JINGGA

JINGGA
109


__ADS_3

“Hah, bodoh!”


“Bodoh sekali! Hanya menangani anak ingusan saja kalian tak bisa!”


“Cih...”


Lelaki paruh baya itu meludah tepat di hadapan anak buahnya, ia memaki habis-habisan anak buahnya karena telah gagal dalam satu misi.


“Bagaimana bisa kalian yang beranggotakan banyak orang seperti ini, tak bisa melakukan penyerangan hanya dengan melawan dua orang saja hah!”


“Dimana keahlian kalian yang selalu mengatakan tak terkalahkan oleh siapa saja. Percuma aku membayar mahal-mahal jika menghabisi satu orang saja kalian tak mampu!


Tangan Pak Hermawan menunjuk satu persatu wajah anak buahnya malam itu.


“Maaf Tuan, maafkan kami setelah ini kami berjanji akan menghabis’inya” Mereka menundukkan wajah takut.


“Apa yang membuat saya harus percaya pada kalian?!”


“Kami telah lama bekerja sama dengan Tuan, baru pertama kali ini kami gagal dalam satu misi. Izinkan kami untuk memperbaiki kembali dan membawakan kabar baik untuk Tuan” ucap sang pimpinan geng tersebut dengan memohon ampun.


“Satu kali lagi, jik kalian gagal dalam misi selanjutnya silahkan pergi saja dari sini!” Hermawan membentak dengan cukup keras pimpinan geng tersebut. Ia bahkan melemparkan beberapa pukulan pada anggota yang lainnya.


“Aku tak habis pikir dengan kalian, sudah di lengkapi dengan banyak senjata masih saja kehilangan jejaknya. Main kasar saja sudah kalah, bagaimana jika harus main halus hah” Ia menghela nafas dengan kasar.


“Justru itu Tuan, sebaiknya ita harus main lebih halus lagi. Fajar bukanlah orang yang dapat d taklukan dengan cara seperti ini!”


“Saya rasa kita harus mengatur ulang strategi yang ada”


“Jangan banyak bicara lakukan semuanya sebelum pabrik di Cina selesai pembangunannya!” Hermawan memilih untuk meninggalkan markas itu dengan amarah yang ada. Ia memiliki satu tempat yang letaknya jauh dari kawasan rumah. Suatu bangunan kosong yang di jadikan markas untuk melancarkan setiap aksinya, menyusun deretan rencana jahat untuk mencelakakan lawan mainnya.


****

__ADS_1


Rumah Fajar.


“Non, kita masuk ya. Sudah tengah malam. Anginnya tidak enak di badan terlebih untuk ibu hamil” bujuk Susi, yang masih duduk di bawah anak tangga teras rumah Fajar. Hal yang sama juga di lakukan Jingga. Ia turut duduk di sana menunggu kepulangan sang suami. Keduanya masih duduk dengan rasa cemas dan waspada.


“Sus, tapi ini sudah lebih dari jam dua belas malam. Kemana sebenarnya mas Fajar berada? Bahkan nomor ponselnya juga tak bisa di hubungi” Ia meraung-raung merasakan cemas yang tiada terkira. Kehamilan membuatnya lebih sensitif dalam segala hal terutama masalah feeling dan perasaan,


“Saya ambilkan jaket dulu ya Non”


Jingga tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Susi mulai beranjak dari duduknya. Ia berjalan dengan gontai menuju lantai tiga untuk mengambil selimut dan jaket sebagai penghangat tubuh. Tak jarang dalam perjalananya menuju kamar Jingga, ia menguap berkali-kali ketika mendapati rasa kantuk yang tak dapat di tahan.


Haduh sampai kapan aku akan terjaga seperti ini. Hoam....


Jingga masih menatap langit yang sama. Beberapa kali tangannya mengelus perut yang mulai berisi. Seakan sedang mengajak diskusi dengan sang anak.


Lima menit berlalu, Susi tak kunjung kembali menemani Jingga. Jemarinya sibuk memilih jaket dan selimut untuk sang Nona. Namun saat tak sengaja kepalanya menyentuh tembok untuk bersandar. Ia tertidur beberapa menit.


Ia maju beberapa langkah ke depan, untuk memastikan jika yang datang adalah benar suaminya.


“Mas Fajar” seketika senyum itu kembali terbit dari sudut bibirnya, setalah sepanjang hari redup tiada terkira.


Perlahan mobil mulai maju, memasuki halaman rumah hingga berhenti tepat di depan pintu utama ruang masuk rumahnya. Mobil berhenti, mesin sudah di matikan namun Fajar tak kunjung keluar. Jingga masih menatap dengan heran. Biasanya suaminya akan lekas turun dari mobil ketika sudah sampai di depan pintu, terlebih ada dia yang sedang menunggunya di sana.


Perlahan Reza mulai keluar dari mobil “selamat malam Non Jingga” sapanya dengan penuh hormat dan santun. Reza juga membungkukan badannya, sejurus kemudian ia berjalan ke belakang hendak membukakan pintu untuk penumpang di sana.


Jingga masih menatap heran, tak biasanya Fajar meminta untuk di bukakan pintu. Pria itu terkesan mandiri meskipun bergelar sebagai Tuan majikan. Jingga mulai menuruni anak tangga dan mendekat pada mobil sang suami.


“Astaga Mas, ini kenapa?” Ia panik menutup mulutnya yang menganga ketika melihat tangan Fajar menggunakan perban, terlebih di beberapa bagian lengan kemejanya ada darah.


“Kok belum tidur sih?” jawab Fajar tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan istrinya.

__ADS_1


“Mas ini kenapa?” tanyanya kembali, tanpa ingin juga menjawab pertanyaan sang suami.


“Za, kamu boleh pulang untuk istirahat. Atau kamu bisa juga untuk menginap di sini. Untuk besok berangkatlah lebih siang dari biasanya tidak masalah”


“Baik Tuan, terimakasih saya izin pulang saja”


“Silahkan”


Reza mulai undur diri. Sejak dalam mobil Fajar menginstruksi pada Reza untuk memakai mobil yang berbeda. Ia mengizinkan memakai mobil apa saja yang ada di garasi rumahnya. Tentu saja ini demi keselamatan Reza mengingat pria itu akan melakukan perjalanan sendiri malam ini. Fajar khawatir jika kawanan geng tadi masih mengincarnya.


“Mas ini kenapa?” dengan wajah yang panik Jingga bertanya. Ia beberapa kali menyentuh tangan sang suami.


“Tidak sayang. Aku tidak papa. Ini hanya luka ringan. Ayo masuk, ini sudah malam kok masih di luar saja”


“Mas aku tuh khawatir sama kamu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tangan Mas harus di perban seperti ini? Apakah sesuatu hal buruk terjadi padamu? Apakah mas Fajar habis terjatuh atau kenapa?” Jingga tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Deretan pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya. Lebih dari itu, ia tak dapat menahan tangis yang tiba-tiba meleleh mambasahi pipinya.


“Hay stop jangan menangis. Mas harus dari mana menjawab semua pertanyaanmu itu sayang”


“Lihatlah aku tidak papa, ini hanya luka kecil esok juga sudah sembuh”


“Luka kecil bagaiman darahnya saja banyak sekali di bajunya”


“Aku tida papa sayang, Jangan khawatir ini hanya sebuah luka kecil. Tadi tak sengaja mas terjatuh saat berjalan” bohong Fajar, tak ingin membuat istrinya banyak pikiran.


“Sini” Satu tangan Fajar meraih kepala Jingga dan membawanya dalam dekapannya.


“Lihat bahkan aku masih bisa untuk memelukmu sayang. Jangan bersedih sungguh aku tidak papa. Kita istirahat ya” Fajar membimbing istrinya menuju lantai tiga ke kamar mereka.


Ceklek...


Pintu terbuka.

__ADS_1


Susi!!!


__ADS_2