
“Jingga?”. Panggil Krisna dengan tatapan yang berbeda, ia kaget luar biasa. Bagiamana bisa pelayan yang bekerja di tempatnya bertransformasi menjadi seorang wanita cantik layaknya nyonya-nyonya muda.
“Oh maaf, sepertinya saya salah orang.” ucap Krisna kembali yang merasa tak yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Tunggu, silahkan duduk. Ada hal yang ingin saya bicarakan”.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nyonya?” apakah ada komplain akan pelayanan dan rasa pada makanan di Resto kami”
“Tidak, tidak seperti itu, ini prihal Jingga.” Saat ini mereka sedang duduk bersama di dalam meja yang sama.
Rupanya dia benar Jingga, kenapa dia bisa berubah secepat ini. Siapa dia sebenarnya?.
“Pak Krisna, perkenalkan saya Fajar. Saya adalah suami dari Jingga.” Fajar, menjeda ucapannya sejenak, ia memperhatikan ajah Krisna yang tampak kaget luar biasah.
Deg.
Saat itu jantung Krisna terasa ingin keluar dari tempatnya bersarang.
“Maaf Pak, saya tidak bermaksud menutupi identitas saya” Kini Jingga, tertunduk antara malu dan juga merasa tak enak.
Krisna masih diam saja, tak membuka suara sedikitpun, hati dan pikirannya masih berusaha untuk mencerna setiap kata yang tamunya ucapkan.
“Saya ingin memohon izin sekaligus pamit pada bapak selaku pemilik Resto ini, jika mulai hari ini istri saya tida bisa lagi untu bekerja di sini. Keselamatan dan ketenangan istri saya adalah prioritas utama saya saat ini. Saya harap Pak Krisna mengerti, terlebih dengan kejadian kemarin saya sangat menyayangkan hal itu terjadi.”
Krisna masih diam saja, sudut matanya sedikit berembun. Sekuat tenaga ia menahan butiran bening yang hinggap di ekor matanya. Mulutnya mendadak kaku untuk berucap.
“Sebenarnya saya sudah melarang Jingga untuk bekerja semenjak kepulangan kami dari Bandung beberapa hari yang lalu. Tapi istri saya menolak, terlebih Bu Retno dan Pak Krisna sudah banyak membantunya. Saya tida mau atas dasar rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan kontrak kerja malah membuat istri saya celaka.”
“Bagaimana Pak?.”
__ADS_1
Krisna gelagapan, pikirannya tak fokus dengan lawan bicaranya. Sorot matanya tertuju pada Jingga saja, beberapa kali ia alihkan merasa tak enak dengan suaminya.
“Kami juga berencana untuk lekas program kehamilan, jadi istri saya tidak boleh capek-capek.”, Fajar memegang telapak tangan istrinya, mengecup lembut tepat di hadapan Krisna.
Jingga merasa kikuk tak berdaya, menolak tindakan Fajar sama saja dengan mengibarkan bendera perang, terlebih di hadapan pria lain.
Jingga tersenyum manis.
“Mohon maaf ya Pak, saya tidak bisa menepati janji untuk bekerja hingga kontrak saya habis. Sebagai istri saya tida mau durhaka dengan melawan permintaan suami. Saya harap Pak Krisna mengerti.” ucap Jingga dengan lembut.
“Oh maaf, maaf” Krisna menggelengkan kepalanya dengan pelan, sepertinya nyawanya sudah kembali pada raganya.
“Baiklah Jingga, atas nama keselamatan saya tidak akan mempermasalahkan jika kamu ingin berhenti bekerja sebelum kontrak habis. Terimakasih sudah mau berkontribusi untuk bekerja di Resto kecil milik saya.”
“Mohon maaf Tuan Fajar, atas kelancangan saya yang memperkerjakan Nyonya muda untuk menjadi pelayan di tempat ini. Saya benar-benar tidak tahu.” Krisna mencoba untuk tersenyum.
“Baik aku rasa tidak ada lagi yang di permasalahkan sayang, Pak Krisna juga tidak keberatan dengan ini. Betul begitu Pak?”
“Biarlah saya yang menjelaskan pada karyawan lainnya agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih atas bantuannya pada istri saya selama bekerja di sini. Senang bisa mengenal Bapak.” Keduanya saling berjabat tangan, tanda berakhirnya sebuah kesepakatan.
“Silahkan mampir ke mari Tuan Nyonya jika berkenan.”
“Tentu saja, makanan di Resto ini adalah makanan kesukaan saya.”
Fajar dan Jingga undur diri, sebelum undur diri Jingga, menyempatkan untuk berpamitan pada rekan-rekan sesama pelayan terlebih dahulu. Jingga juga membawakan beberapa kenang-kenangan untuk mereka.
“Sayang ayo.” Kini Fajar menyusul istrinya, seakan ingin menunjukan pada dunia jika Jingga adalah istrinya.
__ADS_1
Sebagian pelayan di sana hanya bisa melongo melihat pemandangan yang ada, terlebih kendaraan yang Jingga gunakan luar biasah mewah. Hanya beberapa orang di negri ini yang memilikinya.
***
POV Krisna.
Pernahkan kalian merasakan patah hati? Jika pernah bagaimana rasanya?. Apakah hati kalian terasa sakit? Ngilu tak tertahankan?, atau ini hanya perasaanku saja?.
Jika pernah apa obatnya? Butuh berapa lama untuk sembuh dari penyakit itu?.
Mengapa terasa berbeda, ada rasa sesak yang mendera jiwa. Nafasku seolah berhenti berhembus ketika mengetahui tentang dia. Tentang dia yang ternyata tak lagi sendiri. Ah bodohnya aku yang tak mencari tahu terlebih dahulu tentangnya sebelum terlanjur menaruh hati.
Aku bodoh, harusnya sejak awal mencari tahu tentangnya, ataukah usahaku yang kurang maksimal untuk meraih cintanya?. Ah iya, kalian benar, aku terlalu bodoh lelaki bujang lapuk yang mengharapakan cinta dari seorang wanita cantik.
Bodoh...bodoh...
Aku yang menaruh hati padanya sejak pertama kali melihatnya, aku yang hanya bisa mengagumi tanpa berani bertindak lebih untuk memilikinya. Ah, harusnya aku sadar diri sejak ia memberikan jarak padaku ketika kami bersama.
Hilang, dia bahkan pernah menghilang beberapa waktu yang lalu, dalam malam aku slalu berdoa agar ia lekas kembali. Saat ia kembali, aku berjanji pada diriku sendiri untuk memperjuangkan cintaku padanya. Aku ingin lebih dekat padanya mengatakan jika aku ingin bersamanya di sisa hidupku. Aku yang menahannya untuk tak pergi dari sini dengan sejuta alasan.
Namun nyatanya, hah!.
Hatiku terluka, bahkan aku tak berhak untuk sekedar melihat wajahnya walaupun hanya dari kejauhan. Ternyata Jinggaku adalah milik sang Fajar. Bahkan dari nama saja semesta sudah merestui jika mereka memang berjodoh.
Huft...
Aku hanya mampu memandang nanar punggung mereka, saat keduanya saling bergandengan tangan dan melempar tatapan penuh cinta. Doa tulus yang mampu ku ucapkan dalam lisan saat ini, semoga kalian berbahagia.
Krisna mulai mengusap lembut sudut matanya, ketidak mungkinan yang slalu ia semogakan di sepertiga malam telah hilang. Nyatanya sekuat tenaga merayu sang pencipta juga tak bisa merubah takdir yang ada.
__ADS_1
Allah sedang merencanakan takdir yang terbaik untukku, aku percaya itu. Ia mencoba untuk tersenyum dan memegang dada yang masih bergemuruh tak terima.