
“Kamu masih kaya kan? Apa sudah bangkrut? Kok tidak pernah terlihat lagi?” sapa salah satu temannya. Ia sedikit menyenggol punggung Dahlia saat itu.
“Menurut kamu!” jawab Dahlia dengan malas, ia memutar bola matanya ke atas.
“Kalia lihat bajuku! Tasku! Juga sepatu yang aku pakai!”
“Gak pernah kelihatan lagi sih, denger-denger habis kabur ya dari acara nikahan kamu. Kenapa? Pasti kurang ganteng lakinya, apa kurang tajir?” ledeknya kembali. Ia memang senagaja menggoda Dahlia, entah mengapa jika melihat temannya sedang marah, ia begitu
bahagia.
“Sembarangan saja mulut kamu”
“Lalu?” ia masih menuntut sebuah jawaban, tangan mereka memegang segelas minuman yang entahlah apa itu isinya.
“Aku belum siap waktu itu!”
“Oh ya? Jadi malah pembantumu dong yang nikahin pria itu”
“Dahlia, Dahlia...asala kamu tahu pria itu sangat kaya sekali, ia juga memiliki tingkat kegantengan
yang jauh melebihi standar manusia pada umumnya. Aku pikir dia adalah titisan nabi Yusuf”
“Hah aku tahu itu”
“Lantas? Kamu biarkan saja dia hidup bahagia dengan pembantu kamu!” lagi-lagi teman Dahlia menjadi kompor malam itu. Ia memang kerap melakukan hal demikian sejak masih satu
sekolah dengan Dahlia maupun Jingga. Entah mengapa ada rasa puas yang tiada terkira ketika bisa melihat Jingga dan Dahlia saling berseteru.
“Hahaha” Dahlia tertawa renyah walau hatinya sedang memerah ingin menyumpal mulut lawan bicaranya. Ia masih mencoba untuk bersikap tenang.
“Tenang saja itu hanya sementara. Lagian mana mungkin seorang pangeran mau dengan upik abu. Kamu tahu bukan jodoh seorang pangeran itu siapa? Ya tentu seorang putri” jawab
Dahlia, Ia menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
“Ah sudahlah, jangan bahas itu. Bikin malas saja. Malam ini kita bersenang-senang. Ambillah semau kalian” perintah Dahlia, ia mengangkat satu tangannya untuk mengajak berjoged
malam itu.
Jedug..jedug..jedug...
Alunan suara musik mulai menggema mengisi seluruh ruangan. Gemerlap cahaya warna-warni dengan sedikit sentuhan keredupan mulai mendominasi tempat itu. Mereka saling berjoged dan tertawa bersama. Tak terhitung berapa minuman yang telah habis mereka tegak malam itu.
Dahlia masih asyik dalam posisi bergeraknya. Tangannya masih dengan setia berada di atas. Mengikuti setiap ritme dari lantunan musik yang berdendam. Jika beberapa temannya memesan
minuman yang memabukkan, tidak dengan Dahlia. Wanita itu masih memiliki kesadaran yang utuh. Ia memang menolak untu menegak minuman haram tersebut, demi hubungan baiknya dengan orang tua yang baru saja membaik.
__ADS_1
*****
Hari memang sudah berganti, namun sang surya masih belum menunjukan sinarnya. Benar saja, saat itu sang waktu menunjukan pukul dua dini hari. Jingga dan Fajar, baru saja menyelesaikan segala ritual yang telah lama mereka tinggalkan. Keduanya sedang duduk di atas ranjang dengan posisi saling berpelukan. Dimana Jingga berada di bagian depan, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
“Mas, pulang yuk. Aku kepikiran Gendhis. Takut kalau rewel nanti bagaimana”
“Ini sudah lewat tengah malam sayang. Istirahat saja di sini kita tunggu pagi baru pulang. Lagian Mama juga sudah tahu kalau kita sedang ada di sini”
“Justru itu Mas, aku merasa tida enak sama Mama. Masak iya ita enak-enakan di sini, sementara di rumah, Mama harus menjaga Gendhis” Jingga mulai mengambil jarak dan menatap sang suami. Tatapan mata layaknya kucing yang hendak di pungut.
“Tapi sayang, kalaupun kita pulang. Pasti Gendhis sudah tertidur. Percaya deh”
“Biarlah Mas, setidaknya saat dia terbangun nanti aku sudah ada di sampingnya. Aku tidak enak
jika harus merepotkan Mama dan Oma. Aku juga kepikiran terus dengan Gendhis” Jingga kembali merengek, memohon pada suaminya.
“Padahal aku masih mau lagi besok pagi-pagi sayang” bisik Fajar dengan seduktif.
“Baik besok pagi, tapi di rumah saja. Mas bisa melakukan sebanyak yang Mas mau” Jingga tersenyum pada suaminya, ini adalah bagian dari cara untuk menaklukan dan mengikat hati Fajar.
“Baik kalau begitu, ayo kita pulang” keduanya lekas bangkit dari ranjang,membereskan beberapa barang yang berserakan di lantai dan lekas menggunakannya. Keduanya berjalan dengan beriringan. Dimana tangan Fajar tak pernah melepas tangan istrinya. Berjalan
berdua bergandengan tangan sungguh hal yang sangat menyenangkan terlebih dengan
orang yang tersayang.
.
.
.
“Tunggu..tunggu!”
“Dahlia, itu bukannya pembantu kamu dulu ya?”
“Aduh siapa ya namnya?”
“Hem iya aku ingat Jingga!” ucap salah satu teman Dahlia ketika mereka baru saja keluar dari
parkiran hendak menuju mobil masing-masing.
Sungguh tanpa Fajar dan Jingga sadari, beberapa orang wanita sedang memperhatikannya. Mereka bertemu tanpa sengaja malam itu di pelantaran parkiran. Maklum pelantaran Restoran,
hotel dan juga club malam berada dalam satu tempat. Ketiga tempat tersebut berada dalam satu kawasan yang sama yakni di Surabaya barat.
__ADS_1
“Mana?”
“Ah bukan, kalian lagi mabok, makanya salah lihat” jawab Dahlia dengan asal. Ia enggan jika di
kalahkan oleh Jingga, terlebih di hadapan teman-temannya.
“Masak sih, tapi mata kita masih normal lo beneran deh?”
“Sepertinya aku tidak salah lihat. Iya itu Jingga pembantu kamu dulu dan suaminya”
“Hah, mereka baru saja keluar dari hotel. Ah, pasti mereka habis bersenang-senang. Duh beruntung
sekali pembantu kamu dapat suami seganteng dan tajir itu”
“Apa’an sih kalian. Itu bukan Jingga!”
“Iya itu Jingga. Menurut kalian dua orang dewasa kalau malam-malam begini keluar dari hotel
ngapain ya?” beberapa teman Dahlia saling meledek. Mereka menertawakan Dahlia
malam itu.
“Diam kalian!” ia memilih untuk pergi meningalkan segerombolan teman-temannya yang masih asyik Berbincang malam itu.
“Hem tunggu dulu. Kita belum selesai berbicara” alih-alih menunggu teman-temannya, Dahlia memilih untuk lekas meningalkan mereka. Membawa mobilnya melesat dengan jauh dan hati yang dongkol.
Bagaimana bisa, tadi pagi mereka saling bertengkar, sekarang keluar dari amar hotel bersamaan!
Sial-sial, mana banyak teman-teman pula.
Jingga kenapa kamu menghancurkan harga diriku seperti ini!
Sepanjang perjalanan menuju pulang dahlia tak henti-hentinya mengumpat. Ia begitu sakit hati dengan apa yang beru saja terjadi. Terlebih ketika teman-temannya turut menertawakan apa yang telah terjadi di antara mereka.
.
.
.
Kediaman Dirgantara.
Jingga dan fajar memasuki rumah dengan mengendap-endap, demi tak terciptanya suara yang mengusik penduduk di dalam rumah itu. Mereka bahkan melepas alas kakinya agar tak
menimbulkan suara yang berlebih ketika menaiki anak tangga.
__ADS_1
“Dari mana saja kalian? Jam segini baru pulang?” ucap Oma, yang tengah berdiri di hadapan mereka. Ia melipat tangannya tepat di depan dada. Sontak kehadirannya yang begitu
tiba-tiba membuat Fajar dan Jingga tersentak kaget.