekarang kan hari minggu. Bosan tau kalau di kurung seperti ini terus” ucap Jingga, dengan melempar satu bantal di wajah Fajar. Ia tersenyum mendapati ekpresi suaminya yang menganga.


Huft “kirain pengen itu” Fajar mendengus kesal. Ia kembali berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.


“Mas, bangun, Aku tuh mau jalan-jalan. Nih anak kita yang minta untuk di ajak keluar”


“Mas ayolah, aku hanya ingin melihat taman yang ada di sekitar komplek ini saya. Aku ingin memberi makan burung-burung di sana” rengek Jingga kembali dengan wajah yang memohon.


“Baik, tapi sebelum memberi makan yang di sana. Beri makan dulu yang di sini” jawab Fajar, dengan tersenyum jahil pada istrinya.


“Ye itu sih mau kamu mas”


“Tapi kamu juga mau kan?” Fajar menaik turunkan alisnya secara bergantian.


Tanpa banyak bicara dan menunggu persetujuan dari sang istri Fajar, lekas menarik lembut Jingga. Membawanya dalam dekapan selimut yang hangat.


“Pelan sayang” bisiknya kemudian.


***

__ADS_1


Kalimantan


Reza beserta rombongan yang lain sudah berada di kalimantan sejak tiga hari yang lalu. Ia datang ke sana demi misi yang di perintahkan oleh Fajar. Setelah sekian hari bergelut mencari keberadaan gudang terbesar penyelundupan barang haram. Di hari ke tiga Reza dan rombongan telah menemukan titik lokasi yang ada.


Dalam jarak yang cukup jauh, terbentang puluhan kilo meter dari sana. Reza menatap langit dari kaca kamarnya yang besar. Tangannya menggenggam ponsel dan mengarahkan tepat di sebelah telinganya.


“Hancurkan!” instruksinya pada beberapa anak buah yang sudah bersiap di gudang sana. Tanpa banyak bicara eksekusi di lakukan. Saat sudah memastikan tak ada manusia yang ada dalam gudang tersebut, suara ledakan kecil terdengar di dalam sana.


Bum....


Kret...kret....


Suara api yang mulai merambat memakan gedung lusuh berisi ratusan ton barang haram di dalamnya. Tak ada korban jiwa di sana, namun sudah dapat di pastikan jika Hermawan beserta keluarganya akan merugi triliun.


Panik.


Suara riuh dari beberapa penjaga gudang tersebut mulai terdengar, mereka gelagapan dengan keadaan yang ada. Reza, mengambil waktu yang tepat, ia melakukan saat penjaga-penjaga itu telah lengah, ketika mereka menikmati makan pagi yang ada di luar gudang.


Tak ada pemadam api yang datang, tentu saja mereka tak punya keberanian untuk memanggilnya. Mereka saling mengambil ember yang ada di sekitarnya, lalu menyiramnya dengan cekatan. Namun sayang kondisi itu tak berimbang dengan besarnya kobaran api yang tercipta.


“Bagus” ucap Fajar yang berada di sebrang sana, ketika melihat vidio yang di kirim Reza padanya. Ia tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


Kau sudah membakar rumah sakit yang tak bersalah sama sekali, rasakan pembalasanku. Ini hanya bagain awal saja. Lihat saja setelah ini aku akan membuatmu jauh lebih malu.


“Lekas kembali, ada tugas lain yang harus kamu selesaikan!”


“Baik Tuan” Jawab Reza dengan segera.


Satu jam berlalu, anak buah Hermawan tak kunjung bisa memadamkan kobaran api yang kian membesar dan merambat ke mana-mana. Dalam insiden ini sudah dapat di pastikan jika tidak ada barang yang tersisa di dalamnya. Semuanya telah luruh lantas menjadi abu hitam.


“Brak!...”

__ADS_1


__ADS_2