JINGGA

JINGGA
169


__ADS_3

“Bi adakah hal lain lagi yang belum aku ketahui dari ini?”


Bi Minah masih menyandarkan punggungnya di jok mobil, jemarinya sibuk untuk mengelus kaki Gendhis yang gembul. Ia sedang mengajak bayi kecil Jingga untuk bercanda. Gendhis merespon dengan baik, ia turut tersenyum ketika Bi Minah


menyentuh kaki dan melepasnya secara bergantian. Tak jarang bayi kecil itu mengarahkan tangannya menuju wajah Bi Minah seakan ingin menyentuh wajah tua itu.


Jingga menatap dengan senyum interaksi yang terjadi di dalam mobilnya. Sesekali ia turut bergabung untuk menggoda anaknya.


“Ada Jingga. Ada satu hal lagi yang kamu harus tahu”


Pandangan Jingga yang tadi menatap lurus ke jalanan, langsung seketika berubah. Ia menatap lekat wajah Bi Minah, menunggu wanita tua itu kembali bercerita tentang kisah hidupnya.


“Nenekmu. Nenek yang berasal dar garis keturunan Tuan Bramantyo. Aku rasa beliau masih hidup. Seperti yang pernah ku katakan kemarin. Usia beliau tak jauh berbeda denganku. Aku rasa kamu bisa mencarinya”


Terlalu lama waktu yang di habiskan Bi Minah dan Jingga ketika masih tinggal bersama di


rumah Hermawan, membuatnya terbiasa memanggil Jingga dengan sebutan nama. Ia


tak memanggil Jingga dengan sebutan “non atau nyonya” mengingat waktu itu Hermawan merahasiakan identitas Jingga yang sebenarnya.


“Kira-kira Bibi tahu di mana tempat tinggal nenekku?” tanya Jingga dengan segera ketika


mendengar prihal neneknya.


“Untuk alamat pasti rumahnya aku tak tahu, tapi dulu aku pernah di ajak ke sana ketika kamu masih kecil”


“Bi Minah, masih ingat jalan atau lokasinya di mana?”


Bi Minah mulai terdiam dan memandangi situasi yang ada saat ini. Pikirannya mulai sedikit terbuka pada kenyataan yang ada. Tidak seharusnya ia memperlakukan Jingga demikian. Bukankah saat ini kasta mereka telah kembali seperti sedia kala.


“Iya Non, saya masih ingat, tapi tidak begitu ingat dengan betul” jawabnya dengan ragu.


“Bi, kenapa harus memanggilku dengan sebutan Non?”


“Saya rasa, saya harus belajar berubah. Bagaimana pun juga Non Jingga sekarang adalah majikan saya”


“Bi, tolonglah jangan seperti ini. Bersikaplah selayaknya sedia kala. Aku tetap Jingga yang Bi Minah asuh. Jangan lagi menyebut Non dan saya” desis Jingga kemudian.


“Tapi saya tidak enak dengan pelayan yang lainnya, nanti menimbulkan kecemburuan sosial” terang Bu Minah masih mencoba untuk meyakinkan Jingga.


Huft...


Jingga menghela nafas tak terima. Baginya Bi Minah lebih dari sekedar pelayan di rumah


itu. Bi Minah sudah seperti orang tuanya sendiri. Memory Jingga teringat akan beberapa tahun yang lalu.


Dulu saat ia masih sekolah di sekolah dasar hingga SMA, Bi Minah kerap kali memberinya uang untuk jajan. Beliau juga kerap membelikan berang-barang keperluan untuk sekolah. Hermawan memang menyekolahkan Jingga, tapi ia tak pernah memberikan uang jajan pada Jingga. Bahkan untuk berangkat sekolah saja,


ia harus berjalan kaki dengan jarak tempuh yang sangat jauh.


“Jika tidak salah, alamat rumah nenek Non Jingga tidak jauh dari makam orang Tuan dan Nyonya saat ini”


“Oh ya Bi? Di mana?” Jingga sudah tak sabar untuk itu. Ia berharap besar untuk bisa bertemu neneknya. Setidaknya satu keluarga di dunia dari garis keturunan Mama Papanya masih ada. Sungguh panggilan baru yang di sematkan Bi Minah padanya membuat ia risih dan ingin melayangkan protes tak terima. Namun Fajar


meliriknya sekilas, seakan memberikan isyarat untuk menerima saja.


“Mas, minta tolong pelankan laju mobilnya. Biar Bi Minah bisa mengingat-ingat tempat tinggal nenek”

__ADS_1


Mata Bi Minah mulai mengedar menatap sekeliling jalanan yang di lalui. Ia juga memperhatikan setiap plakat tulisan yang ada di jalan. Ingatnya mulai mencoba untuk mengingat-ingat akan perjalanan beberapa puluh tahun yang lalu.


“Saya rasa rumah beliau di kota X. Iya benar Non, rumah berlalu ada di kota X ini. Dulu kita pernah singgah di rumah makan Dewi Sri ini, ketika istirahat makan siang sebelum sampai di rumahnya nenek Non Jingga”


“Benarkah, mas aku rasa kita juga perlu untuk istirahat dulu. Kita makan siang di sana saja ya sekalian biar Bi Minah bisa mengingat kembali jalan selanjutnya”


“Baik istriku sayang, mari kita makan dulu kebetulan perutku juga sudah lapar”


Hari ini dan beberapa hari yang lalu. Fajar berganti peran, ia benar-benar menjadi


suami siaga yang slalu ada untuk istrinya. Ia bahkan rela menjadi sopir pribadi untuk Jingga. Menemani kemanapun arah tujuan yang di inginkan Jingga. Kejadian beberapa lalu, membuatnya trauma untuk membiarkan Jingga pergi sendiri tanpa pengawasan.


Lima menit kemudian, mobil mulai memasuki pelantaran rumah makan Dewi Sri. Rumah


makan dengan konsep jawa memiliki halaman yang sangat luas di bagian sisi depannya, sehingga memudahkan untuk memilih parkiran.


Dari bagian paling depan. Mata pengunjung tempat makan ini sudah di suguhkan dengan


pernak-pernik ornamen khas jawa. Mulai dari gerbang pintu masuknya hingga model lantai yang di gunakan di bagian bawah. Terdapat pula simbol-simbol dari kerajaan Majapahit dulunya di beberapa sisi rumah makan Dewi Sri. Patung raja


Brawijaya dan Gajah mada berdiri dengan kokohnya di bagian pintu utama seakan sedang menyambut kedatangan para tamu yang ada.


Jingga beserta rombongan mulai turun dari mobil. Ia mengambil alih Gendhis dari pangkuan Asih, agar wanita itu bisa istirahat dan merilekskan pinggangnya setelah sepanjang jalan memangku Gendhis yang tak  bisa diam.


Mata Bi Minah, masih menatap sekita area tempat makan dengan takjub. Pikirannya


kembali pada beberapa puluh tahun yang lalu, saat posisinya sama dengan Asih saat ini.


“Bi, benarkah tempatnya ini?” tanya Jingga dengan membenarkan gendongan Gendhis,


sementara Asih membawakan tas dan juga perlengkapan bayi lainnya.


“Iya benar Non Jingga, ini tempatnya. Saya ingat betul. Dulu Tuan Bramantyo memarkirkan mobilnya di bawah pohon beringin itu. Lantas kami berjalan kaki bersama untuk masuk ke sana”


Mendengar ucapan Bi Minah, membuat wajah Jingga berbinar, sedikit harapan kembali hadir


dalam hidupnya.


“Sayang, ayo kita masuk dulu”


Fajar meraih tangan istrinya, membawa dalam gandengannya. Pria itu memberikan senyum


termanisnya untuk sang istri. Sementara Asih dan Minah mengikuti setiap langkah majikan mereka.


“Sayang, kita semua makan satu meja saja ya”


“Iya Mas”


Fajar membimbing mereka menuju ruang VVIP yang ada dalam reto Dewi Sri.


“Non Jingga, kami makan di sini saja” Ucap Asih dan Bi Minah secara bersamaan.


“Sejak kapan di keluarga Dirgantara makan harus terpisah ketika kita sedang berada di luar rumah. Ayolah kalian sudah seperti saudara sendiri dalam rumah ini”


“Tapi Non”


“Saya tidak suka di bantah!” ucap Fajar dengan singkat namun penuh penekanan. Jika Fajar yang telah berucap maka tak ada yang berani untuk melawannya.

__ADS_1


Area resto Dewi Sri benar-benar memanjakan mata. Tempat ini bisa di katakan bukan hanya tempat untuk makan saja, tapi tempat untuk merilekskan suasana hati. Siapa pun pengunjung yang datang ke sana sekaan sedang berada di dunia kerjaan masa lampau.


Alunan suara gamelan jawa mengalun dengan lembut dan mendayu-dayu mengirimi pengunjung yang makan di sana. Kursi tempat makan terbuat dari kayu jati yang sangat besar


dan tebal. Terdapat bunga sedap malam dan beberapa bunga segar lainnya di beberapa sudut ruangan.


Terdapat satu kubahan air seperti kolam yang berada di tengah-tengah meja area makan.


Kubahan air ini di taburi bunga dengan berbagai macam warna sehingga mempercantik lokasi. Pilihan menu yang tersaji di sana mengusung konsep nuansa jawa. Segala makanan berat, minuman hingga jajanan pasar tempo dulu tersedia secara lengkap. Lebih dari itu pelayan di sana menggunakan kebaya dan baju adat jawa ketika melayani tamunya.


“Non, biar Gendhis saya yang pegang. Non Jingga makan dulu. Sekalian saya mau melihat-lihat area sini”


Jingga tampak berfikir dengan tawaran Asih. Di satu sisi ia ingin menemani Fajar makan di sisi lain ia khawatir jika terjadi sesuatu kembali pada Gendhis ketika berjauhan.


“Saya tidak akan membawa Gendhis jauh-jauh. Kami akan bermain di sana saja” Asih menunjukan satu area yang ada di samping tempat makan Jingga. Area yang dikhususkan untuk tempat bermain anak-anak kecil.


“Saya akan menemani Asih untuk menjaga Gendhis” Bi Minah menawarkan diri, ia seakan


mengerti kegelisahan yang di rasakan Jingga.


“Sudahlah sayang. Biarkan mereka untuk main sebentar. Aku rasa saat ini keadaan sudah


jauh lebih aman dari sebelumya. Bukankah penjahat yang mengincar keluarga kita juga sudah tiada dan masih mendekam di penjara”


Mendengar ucapan Fajar, Jingga tampak mempertimbangkan itu. Sejurus kemudian ia


Menganggukkan kepala untuk setuju.


“Baiklah kalau begitu. Maaf ya kami makan dulu”


“Tidak perlu minta maaf Non, memang sudah selayaknya seperti itu”


Asih mulai meraih tubuh Gendhis dan kembali membawa bayi itu dalam gendongannya. Bi


Minah membawakan susu dan beberapa barang Gendhis lainnya. Keduanya terlihat berjalan kompak menuju tempat bermain.


“Mas mau makan apa?”


“Sungguh sayang, rasanya aku ingin makan kamu. Sudah lama sekali rasanya aku tak memakan kamu” jawab Fajar dengan memberikan lirikan mautnya pada sang istri. Ia bahkan menyempatkan diri untuk mengelus manja telapak tangan Jingga.


“Astaga Mas, bisa-bisanya di jawab seperti itu. Tapi aku minta maaf ya mas. Beberapa kejadian yang terjadi pada keluarga kita membuat waktu kebersamaan kita menjadi berkurang”


“Tak masalah, setelah ini kamu harus membayar lunas semuanya. Aku anggap ini bagian dari hutang yang harus kamu bayar”


“Yah mas kok gitu sih”


“Ya harus dong. Bagaimana kalau mau bayar sekarang saja. Mumpung Gendhis tidak ada.


Aku rasa di bagian belakang resto ini juga menyediakan tempat penginapan” Fajar dengan senagaja tersenyum tengil menggoda istrinya.


“Mas....”


Jingga merengek dengan manja yang membuat Fajar semakin tak kuasa untuk tak memakannya.


“Mas agenda untuk hari ini masih sangat banyak sekali. Kita fokus dulu ya. Setelah semuanya terselesaikan aku berjanji akan membayar seluruh hutangku padamu”


Jingga memberikan rayuan mautnya. Ia juga mengelus lembut punggung tangan Fajar dan

__ADS_1


mengecupnya dengan pelan.


“Sekarang Mas mau makan apa?”


__ADS_2