JINGGA

JINGGA
175


__ADS_3

“Nenek” sapanya dengan pelan. Fajar lekas bangkit dari tempat duduknya, ia menggeser


kursi yang sedang di duduki dan mempersilahkan untuk Bu Kinan duduk. Bu Kinan masih berjalan pelan, pandangan matanya tertuju pada wanita tua yang sedang terbaring di atas ranjang.


“Perkenalkan nek, ini adalah Omaku” ucap Fajar ketika Bu Kinan hampir saja iba di hadapannya.


“Masyaallah” Ucap Bu Kinan dengan mulut yang menganga ketika melihat wajah Oma dari jarak


terdekat. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangannya. Fajar tampak bingung melihat interaksi yang terjadi di antaranya.


“Fajar” ucap Nenek dengan ekpresi yang terkejut.


“Sungguh ini nenekmu?”


Fajar menganggukkan kepala dengan sejuta pertanyaan yang ada.


“Dia Kirana Larasati kan?”


“Betul Nek”


“Masyaallah kebetulan yang luar biasa sekali. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai seperti ini?” Nenek memberondong Fajar dengan banyak pertanyaan.


“Mohon maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi apakah nenek mengenal Oma?”


Diam.


Bu Kinan tampak diam tak memeberikan jawabannya. Ia malah memegang tangan Oma


dengan lembut. Ia memandang dengan dalam wajah wanita yang sedang terbaring lemah di hadapannya.


Fajar masih bingung mendapati keadaan yang demikian. Ia memilih untuk diam dan


menunggu jawaban dari nenek Kinan.


“Fajar, aku dan nenekmu bersahabat sejak kami masih remaja. Dulu kami di pertemukan di salah satu universitas besar di Surabaya ini. Kami slalu bersama kapan pun dan di mana pun. Kami di pertemukan saat masih masa orientasi mahasiswa baru dulu”


Bu Kinan tampak diam. Ingatannya tenggelam dalam beberapa waktu yang lalu, saat ia


masih muda dan merajut asa demi cita-cita.


“Apakah nenek adalah sahabat yang di maksud Oma?” ucap Fajar dengan lirih.


“Maksud kamu nak?”


“Beberapa hari yang lalu, Oma meminta pada kami untuk mencari sahabat lamanya yang


bernama Kinan. Jujur kami mengalami kesulitan untuk itu, hingga memuat Oma kembali harus mengalami penurunan kondisi seperti ini”


“Tiga hari yang lalu kondisi Oma sudah stabil. Ia juga sudah mulai untuk mau makan, lantas beliau memintaku dan Papa untuk mencarikan sahabatnya Kinan. Aku rasa ada sesuatu yang hal yang ingin di sampaikan pada sahabatnya”


“Benar Fajar, akulah sahabat Oma mu, kami juga tinggal dalam satu rumah yang sama ketika di Surabaya. Kami memilih kamar yang bersebelahan untuk tinggal. Saat itu kami masih perintis bukan sorang pewaris. Kita sama-sama dari keluarga yang kurang berada dulunya”


“Aku tahu apa yang ingin di sampaikan Omah mu”

__ADS_1


Bu Kinan keluar dari kamar. Ia lekas bangkit dari tempat duduknya dengan pelan dan memutar langkah menuju keluar kamar rawat inap. Fajar masih diam di tempat dengan tatapan yang bingung.


Beberapa menit kemudian nenek kembali ke dalam kamar rawat inap Oma dengan membawa koper besar yang di bawanya dari rumah. Ia meletakkan koper tersebut di samping sofa,


sejurus kemudian ia lekas membongkar isinya. Fajar masih diam saja mengamati apa yang ada di hadapannya, walau sungguh ia begitu penasaran dengan keadaan yang ada.


Tangan Nenek masih sibuk, mengeluarkan satu per satu isi di dalam kopernya. Jemarinya terhenti saat mengambil sebuah kotak kecil warna emas di sana. Ia lekas membawa


kotak tersebut ke hadapan Oma. Fajar pun mengikuti setiap apa yang di lakukan Bu Kinan.


Kali ini Fajar tak kuasa untuk menahan rasa ingin tahunya. Ia memberanikan diri untuk bertanya ketika kotak tersebut Bu Kinan letakkan di samping Oma.


“Mohon maaf nek jika saya lancang, tapi jika boleh tahu apa sebenarnya yang terjadi di


antara kalian berdua?” tanya Fajar dengan ragu.


“Panggil istrimu ke sini sebentar”


Fajar yang mendapat tugas demikian lekas memanggil Jingga yang masih menunggu di


luar. Tak berselang lama keduanya kembali memasuki ruangan dengan banyak pertanyaan yang hinggap di kepala.


Fajar dan Jingga berdiri saling berhadapan di sebelah Oma.


“Ada apa nek?” kini Jingga yang tak kuasa untuk menahan rasa ingin tahunya.


Alih-alih memberikan jawaban Bu Kinan memilih untuk membuka kotak emas tersebut. Terdapat


Bu Kinan kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia membuka selembar kertas yang ada di sana.


“Dahulu saat kami masih remaja dan belum menikah kami memiliki janji satu sama lain. Aku


dan Omah mu ingin menjadi saudara yang seutuhnya dengan adanya sebuah ikatan yang


sah di mata hukum dan agama”


“Dulu kami berniat akan menjodohkan anak kami ketika mereka sudah dewasa nantinya. Namun


Allah berkehendak lain, anak yang kami lahirkan sama-sama prianya. Yakni Bramantyo dan juga Angga ayahmu. Kami tidak mungkin menjodohkan mereka berdua”


“Lantas kami masih berharap untuk bisa menjadi saudara seutuhnya, sayangnya masing-masing dari kami tak kunjung kembali punya anak hingga saat ini. Sampai suatu waktu kami bertemu kembali dan merencanakan ulang rencana kami berdua”


“Saat itu Angga dan Bramantyo sudah berusia dua puluh lima tahun tahunan. Tapi kami sudah merancang masa depan mereka bahkan hingga cucu kami nantinya”


“Kami memutuskan untuk tidak lagi menjodohkan anak  kami. Karena mereka sudah sama-sama menikah dan memiliki seorang anak”


Jingga dan Fajar masih diam saja, bingung untuk merangkai kisah Oma dan neneknya dulu.


“Lantas?” Fajar sudah tak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.


Bu Kinan tak menjawab, ia menyerahkan selembar kertas tersebut pada Fajar dan


Jingga.

__ADS_1


Fajar Dirgantara dan Jingga Ayu Kemuning.


Fajar dan Jingga kompak membaca isi tulisan yang ada dalam secarik kertas usang di


hadapannya.


“Maksudnya Nek?” tanya Jingga dengan  tatapan yang tak sabar.


“Kami sudah menjodohkan kalian sejak masih kecil. Saat itu usia Fajar sudah menginjak tiga tahun sementara kamu baru empat puluh hari Jingga” ucap Bu Kinan dengan tersenyum pada kedua cucunya.


“Masya allah betapa sempurnanya cara Allah menyatukan kalian berdua. Meskipun harus


melewati serangkaian cerita yang tak mudah. Aku sudah lama mengubur mimpiku ini ketika terpisah jauh dari Jingga. Aku bahkan sudah berkali-kali meminta maaf pada Oma mu dan meminta untuk membatalkan perjanjian kita”


“Aku tak mau mengikat dia dengan sebuah perjanjian yang memberatkan nantinya. Bukan tanpa alasan, bukan maksud aku tak mau hanya saja karena aku tak tahu keberadaan Jingga saat itu dulu”


“Tapi Omah mu tak mau membatalkan rencana kami, ia kekeh dengan pendiriannya untuk


mempersatukan kalian berdua. Aku pun hampir putus asa dengan itu. Namun atas kuasa Allah dengan segala caranya. Ia menuntun kalian untuk berjodoh tanpa campur tangan kami berdua. Allah telah merestui apa yang menjadi harapan kami berdua”


Bu Kinan memegang tangan Oma kembali, ia menatap sayu sahabatnya yang sedang


terbaring tak berdaya.


Fajar dan Jingga tak kusa menahan rasa haru. Mereka saling berpelukan saat itu juga degan mata yang basah. Ia tak menyangka jika perjodohannya dengan Dahlia dulu hanya sebuah jalan menuju untuk bertemunya tujuan yang utama.


“Laras bangunlah, apa kau tak ingin menyabut kedatanganku?”


“Laras, lihatlah sesuatu yang telah lama kita harapkan kini telah terwujud. Lihatlah Jingga


dan Fajar mereka memanglah berjodoh. Sekarang kita benar-benar sudah menjadi


saudara. Bahkan kita memiliki cicit yang sama Gendhis”


“Iya, Gendhis bayi lucu anak Fajar dan Jingga yang baru berusia tiga bulan. Bangunlah,


apa kamu tak ingin bercerita banyak hal padaku?”


Bu Kinan masih terus berbicara, ia berharap Oma akan memberikan reaksi atas apa yang di ucapkannya. Sungguh dari lubuk hati yang terdalam, ia ingin kembali melihat sahabatnya sembuh. Ia ingin bercerita banyak hal tentang kehidupan yang telah mereka lalui bersama.


Sementara itu, Oma masih diam tak menunjukan reaksi. Matanya masih terpejam dengan erat


namun beberapa saat kemudian sudut matanya basah. Mungkin ia masih belum sanggup


untuk membuka matanya. Tapi alam bawah sadarnya masih bisa mendengar dengan


jelas interaksi yang ada di sekitarnya.


“Laras, bangunlah. Mari kita habiskan masa tua kita bersama seperti saat kita menghabiskan masa muda kita dulu”


Bu Kinan masih duduk di sebelah Oma. Ia mengelus lembut penggung tangan yang tampak


terkulai lemas.

__ADS_1


__ADS_2