JINGGA

JINGGA
128


__ADS_3

“Bagaimana apa kamu menyukainya?”


“Mas ini, mau bikin toko apa bagaimana?” Jingga, masih tertegun melihat pemandangan menakjubkan di depan mata. Sungguh ini diluar dari apa yang telah di bayangkan. Reflek ia lekas memeluk suaminya. Rentetan kata terima kasih tak henti-henti terucap dari mulut manisnya.


“Mas trimakasih ya” ucapnya dengan tangan yang masih memeluk erat tubuh sang suami.


“Trimakasih untuk apa?”


“Untuk semuanya, Mas Fajar telah menjadi pelengkap dalam hidupku. Memberi warna yang sangat berarti”


“Justru aku yang mau berterimakasih denganmu sayang. Kamu telah menjadikan aku lelaki yang sempurna dengan hadirnya Gendhis di tengah-tengah keluarga kita. Kamu juga sudah membuat hidupku lebih berarti, bisa menyadarkanku menjadi manusia yang lebih peka”


Pasangan orang tua muda itu saling berpelukan satu sama lain. Cukup lama mereka berpelukan saling merengkuh mengungkapkan rasa bahagia yang ada dalam hati mereka. Dalam hitungan menit, Fajar menyambar bibir sang istri, ia memberikan kecupan sekilas. Rasanya sudah lama sekali tidak menikmati itu.


“Ingat anak masih bayi, belum genap satu bulan!” Suara Oma, tiba-tiba terdengar dalam ruangan.


“Oma!” keduanya terkejut ketika mendengar suara Oma, tanpa melihat orangnya.


“Aku di sini!” teriaknya dengan mengarahkan tongkatnya ke lantai, hingga menimbulkan suara dentingan, maklum tongkat Oma terbuat dari besi yang di bagian pegangan tangan berlapis emas.


Jingga dan Fajar saling memandang, sejurus kemudian mata mereka mengedar mencari keberadaan Oma.


“Lagian, kenapa harus berterimakasih pada Fajar? Fajar tida tahu apa-apa tentang kamar ini. Semua yang menyiapkan ini aku dan Oma” Kini suara Bu Nadin yang mulai terdengar, ia bangkit dari tempat duduknya yang berada di sisi box bayi.


“Mama!” dengus Fajar dengan kesal.

__ADS_1


“Lagian, kamu kan tidak ikut membuat kamar ini, enak aja malah ngakuin yang dekor. Kamu hanya ingin di puji sama istrimu bukan? Lagian istri baru lahiran kemarin sore udah di pepet aja” Bu Nadin, sedikit menarik lengan Jingga membawanya menjauh dari jangkauan Fajar.


“Mama, itu kan punya ku” mimik wajah Fajar, mendadak sendu seperti anak kecil yang di ambil mainannya.


Jingga tertawa kecil melihat tingkah keluarganya, namun tidak bisa di pungkiri ia begitu malu dengan kejadian yang baru saja terpampang live di depan mertua dan Omanya.


“Mama, Nyonya Oma, maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu jika ini semua adalah hasil kerja keras kalian. Terimakasih untuk semuanya, terimakasih atas perhatian dan kasih sayang kalian pada Gendhis” Jingga meneteskan air matanya.


“Kenapa kamu menangis?” Bu Nadin menarik Jingga, membuta wanita itu bersandar pada pundaknya. Satu tangannya memeluk erat tubuh sang menantu.


“Aku terharu, aku tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuaku sebelumnya. Aku bahkan tidak mengenal mereka sama sekali. Tapi di sini, aku merasa hidup kembali. Aku menemukan keluarga yang untuh. Keluarga yang begitu mencintaiku” Jingga membalas pelukan Bu Nadim, ia masih menangis sesenggukan. Sementara Bu Nadin memilih untuk mengusap-usap lembut punggung Jingga.


“Sudah jangan menangis lagi, kami adalah keluargamu. Apapun yang terjadi kami akan ada di sebelahmu. Jangan pernah beranggapan jika kamu akan tinggal sebatang kara, kita semua ada untukku dan untuk Gendhis” Fajar turut berhamburan untuk memeluk Mama dan istrinya, reflek Oma, mengarahkan tongkat saktinya pada sang cucu untuk memisahkan dia dari istrinya.


“Jangan dekat-dekat, nanti akan membangunkan sesuatu yang telah tertidur. Lagian belum empat puluh hari, pamali seorang suami deket-dekat sama istrinya” ucap Oma kemudian dengan wajah yang datar.


“Tidak harus seperti itu, lihat saja kamu tadi juga berencana untuk menenangkan tapi nyatanya apa. Kamu malah kembali mencicip sekilas bibir istrimu!” Oma melengos tak mempercayai kata-kata Fajar.


“Mulai besok kamu harus melakukan perawatan seperti orang jaman dulu Jingga. Oma akan meracik beberapa ramuan agar ASI mu lancar, Oma juga akan membuatkan ramuan agar semua kembali rapat” Mendengar kata “rapet” membuat mata Fajar kembali berbinar, ia sedikit mengangkat sudut bibirnya.


“Ngapain kamu senyum-senyum? Heh” lagi-lagi Oma, mengarahkan tongkatnya tepat di hadapan wajah Fajar.


“Astaga Oma!, aku keluar sajalah dari pada di sini jadi serba salah!” Fajar lekas membuka pintu kamar meningalkan tiga wanita yang ada di depannya dengan kesal. Sementara ketiga wanita itu saling tersenyum geli melihatnya.


“Ah anak itu terlihat arogan dan tegas di depan banyak orang, tapi tidak jika sudah berhadapan denganku” ucap Oma, dengan tertawa renyah. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang kamar Gendhis.

__ADS_1


“Oh ya berbicara tentang Gendhis, bagaimana kondisi cucuku. Kapan putri cantik itu bisa di bawa pulang” tanya Bu Nadin kemudian.


“Dokter Ambar, mengatakan jika kondisinya terus membaik mungkin dalam waktu satu atau dua minggu lagi dia sudah bisa di bawa pulang”


“Ah baguslah kalau begitu, aku sudah tidak sabar menyiapkan pesat penyambutan untuknya” Bu Nadin menatap langit-langit kamar, ia tersenyum membayangkan cucunya pulang dan siap mengadakan pesta. Maklum Bu Nadin adalah sosialita kelas atas yang kerap kali mengadakan pesta di rumahnya.


“Ma, mohon maaf sebelumnya. Tapi kalau Jingga boleh kasih masukan. Aku tidak ingin ada pesta besar untuk penyambutan Gendis. Aku juga tidak ingin mengudang banyak orang nantinya” wajahnya mendadak lesu.


“Kenapa?” Bu Nadin sedikit kecewa mendengar usulan sang menantu.


“Ma, bukan apa-apa. Tapi keselamatan Gendhis adalah perioritas saat ini. Ia masih terlalu kecil, akan sangat mudah bahaya mengintainya. Aku tidak ingin apa yang baru saja terjadi pada kami kembali terulang kembali”


Jingga menjeda ucapannya, ia bergerak untuk meraih kursi yang ada di sisi ranjang dan mulai duduk di sana. Sementara Bu Nadin juga turut duduk di sebelahnya. Ia mulai memikirkan apa yang di ucapkan Jingga.


“Lantas bagaimana? Apa maumu?”


“Untuk sementara waktu aku hanya ingin kita merahasiakan keberadaan Gendhis. Aku tidak mau ada orang yang mengacaukan kebahagian kita. Ini hanya sementara Ma, hanya sementara. Jika kondisinya sudah jauh lebih tenang dan membaik kita akan menunjukan pada semua jika Gendhis putri kelurga Dirgantara” Jingga memegang tangan Bu Nadin, ia mencoba untuk menyakinkan mertuanya.


“Menurut Oma, benar juga apa yang di katakan menantumu. Untuk saat ini aku rasa keselamatan Gendhis jauh lebih penting dari segalanya. Jika menelisik dari segala rentetan kejadian yang ada, rasa-rasanya target yang mereka incar memanglah Jingga. Entah apa yang menjadi motif mereka tapi aku rasa seperti itu adanya” Oma bangkit dari pembaringannya, matanya menatap pada satu tembok yang ada di depannya dengan kedua tangan yang berpegangan pada tongkatnya.


Suasana mendadak menjadi hening untuk sesaat.


.


.

__ADS_1


.


“Sayang Gendhis sayang” Suara Fajar terdengar dari luar, ia seperti sedang berlari jika dari nada bicara dan suara nafasnya yang tersendat-sendat.


__ADS_2