
“Ada apa?” kompak semua menjawab.
“Itu Tuan...
“Ada apa? Tenangkan dirimu Sus” Jingga memegang bahu pelayannya.
“Baby Gendhis dan dan Asih di bawa pergi orang. Mereka memakai pakaian serba hitam semua” suara Susi terdengar bergetar ketakutan. Lututnya melemas, ia bahkan kehilangan
keseimbangan pada tubuhnya. Terlalu takut dan cemas membuatnya terhuyung secara
tiba-tiba ke lantai.
Hal yang sama juga di alami Jingga. Ibu muda itu hanya bisa melongo mendengar penuturan sang pelayan. Untuk sesaat pikirannya mendadak blank, ia hanya bisa menatap dengan tatapan kosong. Fajar lekas merengkuh istrinya untuk
memberikan kekuatan.
“Ya Allah apa lagi ini? Kemana mereka membawa cucuku?” Bu Nadin kembali menangis mendengar apa yang baru saja terjadi pada keluarganya.
“Mas, ayo cepat kita cari Gendhis!” seru wanita itu dengan cemas.
“Coba kamu hubungi dulu mbak Asih sayang”
Jingga mulai menghubungi mbak Asih baby sister yang sudah dua bulan ini turut serta
dalam menjaga Gendhis. Sejauh ini tidak pernah ada masalah sama sekali dengan mbak Asih. Ia justru terlihat sangat menyayangi Gendhis. Ia juga begitu cekatan ketika Jingga sedang membutuhkan bantuan dalam pengasuhan.
Jingga kembali menekan nomor Mbak Asih. Ia mencoba berkali-kali, panggilan sempat
terhubung dua kali, hanya saja tak di angkat. Jingga tak menyerah, ia kembali menghubungi nomor tersebut. Namun sayang beberapa detik kemudian nomor Mbak Asih hilang dari jangkauan. Keadaan semacam ini membuat Jingga semakin khawatir. Bagaimana bisa hal ini terjadi.
“Ponselnya kok malah mati? Mbak Asih di bawa ke mana?” Jingga terlihat sangat ketakutan
ketika mendapati hal semacam ini. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh dengan menitipkan bayinya pada suster tanpa penjagaan darinya.
“Kamu tenang dulu sayang, kita langsung cari Mbak Asih saat ini juga” ujar Fajar mencoba menenangkan. Ia meraih benda pipih yang ada di saku celananya. Menghubungi beberapa anak buahnya untuk lekas turut mencari keberadaan bayi mereka.
Jingga kembali menangis, ia baru saja berhenti menangis saat melihat kondisi Oma, sekarang ia kembali harus menangis lantaran anaknya hilang entah ke mana. Bu Nadin tidak bisa menahan beban dalam tubuh dan pikirannya. Wanita itu mendadak melemas dan jatuh begitu saja
tersungkur di atas lantai. Sontak kejadian ini membuat Pak Angga panik, ia lekas memanggil perawat dan memesan kamar untuk istrinya.
“Mama!” kompak Jingga, Fajar dan Pak Angga berteriak. Keadaan keluarga Dirgantara mendadak jadi porak-poranda siang itu. Kepanikan dan kedukaan menyelimuti, terlalu banyak kejadian yang tak terduga membuat mereka kelimpungan dan kehilangan tempat untuk bertumpu sesaat.
“Pergilah, cari anak kalian. Biar Mama aku yang urus” titah Pak Angga, ia lekas mengikuti
perawat yang sedang mendorong banker rumah sakit.
“Kirimkan seseorang untuk menjaga Oma” ucap Pak Angga di sela-sela langkahnya menuju IGD.
Tanpa pikir panjang Fajar, lekas menarik tangan istrinya menuju mobil yang terparkir
di depan lobi rumah sakit. Mereka turut serta membawa Susi, sebagai petunjuk bagaimana ciri-ciri mobil yang di kendarai penculik tersebut.
“Mas Gendhis di bawa kemana ya? Sudah satu jam kita muter-muter jalanan kenapa tidak
__ADS_1
kunjung di temukan. Saat ini Gendhis waktunya minum susu mas. Pasti dia kehausan” Jingga terlihat sangat panik, air matanya menggenang di pelupuk mata. Gendhis terlalu kecil jika harus di libatkan dalam permasalahan yang ada. Ia
bahkan belum di perkenankan untuk makan apapun sebagai asupan untuk tetap bertahan hidup.
“Kenapa nomor Mbak Asih masih mati?” Jingga kembali berkali-kali mendial nomor mbak
Asih, berharap sebuah keajaiban yang terjadi.
Fajar menghentikan laju mobilnya sesaat,ketika berada di persimpangan jalan. Ia menoleh ke belakang menatap Susi yang meremas jemarinya dengan resah. Ia rasa pencarian seperti ini percuma di lakukan, terlebih Susi tidak tahu pasti
kendaraan tersebut membawa Asih dan Gendis ke mana. Wanita itu hanya tahu jika mereka membawa Asih dan Gendhis secara paksa masuk e dalam mobil sedang mewah.
Susi yang merasa terintimidasi dengan tatapan Fajar, lekas menundukan kepalanya dengan pelan. Ia juga merasa sangat bersalah atas hilangnya putri mahkota di keluarga Dirgantara.
“Berapa orang yang membawa Gendhis?” tanya Fajar dengan dingin, pandangannya kini lurus
ke depan dengan aura yang menakutkan.
“Dua Tuan, yang memaksa untuk menaiki mobil. Semuanya pria, mereka memakai pakaian
serba hitam dan berkacamata hitam. Tubuhnya tinggi dan tegap. Suaranya menakutkan, mereka juga membawa pisau di tangannya dan menyodorkan di leher Asih ketika ia menolak untuk turut serta mengikuti” Jawab Susi dengan terbata-bata. Ia masih begitu syok dengan peristiwa yang baru saja terjadi di depan mata.
Fajar kembali menyalakan mobilnya. Ia menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh. Tangannya begitu lihai dalam menaklukan jalanan yang terbilang cukup padat siang itu. Fajar memutuskan untuk kembali menuju rumah sakit.
“Mas kita kemana?” tanya Jingga di sela-sela tangisnya.
“Kita kembali ke rumah sakit, aku harus mengecek CCTV yang ada di sana. Kita tidak
Sesampainya di ruma sakit, Fajar lekas menuju ruang sumber informasi, ia mengatakan apa
yang baru saja menimpa putri mereka pada petugas. Jingga dan Susi begitu setia
mengikuti ke manapun Fajar melangkah. Tanpa pikir panjang, petugas tersebut lekas menampilkan rekaman CCTV yang diminta Fajar.
Siang menuju sore, waktu itu hampir menunjukan pukul 15 lewat, Gendhis masih dalam
gendongan Mbak Asih yang berada di bagian depan taman rumah sakit. Mereka duduk
dengan tenang, berikut anak Susi yang turut menemani Mbak Asih. Tidak ada
aktivitas mencurigakan semua berjalan dengan normal. Hingga beberapa menit kemudian, terlihat dua orang laki-laki berpakaian hitam mulai mendekat ke arah mereka. Dua laki-laki tersebut terlihat aas ketika memperhatikan sekeliling
area taman yang cukup ramai. Beberapa kali mereka mendekat, namun di urungkan ketika banyak orang yang masih lalu lalang. Sepuluh menit berlalu. Susi meninta ijin pergi.
“Kamu mau kemana itu?” tanya Fajar dengan mata yang melotot.
“Saya hendak membeli air Tuan, Asih merasa kehausan” jawabnya dengan takut.
Beberapa meter Susi mulai meningalkan Asih, dua lelaki berperawakan tegak tersebut lekas
menyerang Asih, saat itu kondisi taman dan sekitarnya relatif sudah sepi. Menyadari teriakan Asih, membuat Susi mengurungkan niatnya untuk membeli air. Ia kembali menuju ke tempat Gendhis dan Asih. Mata Susi terbelalak ketika dua lelaki itu meletakan senjata tajam tepat di leher Asih Ketika wanita itu menolak
untuk mengikutinya. Setelah itu dua laki-laki tersebut mengiring Asih untuk masuk ke dalam mobil mereka. Mereka turut membawa Gendhis.
__ADS_1
.
.
.
Matahari mulai bergeser meningalkan bumi, ia menyinari belahan dunia yang lainnya. Jingga semakin resah dengan keadaan semacam ini. Berkali-kali ia meremas jemarinya. Dadanya terasa penuh, asi itu sudah membanjir. Rasa sakit antara kehilangan anak dan nyeri di bagian asinya berkolaborasi menjadi satu. Asih masih belum bisa di hubungi. Bahkan saat ini nomornya telah hilang tak dapat di lacak.
“Gimana Mas, Gendhis ada di mana?” Jingga tak kuasa untuk tak menahan tangisnya. Perempuan itu tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu hal buruk pada anaknya.
“Kita akan mencarinya sayang. Kamu tenanglah. Aku akan mengantarmu pulang setelah
ini. Kamu bisa untuk beristirahat dulu di rumah”
“Istirahat? Bagaimana bisa aku istirahat sementara anakku sedang dalam bahaya dan tak di ketahui keberadaannya” Jingga menangis terisak-isak. Kehilangan Gendhis beberapa jam saja sudah membuatnya merasa gila.
Fajar sudah menghubungi Reza,ia bahkan mengerahkan pasukan khusus untuk melacak
keberadaan Asih saat ini. Jika melihat keadaan yang ada, dengan hilangnya koneksi dan sumber informasi dari Asih, dapat di simpulkan jika penculik dari Gendhis bukanlah orang biasah. Ia masuk dalam golongan orang kaya yang telah
menyusun aksi ini secara sistematis.
“Mas bagaimana kalau kita lapor polisi saja?”
“Belum bisa sayang. Kejadian ini belum sampai dua puluh empat jam. Jadi kita belum
bisa melapor pada pihak berwajib”
“Mas, kenapa harus menunggu dua puluh empat jam? Anak kita masih bayi, dia butuh asi!”
“Aku tahu itu, tenangkan dirimu. Kuasai semua ketakutan kamu. Yakinlah semua akan
baik-baik saja. Berdoalah kebaikan untuk anak kita sayang”
Fajar lekas kembali menginjak pedal gasnya, melaju dengan kecepatan penuh. Ia hendak
memulangkan Jingga sesaat, sebelum kembali untuk mencari anaknya.
Sementara Reza, pria itu mulai melacak dengan GPS. Ia membawa serta ahli IT dalam misi
ini. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang mengikuti petunjuk yang ada dalam GPS tersebut. Lama sekali merea berkendara menuju titik itu. Satu titik lokasi yang letaknya sangat jauh dari kediaman Dirgantara. Mereka mengikuti
arah peta dengan perasaan yang cemas.
Hampir dua jam perjalanan, sampailah mereka pada satu titik yang ada dalam objek GPS
tersebut. Semua yang ada dalam mobil lekas turun untuk mencari titik lokasi.
“Seharusnya ada di sekitar sini, tapi kok tempatnya seperti ini” Sampailah rombongan yang di pimpin Reza pada sebuah area persawahan yang jauh dari pemukiman warga.
Semuanya lekas turun tanpa terkecuali menyusuri jalan kecil yang ada di sana.
“Bagiamana?”
__ADS_1