JINGGA

JINGGA
141


__ADS_3

“Hay, senang bisa berjumpa kembali denganmu” Dahlia, berjalan mendekat ke arah Jingga. Ia sedikit menyenggol


lengan Jingga.


“Hay, kamu belum amnesia bukan?” tanya kembali ketika Jingga, hanya melongo melihat kehadirannya.


“Iya” Jawab Jingga dengan gagap, ia begitu tidak enak dalam posisi seperti ini, Rasanya sama sekali tak terbesit


dalam benaknya jika harus bertemu kembali dengan Dahlia.


“Kenapa? Kaget ya? Biasah saja” Dahlia masih berdiri di sebelah Jingga, ia kembali menyenggol lengan mantan


pelayannya.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Jingga, mulai membuka percakapan.


“Hah, kabarku? Panggil aku Nona ya. Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi Nona muda untukmu. Kabarku baik, baik sekali bahkan. Oh ya sekedar informasi kehadiranku kembali untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Tentu kamu tahu bukan maksudku!” bisik Dahlia dengan lembut, namun dapat menusuk ke relung hati Jingga yang terdalam.


Deg...


Saat itu juga, hati Jingga terasa nyeri tiada terkira. Ada rasa cemas dan khawatir membayangkan ancaman yang baru saja di lontarkan oleh Dahlia. Terlebih ketika melihat sang anak dalam gendongannya. Bayi itu terlalu kecil, bagaimana jika Dahlia kembali merenggut paksa kebahagiannya. Ia tak ingin anaknya memiliki keluarga yang pincang dan tak lengkap.


“Bersiaplah” bisiknya kembali di telinga Jingga, sejurus kemudian wanita itu melangkah dengan begitu elegan. Membawa segelas minuman yang ada di tangannya.


Jingga kembali terdiam untuk beberapa saat. Hatinya sibuk menata kepercayaan dirinya. Ia benar-benar takut.


Bu Lia berada di sudut rungan, ia sedang berbincang ringan dengan Oma dan juga Bu Nadin. Tak berselang lama, Dahlia turUt bergabung di sana. Ia duduk di antara wanita beda usia tersebut. Senyum terpancar di wajah cantiknya. Sesekali ia menatap Jingga yang berada jauh di ujung sana. Ia ingin memastikan jika Jingga melihat semuanya. Terlebih keakrabannya dengan Oma dan Bu Nadin.

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul sembilan malam sebagain para undangan sudah pulang. Sebagian lagi masih di halaman depan untuk saling bercengkrama satu sama lain. Terutama keluarga yang jauh-jauh mereka masih belum beranjak, Ingin memanfaatkan moment ini untuk melepas rindu berkumpul bersama.


Jingga memilih untuk beranjak pamit dari Ruang keluarga. Ia berjalan membawa Gendhis dalam dekapannya untuk menidurkan bayi kecil itu di dalam kamarnya. Ia tak kunjung bisa memejamkan mata meskipun bayinya sudah tertidur dengan sangat pulas. Bayang-bayang ucapan Dahlia masih terngiang di ingatannya.


 Jingga tahu betul tabiat Dahlia, maklum mereka tinggal bersama sejak kecil. Dahlia akan melakukan segala cara untuk merebut kembali apa yang menjadi keinginannya. Ia tak kan peduli keadaan sekitar. Bagi Dahlia yang terpenting adalah ambisinya bisa tercapai. Jingga ingat betul akan hal itu, dahulu ia sering menangis ketika Dahlia harus merenggut paksa apa yang sudah menjadi miliknya. Jika dulu akan berakhir dengan Jingga yang mengalah, bagaimana dengan sekarang?


Aku harus berbuat apa? Ada Gendis yang harus aku perjuangkan untuk memiliki keluarga utuh.


Ceklek pintu terbuka.


“Sayang sudah tidur ya?” sapa Fajar dengan pelan. Ia mendekat ke ranjang anaknya. Di sana Jingga turut meringkuk memeluk anaknya dalam damai. Ia sengaja pura-pura memejamkan mata.


“Sudah tidur?” Fajar kembali menggoyangkan tubuh Jingga dengan pelan. Namun sayang tak ada reaksi yang di


berikan istrinya.


“Aku mau ke depan dulu, nemenin beberapa tamu Papa” Fajar berlalu meninggalkan kamar anaknya. Jingga lekas membuka matanya dengan pelan. Hatinya berdetak takut kebahagiannya akan segera sirna setelah ini.


*****


Satu minggu berlalu semenjak acara selapan Gendhis, tak ada perubahan yang berarti pada diri Fajar, justru laki-laki itu semakin menempel erat pada istrinya. Perlahan Jingga, mulai membuang segala pikiran buruk yang ada dalam benaknya. Ia percaya jika suaminya tidak akan bertindak salah. Bukankah mereka saling mencintai saat ini dan


sampai nanti. Jingga ta ingin memuat suaminya risih dengan segala prasangka buruk yang belum tentu terjadi.


Sekuat tenaga ia menampik pikiran buruk itu, bukankah sekarang sudah ada Gendhis sebagai pelengkap keluarga kecil mereka. Ia juga harus bersyukur karena memiliki mertua dan Oma yang begitu mencintainya tanpa syarat. Menerima tanpa memandang derajat maupun kekayaan.


“Sayang, kok kamu rajin sekali sih. Sudah ku katakan bukan? Kamu tidak perlu repot-repot memasak untukku. Kamu cukup menyiapkan baju dan keperluanku saja, itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tak mau kamu kecapean” Fajar terjun langsung ke dapur, ia memeluk istrinya dari belakang, ketika melihat Jingga sedang memasak. Seperti biasah pelayan yang bertugas di dapur akan segera pergi ketika melihat kehadiran Fajar.

__ADS_1


“Tidaklah mas, tidak banyak aktivitas yang bisa ku lakukan saat ini. Kamu benar-benar membuatku menjadi ratu” jawab Jingga kemudian.


Berdering.


Fajar melepaskan pelukan yang melingkar di pinggang istrinya, ia sedikit menjauh dari jangkauan Jingga saat menerima panggilan itu. Sementara Jingga, tangannya masih sibuk beradu dengan segenap masakan yang ada di pancinya.


“Sayang, sepertinya aku harus berangkat lebih awal. Ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan” Fajar mencium sekilas kening istrinya dan berlalu begitu saja.


“Tapi Mas, masakannya belum matang. Kamu belum sarapan” Teriak Jingga dengan sedikit mengeraskan suaranya.


“Maaf sayang, tapi aku sedang buru-buru. Lain kali saja ya” Pria itu sudah mulai memasuki mobil yang ada di halaman depan. Sopir lekas menancapkan gasnya dengan cepat. Sementara Jingga sibuk menata bekal untuk sarapan suaminya. Ia berlari keluar dengan segera.


“Yah, sudah berangkat rupanya” ucapnya dengan malas, ketika melihat mobil Fajar sudah berjalan meningalkan area pekarangan rumah.


“Sudah gak papa, biar dia sarapan di kantor saja. Nanti biar masakan kamu Mama dan Papa yang makan. Atau kamu datang saja ke kantornya. Antarkan makanan ini ke sana nanti untuk makan siangnya suamimu. Sekalian buat kejutan untuk dia. Kamu kan sudah lama sekali tidak keluar rumah semejak kelahiran Gendhis. Nanti buar Gendhis Mama yang jagain” saran dari Bu Nadin pagi itu, ketika melihat wajah menantunya kusut seperti benang yang kehilangan jarumnya.


“Wah bener juga Ma, aku sudah lama sekali tidak ke kantor Mas Fajar”


“Iya, amu ke sana saja nanti, sekalian jalan-jalan refreshing. Mama tahu kamu pasti jenuh sekali setelah empat puluh


hari lebih tidak ke mana-mana” turut Bu Nadin. Beliau adalah salah satu tipe mertua idaman para menantu saat ini. Bu Nadin sama sekali tidak kolot, ia juga mengerti apa yang di butuhkan kaum muda, Bahkan Bu Nadin dengan rela menawarkan diri untuk mengasuh cucunya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2