
“Adik saya seorang bidan Tuan” jawab Reza dengan tenang.
Fajar mengerutkan keningnya, matanya sedikit terangkat ke atas dalam benaknya berfikir sejak kapan Reza, mempunyai adik, yang Fajar tahu Reza adalah seorang yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan.
Pertemuan mereka berawal sejak keluarga Dirgantara, menjadi donatur utama salah suatu yayasan panti di daerah Surabaya. Kala itu Fajar dan Reza sama-sama masih kecil, mereka saling bermain setiap kali Pak Angga berkunjung ke sana dan menjalin persahabatan. Hingga ketika dewasa keluarga Dirgantara memutuskan untuk membiayai semua pendidikan Reza yang berujung pada pengabdiannya sampai saat ini.
****
Surabaya
“Sus, kenapa Mas Fajar lama sekali tak pulang-pulang? Ini sudah lebih dari sepuluh hari semenjak keberangkatannya. Entah mengapa aku merasa rumah dan jiwaku menjadi sunyi sepi tanpa suara, ketika tak ada kehadirannya”
“Padahal sebelumnya aku tidak pernah mempermasalahkan kalau Mas Fajar tak kunjung pulang hingga larut malam, tapi ahir-akhir ini semuanya terasa berbeda. Aku begitu sangat merindukannya”
Jingga mengerucutkan bibirnya, ia duduk di lantai beralaskan karpet yang tebal. Menumpahkan segala keluh kesah yang mendera hatinya. Jemari lentiknya sedang memegang helaian benang. Entahlah apa yang dilakukan wanita itu, seperti sedang hendak menyulam tapi tak kunjung menemukan pola awal. Ia hanya mengurai benang-benang yang ada di tangannya.
“Padahal, aku sudah berusaha untuk tidak rewel. Aku tidak mau menjadi istri yang posesif pada suamiku, aku takut dia akan jengah dan memilih untuk meninggalkanku”
Jingga masih tertunduk dengan tangan yang sibuk mengurai beberapa helaian benang. Dalam beberapa detik tangannya berpindah memegang kain kosong yang akan di jadikan media untuk menyulamnya.
“Sus, menurut kamu aku terlalu berlebih menyikapi semua ini. Ini hanyalah bagian dari caraku untuk mengungkapkan cintaku padanya. Apa yang harus aku lakukan? Bukankah sudah sepatutnya seorang istri merindukan dan mengkhawatirkan suaminya? Apa aku salah?” Jingga menatap Susi, yang duduk di sebelahnya. Sorot matanya seakan sedang memelas seperti kucing yang memohon di kasihani dan meminta untuk di pungut.
Sementara Susi, ia menatap Nonanya dengan jengah. Bola matanya memutar ke atas, ketika mendengar jeritan suara hati istri. yang seakan sedang paling tersakiti saat itu.
“Sus, menurutmu aku berlebih?” Ia kembali menatap sang pelayan. Menggoyang tubuh Susi dengan sorot mata yang sama. Membuat Susi mau tak mau harus menjawab pertanyaan majikannya.
__ADS_1
“Hem, menurut saya pribadi Non, sepertinya tidak berlebih jika seorang istri sedang merindukan suaminya. Tapi non Jingga, harus tahu kadar kesibukan dari pasangan. Sejak awal Non Jingga sudah mengerti bukan, jika Tuan Fajar adalah pribadi yang sangat sibuk. Beliau seorang yang pekerja keras, tak jarang akan menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja” Jawab Susi dengan pelan, ia tak ingin membuat mood Jingga menjadi naik turun seperti ayunan yang sedang di terbangkan seorang remaja.
“Tapi itu kan dulu Sus, sebelum kami menikah. Sebelum kami saling mencintai satu sama lain. Aku tahu mas Fajar, menumpahkan segala waktunya untuk bekerja itu hanya sebagai pelarian saja”
Lagi-lagi Susi, harus menerima pendapat dari majikannya yang menurutnya sudah berlebih dalam menghadapai suaminya.
“Non Jingga, sebaiknya istirahat dulu, ini sudah sangat larut. Apa mau saya bikinan minuman hangat agar tubuh lebih rileks?” Tawarnya Susi, yang sudah tak kuasa menahan kantuk. Sejak tadi pagi ia harus menemani Jingga dengan segala kerewelannya yang luar biasa. Berkali-kali tangannya menguap dan menutup mulutnya.
“Kenapa harus tidur? Bahkan suamiku saja belum menghubungiku hari ini?” lagi-lagi Jingga menjadi orang yang pemaksa beberapa waktu ini.
“Lihat Non, itu sudah pukul sepuluh malam. Sebaiknya Non Jingga istirahat dulu. Nanti kalau Tuan Fajar menghubungi Non Jingga, Non bisa bangun dan terlihat lebih fresh” bujuknya kembali dengan sengaja memberi tahu waktu saat ini. Seakan ingin menyadarkan jika jam kerja pelayan tidak lebih dari jam sembilan malam.
“Huft” Jingga menghela nafas yang panjang, matanya menatap jam dinding yang ada dengan malas.
“Aku mau coklat panas, bawa saja ke kamarku sekalian bawakan aku roti tawar dan selai kacang” Pinta Jingga, yang mendadak menginginkan roti tawar dengan taburan selai kacang di atasnya.
Jingga mulai beranjak ke kemar dengan malas. Ia tak tahu harus berbuat apa malam itu. Matanya tak kunjung menemukan kantuk, hatinya resah seakan ingin menangis.
Beberapa saat kemudian, Susi datang dengan membawa secangkir coklat panas dengan beberapa helaian tumbukan roti tawar di atas piring. Sesuai dengan pesanan sang majikan, ia juga membawakan selai kacang.
“Silahkan non ini coklat panas dan rotinya. Saya permisi dulu. Jika butuh apa-apa Non Jingga bisa langsung panggil saya” Susi menganggukkan diri untuk pamit dan beristirahat malam itu. Rasanya matanya sudah tinggal beberapa watt saja energinya.
“Baik” jawab Jingga dengan berat. Sejujurnya wanita itu masih menginginkan teman malam ini. Tapi melihat kondisi Susi yang tak kuasa menahan kantuk membuatnya tak tega untuk menahannya.
Jingga mulai menyalakan layar TV di depannya. Serial drama korea menjadi pilihan malam ini untuk menemani menghabiskan malam. Drama yang berakhir dengan perjuangan dua insan saling mencintai namun tak dapat bersatu, terhalang restu dan kasta sukses membuat air matanya mengucur deras malam itu. Setidaknya ia sudah menemukan suatu alasan untuk menangis malam ini. Meski rasa tangis yang hadir tidak hanya karena serial yang baru saja ia lihat.
__ADS_1
Jingga masih menangis sesenggukan di dalam kamar, ia menghabiskan beberapa puluh helaian tisu dan berserakan di atas ranjangnya. Matanya memerah dan sembab. Ia terbawa suasana bahkan hingga tak menyadari jika ada yang datang malam itu.
.
.
.
“Hay kenapa menangis?” suara merdu yang begitu familiar di telinga Jingga.
Ia masih tak menjawab meski sebenarnya menyadari jika ada suara yang ia rindukan. “Hanya halusinasi” helaan nafas berat kembali terdengar.
Fajar masih diam, berdiri di depan pintu masuk dengan tangan yang bersendekap di dada melihat reaksi istrinya.
“Hay sapanya kembali”
Jingga mendongak dan menatap ke sumber suara.
“Mas Fajar? Benarkah? Atau hanya halusinasiku saja?” ia masih duduk mematung di atas ranjangnya. Namun mata mereka saling memandang dalam jarak yang tak terlalu jauh.
“Came on” tangan Fajar terentang menanti kehadiran istrinya.
“Mas benarkah ini kamu?” Jingga berlari menuju suaminya. Ia masih termenung tepat di hadapan Fajar, dengan tatapan mata yang berlinang.
“Iya ini aku” Fajar tersenyum mengangkat sudut bibirnya membentuk lengkung yang sangat indah. Ia meraih dagu sang istri agar menatap wajahnya saat itu.
__ADS_1
“Aku rindu sama kamu”