JINGGA

JINGGA
144


__ADS_3

“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang” elak Fajar kemudian.


“Aku tidak melakukan apa-apa dengan Dahlia” Fajar menarik lembut tangan istrinya. Ia mencoba untuk menenangkan Jingga yang sedang marah.


“Aku tidak peduli Mas, apa yang aku lihat sudah cukup” Jingga menghempaskan tangan Fajar, begitu saja. Ia berlari menuju mobil yang sudah menunggu di depan kantor.


Fajar masih berdiri di tempat, ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada istrinya. Beberapa kali, ia mengumpat kesal atas kecerobohan yang baru saja ia lakukan. Fajar kembali berlari menuju ruangannya, berniat untuk mengambil barang-barang berharganya.


Sementara di dalam ruangan Reza, Boy dan juga Dahlia sudah duduk manis menunggu kehadirannya. Dahlia tersenyum puas ketika melihat Fajar kembali naik ke ruangannya. Itu berarti satu misinya telah berhasil.


“Maaf Tuan, apa bisa kita mulai sekarang diskusinya?” tanya Boy yang melihat kedatangan Fajar. Pria itu dengan sengaja mencegah Fajar, agar tidak lekas menyusul istrinya. Ia dengan sengaja meminta Fajar dan Reza untuk melanjutkan meeting hari ini.


“Meeting di tunda, Reza akan menjadwal ualangkan kegiatan ini!” ucap Fajar dengan dingin.


“Tidak bisa begitu Tuan, kami sudah datang jauh-jauh dari Cakrawala prihal pengurusan projek ini. Jadi saya mohon kerja samanya. Kami juka memiliki banyak agenda penting lainnya. Bukankah seluruh anggota juga sudah berkumpul saat ini?” Boy kembali membujuk Fajar.


Huft....


Fajar menghela nafas panjang, bagaimana pun juga ia adalah pimpinan di kantor ini. Saat di kantor profesionalitas jauh lebih penting di atas segalanya. Saat ini ia sadar, jika harus menekan egonya demi keberlangsungan perusahaan.


“Baik kalau begitu, silahkan” Ucap Fajar kembali, ia memilih untuk turut bergabung di sofa. Mendengarkan setiap arahan yang di berikan oleh Boy dan Dahlia secara bergantian. Reza dan kepala divisi pemasaran menyimak dengan seksama penjelasan tersebut.


Satu jam berlalu meeting berjalan dengan lancar. Semua yang di harapkan Fajar dapat di sanggupkan oleh piha Cakrawala. Pembuatan iklan akan di lakukan oleh model ternama atas pilihan dari tim Dahlia. Sebenarnya Dahlia memiliki konsep untuk memakai pemilik perusahan sebagai pemeran iklannya. Namun Fajar, secara terang-terangan menolak permintaan tersebut. Jika Fajar menerima tawaran tersebut berarti ia dan Dahlia yang harus menjadi pemeran dalam modelnya.


“Sebenarnya ini akan membawa citra baik untuk dua perusahan besar ini Tuan. Kenapa tidak di coba saja dulu” terang Dahlia, ia masih mencoba untuk negoisasi prihal masalah ini.


“Saya rasa untuk membawa citra perusahaan yang baik tidak harus begini. Rasanya tidak umum jika pemilik perusahan yang akan menjadi model utama” elak Fajar menolak.


“Justru karena tidak umum itu Tuan. Kita ingin membuat sesuatu hal yang berbeda dari yang lain. Jika pemilik perusahaan terjun langsung dalam proses pembuatan iklan dan turut terlibat untuk menjadi modelnya tentu akan membawa kesan berbeda di tengah-tengah mayarakat”


“Saya rasa, wajah kita juga cukup mumpuni untuk berdiri di hadapan layar televisi” Serkas Dahlia, ia tak pantang semangat untuk mengambil alih hati Fajar. Ia masih terus berusaha untuk mendekat dan melakukan komunikasi yang intens dengan Fajar.


“Tidak perlu Nona Dahlia, saya masih sanggup untuk membayar model!” Fajar melirik Boy dan Dahlia secara bergantian. Mata elangnya menghunus tajam pada dua manusia pemaksa yang ada di depannya.


“Jika Cakrawala masih kekeh menggunakan pemilik perusaahan sebagai modelnya, maka saya akan mundur dari projek ini. Saya masih sanggup untuk mencari tim lain yang bekerja sama secara wajar” ancam Fajar, ia menekankan ucapannya.


“Bagiamana menurutmu Za?”


“Saya rasa apa yang di katakan Tuan kami benar adanya. Ini terlalu beresiko jika menggunakan pemilik perusahan sebagai modelnya. Bukankah selama ini jati diri dari pemilik perusahaan sering di lindungi, demi keamanan hidupnya. Terlalu banyak musuh di luar sana” terang Reza menambahkan.


“Lantas Nona Dahlia bagaimana menurut pendapat anda?” Boy, mengembalikan pertanyaan pada Dahlia. Ia menyerahkan segala keputusan yang akan di ambil di tangan atasannya. Ia tidak mau mengambil reiko dengan salah memilih keputusan, yang ada ia pulang tanpa kepala nantinya.

__ADS_1


Huft...


Kini Dahlia yang menghela nafas panjang. Maksud hati ingin bermain peran dengan Fajar, namun sayang pria itu menolak tegas pesona yang ada di dalam dirinya.


“Baiklah kalau begitu, jika memang kita harus memakai model sebagai media untuk promosi silahkan. Tapi untuk model pihak kami yang menentukan. Kami sudah memiliki list model yang berkompeten untuk iklan ini” Terang Dahlia dengan kecewa.


“Baik, saya terima tawaran ini. Tapi saya juga perlu mengevaluasi atau memastikan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi pemain dalam iklan ini. Saya tidak mau model yang memiliki citra buruk yang akan menjadi brand ambasador dalam produk ini”


“Tentu saja Tuan”


“Baik, saya rasa cukup sekian untuk meeting hari ini. Sampai berjumpa kembali di lain kesempatan” Fajar dengan segera menutup rapat yang ada, Ia ingin lekas kembali ke rumah untuk meminta maaf pada istrinya.


“Oh ya Tuan Fajar, apakah anda sibuk hari ini? Jika tidak kami bermaksud untuk mengajak anda sekedar minum kopi di cafe yang ada di ujung sana” Tawar Dahlia sebelum ia keluar dari ruangan Fajar.


“Mohon maaf saya tidak bisa, saya sedang banyak urusan”


“Really? Cuma sebentar saja. Kita bisa sharing tentang perusahan. Saya rasa, saya harus banyak belajar dengan Tuan. Bagaimana untuk menjadi pebisnis sukses di usia yang cukup terbilang masih sangat muda”


“Mohon maaf saya tidak bisa. Silahkan belajar dari Tuan Hermawan. Beliau jauh lebih hebat di bandingkan saya. Mohon maaf saya harus pergi dari ruangan ini!” Fajar menunjuk pintu arah keluar ruangannya.


“Baiklah kalau begitu”


Kedua tamu dari Cakrawala sudah meningalkan ruangan Fajar, di susul oleh kepala divisi pemasaran yang turut pamit undur diri untuk kembali bekerja di bagiannya. Kini tinggallah Fajar dan Reza dalam ruangan. Fajar mulai berkemas. Memasukan beberapa barang berharga dalam tasnya.


“Tuan, adakah sesuatu yang harus saya kerjakan?” tanya Reza ketika melihat Fajar yang buru-buru merapikan barang-barangnya.


“Za, bagaimana jika kamu sedang dalam posisi pasanganmu kamu marah? Apa yang kamu lakukan untuk meluluhkan hatinya?”


Reza, terdiam ia menoleh ke kanan dan kiri. Otaknya berusaha untuk berputar memberikan jawaban. Namun sayang, pikirannya mendadak kosong tak ada isinya.


“Za, jangan diam saja. Aku sedang mengajakmu untuk berbicara”


“Mohon maaf Tuan, tapi saya tidak tahu. Saya tidak pernah mempunyai pasangan selama ini” jawabnya dengan datar dan sebagaimana kenyataanya.


“Haha, aku lupa. Aku bahkan bertanya pada orang yang salah. Bagaimana bisa pria dewasa sepertimu tidak memiliki pasangan. Carilah Za, yang di rasa dapat mejadi teman hidupmu. Pakailah hatimu untuk mencintai dan merasakan cinta”


“Ngomong-ngomong wanita seperti apa yang menjadi kriteriamu? Hingga membuatmu sampai saat ini belum memiliki pasnagan” mendadak Fajar menjadi kepo akan kehidupan Reza. Bukan tanpa alasan, pria itu nyaris tak ada waktu untuk dirinya sendiri. Seluruh waktunya telah terdedikasi untuk keluarga Dirgantara.


“Seperti Non Jingga Tuan” jawab Reza dengan asal.


Mata Fajar lekas membulat, ia menatap Reza dengan kobaran rasa yang tidak bisa di jelaskan.

__ADS_1


“Mohon maaf Tuan, saya hanya bercanda. Saya tidak mungkin mendapatkan wanita seperti Non Jingga. Beliau wanita yang istimewa, tentu hanya orang istimewa yang bisa bersanding dengannya” ucap Reza dengan segera. Ia lekas meralat kalimat yang baru saja terucap dalam mulutnya.


Huft...


“Jangan berani-berani menatap istriku! Dia itu milikku hanya milikku!” ancam Fajar, ia lekas meraih tas yang sudah rapi di atas mejanya berlalu begitu saja meninggalkan Reza, yang masih mematung di tempat.


“Tuan, Tuan Fajar mau kemana? Ini masih jam kerja” Reza berlari mengikuti langkah majikannya.


“Kau lupa jika aku adalah pemilik perusahan ini? Heh? Aku ingin pulang. Aku harus menemui istriku”


“Baik Tuan”


“Batalkan semua agenda yang ada hari ini” Fajar melenggang keluar dari ruangannya. Meningalkan Reza yang masih melongo di tempat.


Fajar lekas meningalkan kantor. Ia ingin lekas sampai di rumahnya bertemu dan meminta maaf pada istrinya.


.


.


.


“Mama”


“Mama, oh Mama. Anakmu yang cantik dan baik hati ini sudah pulang” ucap Dahlia yang baru saja memasuki pintu ruang tamu rumahnya.


“Ada apa kok tumben teriak-teriak seperti ini. Kamu pasti lagi senang bukan?” tanya Bu Lia, tida biasanya ia melihat Dahlia pulang dengan tersenyum, terlebih anaknya itu sempat memberikan pelukan pada Mamanya. Suatu moment langa yang ada dalam keluarga ini. Dahlia duduk di ruang tamu. Ia menyilangkan kakinya dan bermain uku indahnya.


“Ada apa?” tanya kembali Bu Lia yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari anaknya.


“Mama tahu, hari ini aku berhasil membuat Jingga marah dengan suaminya”


“Oh ya?” Bu Lia tersenyum menatap wajah Dahlia, ia baan memperpendek jarak keduanya demi untuk mendengar cerita dari sang putri.


“Bagaimana caranya?”


“Hah, itu perkara yang mudah mamaku sayang” Dahlia beranjak meningalkan Mamanya yang masih menunggu kelanjutan ceritanya.


“Tunggu Dahlia, lantas bagaimana apakah sudah berhasil? Apa rencana kamu selanjutnya?” Bu Lie mengikuti anaknya yang sedang naik ke lantai tiga mengunakan lift menuju kamar anaknya.


“Dada Mama” Dahlia melakukan kiss bay pada Bu Lia, sejurus kemudian pintu lift tertutup.

__ADS_1


__ADS_2