JINGGA

JINGGA
111


__ADS_3

“Sayang, tidak seperti itu. Kamu masih tetap cantik, bagaimanapun bentuk tubuhmu” Fajar mengejar istrinya yang setengah berlari menuju balkon kamar mereka.


Ia berdiri di ambang balkon dengan wajah yang merenggut sedih. Tertunduk dan memeluk perutnya sendiri. Sungguh semenjak kehamilan ini, hati Jingga mudah sekali tergres walau hanya sekedar ucapan biasa.


Fajar menghela nafas panjang.


Huft...


Ia mulai maju beberapa langkah untuk mendekat ke istrinya, melingkarkan tangan kekarnya di perut sang istri dan menyandarkan dagunya tepat di bahu istrinya.


“Sayang, wanita hamil itu hanya sementara tidak lama. Kamu tidak akan selamanya merasakan seperti ini. Nikmati setiap proses yang ada, termasuk saat perubahan bentuk tubuhmu. Ini adalah bagian dari nikmat dan anugrah dari Allah. Kau tahu sayang, tidak semua wanita yang ada di dunia ini bisa merasakan hamil dan memiliki tubuh sehat sepertimu” Fajar membalikan tubuh istrinya dan menangkup kedua pipi Jingga.


Jingga masih tertunduk, tapi ucapan Fajar benar-benar mampu menampar hatinya yang telah kufur akan nikmat Allah. Bukankah ini semua adalah sesuatu yang mereka tunggu sebelumnya.


“Bagiku yang terpenting adalah kesehatan kamu dan anak kita. Bentuk tubuh hanyalah bonus semata. Lagian kamu jauh lebih indah di pandang mata saat seperti ini sayang”


“Semuanya padat berisi, aku tak kuasa untuk tidak memegangnya” bisik Fajar dengan nakal dan sedikit menggigit telinga Jingga yang masih belum memakai jilbabnya.


Jingga meremang dan memejamkan mata, seketika senyum di bibirnya kembali terbit. Ia memeluk Fajar dengan cukup erat.


“Jadi bagaimana sudah siap untuk ketemu anak kita? Aku rasa kita harus lekas berangkat sebelum jam sepuluh” Fajar melirik pergelangan tangannya yang menunjukan pukul setengah sembilan lebih.


Jingga mengangguk patuh.


****


Satu jam berlalu, Fajar dan Jingga sudah sampai di rumah sakit sebelum pukul sembilan pagi. Seperti biasah ia akan menjadi pasien istimewa bagi Dokter Ambar. Reza secara khusus telah melakukan reservasi untuk pemeriksaan majikannya, jauh beberapa hari sebelum jadwal pemeriksaan di lakukan. Tentu saja semua ini demi kenyamanan Jingga beserta Fajar.


“Jadi bagaimana Dok, perkembangan anak kami?” Fajar tampak cemas, ia berdiri di sisi ranjang Jingga, mengamati pergerakan yang ada di layar monitor.


“Bayi anda sehat Tuan, Nyonya. Saat ini sudah memasuki usia tujuh belas minggu. Janin dalam kandungan Nyonya sudah mulai bisa bergerak-gerah”.


“Apakah itu tanda sebuah kehidupan Dok” Tanya Fajar memastikan, matanya tak bergeser sedikit pun dari layar monitor yang ada di depannya.

__ADS_1


“Iya, benar Tuan. Bayi kalian sudah memiliki nyawa. Ia tumbuh dengan cukup sehat. Sepertinya asupan makanan yang di terima Nyonya Jingga lebih dari cukup, terlihat dari berat badan janin yang cukup untuk usianya”


“Lantas bagaimana dengan jenis kelaminnya?” Fajar begitu antusias mengamati setiap pergerakan yang di lakukan anaknya di dalam sana.


“Hem, mohon maaf Tuan, untuk jenis kelaminnya belum terlihat saat ini. Mungkin di kunjungan berikutnya kita bisa melihat jenis kelamin bayi anda”


“Apakah ada keluhan yang berarti Nyonya?”


Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sejurus kemudian ia menjawab “hanya saja, saya jadi lebih sensitif dan cepat rindu dengan suami saya” ia malu harus mengatakan itu, tapi Jingga ingin menceritakan pada Dokter Ambar, berharap sang Dokter dapat menemukan obat untuk mengurangi rasa rindu itu. Jujur Jingga juga takut, jika Fajar akan risih dengan tingkahnya yang slalu ingin bersama sepanjang waktu.


Dokter Ambar tersenyum kecil.


“Saya rasa itu hal yang lumrah Nyonya. Apa lagi ini adalah kehamilan pertama anda. Tentu baik sang bayi maupun ibunya masih ingin slalu bersama ayahnya”


“Saya rasa Tuan, harus lebih sabar lagi untuk menghadapi segala gejolak emosi ibu hamil. Saya akan meresepkan vitamin untuk Nyonya setelah ini”


“Baik Dok, kami permisi dulu”


Keduanya undur diri dari ruangan Dokter Ambar. Mereka sedang duduk di ruang tunggu menanti Reza yang sedang menebus obat.


“Aku rasa tidak perlu sayang, ini hanya luka kecil. Baru kemarin di tangani Dokter”


“Tapi Mas, aku ingin memastikan jika semuanya akan baik-baik saja”


“Trimakasih sudah mengkhawatirkan ku tapi sungguh aku baik-baik saja” Fajar mengelus lembut kerudung istrinya. Keduanya saling bercanda dan tertawa kecil sambil menunggu kedatangan Reza. Tiba-tiba saja ponsel Fajar bergetar. Ia meraih ponsel tersebut dalam saku celananya. Fajar hanya menatap sekilas lalu memasukannya kembali ke dalam saku celananya.


“Kenapa tidak di angkat Mas?”


“Aku tidak menerima panggilan apapun selama berada di sebelah mu sayang” Jawab Fajar, dengan kembali memasukan ponselnya dalam saku.


“Tapi Mas, angkat saja, siapa tahu penting”


“Bagiku tak ada urusan yang lebih penting di bandingan denganmu sayang”

__ADS_1


Jingga memutar bola matanya dengan malas “Mas, berhentilah untuk menggombal, angkat saja siapa tahu itu kabar penting untuk Mas” ucap Jingga kemudian.


Fajar terdiam untuk sesaat, ia kembali meraih ponsel dalam saki celananya yang terus bergetar.


“Angkat saja Mas” desah Jingga kemudian.


Tak punya pilihan lain, Fajar menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


“Iya” jawabnya pada seseorang yang ada di sebrang sana.


“Oh tunggu, beberapa menit lagi. Aku akan menghubungimu kembali” Fajar kembali menutup saluran ponselnya.


“Ada apa Mas?” tanya Jingga, ketika melihat ekpresi wajah Fajar yang sedikit berubah saat itu.


“Sayang kamu bisa menunggu di sini sebentar saja? Jangan pergi kemana-mana sebelum Reza kembali. Oke?”


“Mas mau ke mana?”


“Aku sedang ada perlu sebentar saja”


“Baik Mas” jawab Jingga dengan menganggukkan kepalanya mengerti.


“Sudah pergi saja sana”


Fajar masih terdiam dalam kursi tunggu, ia masih enggan untuk meninggalkan Jingga sendiri, terlebih bahaya sedang mengintai setiap gerak mereka. Fajar juga menyesal tak membawa serta Susi pagi itu.


“Ayo lah Mas, aku gak papa di sini sendiri lagian di sini juga banyak orang. Aku masih bisa bertanya pada mereka jika membutuhkan sesuatu” Jingga berusaha menyakinkan suaminya untuk lekas pergi.


“Tunggu sebentar sampai Reza kembali”


“Aduh Mas, aku bukanlah anak kecil lagi yang harus di jaga dua puluh empat jam. Bahkan jika Mas mengizinkan aku pun masih bisa pulang sendiri ke rumah. Mas meragukan kemampuanku?”


“Tidak sayang, tidak seperti itu. Tapi...” Fajar menjeda ucapannya.

__ADS_1


“Sudah pergi saja sana, ada hal penting yang harus Mas selesaikan dari pada menungguku di sini” Jingga mendorong tubuh suaminya untuk lekas beranjak pergi.


__ADS_2