
“Astaga apa yang terjadi pada anakku?”
Jingga yang menyadari baha kini bukan hanya tentang dia dan Fajar saja, melainkan ada Gendhis di tengah-tengah mereka. Ia lekas melerai pelukannya dengan Fajar dan berlari menghampiri anaknya.
“Asih apa yang terjadi padanya?”
“Saya tidak tahun Non, tapi nafas bayi Gendhis sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia juga terlihat sangat lemas sekali”
“Cepat bawa ke rumah sakit!” titah Fajar yang masih dalam rengkuhan petugas damkar.
Tanpa pikir panjang mobil ambulance rumah sakit terdekat lekas datang. Mereka membawa
Gendhis dan Fajar, berikut para korban lainnya yang masih memerlukan perawatan intensif. Sepanjang perjalanan Jingga memeluk anaknya dengan awas. Beberapa kali ia melirik dada sang anak. Memastikan jika bayi itu masih bernafas.
Beberapa menit selepas kepergian ambulance yang membaa Fajar berikut korban lainnya.
Pemadam masih sibuk untung menghentikan kobran api yang masih membumbung tinggi
di langit. Dalam waktu kurang dari lima menit, sebuah getaran merayap dalam hotel tersebut. Entah apa yang membuat hal demikian bisa terjadi, hanya saja ledakan yang cukup hebat itu mampu meluluhkan hotel menjadi rata dengan tanah.
“Ada apa ini?”
“Bagaiman ini bisa terjadi?”
“Mama kemana kita harus menyelamatkan diri!”
Duar....
Dahlia dan Bu Lia tewas bersama puing-puing bangunan yang berhamburan meruntuhkan
pondasi gedung hotel tiga lantai itu. Ia tewas bersama dengan keangkuhan, keserakahan yang ia miliki.
Hotel nuansa klasik tua yang telah lama terbengkalai kini telah hancur dan rata dengan tanah dalam kurun waktu yang singkat.
Di tempat lain yang letaknya tak jauh dari lokasi kejadian. Hermawan masih berdiri dengan kedua kakinya yang kokoh. Telinganya masih dapat mendengar dengan begitu jelas akan ledakan yang terjadi di hotel tersebut. Sementara matanya masih dalam jarak aman untuk bisa menyaksikan sisa-sisa kepulan asap yang ada. Ia tersyungkur di atas tanah dengan terisak-isak ketika mendapati hanya mampu selamat seorang diri, sementara anak dan istrinya terjebak di dalam sana.
Tak di sangka, ledakan yang ia susun sendiri untuk menghancurkan Jingga malah berbalik arah. Ledakan tersebutlah yang menambah luluh lantah bangunan hotel, di mana anak dan istrinya masih terjebak di dalam sana. Sekeping asa yang telah ia rancang dengan sedemikian rupa telah sirna saat itu juga. Ia telah gagal menjadi
manusia, telah gagal menjadi ayah dan suami yang terbaik untuk anak dan istrinya.
Reza, yang sebelum Fajar berangkat ke rumah sakit. Telah mendapat mandat untuk mencari keberadaan Hermawan saat itu juga. Ia menyakini jika lelaki tua itu masih berkeliaran di sekitar area sini saja. Sementara anak buang yang turut serta dalam misi penculikan Jingga telah di ringkus aparat penegak hukum dan di
bawa ke kantor polisi terdekat.
“Kau mau lari kemana lagi?”
__ADS_1
“Waktumu telah habis untuk bersenang-senang. Sekarang saatnya untukmu mempertanggungjawabkan apa yang telah kau perbuat!”
Tak butuh waktu yang lama dan proses yang sulit. Reza dapat dengan mudah menemukan
keberadaan Hermawan. Pria itu tak mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Selain
karena tubuhnya yang sudah tiada tenaga, hatinya juga sedang luluh lantah layaknya bangunan hotel yang baru saja menjadi saksi bisa meninggalnya istri dan anaknya.
Ia diam saja ketika Reza menarik paksa tubuhnya dan membawa ke kantor polisi. Lebih dari itu, Hermawan terlihat menitikkan air matanya ketika mobil polisi melintasi area hotel.
*****
Rumah Sakit.
Kondisi Gendhis cukup mengkhawatirkan. Bayi kecil itu terlalu banyak menghirup asap
yang tebal. Saluran pernafasannya sedang terganggu kerana itu. Ia juga mengalami dehidrasi setelah hampir semalam kemarin tidak minum asi pada Ibunya. Tidak hanya Gendhis, baik Jingga dan Fajar juga turut di rawat di sana.
Fajar kerena luka pada kakinya yang mengalami patah tulang, sementara Jingga tubuh
wanita itu sangat lemah. Banyaknya luka yang ada di tubuhnya membuatnya rapuh
dan kesulitan untuk bergerak. Semua baru terasa beberapa jam setelah kejadian. Mengingat
saat kejadian semuanya tak begitu di rasakan, hanya kepanikan dan keresahan yang paling mendominasi.
perawatannya beserta keluarga. Jika biasanya rung bayi ketika di NICU jauh dari ruang rawat untuk orang dewasa makan tidak berlaku untuk Gendhis. Fajar bahakan menyewa kamar dengan fasilitas terbaik asal berdekatan dengan anak dan
istrinya. Ia juga memerintahkan untuk meningkatan pengawalan di tempat perawatan keluarganya kini.
“Asih Istirahatlah, aku tahu kamu juga lelah. Bahkan tubuhmu juga memerlukan cairan
infus. Lihat saja wajahmu bahkan memucat tidak seperti biasanya” ucap Jingga yang sedang terbaring di brangkar rumah sakit berdekatan dengan ranjang suaminya.
“Benar Asih, istirahatlah. Aku akan meminta Dokter untuk memberimu vitamin jika perlu
kamu juga di rawat seperti kami”
“Tidak perlu Tuan, terima kasih sebelumnya. Jika saya juga di rawat dan sakit lantas siapa yang akan menjaga kalian dan Gendhis. Pak reza belum kembali sampai saat ini”
“Kami sudah dewasa Asih, terimakasih atas semua baktimu pada kelurga kami”
“Tidak Tuan, saya masih takut sesuatu hal buruk terjadi pada non Jingga kembali, meskipun saya sendiri tidak mampu untuk melwan setidaknya saya bisa menemani Non Jingga ketika ia sedang dalam masalah atau situasi yang sulit”
“Asih tenanglah semua baik-baik saja” Jingga memegang tangan pelayannya dengan haru.
__ADS_1
Ia tak menyangka jika Asih begitu setia padanya.
Ceklek pintu ruang rawat kamar Jingga berikut Fajar terbuka.
“Tuan, Hermawan sudah tertangkap. Kini ia sedang berada di kantor polisi, berikut
dengan beberapa anak buahnya yang turut dalam penyekapan Non Jingga”
“Menurut kepolisian berdasarkan hasil penyelidikan yanga ada. Korban dalam kebakaran
ini memakan dua nyawa. 16 luka berat dan 24 luka ringan. Korban yang di laporkan meninggal adalah Nona Dahlia dan Juga Nyonya Lia. Jasad mereka di temukan dalam kondisi terpanggang meninggalkan perhiasan yang melekat pada
tulang-tulang mereka”
Jingga menutup mulutnya yang menganga. Ia tak menyangka dengan insiden tragis yang baru
saja terjadi beberapa waktu yang lalu.
Inalilahi Wa inalilahi rojiun.
Ucap dengan kompak seluruh orang yanga ada dalam ruangan rawat inap.
“Aku membenci keserakahan dan kezaliman. Andai saja mereka bisa berlapang dada untuk
menerima semua keadaan dan takdir yang ada. Mungkin Tuhan masih berbaik hati untuk tetap memberikan kesempatan pada mereka hidup saat ini”
“Sudahlah sayang, ini adalah pilihan hidup mereka pilih sendri. Sudah sepatutnya mereka
mempertanggung jawabkan akan hal itu”
“Za, tolong bawa Asih untuk istirahat. Pesankan satu kamar rawat inap untuknya. Dia tak hanya lelah akan fisiknya aku yakin psikisnya juga sedang kacau”
“Asih, aku tidak menerima penolakan apapun. Kau tahu itu aku tak suka di tentang. Pergilah sebelum aku mengusirmu dari sini dengan paksa” perintah Fajar kemudian dan menyuruh pelayan dan anak buahnya keluar dari kamar mereka,
Menyadari perintah Fajar adalah sabda yang harus di turuti, membuat Asih berikut Reza
lekas meninggalkan mereka berdua.
“Mas kok jahat banget sih sama mereka. Mereka sudah banyak membantu kita selama ini”
desis Jingga yang juga terbaring di ruangan yang sama.
“Aku tidak jahat, aku hanya sedang menyuruh mereka untuk beristirahat”
Sepasang suami istri tersebut saling berpandangan jemari mereka saling bersentuhan. Andai sedang tidak dalam masa perawatan rasanya ingin saling memberikan
__ADS_1
pelukan mendekap dengan damai tubuh pasangannya.