
“Iya ini aku. Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sangat hancur bukan?” ia tertawa dengan keras terbahak-bahak.
“Ups, aku rasa kabarmu sedang tidak baik-baik saja bukan?”
Hahahaha lagi-lagi ia tertawa menggelegar mengisi ruangan kamar.
“Sudah ku peringatkan bukan, jangan pernah bermain-main denganku. Kau salah mencari
lawan!”
“Seandainya saja, kamu mau mengembalikan Fajar padaku sejak awal. Mungkin aku tidak akan
melakukan ini semua!” Dahlia mengikis jarak untuk berbisik pada Jingga.
“Terlambat!” bisiknya kemudian.
“Kau sudah terlambat mengambil keputusan, kau harus membayar mahal rasa malu yang aku terima beberapa waktu lalu”
“Kau mau apa? Wanita gila!” teriak Jingga dengan kesal.
“Tentu saja aku mau suamimu bodoh. Sudah ku katakan berapa kali, aku mau suamimu dan
aku mau kamu mati. Mati!” Dahlia memperjelas kembali ucapannya.
“Kau gila!”
“Kamu yang membuatku seperti ini! Kamu yang slalu merebut setiap apa yang menjadi milikku!”
“Kau yang terlalu terobsesi pada kehidupanmu! menyedihkan seorang putri di keluarga
kaya harus hidup di bawah bayang-bayangku” serkas Jingga.
“Kau!”
Plak..plak..plak...
Dahlia menampar Jingga beberapa kali, hingga membuat sudut bibir wanita itu berdarah.
“Kurung dia, dan jangan berikan makan atau pun minuman untuknya setelah ini”
“Tunggu” teriak Jingga, mencegah Dahlia yang hendak beranjak.
“Kembalikan anakku!”
“Kembalikan anakku sekarang juga!”
“Oh, anakmu! Apakah ini bagian dari permohonanmu?Hah!”
“Aku akan mengembalikan anakmu tapi dengan catatan kau harus meninggalkan Fajar. Kau
harus pergi dari hidupnya dan jangan pernah lagi muncul kembali”
“Bagaimana?”
“Aku akan mengirim mu ke suatu tempat yang jauh dari sini. Kau bisa hidup dengan damai
bersama anakmu tapi tidak dengan suamimu. Karena suamimu adalah milikku!”
“Bagaimana?hah!”
“Aku tidak akan mengulang untuk memeberikan tawaran ini. Ku beri waktu satu jam
l untuk berfikir dari sekarang. Atau nyawa anakmu dalam bahaya. Sekedar informasi
saja, bayimu sudah sejak kemarin hanya bisa menangis saja menahan rasa lapar”
Hahaha...
Dahlia melangkah meningalkan kamar Jingga dengan tawa. Sementara Jingga harus kembali
menangis mendapati posisi yang sulit dalam hidupnya.
Ia kembali menangis tersedu-sedu di atas kursi yang mengikat tangan dan kakinya. Pikirannya kacau, atas keputusan yang harus di pilih. Meningalkan Fajar, pria yang begitu ia cintai atau tetap hidup bersama Fajar tanpa Gendhis. Bayi itu, bayi itu tidak berdosa. Ia terlalu kecil jika terlibat dalam masalah seperti ini. Tidak seharusnya dia dalam posisi seperti ini. Gendhis jauh lebih membutuhkan dia dari pada Fajar. Dengan segenap pertimbangan yang ada. Jingga memilih untuk membersamai Gendhis walau tanpa Fajar. Semua ini demi keselamatan anak dan suaminya.
__ADS_1
“Dahlia lepaskan aku!” teriaknya sekuat tenaga agar orang yang berada di luar sana
dapat mendengar teriakannya.
“Lepaskan aku!”
Sepuluh menit berlalu, salah satu penjaga mulai memasuki kamar tersebut. Ia kembali datang bersama dengan Dahlia.
“Jadi apa keputusanmu?” ia lekas bertanya tanpa bosa-basi. Tangannya menyilang di dada menatap dengan tajam lawan bicaranya.
“Aku memilih bayiku!” jawab Jingga dengan tegas.
Hahaha
Dahlia tertawa penuh kemenangan, akhirnya apa yang di harapkan bisa terwujud. Wanita
ini begitu lemah jika harus berhadapan pada bayinya.
“Bagus, aku suka itu”
“Jadi mana anakku! Aku mau kamu bawa dia ke sini dulu!” ucap Jingga dengan dingin tanpa melihat wajah Dahlia, hatinya sudah terlanjur sakit hati akan perbuatan wanita gila yang ada di depan matanya.
“Baik, sebentar lagi mereka akan membawa ke sini”
Tanpa pikir panjang, Dahlia lekas megambil ponsel yang ada di tas warna pink. Tas
mahal bergo C yang ada di tangan kanannya.
“Bawa kemari sekarang juga bayi itu!” tanpa salam maupun kata lainnya, ia lekas menutup begitu saja sambungan telfonnya.
Jingga dapat bernafas lega, ketika mendengar hal itu, meski resiko yang di dapat setelah ini juga sangat menyakitkan. Tapi inilah saatnya ia berkorban ketika menjadi seorang ibu.
Empat puluh menit kemudian, masih dalam posisi yang sama. Jingga menunduk menahan
lapar dan sakit hati yang mendera tubuhnya. Wajahnya sudah tak beraturan, beberapa luka lebam ada di pipi dan juga sudut bibirnya. Jilbabnya sudah tak terbentuk, tak terhitung berapa kali mereka menarik paksa jilbab tersebut sejak semalam.
“Ampun. Ampuni saya, jangan sakiti bayi ini” suara wanita terdengar dari balik pintu,
ia merintih memohon belas kasih pada beberapa orang yang menyeret paksa tubuhnya.
“Tolong, tolong lepaskan kami” ia kembali memohon.
“Daim!” pria itu menarik paksa rambut mbak Asih, kebetulan ia tak memakai jilbab. Pria itu masih dengan beringasnya mendorong dan menyeret mbak Asih. Nurani mereka sudah tidak bekerja sama sekali, bahkan wajah Gendhis yang masih memerah saja tak mampu membuat hati mereka tersentuh.
Mendengar derap langkah kaki, yang semakin mendekat, dan suara minta tolong seorang
wanita membuat Jingga lekas mendongak. Matanya menatap sekeliling. Telinganya
berusaha untuk bekerja lebih awas dari biasanya. Ia berharap wanita itu adalah
mbak Asih dan juga bayinya.
Ceklek pintu terbuka...
“Masuk!” Dengan sangat kasar, pria itu mendorong mbak Asih masuk ke dalam kamar yang sama dengan Jingga. Menyadari perbuatan terebut, mbak Asih lekas mendekap Gendhis dengan awas. Ia melindungi tubuh bayi itu dengan tangannya agar tak terbentur dengan lantai.
“Mbak Asih” seru Jingga kaget.
“Non Jingga, Non Jingga kenapa ada di sini?” keduanya masih terlihat sangat syok dengan kondisi semacam ini.
“Gendhis, mana Gendhis mbak Asih?” Jingga menatap nanar, pada bayi kecil yang terlihat
menutup mata.
“Non ini Gendhis” Asih menangis melihat kondisi Jingga berikut bayinya.
“Maafkan saya Non Jingga, maafkan saya yang tidak bisa menjaga Gendhis dengan baik.
Maafkan saya” ia menangis sesenggukan dan bersimpuh di hadapan Jingga.
“Mbak Asih jangan menyalahkan diri sendiri, ini musibah untuk keluarga kami. Apakah anakku baik-baik saja?”
Kondisi tangan dan kaki Jingga masih di rantai, ia tak dapat menyentuh anaknya saat itu. Ia hanya bisa melihat Gendhis yang berada dalam dekapan Asih. Asih yang menyadari tatapan majikannya lekas mendekatkan Gendhis pada Ibunya. Jingga mencium’i wajah anaknya yang tengah terlelap. Air mata turun hadir di sana”
__ADS_1
Ya Allah kenapa semua jadi seperti ini.
“Non saya rasa Gendhis kehausan, dari semalam dia tidak mau di beri susu formula, tubuhnya sedikit hangat dan lemas. Ia tak seaktif biasanya” terang Asih yang membuat Jingga semakin merasa bersalah pada anaknya.
“Mbak tolong bawa ke sini, arahkan dia untuk bisa menyusu denganku” posisi Jingga yang
masih dalam keadaan di sandra membuatnya ia kesulitan dalam bergerak. Asih dengan sangat telaten membantu majikannya untuk memberikan Asi pada bayinya. Gendhis lekas merespon dengan baik, bayi itu lekas menyesap dengan sangat rakus asi ibunya.
“Non kasihan sekali, sepertinya dia sangat kehausan”
Jingga hanya menganggukkan kepalanya saja, ia ingin sekali memeluk sang anak dan mendekapnya.
“Apa yang terjadi Non? Kenapa semua jadi seperti ini? Apakah Non Jingga mengenal
mereka?”
“Mereka adalah mantan majikanku, mereka menginginkan mas Fajar sebagai pendamping
anaknya”
“Astaga!” Asih menganga, namun tak dapat menutup mulutnya. Tangannya masih memegang Gendhis yang sedang menyusu.
“Non, kita harus lekas keluar dari sini, kita harus membawa Gendhis ke rumah sakit. Saya
rasa dia sedang tidak baik-baik saja”
“Iya benar, tapi bagaimana caranya. Bahkan semua anggota tubuhku di rantai semacam
ini” Jingga mencoba untuk menggerak-gerakkan tubuhnya namun hasilnya nihil. Rantai tersebut terlalu kuat.
Harapannya untuk bisa keluar dengan selamat dan membawa serta Gendhis seakan musnah. Pintu yang ada di depan mata terasa sangat jauh dari jangkauan.
“Asih bagaimana ini?” ia bertanya setengah putus asa.
.
.
“Non Jingga hilang?” Reza yang baru saja sampai di kediaman Dirgantara harus kembali
di hadapkan dalam situasi yang rumit.
“Lebih tepatnya ia pergi. Menurut CCTV yang ada Jingga meningalkan rumah ini waktu tengah
malam. Entah apa yang membuatnya pergi saat itu. Tapi aku yakin sesuatu hal buruk telah menimpanya” terang Fajar dengan frustasi.
“Za, cepat lacak keberadaan Jingga di ponselnya”
“Lokasi Non Jingga terakhir berada di daerah yang tak jauh tempat kami menemukan ponsel Asih”
“Ponsel Asih?”
“Benar Tuan, ponsel Asih jatuh di sebuah kawasan yang jauh dari pemukiman penduduk
tepatnya di area pegunungan yang memiliki sawah dan ladang yang luas”
“Ayo kita ke sana sekarang. Kerahkan seluruh anak buah yang ada. Jangan lupa hubungi
polisi”
“Baik Tuan”
Tanpa menunggu lama semua rombongan lekas menuju ke titik yang di tunjukan Reza.
.
.
.
“Dahlia, lepaskan kami. Anakku sedang sakit. Aku harus lekas membawanya ke Dokter” teriak Jingga dengan keras. Hal yang sama juga di lakukan mbak Asih.
“Kamu pikir setelah aku mempertemukan mu dengan anakmu, aku akan membiarkan kalian
__ADS_1
tetap hidup?”