JINGGA

JINGGA
166


__ADS_3

Flash Back On.


Dahulu rumah ini penuh dengan kedamaian dan suka cita. Semua yang tinggal di sini hidup dalam keharmonisan. Majikan kami memperlakukan dengan sangat baik pelayang-pelayannya.


Hampir dua puluh tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari sabtu. Hari di mana majikanku menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama dengan keluarganya setelah seminggu bekerja. Ia mengajak anak dan istrinya untuk berlibur ke salah satu area wisata di kawasan Malang.


“Majikan?” tanya Jingga sedikit


heran, kenapa tidak menyebut Hermawan dan Bu Lia. Jingga berusaha untuk menahan


rasa ingin tahunya. Membiarkan Bi Minah bercerita dengan leluasa.


Majikanku bernama Tuan Bramantyo dan Nyonya Kinanti Ayu Kemuning. Mereka adalah orang tua kandungmu. Saat itu usiamu belum genap tiga Tahun nak. Kebetulan aku adalah suster yang bertugas untuk membantu menjaga dan merawat mu dari sejak lahir.


Kami berangkat hari sabtu sore, dengan membawa banyak perlengkapan dari rumah. Orang tuamu berniat untuk mengajak berlibur di vila bersama dengan keluarga sahabatnya. Yang tak lain adalah keluarga Hermawan.


Keluarga Bramantyo dan keluarga


Hermawan berangkat dengan kendaraan masing-masing dan saling menunggu di vila.


Mereka juga membawa serta anaknya Dahlia berikut pengasuhnya.


Awalnya tak ada hal yang mencurigakan dalam acara liburan kali ini. Semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Kamu dan Dahlia masih sama-sama kecil Bu Ayu dan Bu Lia saling mengendong kalian dan bercerita tentang pengalaman mereka saat mengasuh anak.


Sementara aku dan Sri (pengasuh Dahlia ketika masih kecil) sibuk untuk memasak di belakang. Menyiapkan segala macam makanan untuk acara bakar-bakar malamnya.


Sungguh tak ada yang mencurigakan sama sekali dalam liburan ini. Hingga di waktu malam. Saat semua istri sudah terlelap dalam tidur masing-masing dengan anaknya. Aku tanpa sengaja mendengar perselisihan yang di lakukan oleh Tuan Hernawan dan Tuan Bramantyo. Saat itu mereka sedang berdebat tentang pembagian hasil dari usaha yang telah di kelola bersama.


Pak Hermawan merasa tak terima ketika sebagain besar dari hasil usaha mengalir pada Tuan Bramantyo, mengingat beliaulah yang menjalankan usahanya. Sementara Tuan Hermawan, beliau baru beberapa waktu kembali dari Kalimantan selepas usahanya yang di sana bangkrut.


Sungguh benar, beliau telah bangkrut ketika di kalimantan. Saat itu ia memiliki usaha jual beli tanah dan barang-barang terlarang. Aku sendiri tidak mengerti apa maksud dari barang-barang terlarang yang mereka bahas.

__ADS_1


Perdebatan berlangsung cukup alot, tak kunjung menemukan titik temu yang trang. Hermawan memaksa untuk minta tujuh puluh persen hasil dari usaha yang pernah mereka lalui bersama. Sementara Tuan Bramantyo menyarankan untuk membagi rata hasil usaha. Mengingat ia turut


andil dalam usaha tersebut.


Aku masih ingat betul kala itu, ketika Tuan Hermawan melemparkan sebagian lembaran-lembaran kertas pada wajah


Tuan Bramantyo ketika ia enggan untuk membubuhkan tanda tangannya di sana.


Bagi Tuan Bramantyo, Hermawan sudah


tidak memiliki hak atas perusahan yang ia kelola saat itu. Mengingat sebagian modal yang di sumbangkan Hermawan telah di kembalikan ketika ia terlilit hutang saat usaha jual beli tanah. Hanya saja Tuan Bramantyo begitu baik hati dan


dermawan. Ia bahkan rela memberikan dengan cuma-cuma separuh hasil usahanya pada


sahabatnya demi untuk kerukunan bersama.


Ketika solusi yang di tawarkan Bramantyo tak mendapat respon yang baik dari pihak lawannya. Ia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci dengan rapat pintunya untuk meredam kekesalan yang ada.


Aku masih terdiam di ambang jendela seperti ini. Mengamati setiap gerak-gerik yang di lakukannya. Aku tak tahu dia sedang apa pastinya? Hanya saja yang akau dengar ia mengumpat berkali-kali dengan sangat kasar.


Hari berganti, kami semua memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Sebelum kembali, kami dua keluarga menyempatkan untuk sarapan bersama. Saat itu ketegangan yang terjadi antara Tuan Bramantyo dan Tuan Hermawan sudah menghilang. Mereka tampak kompak sarapan


bersama tanpa rasa canggung, seakan apa yang terjadi pada mereka semalam tak ada apa-apa.


Aku sendiri bingung dengan hal itu. Tapi aku bisa apa? Aku hanya serang pelayan di dalam sana. Dalam hati dan pikiranku berbicara, mungkin mereka memang sudah melupakan yang terjadi semalam dan ingin berdamai demi menjaga keharmonisan persahabatan mereka. Aku tersenyum memandang keakraban yang tercipta pada dua keluarga tersebut.


Tuan Bramantyo dan Nyonya Ayu, memilih untuk pulang lebih dulu. Mengingat hari sudah beranjak siang takut terjebak kemacetan nantinya. Tak ada yang ganjal dalam perjalanan kami. Nyonya Ayu duduk di selah Tuan Bramantyo. Sementara aku duduk di belakang bersamamu yang kala itu di dudukan di atas car seat.


Nyonya Ayu berkali-kali melirik ke belakang memperhatikan saat kamu tertidur dengan pulas. Berkali-kali pula ia mengingatkan padamu untuk mengencangkan sabuk car seat yang kamu pakai saat itu. Aku dengan patuh melaksanakan setiap apa yang di perintahkan olehnya.


Satu percakapan yang aku ingat saat perjalanan pulang mereka dan begitu membekas di ingatanku.

__ADS_1


“Sayang aku ingin slalu bersamamu


saat ini, nanti dan sampai nanti” ucap Nyonya Ayu.


“Aku pun demikian, aku ingin slalu membersamai mu di dunia maupun di akhirat. Bahkan jika kamu meningal saat ini aku pun akan menyusul saat itu juga” selanjutnya Tuan Bramantyo tersenyum dan mencium punggung tangan istrinya.


“Hus, hati-hati kalau bicara. Nanti kalau kita mati Jingga sama siapa?”


“Jingga akan di kelilingi dengan orang-orang baik, termasuk Minah. Betul kan Minah? Kamu pasti menjaga anakku?”


Aku hanya menganggukkan kepala dengan


tersenyum.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang, jalanan tampak lenggang. Tuan Bramantyo dapat dengan leluasa mengemudikan mobilnya. Hingga memasuki menit ke empat puluh sampailah kita di daerah Sidoarjo perbatasan menuju Surabaya.


Saat itu ada truk besar yang membawa muatan dalam jumlah banyak sekali. Tiba-tiba truk tersebut berbelok dan memotong jalan. Sementara kecepatan mobil yang kami kendarai cenderung lebih cepat dari yang tadi.


Aku masih ingat betul saat itu, tiba-tiba mesin mobil melaju dengan kecepatan yang tinggi. Tuan Bramantyo juga tak tahu penyebabnya. Yang ia rasakan kecepatan mobil bertambah seiring waktu berjalannya.


Ia berusaha untuk menginjak pedal rem, ketika sudah berdekatan dengan truk besar tersebut. Namun nyatanya semakin di tekan pedal rem tersebut makan kecepatannya semakin tinggi. Hingga suatu peristiwa tidak dapat terelakan lagi.


Mobil yang kita kendarai mengalami tabrakan dengan truk besar tersebut. Kondisi mobil dan truk dalam posisi laju yang sangat cepat. Hantaman sangat keras terdengar. Puing-puing reruntuhan kaca mobil juga masih terdengar nyata suaranya. Aku berteriak histeris sedangkan kamu menangis dengan sangat kerasnya saat itu.


Aku yang meringkuk di sebelah mu


saat hantaman besar terjadi. Sementara Tuan Bramantyo dan Nyoya Ayu terluka sangat parah mengingat mereka duduk di bagian jok depan. Masih dalam tangismu yang keras, aku lekas melepas car seat yang kamu pakai dan membawamu keluar dari mobil tersebut. Kondisi mobil benar-benar hancur di bagian depannya.


Jingga yang mendengar cerita tersebut tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya menangis tersedu-sedu membayangkan kesakitan yang di rasakan orang tuanya saat itu. Tak henti-hentinya ia menyeka sudut matanya. Fajar berusaha untuk menenangkan.


“Lanta apa yang terjadi setelah itu Bi?”

__ADS_1


__ADS_2