
Jingga masih terdiam di kursi tunggu selepas kepergian Fajar. Ia duduk dengan santai. Sebagai seorang istri yang patuh, ia menuruti semua perintah Fajar termasuk untuk tak beranjak dari tempatnya sebelum reza kembali. Tangannya merogoh tas yang ada di sebelahnya duduk. Jemarinya membolak-balikkan foto USG yang ada di depannya. Ia tersenyum geli, masih tak menyangka jika di dalam perutnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Beberapa menit kemudian, Jingga menyandarkan punggungnya tak kala kehadiran Reza yang tak kunjung datang. Ia mulai merasakan lapar. Jingga kembali membuka tasnya mencari sesuatu yang bisa untuk mengganjal perutnya. Biasanya tanpa di suruh Susi akan meletakan beberapa makanan di tas Jingga, terlebih ketika wanita itu akan bepergian dalam waktu yang cukup lama.
.
.
.
“Bagiamana?”
“Target masih berada di area poli kandungan. Saat ini Fajar sedang berada di luar rumah sakit, sementara Reza sang asisten sedang ke apotik untuk menebus obat” ucap seseorang yang sedang berada di sebrang sana. Matanya mengamati setiap gerakan yang di lakukan Jingga.
Hermawan tersenyum kecil.
“Anak kecil yang bodoh, kamu tidak boleh bahagia. Harusnya Dahlia yang ada di posisimu saat ini. Kenapa kau slalu merebut kebahagiannya” Desis Pak Hermawan dalam hati, sekilas ia meringis teringat akan anak semata wayangnya yang hingga kini belum di temukan keberadaanya.
“Tuan, apa perlu saya lakukan sekarang?” tanyanya kembali sang anak buah menunggu instruksi dari Hermawan.
“Lakukan!” ia menutup sambungan telfon dan tertawa bengis. Matanya menatap tajam pada pigura kecil yang ada di depan meja kerjanya. Foto keluarga Jingga ketika masih kecil.
Kau tak pantas untuk bahagia!
Hermawan melempar pigura tersebut hingga jatuh dan pecah di lantai.
Hermawan semakin murka, ia mengepalkan kedua tangannya ketika melihat kirman foto Jingga, melalui pesan singkat yang di kirim anak buahnya.
Luar biasa sekali, kau bahkan sudah mengandung. Aku tidak akan pernah membiarkan anak itu lahir dan merusak segala rencanaku!
Hermawan membanting pintu ruang kerjanya dengan keras. Ia keluar ruangan dengan raut wajah yang masam.
Oh tunggu, kebahagiaanmu hanya sementara. Sebentar lagi akan musnah!
Sejurus kemudian ia tertawa, membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
.
.
.
Kembali ke Rumah Sakit Kasih Ibu.
__ADS_1
“Aku lapar” ucap seorang anak kecil yang berada tepat di hadapan Jingga. Saat itu ia sedang membuka bekal yang di siapkan oleh Susi. Sekotak makanan yang berisi kentang goreng dan beberapa potong brownies di dalamnya. Jingga spontan mendongak menatap anak perempuan usia enam tahunan itu.
“Aku lapar” ucapnya kembali, dengan mata yang memohon sebuah kue di tangan.
Jingga tersenyum dan menatap anak itu.
“Kamu mau ini dek?”
Ia menganggukkan kepalanya. “Baik, ini buat kamu” Jingga menyerahkan beberapa potong kue brownies pada gadis kecil di sebelahnya.
“Terimakasih tante” jawabnya dengan memasukan beberapa potong brownies ke dalam mulutnya.
“Tante, bisa minta tolong, aku tersesat kehilangan Ibuku” lagi-lagi ajah gadis kecil itu tampak memelas memohon.
“Ibumu di mana?”
Ia kembali menggelengkan kepalanya.
“Tadi terakhir ketemu di mana?”
“Dokter membawa ibu ke ruang....” gadis kecil itu mencoba untuk mengingat-ingat apa yang ia dengar.
“Ruang apa?”
“Bersalin. Ya Dokter mendorong ibuku di atas ranjang ke ruang bersalin lantas aku kehilangan jejaknya”
“Astaga” desis Jingga kemudian.
“Tante bisa bantu aku untuk ketemu sama ibu?” tangan gadis kecil itu menangkup tepat di bagian dada. Matanya berkaca-kaca sedang menahan tangis.
Jingga bimbang. Ia melihat sekeliling area rumah sakit mencari keberadaan Reza yang tak kunjung kembali. Ia juga tak tega membiarkan gadis kecil ini kebingungan sendirian mencari ibunya.
Huft...
Jingga menghela nafas panjang.
“Baiklah ayo aku antarkan. Kebetulan tante habis dari poli kandungan. Rasanya tak jauh ruang bersalin dari poli kandungan” Jingga tersenyum dan mulai bangkit dari tempat duduknya. Ia menggandeng gadis kecil itu untuk berjalan bersama.
“Maaf sudah merepotkan tante”
“Tidak masalah”
Jingga berencana untuk kembali secepat mungkin sebelum Fajar datang agar pria itu tidak marah padanya.
__ADS_1
Keduanya saling bergandengan tangan menuju ruang bersalin, yang letaknya lumayan cukup jauh jika harus berjalan kaki. Dugaan Jingga keliru. Ruang bersalin tidak berada dalam satu kawasan dengan poli kandungan.
Gadis kecil itu pasrah kemana saja Jingga membawanya. Ia masih terlalu kecil untuk bisa membaca petunjuk jalan yang terpasang di sepanjang belokan di area rumah sakit. Ia juga tak punya cukup keberanian untuk bertanya pada orang-orang yang sedang lalu lantang di rumah sakit.
“Sepertinya setalah dari sini, belok kanan dan kita akan sampai” ucap Jingga, ketika sudah merasakan kakinya kebas terlalu lama berjalan.
Gadis kecil itu hanya mengangguk patuh.
.
.
.
“Nenek” ucapnya ketika melihat sosok yang di kenal. Ia terhambur ke dalam pelukan sang nenek.
“Akhirnya kamu ketemu juga nak, nenek bingung harus mencari kemana?” wajah paniknya seketika lenyap ketika mendapati sang cucu kembali dengan selamat.
“Tante ini yang nganter aku ke sini”
“Terima kasih ya nak, sudah menolong cucuku. Tadi saya begitu panik melihat kondisi ibunya hingga tak memperhatikan cucuku”.
Jingga tersenyum. Wanita hamil itu memilih untuk tak banyak bicara dan lekas undur diri sebelum Fajar kembali.
Sementara itu di luar sana, Fajar sedang menerima panggilan prihal perkembangan pembangunan pabrik yang ada di Cina. Ia menatap Reza ketika berpapasan di halaman rumah sakit, sebagai isyarat untuk lekas menemui istrinya. Reza mengangguk patuh, ia lekas melanjutkan langkah menuju poli kandungan.
.
.
.
Jingga berjalan dengan langkah sedikit cepat menuju ruang tunggu, berharap Fajar belum sampai di sana. Ia takut dalam masalah ketika tak menghiraukan perintah suaminya.
Tit...tit..tit....
Sebuah suara tanda peringatan berbunyi.
Jingga terdiam untuk sesaat, ia berusaha berfikir apa maksud dari bunyi tersebut. Ini kali pertama untuknya mendapati suara tanda bahanya itu. Beberapa detik kemudian orang-orang berhamburan sambil berteriak.
Kebakaran.
Jingga terkejut, ia masih terdiam dalam posisi yang sama. Sementara di sekitarnya orang sudah lalu lalang panik untuk mencari jalan keluar demi menyelamatkan diri. Jingga menepi, demi menghindari segerombolan orang yang melalui jalannya.
__ADS_1
“Tolong” ucapnya ketika beberapa orang-orang berlari dan menabraknya. Tubuh Jingga terhuyung ke kanan dan ke kiri. Ia sama sekali tidak bisa melangkah untuk maju. Matanya memindai keberadaan Fajar ataupun Reza, dalam hati berharap lekas berjumpa dengan salah satu di antara mereka. Tak berselang lama kepulan asap mulai terlihat memenuhi koridor rumah sakit.
“Mas Fajar tolong....”