JINGGA

JINGGA
173


__ADS_3

“Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?”


Semua dengan kopak menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Mamamu memberikan kamarnya pada orang tersebut. Dalam benaknya berfikir, jika waktunya


untuk melahirkan masih lama karena tak merasakan rasa sakit seperti wanita itu. Namun. Ternyata ia salah, kurang dari satu jam kemudian ia lebih dulu melahirkan kamu. Sementara wanita tadi masih harus bermalam untuk menunggu


kelahiran anaknya”


“Mamamu harus menerima keadaan dengan berbagi ruang bersalin dengan yang lainnya. Meski sebenarnya ia mampu untuk membayar sendiri. Tapi rasa kemanusiaan dan rasa


tolongnya besar. Ia tidak tega pada orang yang kesusahan”


Bu Kinan menghela nafas yang panjang. Ia tersenyum ketika mengingat serangkaian


kebaikan mendiang menantunya.


“Tak hanya Mamamu. Papamu pun demian mereka benar-benar pasangan yang serasi. Pasangan yang tak bisa melihat orang lain berada dalam kesusahan”


Jingga dan yang lainnya masih melongo mendengar penuturan Bu Kinan.


“Dulu waktu Pak Bramantyo dan Bu Ayu masih hidup. Setiap hari jum’at kami di beri tugas untuk memasak dalam jumlah yang sangat besar. Beliau sering mengadakan acara jumat berkah membagi makanan pada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan sebelum kegiatan jumat berkah viral seperti sekarang. Beliau lebih dulu mengamalkan untuk itu”


“Setiap kali Tuan Bramantyo menang dalam sebuah bisnis ia slalu mengadakan acara tasyakuran di rumah. Ia jarang sekali merayakan di luar. Menurutnya mensejahterakan kehidupan pelayan dalam rumahnya adalah sebuah kewajiban. Karena merekalah penolong terdekat ketika kita dalam masa yang susah”


Bi Minah angkat bicara. Ia kembali teringat akan beberapa kebiasaan yang di lakukan majikannya dulu.


“Mereka memang sudah berpulang. Tapi segala kebaikannya masih melekat dalam ingatanku”


Mendadak susana kembali melo ketika semua bercerita tentang masa lalu bersama mendiang


Bramantyo dan Ayu.


“Sayangnya aku tak ingat sama sekali kenangan dengan orang tuaku”


“Kamu masih terllau kecil untuk itu nak” Bu Kinan memilih untuk menepuk pundak Jingga


sekilas.


“Nanti akan nenek ceritakan semua kisah tentang mereka berdua. Dari mulai berpacaran hingga menikah dan memiliki kamu. Sekarang nenek rasa waktunya makan. Semua masakan sudah matang semua”


Menyadari hal itu, bi Minah lekas membawa seluruh makanan ke ruang makan, menata dengan begitu rapi dan siap untuk makan bersama.


“Kita makan sama-sama ayo” ucap Bu Kinan mempersilahkan untuk duduk. Sementara Jingga


pergi ke kamar memanggil suaminya.


“Tidak usah Bu. Biar kami makan nanti saja” jawab Asih dengan sungkan.


“Kenapa? Orang ini kalian semua yang masak kok. Ayo makan bareng-bareng saja. Aku tuan


rumah di sini, pantang menolak permintaan tuan rumah” instruksi Bu Minah dengan menatap Asih dan Minah secara bergantian.


Acara makan malam di mulai dengan menu seadanya khas desa. Sayur oblok-oblok dari


daun singkong dengan kuah santan serta pepes ikan patin dan beberapa goreng gurami beserta sambalnya. Sebagai menu makan malam mereka hari ini.


Fajar dengan segera memimpin doa tanda di mulainya makan bersama. Semua terlihat

__ADS_1


begitu menikmati hidangan yang ada. Asih bahkan tanpa sungkan-sungkan untuk kembali menambah nasi, karena Bu Kinan berkali-kali memaksanya.


Dentingan suara sendok dan garpu saling beradu menambah ramai acara makan malam. Bu Kinan


masih dengan janjinya tadi. Ia menceritakan sepenggal-penggal kisah anak dan menantunya pada cucunya.


Calling Mama.


Fajar melirik ponsel yang ada di sebelahnya. Sebuah panggilan telfon dari Bu Nadin membuyarkan konsentrasinya untuk mengunyah. Ia menjeda makannya dan meneguk air


putih sejurus kemudian mengarahkan ponselnya ke telinga.


“Iya Ma”


“Astaga”


“Baik Ma” jawab Fajar dengan wajah yang sedikit berbeda. Ia terlihat tegang ketika menerima panggilan tersebut.


“Asa apa mas?” tanya Jingga katanya menyadari perubahan raut wajah dari suaminya.


Fajar masih terdiam. Matanya menatap lurus ke depan namun tanpa fokus yang jelas.


“Mas ada apa?”


“Jangan membuatku takut!” desis Jingga dengan lirih namun penuh penekanan.


Mendadak acara makan malam yang hangat menjadi hening setelah Fajar menerima panggilan tersebut. Semua mata tertuju pada Fajar, menunggu laki-laki itu mengucapkan


sebuah kata atau kalimat.


“Oma”


“Kenapa?” nada bicara Jingga, tak lagi biasa. Ia tampak gelisah.


“Kata Mama. Oma sedang kritis saat ini. Kesadarannya benar-benar semakin menurun


drastis. Mama meminta aku untuk pulang menjenguk Oma. Mama takut terjadi sesuatu


pada Oma sebelum aku kembali”


“Astagfirullah Oma” Jingga membekap mulutnya dengan kaget.


“Aku ikut mas”


“Jangan sayang, kamu di sini saja. Kamu baru berjumpa dengan nenek Kinan. Kalian pasti


masih sama-sama merindu”


“Tapi kondisi Oma jauh lebih menghawatirkan Mas, aku takut”


Asih dan Bi Minah memilih untuk diam. Mereka tak berani untuk mencela ataupun turut memberikan sarannya.


“Mas”


Fajar tampak bingung mengambil keputusan. Di satu sisi ia ingin menjenguk Omanya. Di sisi


lain ia tak tega membiarkan Jingga untuk terpisah dengan neneknya sementara pertemuan mereka baru beberapa jam yang lalu. Tapi untuk meninggalkan Jingga di sini tanpa pengawasan pengawal atau anak buahnya juga memiliki resiko besar. Apa lagi ketika orang di luas sana menyadari jika Jingga adalah pemilik Cakrawala


grup. Tentu ia akan menjadi incaran bagi laan bisnisnya.

__ADS_1


“Bagiamana kalau kita semua menjenguk nenek saja” ucap Bu Kinan memberikan solusi ketika


melihat Fajar dan Jingga tampak bingung untuk mengambil sebuah keputusan.


“Nenek mau untuk ikut ke Surabaya?”


Bu Kinan menganggukkan kepalanya. Mungkin sebaiknya seperti ini untuk sementara demi


kebaikan bersama.


“Alhamdulilah jawaban Jingga dengan lega”


“Ayo nek aku bantu untuk berkemas”


“Habiskan dulu makan malam mu nak”


Semua kembali menatap masakan yang terhidang di depan mereka. Meskipun rasanya tak lagi sama dengan seiring perubahan hati yang terjadi bagi para penikmatnya. Namun menyisakan makanan di atas meja bukanlah hal yang baik. Dengan segala kondisi hati yang mendera, mereka menghabiskan seluruh makanan yang ada dalam piring masing-masing.


Bu Kinan, memilih mempercepat makannya demi lekas berkemas untuk turut bersama cucunya.


“Biar ku bantu nek”


Bu Kinan tersenyum dan mengangguk. Keduanya lekas berlalu untuk masuk ke dalam kamar. Menyiapkan beberapa keperluan untuk tinggal sementara di Surabaya. Asih memilih mengambil Gendis, ia lekas mengganti baju bayi kecil itu berikut diapers yang di pakainya, agar selama perjalanan lebih nyaman dan tidak rewel. Bi Minah dengan segera membereskan sisa-sisa makanan yang ada di atas meja. Ia mencuci


bersih seluruh perabotan yang di gunakan makan dan masak. Mengingat mereka tak tahu sampai kapan di sana. Sementara ART yang membantu Bu Kinan sedang izin cuti anaknya melahirkan.


Semua persiapan telah rampung. Dengan segenap perasan was-was mereka naik ke dalam


mobil. Jingga tak henti-hentinya bersholawat memohon kebaikan untuk semuanya. Termasuk


kesembuhan untuk nenek dan keselamatan mereka dalam perjalanan.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, malam itu jalanan  terbilang lenggang dari biasanya. Fajar dapat dengan mudah untuk keluar dari kota dan mulai masuk melewati tol.


Hening.


Tak banyak percakapan yang berarti selama mereka dalam perjalanan malam ini. Semuanya


tampak tegang dengan kabar yang baru saja di dapat Fajar.


“Sayang, kita ke rumah kamu dulu atau bagaimana?” tanya Fajar ketika mulai memasuki


kawasan rumah Jingga.


Jingga tak menjawab, ia menoleh sekilas ke belakang melihat reaksi Nenek dan yang


lainnya seakan menunggu jawaban dari neneknya.


“Kita langsung ke rumah sakit saja nak” perintah nenek Kinan kemudian.


“Nenek gak papa kalau kita langsung ke sana?”


“Ya gak papa nak. Keluara kamu kan juga kelurga nenek”


Mendapat instruksi demikian. Fajar lekas menambah kecepatan mobilnya untuk bisa segera sampai di rumah sakit. Tak butuh waktu yang lama. Dua puluh menit kemudian sampailah mereka di rumah sakit tempat Oma di rawat. Fajar lekas memarkirkan mobilnya dengan asal. Ia berlari menuju ruang rawat inap Oma. Jingga beserta yang lainnya turut mengikuti dari belakang. Kali ini Jingga membawa serta


Gendhis untuk masuk. Ia takut kejadian beberapa waktu lalu kembali terulang.


“Ma, apa yang terjadi?” tanya Fajar dengan panik ketika mendapati Bu Nadin menunggu

__ADS_1


di depan ruangan Oma dengan mata yang basah.


__ADS_2