JINGGA

JINGGA
122


__ADS_3

“Sudah jadi orang kaya rupanya!”


Seorang wanita paruh baya yang menggunakan kebaya warna biru muda lengkap dengan sanggul yang menghiasi kepalanya. Ia menenteng sebuah tas merk ternama, dengan model keluaran terbaru. Ia berjalan melenggok-lenggok menghampiri Jingga yang sedang berdiri di sisi gerobak rujak.


“Sudah jadi orang kaya!” lagi-lagi wanita itu mengucapkannya. Ia sedikit menyenggol lengan Jingga saat mereka dalam jarak terdekat.


“Bu Lia” sapa Jingga dengan kaku. Ia tak menyangka jika akan bertemu kembali dengan mantan majikan, yang sudah puluhan tahun tinggal bersamanya.


“Iya, ini aku! Bagaimana rasanya jadi orang kaya?” Bu Lia, berbisik di telinga Jingga, dengan nada bicara tak suka.


Mendadak Jingga, merasa kikuk bingung harus menjawab apa. Alih-alih menjawab pertanyaan Bu Lia, Jingga lebih memilih untuk mengalihkan perbincangan mereka. “Bu Lia apa kabarnya?” ia menunduk, meraih tangan sang mantan majikan dan menciumnya dengan penuh takzim. Seperti biasah Jingga akan hormat pada siapa saja yang ada. Terutama pada orang yang lebih tua, lebih dari itu Bu Lia adalah tamunya hari ini. Sudah sepatutnya ia memperlakukan tamunya dengan baik.


“Cih, jangan sentuh tanganku. Nanti aku tertular penyakit miskin mu!” seru Bu Lia, dengan mengibas-ngibaskan tangan yang telah di genggam Jingga.


“Maaf Bu”


“Panggil aku Nyonya!. Aku masih Nyonyamu dan akan tetap menjadi Nyonyamu!”


“Baik Nyonya” Jingga menunduk, ia lebih memilih untuk menuruti perintah Bu Lia, dari pada harus berdebat dengannya. Mengingat hari itu banyak sekali tamu yang harus di sapa. Rasanya akan sia-sia, jika hanya melayani Bu Lia.


“Dasar babu, tidak tahu malu. Kau berani-beraninya menggantikan posisi Dahlia. Harusnya Dahlia yang sekarang berdiri di sini. Bukan wanita kampungan seperti kamu” lagi-lagi Bu Lia berbisik tepat di telinga Jingga, ia juga sedikit mencengkram lengan Jingga.


“Aduh, Nyonya tolong lepaskan” rintihnya kemudian ketika kuku panjang Bu Lia, menusuk melewati celah kebaya yang ia gunakan.


“Aku tak menyangka sama sekali, jika selain tak punya harta kamu juga tak punya malu dan rasa terimakasih. Apa begini caramu membalas segala kebaikan keluarga kami selama ini, dengan menikahi calon suami majikanmu! Heh”

__ADS_1


“Benar-benar wanita tak tahu diri” serkas Bu Lia, entah mengapa rasa yang sudah sejak lama di tahan tak bisa lagi terbendung pagi itu. Hati Bu Lia terasa sakit tiada terkira, ketika melihat wajah Jingga yang sedang merona bahagia.


Hatinya merintih tak terima, sebagai seorang Ibu ia ingin marah. Tak seharusnya Jingga yang berada dalam posisi saat ini. Harusnya Dahlia, putri semata wayangnya yang berdiri di sini melayani tamu dan menjadi ratu hari ini.


Terlalu geram dan muak, melihat kebahagian Jingga, membuat Bu Lia kehilangan akal. Ia lekas menghampiri Jingga, saat wanita hamil itu sedang duduk sendiri menanti sang suami mengambil makan untuknya.


“Aku pastikan dalam waktu dekat ini Dahlia akan kembali. Dan kau!” satu tangannya menunjuk ke arah wajah Jingga.


“Bersiaplah, karena aku akan kembali mengambil semua yang seharusnya menjadi milik anakku” Bu Lia dengan sengaja menarik jilbab Jingga, bagian belakang hingga wanita itu harus mengikuti gerakan tangan Bu Lia untuk mengurangi rasa sakit yang ada.


Aduh....


Aduh...


“Bu Lia, di sini rupanya. Saya cari dari tadi lo jeng” Suara Bu Nadin menepuk punggung Bu Lia yang saat itu berdiri tepat di sebelah Jingga.


“Eh Bu Nadin” Bu Lia gelagapan dengan datangnya Bu Nadin, ia takut jika mertua Jingga melihat apa yang di lakukannya pada Jingga.


“Saya cari-cari dari tadi, eh rupanya ada di sini. Sudah makan Bu?, silahkan di coba hidangannya, Maaf seadanya ya Bu. Kami tidak meyiapkan acara ini dadakan”


“Ah iya Bu, saya hanya ingin menyapa Jingga. Kangen juga sama dia. Jingga ini sudah saya anggap seperti anak saya sendiri Bu, saya sangat sayang sama anak ini. Mudah-mudahan ya bu bayinya lekas lahir dan selamat” Bu Lia memeluk Jingga dari samping, ia mengelus lembut perut Jingga yang membuncit ke depan.


“Wah ya jangan lekas lahir juga Bu, usia kandungan Jingga baru tujuh bulan menuju ke delapan. Kalau lahir sekarang nanti bayinya prematur. Betul begitu nak?”


Jingga mengangguk patuh. Ada rasa takut ketika Bu Lia merengkuh dan mengelus perutnya. Segala macam pikiran buruk tiba-tiba hadir dalam benaknya.

__ADS_1


“Saya permisi dulu ya Bu” pamit Bu Lia kemudian.


“Silahkan di coba hidangan kami Bu”


“Maaf saya tidak bisa makan, makanan seperti itu”


“Lho kenapa Bu? di sebelah sana itu ada ayam jawa yang di panggang. Kami memesan secara khusus dari Resto ternama di Surabaya, demi untuk memanjakan lidah handi taulan yang datang. Bu Lia tahu dong harga ayam bakar yang ada di Resto XXX itu” Bu Nadin mengedipkan satu matanya. Ia dengan sengaja memamerkan apa yang ada dalam acara ini.


“Oh ya Bu, jangan lupa cicipi juga deretan kudapan yang ada di sebelah sana. Itu kudapan di pesan langsung oleh Oma, dari salah satu hotel bintang lima di sini. Konon chef yang membuatnya adalah chef Arnold. Bu Lia pasti kenal dong” Mertua Jingga, sengaja menyenggol sedikit lengan lawan bicaranya.


“Ah saya tidak terbiasa makan kudapan Bu”


“Oh ya? Jadi Bu Lia terbiasa makana apa kalau gitu? Makan khas indonesia? Atau makan harta sahabat? Ups maaf!” Bu Nadin menutup mulutnya dengan satu tangan. Ia tersenyum mengejek.


Bu Lia, menatap Bu Nadin dengan tatapan yang menghunus tajam. Dadanya naik turun dengan hidung yang kembang kempis. Jemarinya saling mengepal di bawah sana.


“Maaf ya Bu, saya tidak bermaksud lo. Saya tahu Bu Lia bukan orang seperti itu. Ah iya ini hanya bercanda saja ya Bu”


Alih-alih menanggapi ucapan Bu Nadin, ia lebih memilih untuk pergi begitu saja dari sana, tanpa mengucapkan sebuah kata. Hanya dengusan kesal yang keluar dari mulutnya serta hentakan kaki saat melangkah yang terdengar sedikit berbunyi.


Sementara Bu Nadin, ia tertawa melihat lawan bicaranya yang ngacir begitu saja. Jingga hanya menatap dengan bengong dua wanita yang baru saja ada di depannya.


“Sudah, jangan di pikirkan. Aku tahu semua yang di katakan wanita iblis itu padamu. Jangan banyak pikiran cucuku harus sehat” ucap Bu Nadin, dengan menggandeng Jingga, membawanya untuk duduk dan makan.


“Makanlah, kamu pasti lapar sejak tadi belum sarapan” Bu Nadin menyodorkan sepiring gado-gado di hadapan menantunya.

__ADS_1


__ADS_2