JINGGA

JINGGA
92


__ADS_3

2 Bulan kemudian


Dua bulan kemudian, hubungan Jingga dan Fajar semakin dekat. Mereka layaknya lem dan perangko yang tak dapat di pisahkan satu sama lain. Seminggu selepas Jingga berhenti bekerja, Fajar memutuskan untuk memboyong istrinya ke rumah pribadi miliknya. Rumah yang sudah di siapkan sejak lama untuk keluarga kecilnya kelak. Kendati dapat banyak penolakan baik dari Oma maupun Mama dan Papanya, namun Fajar tetap kekeh membawa Jingga keluar dari rumah utama. Ia ingin hidup mandiri dengan istrinya.


Jingga membawa serta Susi, pelayan yang sejak awal masuk ke rumah utama slalu menyertainya. Semenjak pindah ke rumah baru, Fajar benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk Jingga melakukan pekerjaan rumah. Ia benar-benar bermetamorfosis menjadi Nyonya muda yang sesungguhnya.


Tidak ada hal yang berarti yang di lakukan Jingga, hari-harinya di habiskan dengan membaca novel, melihat serial drama dan melakukan perawatan tubuh yang telah di sediakan khusus di rumah. Fajar tak menuntut aktivitas lebih pada istrinya, yang di inginkan hanyalah Jingga berada di sisinya. Beberapa kali dalam kesempatan ketika bosan melanda, Jingga memilih untuk berkunjung ke kantor suaminya, dengan dalih mengantarkan makan siang.


Meskipun sudah lebih dari empat bulan menikah dan tiap hari mereka menghabiskan malam bersama, namun ada beberapa hal yang Jingga tak bisa sentuh dari suaminya. Benar saja, ada hal pada diri Fajar yang masih tertutup terlebih tentang pekerjaan.


Seperti malam itu, Fajar tiba-tiba mengutarakan rencana untuk pergi ke luar negri, ia mengatakan jika akan berangkat dengan Reza sang asisten pribadinya. Anehnya Fajar, sama sekali tak menjawab ketika Jingga bertanya luar negri mana yang akan di kunjungi. Alih-alih menjawab, Fajar malah sibuk untuk mengemas barang-barang miliknya. Ia bahkan tak meminta bantuan Jingga untu menyiapkan semuanya.


Wajah Fajar, begitu cemas saat itu, seakan sedang menyembunyikan sesuatu yang sedang rumit. Jingga bisa merasakan itu, meskipun Fajar mencoba untuk menyembunyikannya.


“Aku mau ikut” rengek Jingga yang kini tengah dudu di ranjang  bersebelahan dengan tumpukan pakaian yang akan di masukan ke dalam koper.


“Tida bisa sayang”


“Tapi aku mau ikut”


“Sayang, tidak bisa”


“Kenapa tidak bisa? Kenapa aku tidak boleh ikut?” Jingga menggeser dudunya untuk lebih dekat dengan suaminya.


Fajar tak bergeming, ia masih sibuk mengambil beberapa kemeja berikut dasi dan jas mahal yang ada di almari pakaiannya.


“Pokoknya aku mau ikut!”


“Sayang, jangan seperti ini, nanti aku tida bisa fokus untuk bekerja kalau kamu ikut” Fajar mulai menutup koper setelah di rasa semua perlengkapannya telah terpenuhi di dalam sana.

__ADS_1


Jingga melempar tatapannya ke sembarang arah, wajahnya begitu kesal luar biasa. Ia tak lagi mau berbicara dan memilih mengamati Fajar dalam diam.


Sesungguhnya Jingga, juga heran dengan sikapnya yang oper protektif pada suaminya. Padahal dulu mereka begitu jauh dan tak mungkin untuk bersatu, tapi nyatanya saat ini, kepergian Fajar membuatnya rapuh dan kehilangan tempat untuk bertumpu. Padahal ini hanya untuk beberapa hari ke depan, bagaiman jika Fajar harus menjalankan perjalanan bisnis lebih dari satu bulan seperti yang pernah Mama mertuanya ceritakan dulu.


Jingga menghela nafas dengan panjang.


“Tapi mas, aku janji tidak akan menggangu nanti” ia mengangkat jemari kelingkingnya ke atas tepat di hadapan wajah Fajar.


Fajar tersenyum nakal “Kenapa sayang, sudah sebegitu candu kah dengan tubuhku hingga tak bisa jauh dariku walau hanya hitungan hari” Tangan Fajar menoel lembut hidung minimalis istrinya.


Jingga berdecak kesal, ia menghentakkan kakinya di lantai dengan sangat keras, bagaimana bisa isi otak suaminya hanya hal semacam itu saja, padahal ada rasa khawatir lebih yang hinggap di hatinya.


Melihat aksi istrinya yang begitu menggemaskan membuat Fajar tak kuasa menahan diri untuk tidak menggigit bibir ranum istrinya, seketika Jingga menjauh untuk sesaat. Namun semakin Jingga menjauh Fajar semain merengkuhnya dalam dekapan. Dekapan yang cukup dalam dan menenangkan.


“Sayang ayolah, aku pergi hanya untuk beberapa hari saja”


“Berapa lama?”


“Tuh kan tidak bisa jawab” Lagi-lagi Jingga merajuk, ia mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa cm ke depan.


“Tidak akan lama sayang”


“Aku tak percaya”


Hening.


Entahlah apa yang terjadi pada Jingga, beberapa hari ini. Ia tampak berbeda. Wanita itu jauh lebih welcome terhadapnya, bahkan cenderung menunjukan sikap manjanya. Tak jarang dalam beberapa hari ini Jingga, akan merengek hanya karena Fajar tak membalas pesannya lebih dari lima menit.


“Mas Fajar tidak selingkuhkan?” ucap Jingga, dengan tiba-tiba. Wajahnya masih di tekuk tak ada senyum yang terlukis di sana.

__ADS_1


“Astaga”


“Kenapa? Kenapa tidak di jawab Mas? Mas Fajar, sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” Ia semakin merajuk, bahkan kini duduk semakin jauh memberi jarak pada suaminya.


“Sayang, ayolah aku hanya pergi untuk bekerja tidak lebih dari itu”


“Bagiamana aku bisa percaya sedang pernikahan kita sendiri dulu tidak di dasari dengan cinta, bahkan Mas Fajar juga sempat...” Jingga tak dapat melanjutkan ucapannya, Fajar lekas meraup bibir manisnya dengan lembut menikmati setiap bagian di sana.


“Percayalah aku tidak sedang bermain-main. Aku bukan lelaki yang dengan mudah tergoda dengan pesona wanita. Terlebih wanita parasit yang hanya menyukai uang saja.” Fajar mencoba untuk menyakinkan istrinya.


“Apa aku harus percaya? Sedang dulu Mas Fajar juga sempat terpikat dengan pesona...”


“Hentikan sayang, aku tidak seperti itu. Itu hanya sebagain kecil dari kesalahan di masa lalu”


“Aku tidak tahu apa yang membuatmu emosian beberapa terakhir ini, kamu benar-benar posesif tak memberikn sedikitpun ruang gerak pada suamimu ini”


Fajar tak marah dengan istrinya, justru ia begitu gemas. Ia menyukai jika Jingga sudah bergantung sepenuhnya padanya.


“Mas.”. Suara mendayu dan terkesan manja kembali mengudara ketika satu tangan Fajar mulai mengangkat koper di tangannya.


Fajar kembali berbalik arah, ia mengusap butiran bening yang luruh begitu saja di mata istrinya.


“Aku hanya sebentar istriku percayalah”


Jingga tak lagi bisa menahan kepergian sang suami. Fajar benar-benar menyeret kopernya keluar dari kamar. Sebagai istri yang baik Jingga turut serta mengantarkan ke bawah, meskipun hatinya merasa dongkol tiada terkira.


Fajar kembali berbalik, memeluk istrinya dengan sangat lama, menenggelamkan kepalnya di sela-sela tengkuk istrinya. Ia mencium dalam harum tubuh istrinya yang akan di rindukan beberapa hari ke depan.


“Sayang jangan berfikir macam-macam, tidak ada yang lebih indah selain berada sini” bisik Fajar sekilas pada istrinya.

__ADS_1


Tak butuh waktu yang lama, Reza sudah datang dengan membawa koper yang ukurannya hampir sama.


“Silahkan Tuam, semuanya sudah siap”


__ADS_2