JINGGA

JINGGA
142


__ADS_3

Pagi itu di kediaman Dirgantara, di sibukkan dengan aktivitas mengasuh bay. Benar saja, bayi dalam rumah itu hanya satu. Namun yang menjaganya lebih dari lima orang.


Seperti pagi itu, Jingga bertugas untuk menyusui bayinya. Setelah di rasa kenyang, Bu Nadin mengambil alih kendali. Beliau menimang-nimang cucunya dengan cinta. Mengajaknya berbicara dengan riang. Sesekali ia juga bernyanyi untuk bayi yang belum genap dua bulan usianya.


Sementara Oma, beliau memilih untuk mendongeng’i Gendhis. Meski bayi itu belum mengerti maksud dan artinya. Namun Oma, begitu antusias terlebih ketika melihat Gendhis tertawa di sela-sela cerita yang di bacakannya. Sementara tiga pelayan yang di siapkan khusus untuk menjaga Gendhis. Ada yang bertugas untuk membersihkan kamarnya, ada yang bertugas untuk mensterilkan botol-botol minumannya, ada pula yang bertugas mengendong jika di rasa Bu Nadin dan Jingga kelelahan.


Menjelang pukul sepuluh, Jingga kembali berkutat di dapur. Kali ini ia ingin memasak sup daging dengan kacang merah. Entah mengapa ia ingin sekali makan menu itu bersama Fajar. Konon menurut buku yang telah ia baca makan kacang-kacangan dapat memperlancar asi bagi ibu yang sedang menyusui. Jingga sengaja masak kembali, agar makan yang di bawa masih tetap hangat dan fresh. Masakan tadi pagi sambal pecel tumpang, tentunya tidak


enak jia di makan waktu siang hari. Ia ingin membuat yang segar dan berkuah.


Akhirnya selesai juga.


Jingga mulai melepas celemek, menata makanan tersebut ke dalam wadah yang biasanya ia gunakan untuk makan siang Fajar. Tak lupa ia menghias dengan cukup rapi bahkan dengan memberi sedikit sentuhan-sentuhan hiasan di sana.


“Sudah nak masaknya? Buruan siap-siap. Biar nanti di antar sama supir Mama saja. Supir kamu cuti untuk beberapa hari ini, istrinya sedang melahirkan”


 "Baik Ma”


“Jangan lupa dandan yang cantik” teriak Bu Nadin, ketika Jingga mulai berlari menapaki ruas-ruas anak tangga yang ada di dalam rumahnya.


Tak dapat di pungkiri Jingga merasa sangat bahagia hari itu, ia bahkan memilih beberapa baju khusus untuk memberikan  kejutan pada suaminya setelah ini. Tak lupa ia juga memoleskan beberapa make up natural di wajahnya.


Kantor Dirgantara.


Pagi itu, Fajar dan Reza sudah di sibukkan dengan persiapan kerja sama iklan dengan perusahaan Cakrawala. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Fajar menerima tawaran kerjasama tersebut. Semua ia lakuan demi keberlangsungan kehidupan perusahaan. Demi ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan miliknya.


Dahlia yang di dampingi Boy, mulai memasuki kantor Dirgantara. Ia melangkah dengan cukup percaya diri ke dalam


sana. Terlebih ketika mendengar jika Fajar menerima tawaran kerja sama mereka.

__ADS_1


“Selamat siang, Tuan Fajar. Senang bisa kembali berjumpa dengan anda” sapa Dahlia. Seperti biasah


dia akan mengulurkan tangannya lebih dahulu. Fajar menerima uluran tangan tersebut. Ia mempersilahkan tamunya untuk duduk di dalam ruangannya.


“Siang juga” jawabnya dengan singkat, tanpa banyak bosa-basi.


“Senang sekali bisa bekerja sama dengan Tuan Fajar. Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa dalam posisi saat ini. Terlebih bisa bergabung untuk bekerja sama dengan Dirgantara” ucap Dahlia kembali.


Fajar tak memberikan reaksi lebih atas ucapan Dahlia, ia hanya sedikit tersenyum simpul sebagai ungkapan rasa menghargai rekan kerjanya.


“Baik, kita mulai dari mana dulu pembahasan ini?” ucap Fajar membuka percakapan siang itu.


“Tuan, mohon maaf saya izin keluar dulu untuk mengambil beberapa beras yang tertinggal di lantai bawah” Pamit Reza, ia hendak menuju divisi pemasaran, guna mengambil beberapa dokumen penting penunjang kerja sama siang ini.


“Oh iya silahkan. Sekalian bawa kepala divisi pemasaran ke sini nanti. Kita akan menentukan tema untuk iklan produk terbaru kita” jawab Fajar kemudian, ia mempersilahkan Reza untuk keluar terlebih dahulu.


“Terimakasih Tuan” Reza undur diri meningalkan Fajar dan kedua tamunya di dalam ruangan.


“Maaf Nona Dahlia, sepertinya ada beberapa dokumen yang tertinggal di mobil. Saya mohon ijin terlebih dahulu untuk mengambilnya” Boy sengaja berucap sedikit keras, agar Fajar mendengar ucapannya.


“Oh seperti itu ya, ya sudah lekas mabil dokumen itu dan bawa segera kemari. Kita akan lekas berdiskusi tentang tema yang akan di pilih untuk produk Dirgantara”


“Baik Non”


Boy pun mengikuti jejak Reza untuk meningalkan ruangan Fajar. Kini di dalam ruangan hanya tinggallah Fajar dan Dahlia. Dahlia lekas mengirim pesan pada Boy, untuk berlama-lama meningalkan mereka. Bila perlu tak usah kembali dulu.


.


Kediaman Dirgantara.

__ADS_1


Jingga masih bersiap, ia berdiri cukup lama di depan almari bajunya. Hampir tiga puluh menit berlalu, namun ia tak kunjung menemukan baju yang pas untuk datang ke kantor Fajar. Maklum berat badan yang meningkat pasca melahirkan membuatnya tak cukup percaya diri untuk memakai baju dengan asal. Ia akan memilih baju yang


dapat membuat tubuhnya terlihat tidak terlalu gemuk.


Setelah sekian lama memilih, pilihan jatuh pada baju warna pich. Gamis warna polos susun tiga membentuk model tiga dara. Ia memberikan sentuhan bros dia bagian depannya agar terlihat sedikit manis. Tak lupa kerudung segi empat yang membalut kepalanya. Ia memilih kerudung dengan corak abstrak untuk memberikan sedikit sentuhan warna, agar tak terkesan polos semuanya.


Make up natural, bahkan cenderung sederhana mulai ia aplikasikan. Tak ada bulu mata palsu mengingat bulu mata Jingga sudah lentik dari lahir. Ia hanya memakai lipstik dan sedikit sentuhan blus on untuk menambah aura kesegaran di wajahnya.


“Ma, nitip Gendhis dulu ya. Aku sudah menyiapkan Asip untuknya” pamit Jingga, dengan membawa kota makan di tangannya.


“Lihat sayang. Mama kamu cantik sekali hari ini. Mama mau kasih kejutan untuk Papa di


kantor. Kamu di rumah saja ya sama Nenek” jawab Bu Nadin, ia sengaja menggoda Gendhis.


Bayi itu hanya menggeliat saja, sebagai respon atas ucapan Neneknya.


“Ya sudah buruan berangkat sana, hati-hati ya” Bu Nadin membawa Gendhis masuk ke


dalam kamarnya.


“Assalamu'alaikum ma” Jingga pamit dan mencium tangan mertuanya dengan takzim.


“Wassalamualaikum”.


Perlahan mobil mulai berjalan meningalkan pekarangan rumah utama. Sepanjang perjalan Jingga tersenyum, ia membuka sedikit jendela mobilnya. Mempersilahkan udara untuk masuk dan menghirupnya dengan dalam. Setengah jam perjalanan, sampailah mereka di kantor Dirgantara. Seperti biasah Jingga akan langsung masuk ke dalam ruangan suaminya. Deretan karyawan saling menyapa dan memberi ucapan selamat atas kelahiran anak mereka.


“Assalamu'alaikum” Jingga mendorong pintu ruangan Fajar dengan segera. Matanya membulat ketika melihat pemandangan yang ada di depan mata. Jingga yang hendak memberikan kejutan pada suaminya. Justru siang itu ia yang harus di kejutkan dengan keadaan yang ada.


Ia berlari memutar arah, tanpa menunggu jawaban salam dari pemilik ruangan. Kotak bekal makanan saling berhamburan begitu saja di atas lantai.

__ADS_1


“Jingga, tunggu sayang!” teriak Fajar, ketika menyadari kedatangan istrinya.


“Tunggu!”


__ADS_2