JINGGA

JINGGA
167


__ADS_3

“Lantas apa yang terjadi setelah itu Bi?”


Pak Hermawan yang di bantu warga sekitar lokasi kejadian lekas membawa orang tuamu ke rumah sakit terdekat. Aku tak tahu dari mana datangnya mereka. Yang aku tahu Hermawan beserta keluarga sudah ada di lokasi kejadian beberapa detik setelah terjadi peristiwa naas tersebut. Tuan Hermawan pula, yang melarang warga sekitar untuk melaporkan ke polisi


prihal kejadian yang baru saja di alami Tuan Bramantyo. Ia dengan segera menui korban dan mengajaknya untuk berdamai.


Tak ada penolakan yang berarti dari pihak pemilik truk, mereka menerima dengan lapang dada apa yang telah menimpanya. Usut punya usut, Tuan Hermawan memberikan imbalan yang luar biasa


fantastis untuk keluarga mereka. Saat itu, stigma buruk tentang Tuan Hermawan dalam pikiranku telah ku hapus.Bagiku dia adalah dewa penolong untuk keluarga ini.


Kabar buruk dari peristiwa ini, adalah orang tuamu yang tidak dapat tertolong. Mereka meninggal bahkan sebelum sampai ke rumah sakit. Konon Nyonya Ayu meninggal lebih dulu yang di susul Tuan Bramantyo. Ternyata cinta kasih mereka sejati. Tuan Bramantyo menepati janjinya untuk pergi bersama dengan istrinya. Sejak saat itu juga, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menepati janjiku pada kedua orang tuamu. Yakni tetap bertahan tinggal di sini menjagamu hingga kau telah menikah beberapa waktu yang


lalu.


Beberapa hari kemudian. Kabar kematian


orang tuamu telah sampai di telinga keluarga besar nenekmu. Mereka begitu kaget dan terpukul atas peristiwa ini. Mereka ingin mengambil dan mengasuh mu. Namun Tuan


Hermawan melarang akan hal itu. Ia mengatakan pada keluarga yang ada jika dia telah di beri mandat oleh orang tuamu untuk mengasuh mu dan mengizinkan kan mereka untuk tinggal di sini. Menjadi Tuan dan Nyonya besar dalam rumah ini.


Tangis Jingga membadai mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Bi Minah. Ia tak pernah membayangkan semua ini terjadi padanya. Bi Minah, mulai mencari tempat duduk di sofa panjang ruang tamu.


Suatu malam. Tanpa sengaja aku mendengar perbincangan Tuan Hermawan dengan Bu Lia di ruang makan. Mereka seakan sedang merayakan kematian orang tuamu yang belum genap satu minggu lamanya. Di sItu, Hermawan dengan terang-terangan mengakui segala rencana yang telah ia rencanakan sebelumnya.


Mengajak berlibur keluarga bersama, meminta tanda tangan pada berkas-berkas yang di vila itu dan satu lagi yang membuatku tubuhku gemetaran tiada terkira waktu itu.

__ADS_1


Ternyata Hermawan dalang di balik kecelakaan yang menimpa keluargamu. Ia dengan sengaja memotong kabel rem ketika malam itu. Rupanya saat malam mengendap-endap dan membuka cup mobil milik orang tuamu ia ingin melancarkan aksinya. Termasuk dengan menyelesaikan kasus kecelakaan ini dengan damai, ia enggan berurusan dengan polisi. Biarlah mereka yang di luar sana mengira kematian orang tuamu ini murni kerana kecelakaan.


Beberapa tenaga kerja yang bertugas di kantor dan memiliki posisi penting telah di PHK seluruhnya. Ia akan memusnahkan siapa saja yang menggangu jalannya untuk menguasai hartamu orang tuamu ini. Seluruh pelayan juga demikian, mereka semua di berhentikan dan di


ganti yang baru kecuali aku. Aku mengiba-ngiba padanya untuk tetap bisa membersamaimu.


Pihak keluarga seperti nenekmu tidak dapat berbuat banyak. Seluruh aset kekayaan berdasarkan atas namamu, hanya saja ketika kamu belum menikah seluruh aset tersebut di alihkan di tangan Hermawan. Ada hitam di tas putih untuk itu. Hermawan dengan segala cara telah mengatur semuanya. Ia juga memutus jaringan kontakmu dengan nenekmu.


Menginjak usia lima tahun. Kamu tak lagi menjadi putri dari pemilik rumah ini. Dahlia menggeser posisimu dengan mudah. Ketika kamu sudah mulai mengerti tentang sebuah kalimat larangan dan perintah. Mereka menjadikanmu pelayan di dalam rumahmu sendiri. Sejak saat itu hingga remaja bahkan dewasa kamu telah menjadi pelayan sama sepertiku. Para pelayan di rumah ini tak ada yang tahu akan hal itu, mengingat mereka mengganti seluruh formasi tenaga kerja yang bekerja di sini guna menyimpan rahasia.


“Aku percaya akan karma dari sang pencipta. Mungkin inilah saatnya Tuhan membalas


semua yang telah mereka perbuat padamu. Ia kehilangan anak dan juga istrinya dengan tragis”


ini. Besok pagi aku ingin pamit untuk kembali pulang”


“Pulang? Pulang kemana Bi? Bukankah bibi tak memiliki sanak saudara di dunia ini. Bi tetaplah tinggal di sini membersamaiku seperti janji Bibi pada orang tuaku dulu”


Jingga menangis sesenggukan dan memeluk wanita tua di depannya. Ia tak menyangka


dengan segala apa yang terjadi pada keluarganya.


Hermawan beserta keluarga ya begitu jahat. Ia memperlakukan Jingga selayaknya babu di


dalam rumahnya sendiri. Tak jarang mereka kerap kali menyiksa Jingga jika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah Hermawan sekeluarga. Lebih dari itu, bahkan menjelang hari kematiannya saja Dahlia dan Bu Lia masih

__ADS_1


menyempatkan diri untuk menyiksa Jingga.


Bi Minah melerai pelukannya dengan Jingga. Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Cukup


lama ia meninggalkan Fajar dan Jingga di tempat. Hingga ia kembali dengan membawa sebuah album bersampul biru di tangannya.


“Lihatlah Jingga, ini adalah keluargamu. Ini adalah Papa dan Mamamu. Mereka adalah orang


paling baik yang pernah aku kenal di dunia ini”


Jingga mengambil alih album foto tersebut, dalam album terdapat banyak sekali lembaran-lembaran kenangan keluarga mereka ketika ia masih kecil.


“Ini adalah Nenekmu. Mungkin beliau masih hidup saat ini. Usianya tak jauh dari usiaku”


Jingga menatap satu persatu gambar orang yang tercetak di sana. Wajah Bu Ayu begitu mirip


sekali dengan dia. Ini kali pertama ia dapat melihat wajah orang tuanya. Sungguh tangis Jingga tak dapat di bendung lagi, ia terisak bahkan air matanya sampai tak bisa keluar. Hanya suara kesedihan yang ada di balik nafasnya.


“Bi, tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sini menjadi bagian dari keluargaku. Aku akan mengambil alih rumah ini. Aku juga akan memanggil semua pekerja yang dulu di sini”


Bi Minah yang memang tak memiliki sanak saudara akhirnya menerima permintaan


Jingga. Ia kembali memeluk anita di sebelahnya dengan isak tangis.


“Apakah Bi Minah tahu di mana makam orang tuaku?”

__ADS_1


__ADS_2