JINGGA

JINGGA
154


__ADS_3

“Kamu pikir setelah aku mempertemukan mu dengan anakmu, aku akan membiarkan kalian


tetap hidup?”


“Hah!”


“Mana mungkin Jingga, aku tidak sebaik yang kau pikirkan. Aku mempertemukan mu dengan


anakmu hanya untuk perpisahan”


“Ya kau dengar perpisahan”


“Maksud kamu?” Jingga setengah mendelik mendengar ucapan Dahlia.


“Kau bodoh apa tuli, sudah ku katakan bukan. Aku mempertemukan mu dengan anakmu hanya


untuk sementara, setelah ini kalian berdua akan mati”


“Kau dengar mantan pelayanku. Kau dan anakmu harus mati setelah ini. Aku tidak akan pernah membiarkan penghalang dalam hubunganku dan Fajar tetap hidup walau berada dalam tempat yang jauh!”


“Kau!”


“Kau penghianat Dahlia. Kau manusia titisan setan!”Jingga murka mendengar penuturan


Dahlia, segala kalimat buruk mulai mengudara keluar dari mulutnya.


“Oh ya aku setan? Lantas kalau aku setan kamu apa? Ibu peri begitu?” Dahlia Menyenggol lengan Jingga dengan kasar. Mimik wajahnya mengejek, bibirnya bergerak ke kanan dan kiri.


“Non, tolong lepaskan kami. Tolong ampuni kami, kasihani kami. Biarkan kami tetap hidup”


Asih mulai membuka suaranya, ia mencela percakapan Jingga dan Dahlia. Tangannya


menangkup di dada memohon sebuah pengampunan pada wanita yang berdiri di


hadapannya. Asih meletakan Gendhis di lantai yang hanya beralaskan kain jarik saja.


“Lihat bahkan pelayanmu saja kini memuja setan” Dahlia semakin mengejek Jingga. Tangannya terulur untuk menyentuh kepala Asih mendorongnya hingga wanita itu terjatuh ke belakang.


“Cukup Dalia”


“Cukup!”


“Kau benar-benar iblis gila. Kau boleh membunuhku dan menyakitiku tapi tidak dengan


orang-orang yang tak bersalah seperti Gendhis dan Asih. Meraka sama sekali tak mempunyai salah padamu”


“Oh ya, mau jadi pahlawan sekarang?. Hem kamu tahu salah mereka di mana? Hem” wanita itu menunjukan wajah manyunnya, wajah yang sengaja di buat selucu mungkin. Namun bukanya terlihat lucu yang ada justru Jingga semakin muak dengan iblis betina di hadapannya.


“Kesalahan mereka Cuma satu, karena mereka berpihak padamu, dan aku tidak suka itu. Kau


paham gembel”


“Bunuh saja aku, jika itu membuatmu dapat merasa lega, tapi jangan sakiti mereka”


Jingga memandang wajah Dahlia, dengan jijik. Sorot matanya berkibar kebencian yang tiada terkira.


“Memang itu tujuanku untuk membawamu ke sini, karena au berniat untuk membunuhmu” ia


berbisik di telinga Jingga yang di susul dengan suara tawa yang menggelegar mengisi ruangan.


“Tapi tenang saja, aku tidak akan langsung membunuhmu secara langsung. Aku ingin

__ADS_1


melihatmu menderita dulu wahai budakku. Aku ingin menyiksamu hingga aku puas!”


Dahlia seperti kesetanan, wanita menarik kerudung Jingga dengan paksa. Menjambak


rambutnya hingga tertarik ke belakang dan nyaris terjatuh dari kursinya.


“Non Jingga” Asih merintih melihat penyiksaan yang ada di depan mata. Ia lekas meraih Gendhis yang sedang tergeletak di lantai. Mendekap bayi itu dalam tangis. Ia tak pernah bermimpi berada dalam posisi yang menakutkan seperti itu.


“Kau tahu ini apa Jingga?” Dahlia membawa sebuah pisau warna putih di tangannya.


Jingga terdiam enggan untuk bersuara.


Sejurus kemudian, Dahlia menempelkan pisau tersebut pada kulit Jingga. “Benda ini bisa


menggores tubuhmu dengan mudah. Benda ini pula bisa membuat kulitmu menjadi


sobek-sobek menjadi beberapa bagian. Kau tak percaya? Apa mau mencobanya?”


Dahlia semakin menempelkan pisau tersebut di kulit Jingga. Asih memilih untuk memejamkan matanya. Ia tak kuasa melihat kejadian yang ada di depan mata saat ini.


“Ups, aku rasa tunggu dulu! Ada hal penting yang harus kamu lakukan sebelum aku menusuk kulitmu dengan ini”


“Tunggu ya bodoh, aku akan lekas kembali”


Dahlia membanting pintu kamar tersebut dengan sangat keras. Ia mengunci pintu dari luar, ia juga menempatkan beberapa penjaga di depan sana untuk memastikan Jingga tidak akan kabur. Meskipun rasanya mustahil bagi Jingga untuk bisa kabur dari sana. Mengingat seluruh tangan dan kakinya di lantai.


“Non Jingga” Asih berdiri menghampiri majikannya. Ia membawa serta Gendhis dalam


dekapannya.


“Non saya takut” Asih menangis sesenggukan di depan Jingga.


dari sini hanya meningalkan sebuah nama Non”


“Mbak Asih, maafkan aku. Maafkan aku yang membuatmu harus terlibat dalam masalah dan


posisi seperti ini”


Kedua wanita itu menangis bersamaan saling menguatkan di tengah keterpurukan yang ada.


“Saya membayangkan, seandainya ibu saya mendengar berita kematian saya. Seorang


majikan di bunuh beserta pelayan, lalu mereka menyebutkan identitas saya. Bagaimana perasaan Ibu saya Non? Sudah dapat di pastikan mereka akan menangis tujuh hari tujuh malam. Saya takut Non” Asih tak melepas pelukannya pada Jingga. Wanita itu benar-benar ketakutan akan nasibnya setelah ini.


“Tenanglah Asih, mari kita berdoa semoga ke keajaiban berpihak pada kita” ucap Jingga


mencoba untuk menenangkan. Meski sungguh dalam hatinya sedang bergemuruh hebat.


MasFajar, Mas tolong aku. Mas aku dalam masalah yang sangat besar. Selamatkan aku


dan anak kita.


“Non apakah kita masih bisa selamat dari sini?” suara Asih melemah dia sudah purus


asa dengan keadaan ini.


“Aku juga tidak tahu” Jawab Jingga dengan lemas.


Kedua wanita dewasa tersebut lemas, nyawa mereka sudah di ambang, entah bisa bertahan


sampai senja tiba atau justru lebih cepat dari itu.

__ADS_1


Masih dalam satu hotel yang sama namun berada di bagian tempat yang lainya. Hermawan,


Bu Lia berikut dengan Dahlia sedang menata beberapa dokumen penting. Dokumen


yang berada dalam map berwarna coklat. Terdapat lebih dari sepuluh bendel yang


isinya lebih dari puluhan lembar surat berharga.


Benar saja, dokumen tersebut berisikan daftar kekayaan Bramantyo yang masih mengatas


namakan Jingga sebagai ahli warisnya. Termasuk juga akan kepemilikan Cakrawala


grup. Dengan teliti mereka mulai menata kertas-kertas tersebut sesuai dengan


aset yang ada.


“Pa siapkan surat peralihan aset atas nama keluarga kita”


“Tentu saja, tanpa kamu minta aku pasti akan melakukan ini semua. Ah ternyata tak


sesulit yang kubayangkan untuk memusnahkan anak itu. Dia terllau lemah dan bodh sama seperti orang taunya”


Mereka bertiga terlibat dalam tawa yang menggelegar. Bagaimana tidak berbahagia jika


dua harapan dapat terwujud sekaligus. Memindahkan semua aset Bramantyo yang


tersisa atas nama Hermawan beserta keluarga. Melenyapkan Jingga berikut anaknya dan yang pasti mendapatkan Fajar sebagai menantu dalam keluarga itu.


Hahahaha


Ketiganya saling berpelukan. Merayakan kemenangan yang sudah ada di dapan mata. Tanpa mereka sadari Jingga dan Asih mendengar setiap rencana yang telah mereka


rencanakan.


“Ternyata kematian keluargaku, adalah ulah mereka pula. Dasar keluarga Iblis!” desis


Jingga dalam hati, ia tidak lagi bisa memaafkan manusia-manusia seperti itu hatinya terlalu sakit, Namun juga tak kuasa untuk berbuat apa-apa.


Jingga memeluk bayinya dengan pilu. Gendhis cenderung diam tak seaktif biasanya. Bayi


itu seakan mengerti dengan apa yang terjadi pada orang tuanya. Ia tak rewel sama sekali. Asih dengan setianya berada di sisi Jingga. Berdiri dengan mendekatkan Gendhis pada dekapan majikannya.


Ceklek pintu terbuka.


Hermawan beserta keluarga datang menghampiri Jingga.


“Halo bodoh” sapa Bu Lia pada mantan pelayan di rumahnya.


“Masih ingin hidup bukan?”


“Sini tanda tangan dulu?”


“Tidak!” tolak Jingga dengan tegas.


“Tanda tangan!”


Pak Angga menarik kerudung Jingga hingga jilbab tersebut jatuh dan menunjukan


rambutnya yang tergerai sempurna.


“Tanda tangan!”

__ADS_1


__ADS_2