
“Tuan, tolong..tolong” ucap Susi yang sedang berteriak ketakutan, suaranya terbata-bata dan panik.
Fajar yang berada di ruang tengah, lekas bangkit dari duduknya. Pagi itu ia sedang menikmati secangkir teh manis dan beberapa kudapan di depannya. Hari ini Fajar, berencana untuk berangkat kerja lebih siang dari biasanya. Pria itu ingin memastikan perkembangan pabrik yang ada di Cina baik-baik saja sesuai dengan yang telah di rencanakan.
“Ada apa dengan Jingga?” tanya Fajar dengan raut wajah yang khawatir, seketika ia bangkit dari tempat duduknya yang mengikuti Susi menuju kamar mereka.
“Darah.!....”
“Iya darah, darah Non Jingga banyak sekali Tuan. Tuan saya takut, Tuan lihat sendiri” jawab Susi menjelaskan saat perjalanan merea menuju kamar Fajar.
Mendengar kata darah membuat Fajar berjalan setengah berlari, mimik rupanya berubah seketika menjadi tegang dan panik. Ia menyalip Susi yang berjalan di depannya.
“Di mana Jingga?” teriak Fajar ketika melihat sang istri tak ada di atas ranjangnya. Matanya mengedar seluruh ruang kamar.
Kamar mandi.
Fajar berlari menuju kamar mandi, wajahnya benar-benar tegang tak sabar ingin melihat apa yang terjadi pada istrinya.
Ceklek pintu terbuka.
Jingga, duduk tersungkur di kamar mandi dengan raut wajah kesakitan. Dan di lantai tempatnya duduk banyak sekali darah. Fajar lekas menghampiri sang istri mencoba untuk membangunkan istrinya. Tatapan mata Jingga sayu. Wajahnya memucat, ia tak punya tenaga walau hanya untuk berdiri, tiba-tiba kakinya lemas seakan tak bertulang. Fajar tak banyak bicara, ia lekas mengangkat tubuh istrinya mengendong menuju ranjang.
Fajar dengan segera membaringkan Jingga di atas ranjang. Mulut Jingga tak berhenti merintih, seakan sedang merintih manahan sakit yang tiada terkira. Darah masih mengalir deras melewati celak kakinya. Susi dengan telaten membersihkan semua darah yang ada dalam kamar majikannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Fajar dengan panik.
Jingga hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak kuasa untuk menjawab pertanyaan Fajar.
“Sakit...” satu kata yang terus keluar dari mulut sang istri pagi itu.
“Kita ke rumah sakit ya sekarang!”
__ADS_1
“Pelayan cepat panggil sopir, siapkan mobil!”
“Susi bantu Jingga, untuk berganti pakaiannya!” perintah Fajar dengan segera. Pria itu lekas memasukan beberapa potong baju dan keperluan Jingga lainnya. Pikirannya kalut dan takut, terlebih ketika melihat darah yang berceceran di sana.
Fajar tak banyak bicara setelah mendapat info jika sopir sudah bersiap di bawah, dan Jingga sudah berganti pakaian. Ia lekas merengkuh tubuh istrinya, membawa dalam gendongan menuju lantai dasar. Dengan cukup gesit namun tetap hati-hati ia menggendong istrinya. Sementara Susi, ia mengikuti di belakang Fajar dengan membawa beberapa perlengkapan Jingga.
“Sakit Mas” rintihnya dengan memejamkan mata dan menggigit bibir bagian bawahnya.
“Sabar ya sayang kita akan ke rumah sakit setelah ini. Tenang kamu pasti bai-baik saja”
“Anak kita bagaimana mas? Aku takut” rintih Jingga kemudian. Sebagai calon ibu ia begitu khawatir takut sesuatu hal buruk terjadi pada janinnya. Ia kerap kali mengikuti kelas kehamilan sebelumnya, dan semua yang terjadi padanya adalah tanda-tanda dari keguguran.
Sampai di ruang makan, Bu Nadin dan Pak Angga tergopoh-gopoh menghampiri Fajar. Ia terkejut melihat Jingga yang berada dalam gendongan Fajar, terlebih dengan raut wajah Fajar yang tegang.
“Fajar, ada apa dengan Jingga?” tanya Bu Nadin dengan khawatir, ia melirik sekilas wajah sang menantu yang tampak pucat pasi. Semenjak acara tujuh bulanan berakhir kemarin, Bu Nadin dan Pak Angga memilih untuk sementara menginap di rumah anaknya. Ia ingin turut serta menjaga Jingga. Sementara Oma, ia meminta ijin untuk pulang sejenak ke tempat pengasingan yang telah lama ia huni beberapa tahun lalu. Ia ingin menenangkan pikiran dan rindu akan suasana desa.
“Tidak tahu Ma, Jingga mengeluarkan banyak darah pagi ini. Kondisinya saat ini lemah sekali. Aku harus lekas membawanya ke rumah sakit” Jawab Fajar dengan masih berjalan cepat menuju mobil yang sudah ada di depan pintu utama rumah mereka.
“Apa yang terjadi padamu nak?” bu Nadin panik, ia turut menyusul langah Fajar.
“Hubungi Oma” titahnya kemudian di tengah kepanikan yang melanda.
.
.
.
Pagi itu mobil melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit tempat Jingga biasanya melakukan pemeriksaan. Tak ada obrolan yang berarti sepanjang perjalanan hanya rasa cemas yang tiada terkira yang terpancar dari raut wajah calon orang tua,
“Bisa lebih cepat lagi!”
__ADS_1
“Kau tida lihat apa istriku sudah kesakitan seperti ini!” betak Fajar pada sopir, ketika mereka melewati lampu merah yang ada di ujung jalan sana.
“Baik Tuan”
Sesampai di rumah sakit, Jingga lekas di sambut oleh beberapa perawat yang ada. Mereka sudah mengetahui jika Jingga adalah pasien khusus di ruma sakit ini. Mereka dengan sigap menyiapkan kamar khusus dengan fasilitas VVIP. Administrasi urusan nanti, mereka sudah hafal jika itu adalah tugas Reza atau pelayan yang lainnya. Infus mulai terpasang di lengan kanan Jingga. Tinggal menunggu Dokter Ambar datang.
“Di mana Dokter Ambar?”
“Dokter Ambar sebenarnya sedang cuti hari ini Tuan” jawab perawat dengan takut.
“Panggil dia sekarang!” titah Fajar bagaikan perintah raja, atas nama kekuasan tiada yang berani untuk membantah, sekalipun itu merenggut waktu cuti yang telah lama di siapkan Dokter Ambar.
“Baik Tuan”
.
.
.
Setengah jam berlalu, Dokter Ambar dengan cepat langsung menuju rumah sakit. Ia membatalkan semua agenda liburan keluarga yang telah di susun bersama suami dan anaknya. Dokter Ambar berjalan dengan panik menuju ruang Jingga. Ia lekas memeriksa keadaan Jingga saat itu juga. Sementara di luar ruangan Bu Nadin dan Pak Angga terlihat begitu cemas. Mereka berjalan mondar-mandir tak karuan. Segala rentetan hal buruk menghampiri pikiran mereka.
Fajar masih di dalam, ia sama sekali tak beranjak dari sisi istrinya. Jemarinya memegang lembut tangan Jingga berusaha untuk memberikan kekuatan di sana.
Dokter Ambar mulai melakukan prosedur pemeriksaan, ia di bantu dengan beberapa perawat lainya lekas melakukan USG saat itu juga. Mimik wajahnya berubah menjadi tegang ketika matanya menyorot pada layar yang ada di depannya.
“Dokter apa yang terjadi pada istriku?” tanya Fajar panik ketika melihat ekpresi Dokter Ambar yang hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Sementara Jingga, ia menatap pasrah dengan apa yang akan terjadi. Semuanya terasa sakit tiada terkira. Perutnya terasa seperti tercabik-cabik benda tajam di dalam sana.
“Dokter katakan sesuatu!” ucap Fajar kemudian.
Dokter Ambar menatap Fajar sekilas kemudian ia mengangguk pelan, “Kita harus melakukan prosedur caesar saat ini juga Tuan”
__ADS_1
Like komen kak 😊✌️