JINGGA

JINGGA
161


__ADS_3

“Sayang bangun”


Jingga dan Fajar akhirnya bisa bernafas dengan lega, ketika melihat sang anak mulai


Menggeliat dan memberikan senyuman saat kedua matanya terbuka. Benar saja, bayi itu seakan mengerti kekhawatiran yang sedang di rasakan oleh rang tuanya.


“Mas lihat dia sudah bisa tersenyum’ cetus Jingga ketika melihat sang anak yang masih terbaring di dalam box dengan slang infus yang terletak di tangannya.


Fajar masih duduk di atas kursi rodanya, kakinya masih dalam tahap pemulihan. Sementara Jingga, mama muda ini jauh lebih terlihat bugar dari yang lainnya. Ia sudah mampu mendorong Fajar untuk datang melihat anaknya. Satu keluarga lengkap dengan ayah, anak dan ibu sedang berkumpul bersama di dalam ruang rawat inap. Haru dan juga bahagia terlihat jelas dalam gambaran wajah mereka setelah sekian rentetan peristiwa yang menimpa keluarganya.


“Mas, kapan kita di izinkan untuk pulang? Aku sudah tak sabar untuk kembali berkumpul


seperti sedia kala”


“Sama sayang, aku juga sudah tak sabar untuk kembali berkumpul dengan kalian dan juga


orang rumah yang lainnya


“Oh ya mas, berbicara tentang yang lainnya. Bagaimana kabar Mama dan juga Oma? Aku


bahkan belum sempat untuk berkabar dengan mereka beberapa hari ini”


“Tenanglah Oma dan Mama baik-baik saja. Sebentar lagi Mama juga pasti akan ke sini


menjenguk kita. Untuk Oma Dokter mengatakan kita harus bersabar. Beliau sudah sepuh jadi perawatannya membutuhkan waktu yang lebih lama dari usia normal pada umumnya”


Jingga mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti akan hal itu.


“Sus, bolehkan aku menggendong anakku. Sepertinya ia sedang haus” ucap Jingga dengan


santun, meminta izin pada perawat yang sedang bertugas di kamar anaknya.


“Silahkan Bu. Biar saya bantu”


Dengan cukup pelan perawat itu mengangkat tubuh Gendhis, menyerahkan pada dekapan


Jingga. Sementara Jingga menerima uluran tangan tersebut dengan riang. Ia lekas

__ADS_1


duduk di sofa dan mulai menyusui anaknya dengan nyaman.


“Wah lihat sayang, sepertinya dia sangat kehausan. Pinter sekali sih nak minumnya”


Fajar mengelus-elus rambut anaknya yang tumbuh tak merata. Rambut Gendhis hanya


tumbuh di bagian depan saja. Sementara di bagian belakangnya rambutnya belum


tumbuh.


“Sayang lihatlah, rambut Gendhis seperti sedang menantang langit” celoteh Fajar dengan asal, ketika memperhatikan baa rambut sang anak berdiri tegak ke atas.


“Ngawur aja kalau bicara. Masih kecil makanya seperti itu modelnya. Nanti kalau sudah besar aku pastikan banyak sekali lelaki yang antri untuk menjadi menantuku”


“Masa?”


“Iya dong kan ibunya saja cantik”


“Mana ada, dia itu mewarisi sebagain besar dari gen ku”


Keduanya kembali berdebat prihal gen yang menurun pada anaknya. Keduanya saling berlomba untuk menjadi pemenang. Sementara Gendhis, bayi yang sedang menjadi bahan


untuk minum asinya.


****


Taman pemakaman umum


Sementara di taman pemakaman umum yang letaknya tak jauh dari kejadian ledakan. Hermawan tertunduk lesu di depan pusaran sang istri dan anaknya. Ia menangis meraung-raung ketika melihat dua gundukan tanah yang masih basah ada di depannya. Dua pasang nisan yang bertuliskan nama anak dan istrinya.


Tak pernah terbesit dalam benaknya jika akan begini yang akan terjadi pada keluarganya. Ia duduk tersungkur ke tanah dengan pengawalan ketat di bagian belakang oleh pihak kepolisian.


Maafkan aku. Maafkan aku atas semua yang terjadi. Tidak seharusnya aku meninggalkan


kalian begitu saja. Maafkan aku atas keserakahanku kalian turut terlibat dalam


menanggung dosa ini. Maafkan aku yang tak sempat untuk melihat kalian lagi. Aku

__ADS_1


laki-laki yang bodoh. Aku telah gagal untuk menjadi ayah. Aku telah gagal pula


untuk menjadi seorang istri.


Dahlia maafkan Papa yang tak bisa mewujudkan harapanmu untuk menikah dengan Fajar.


Mama maafkan aku yang telah lalai meninggalkanmu. Bahkan aku yang telah menyuruh anak buahku untuk membakar hotel itu. Maafkan aku yang tanpa sadar menjadi penyebab kematian kalian berdua.


Ia kembali menangis tersedu-sedu di hadapan pusara anak dan istrinya. Tangannya menangkup siraman bunga yang terlihat masih segar di atas tanah. Hermawan telah menyesal. Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah menyuruh membakar hotel tersebut dan ia tak bisa melihat kondisi anak dan istrinya sebelum pemakaman.


Lebih dari itu, Polisi mengatakan jika tidak ada satu pun orang dan sanak keluarga yang turut mengantarkan Dahlia berikut Bu Lia waktu proses pemakaman. Petugas damkar dan pihak kepolisian yang mengurus pemakaman mereka.


Tak ada prosesi pemandian jenazah. Tulang-tulang mereka di masukan ke dalam kantung jenazah dan langsung di makamkan, mengingat kondisinya yang sudah sangat tidak


memungkinkan untuk di mandikan. Tak ada acara do’a bersama yang di gelar. Mengingat Hermawan kini sedang mendekap di penjara, sementara sanak dan saudara mereka sama sekali tak punya. Ketamakan dan keserakahan mereka membuat para Saudaranya sendiri menjauh.


“Waktunya sudah habis, anda harus lekas kembali ke tahanan”


“Tapi pak sebentar saja, saya ingin mengirimkan doa untuk anak dan istri saya” ucapnya dengan terisak-isak menahan air mata yang telah bercucuran di pelupuk matanya,


“Bagaiman?” tanya salah satu petugas polisi pada rekan-rekan lainnya.


“Biarlah, beri dia sedikit waktu dan awasi terus”


Tanpa pikir panjang pria itu lekas mengambil air wudhu yang ada di sekitar area makam. Tangannya kembali bercucuran ketika air itu mulai menyentuh tubuhnya.


Aku bahkan sudah lama sekali tidak pernah melakukan ritual seperti ini Tuhan


maafkan aku.


Ia kembali duduk bersimpuh di hadapan pusara anak dan istrinya, melantunkan ayat-ayat suci al-quran. Berharap pengampunan dosa untuk anak dan istrinya. Cukup lama ia bersimpuh di atas tanah. Memeluk gundukan tanah tersebut hingga membuat bajunya bercampur dengan tanah. Tak lupa ia juga menciumi beberapa


kali nisan yang bertuliskan nama anak dan istrinya.


“Kenapa kalian membiarkan hidup jika harus dalam posisi seperti ini. Harusnya aku turut


mati bersama kalian” isaknya kembali membadai. Herman yang beringas, Hermawan yang kejam dan Hermawan yang sesuka hatinya dalam bertindak kini sedang berduka.

__ADS_1


Ia rapuh dan ia hancur.


__ADS_2