JINGGA

JINGGA
174


__ADS_3

“Ma, apa yang terjadi?” tanya Fajar dengan panik ketika mendapati Bu Nadin menunggu di depan ruangan Oma dengan mata yang basah.


“Oma, keadaannya semakin parah. Mama tak tega untuk melihatnya” jawabnya dengan sesenggukan.


Tak banyak bicara, Jingga lekas masuk begitu saja ke dalam kamar Nyonya Oma. Ia melihat sosok tua sedang terbaring dengan lemas. Beberapa alat bantu pernafasan melekat pada tubuhnya. Beberapa waktu yang lalu, keadaan Oma juga sempat mengalami hal demikian. Namun, ia kembali memb aik ketika Fajar datang


menjenguknya. Oma seakan turut merasakan apa yang dirasakan Fajar ketika di sedang dalam masalah dengan Hermawan.


Tapi kali ini, keadaanya kembali memburuk. Sementara Fajar, sedang dalam kondisi


yang baik-baik saja tak ada masalah.


“Nyonya Oma ada apa? Apa yang terjadi?” Jingga menggenggam tangan keriput wanita yang


ada di depannya.


Oma masih menutup matanya dengan rapat. Tubuhnya belum memberikan reaksi sama


sekali. Beberapa menit kemudian, Fajar menyusul untuk masuk ke dalam. Ia mengambil satu kursi untuk duduk lebih dekat dengan Omanya. Ia terdiam untuk sesaat. Memandang wajah Omanya dengan cukup lekat. Guratan wajah sedih tergambar di sana. Beberapa rangkaian pertanyaan hinggap di kepala Fajar.


“Sebenarnya apa yang membuat Oma mengalami drop kembali? Padahal beberapa hari yang lalu


Oma terlihat lebih membaik dari sebelumnya. Oma juga sudah mau makan lontong buatan Jingga. Walaupun harus dalam pemaksaan terlebih dahulu”


Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia tak mampu untuk menjawab pertanyaan


suaminya.


“Oma itu sudah seperti orang tuaku sendiri, justru aku lebih dekat dengan Oma dari pada Mama dan Papa waktu kecil. Sejak kecil beliaulah yang merawat ku ketika Mama sibuk untuk menemani rangkaian perjalanan dinas Papa dalam merintis usaha ini”


Fajar tertunduk untuk sesaat. Kilas kenangan bersama Oma samar-samar melewati pikirannya.


“Kemari waktu aku menjenguk Nyonya Oma, beliau sempat meminta pada Papa untuk mencari keberadaan temannya waktu masih muda. Namanya Bu Kinan kalau tidak salah. Tapi


aku sendiri tidak tahu persih seperti apa ciri-ciri dari teman Nyonya Oma”


“Cari teman Oma? Bagaimana bisa aku mencarinya? Apa aku harus mendatangi satu persatu sekolah Oma dulu begitu? Lantas meminta daftar peserta anak didik di sana? Ya


kali, Oma angkatan tahun berapa sayang?” jawab Fajar dengan frustasi atas permintaan yang tidak jelas ciri-ciri dan keberadaannya.


“Aku juga tak tahu mas. Tapi apa salahnya jika kamu mau mencoba dengan seperti itu, siapa tahu bisa ketemu temannya Nyonya Oma”


Fajar tak menyangka jika ucapannya yang asal justru di tanggapi Jingga dengan serius. Ia bahkan menyuruh Fajar untuk lekas melakukan hal itu.


Fajar membuang nafasnya dengan kasar. Dalam hidupnya beberapa tahun terakhir ini ada


saja hal di luar nalar yang harus di kerjakan dan terjadi pada keluarganya. Ia memilih untuk memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


“Mas turuti saja permintaan Nyonya Oma. Aku rasa ada hal yang ingin di sampaikan jika beliau sampai ingin berjumpa seperti itu”


“Sayang yang mendapat mandat kan Papa. Kenapa jadi aku yang yang di suruh”


“Mas apa kamu tega melihat Nyonya Oma seperti ini? Aku rasa Papa kesulitan untuk hal ini. Makanya sampai saat ini beliau belum bisa membawa sahabat Nyonya Oma ke sini”


“Mas, aku takut”


Fajar melirik sekilas istrinya.


“Ini akan menjadi...” Fajar mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ucapannya. Ketika menyadari Jingga melotot tajam menatapnya.


“Nyonya Oma, aku dan Mas Fajar di sini sekarang. Apa Nyonya Oma membutuhkan sesuatu?”


Tak ada jawaban atau respon yang di berikan, hanya terdengar suara alat bantu pernafasan yang mengisi kekosongan dan dinginnya ruangan rawat Oma.


Jingga dan Fajar kembali saling berpandangan dalam diam.


Pintu ruang rawat terbuka. Dokter kembali datang untuk memeriksa kondisi pasien.


“Dokter


apa yang sebenarnya terjadi pada Oma saya. Beberapa hari yang lalu ia tampak baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang kondisinya jadi seperti ini?”


Tanya Fajar ketika mendapati Dokter tengah memeriksa Oma.


tensi darahnya yang tinggi. Hanya sajam karena tensi yang tinggi ini mengakibatkan melemahnya seluruh kerja organ di tubuh Oma. Usianya yang sudah berumur membuat tekanan darah yang tak normal mempengaruhi kinerja organ yang


lainnya”


“Oma tidak boleh dalam keadaan tegang untuk beberapa waktu ini. Pikirannya harus benar-benar rileks dan tenang. Segala sesuatu yang di minta saya harap untuk lekas di kabulkan, karena itu akan sangat membantu untuk proses penyetabilan tekanan darahnya. Jika beliau dalam kondisi yang tenang tentu kinerja organnya juga tidak akan menegang” terang Dokter kemudian.


“Untuk luka yang ada pada tangannya akan cenderung susah kembali pulih. Luka pasca


kecelakaan ini jauh lebih lama proses penyembuhannya. Lagi-lagi faktor usia


beliau yang tak lagi muda”


Jingga dan Fajar secara bersaman menghela nafas yang panjang.


“Baik apakah ada yang di tanyakan lagi?”


“Saya rasa tidak Dokter”


“Kalau begitu saya permisi dulu, dalam waktu dua jam saya akan kembali lagi untuk memeriksa kondisi pasien”


Perlahan Dokter mulai meninggalkan ruang rawat. Jingga dan Fajar masih duduk di samping

__ADS_1


Oma. Mereka saling berhadapan dengan masing-masing memegang tangan Oma.


“Sayang sebaiknya kamu keluar dulu. Kasihan Gendhis, dia pasti sudah haus, bukannya


sekarang waktunya untuk minum”


Fajar melirik sekilas, ia hafal betul kapan waktu untuk anaknya minum susu dan berapa


aktivitas lainnya.


“Baiklah, aku keluar dulu sebentar”


.


.


.


“Jingga, bagaimana kondisi Oma? Apa kata Dokter?” Bu Nadin dengan begitu antusias


mendekat pada menantunya dan menanyakan prihal kondisi mertuanya.


“Prihal sahabat Nyonya Oma bagaimana Ma?”


Bu Nadin lekas tertunduk lesu ketika mengingat permintaan itu. Ia sama sekali belum pernah untuk bertemu sahabat mertuanya sebelumnya.


“Nak, apakah Nenek boleh untuk melihat Oma mertua mu?” Bu Kinan mencoba untuk melirik


sekilas  pasien yang ada di dalam sana.


“Apa boleh Ma?”


“Tentu saja boleh silahkan Bu Kinan. Bu Kinan adalah neneknya Jingga. Sudah sepatutnya


menjadi bagian daeri keluarga besar kami. Mohn maaf ya Bu. Pertemuan pertama kita dalam kondisi seperti ini. Tak ada sambutan yang berarti selayaknya pertemuan dua keluarga, terlebih Bu Kinan dan Jingga sudah lama terpisahkan


selama ini”


Bu Nadin menangkupkan kedua tangannya di dada. Ia memandang lekat ajah tamunya


malam ini. Ada sedikit rasa sesal dan tak enak ketika tak bisa menyambut


hadirnya tamu dari pihak besan dengan baik.


“Tidak masalah, kita semua keluarga” Bu Kinan memilih tersenyum dan lekas masuk ke dalam


ruang rawat Oma. Ia berjalan dengan pelan dan lekas di sambut Fajar yang sudah

__ADS_1


lebih dulu berada di dalam sana.


__ADS_2