JINGGA

JINGGA
140


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Tibalah saat untuk mengelar selapan bagi bayi Gendhis. Oma dan Bu Nadin berencana untuk mengundang orang-orang di sekitar rumah mereka berikut kerabat-kerabat terdekat. Mengingat dulu saat tasyakuran kelahiran Gendhis tidak di rayakan, hanya sambutan kecil sesuai dengan permintaan Jingga.


Kini bayi itu sudah tumbuh sehat, bahkan berat badannya juga sudah mencapai tiga kilo, lebih dari itu, Dokter Ambar mengatakn jika fungsi tubuh Gendhis sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Tentu saja ini membuat bahagia seluruh keluarga yang ada.


Jingga pun tak lagi mnolak untuk mengadakan pesta, mengingat Gendhis adalah cucu pertama dalam keluarga


Dirgantara. Kehadirannya juga begitu di nantikan sejak dulu. Bahkan di saat Fajar belum menikah. Bu Nadin sudah mengharapkan seorang cucu dari anaknya. Bukan tanpa alasan karena Fajar tak memiliki saudara. Bu Nadin merasa kesepian menghabiskan masa tuanya.


Acara di gelar dengan cukup meriah, melebihi acara tingkepan tujuh bulan kehamilannya. Dalam acara ini juga di


adakan aqiqah untuk baby Gendhis, sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak mereka.


“Sayang kamu siap-sipa dulu sana. Biar Gendhis sama aku” ucap Fajar, ia mengmbil alih Gendhis dari dekapan istrinya.


“Anak Papa cantik sekali sih. Duh siapa sih nak Papanya? Pasti Papanya orang ganteng ya, jadi kamu bisa cantik sekali seperti ini?” puji Fajar pada anaknya. Ia meraih tubuh kecil Gendhis yang berbalut gaun warna putih. Bayi itu memakai topi yang berenda di kepalanya. Tak lupa sepasang sepatu kecil yang melekat di kakinya. Penampilan baby Gendhis layaknya putri-putri kerajaan di Inggris.


Jingga terkekeh geli mendengar ucapan suaminya. “Mana bisa? itu bayi bisa cantik karena mewarisi kecantikan alami yang ada pada Ibunya” elak Jingga kemudian.


“Mana ada?, lihat semua yang ada pada bayi kita semuanya mirip aku. Nih hidungnya, bibirnya, rambutnya juga sama. Bahkan kuitnya juga sama”


“Mana ada mas?, itu kulitnya dan rambutnya kayak aku. Kayak aku!” dua orang tua muda sedang merebutkan kecenderungan genetik sang anak.


“Udah-udah jangan berisik, kamu siap-siap dulu sana Jingga. Oma sudah memanggilkan MUA terbaik di Surabaya untukmu. Dan kamu Fajar bawa anakmu ke kamarnya istirahatkan dia dulu, biar nanti waktu acara tidak rewel” perintah Oma kemudian untuk memutus perdebatan mereka.


Satu jam berlalu, Jingga telah bersiap. Ia memakai gaun warna putih seperti anaknya. Jilbab pasmina membalut indah di kepalanya. Tak lupa sedikit sentuhan bros yang di letakan di bagian dada sebagai pemanis penampilannya. Ia menggunakan make up natural, penampilan Jingga benar-benar anggun, aura keibuannya terpancar sempurna saat itu.


Fajar berdiri di ambang pintu, ia bersendekap di dadanya memandang lekat wajah sang istri yang masih duduk di meja rias. Beberapa Mua dan pelayan yang bertugas di kamar Jingga lekas meminta izin untuk keluar ketika menyadari Fajar telah datang dan memberinya kode dengan kedipan mata.


Fajar mulai berjalan maju mengikis jarak pada sang istri. Mereka saling bertatapan di balik pantulan kaca yang ada di depannya.


“Mas” sapa Jingga dengan pelan, seakan sudah melupakan perdebatan yang baru saja terjadi di antara mereka tadi.


“Cantik dan sempurna” jawab Fajar, ia melingkarkan tangannya di pudak sang istri, sejurus kemudian memberikan kecupan manis di kepalanya.


“Aku malu mas, tubuhku gendut sekali ya? Ucap Jingga, ia sedikit mengerucutkan bibirnya tak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang sudang menyerupai ikan paus menurutnya.


“Tidak sayang, kamu masih cantik sama seperti dulu”

__ADS_1


“Tapi gendut”


“Tidak sayang, hanya saja sedikit kokoh. Tapi percayalah kamu jauh lebih cantik seperti ini. Terlihat lebih segar dan jauh lebih memukau” Fajar menangkup kedua pipi istrinya memberikan tatapan mautnya di sana. Perlahan ia semakin mengikis jarak, dekat dan benar-benar sangat dekat. Bahkan nafas keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.


Ceklek.


“Jingga anakmu menangis” Bu Nadin datang membawa Gendhis dalam dekapannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat tingkah anak dan menantunya.


“Mama, kenapa harus masuk sekarang sih” ucap Fajar dengan malas.


“Nih anak kamu menangis, sepertinya dia haus baru bangun tidur” Bu Nadin menyerahkan Gendhis pada Jingga dan memilih keluar dari kamar anaknya.


“Hah aku bahkan lupa, jika kamu sekarang bukan hanya milikku tapi milik bayi ini juga” gerutu Fajar, tangannya membelai lembut pipi anaknya yang mulai berisi.


“Haus ya nak? Sini-sini biar Papa bantu habisin asinya” goda Fajar ketika melihat putrinya meminum asi dari sumbernya dengan sangat rakus.


“Ya Allah persih banget sih nak sama bapaknya kalau begini” gerutu Fajar kemudian. Sementara Jingga melotot


memberikan reaksi pada sang suami yang berbicara asal di hadapan anak bayi.


“Justru karena belum mengerti itu kita harus memberikan asupan kata-kata yang baik-baik untuk anak kita” terang Jingga kemudian, jemarinya sibuk mengelus lembut kaki anaknya.


Seluruh undangan sudah memadati area pekarangan kediaman Dirgantara. Mereka ada yang berada di halaman depan, di ruang tamu dan juga di bagian sisi taman yang bersebelahan dengan kolam. Jingga dan Fajar mulai turun secara bersamaan. Fajar mengandeng istrinya, membantu Jingga menapaki ruas demi ruas anak tangga yang ada di rumah itu, di mana Gendhis sedang tertidur pulas di dalam gendongan Jingga. Semua mata tertuju pada kehadiran mereka. Serasi begitulah gambaran bagi siapa saja yang melihat mereka bertiga.


Beberapa undangan yang masih memiliki ikatan dekat, lekas berhamburan datang untuk melihat Gendhis. Bayi kecil yang masih tertidur itu mampu mengalihkan perhatian undangan.


“Cantik sekali” puji sebagian besar para undangan yang datang.


“Terimakasih” jawab Jingga, ia tersenyum siada siapa saja tamu undangan yang datang, meski dalam benaknya ia tak banyak mengenal mereka.


Oma, Pak Angga dan Bu Nadin juga turut membaur menyalami undangan yang hadir. Sebagian besar tamu yang datang adalah kolega Pak Angga, ta terkecuali keluarga Hermawan. Beliau beserta Bu Lia dan


Dahlia juga turut serta hadir di sana.


“Tenangkan hatimu, bersikaplah sewajarnya. Lakukan dengan pelan” bisik Bu Lia pada anaknya ketika mendapati


wajah Dahlia berubah menjadi cemberut saat kehadiran Jingga di tengah-tengah tamu undangan.

__ADS_1


“Apa yang terjadi Ma? Sudah sejauh inikah aku meningalkan dunia?hingga aku tak tahu banyak yang telah berubah?” gerutu Dahlia setengah menggigit bibirnya. Ia benar-benar merasa sangat bodh telah salah mengambil langkah. Apalagi jika mengingat tawarannya beberapa waktu lalu yang tak kunjung di jawab oleh Fajar.


“Lakukan sesuatu Dahlia, kamu bisa mencoba untuk mendekati Fajar kembali”


“Tapi dia sudah beristri Ma” Jawab Dahlia dengan malas.


“Ya buanglah istrinya, gitu aja kok repot. Lagian Cuma udak saja apa susahnya sih”


Dahlia melangkah dengan percaya diri untuk menemui Fajar. Saat itu Fajar sedang berada di sisi kolam. Ia sedang


berbincang dengan beberapa undangan yang ada. Dahlia melangkah dengan sangat anggun menggenggam segelas jus strawberry dalam tangannya.


“Hay Tuan Fajar” sapanya kemudian, ia sedikit menempelkan tangannya pada pundak Fajar. Fajar melirik sekilas perbuatan Dahlia.


“Oh maaf, saya sudah terbiasa menyapa rekan kerja saya seperti ini. Ini hanya bagian dari keakraban saja” jawabnya, sebelum Fajar mempertanyakan. Maklum pria itu hanya melirik sekilas.


“Tuan bagaimana kabar anda? Oh aku rasa kita berbicara dalam bahasa aku dan kamu saja ya, biar terkesan lebih akrab. Bagaimana pun juga kita kan masih seumuran”


Fajar masih diam saja tak bereaksi, ia lebih memilih untuk mencari keberadaan istrinya.


“Bagaimana tawaran kerjasama yang aku tawarkan beberapa waktu lalu? Apakah kamu berkenan untuk bekerja sama dengan perusahaan ku?” Dahlia merubah posisi berdirinya. Ia mulai merapat mendekati Fajar.


Fajar merasa tak nayaman terlebih ini adalah acara untuk anaknya, tidak seharusnya ia berbincang dengan seorang wanita sendiri.


“Mohon maaf, sebaiknya jika berbicara tentang pekerjaan jangan di sini” ucap Fajar dengan sopan, ia tak ingin membuat kekacauan di tengah-tengah syukuran anaknya.


“Oh begitu? Jadi kamu mau berbicara di mana?” Dahlia tersenyum, ia salah menafsirkan kelembutan ucapan Fajar. Maklum biasanya lelaki itu berbicara cukup irit dan terkesan kaku.


“Saya tidak ingin membahas pekerjaan dalam acara keluarga saya” serkas Fajar kemudian, ketika menyadari jika posisi Dahlia semakin mendekat dan mendekat. Ia memilih untuk meningalkan wanita itu dan bergabung dengan saudara yang lainnya.


Dahlia berdecak kesal, lagi-lagi ia harus menerima penolakan Fajar. Ia memutar arah mencari tempat pelampiasan


amarahnya. Matanya seakan sedang mencari sebuah mangsa malam itu.


“Nah, kebetulan sekali lagi sendiri” desisnya dalam hati, Dahlia mulai berjalan mendekat’i targetnya.


“Hay, senang bisa berjumpa kembali denganmu”

__ADS_1


__ADS_2