
“Fajar, bagaimana kamu bisa selengah itu menjaga istrimu?”
Fajar terdiam tak memberikan jawaban, ia berdiri dengan bersandar pada tembok yang ada di ujung lorong. Matanya menatap sayu, rasa bersalah masih begitu terasa terlebih ketika harus melihat Jingga, beberapa kali menahan tangis kesakitan.
“Aku rasa masih dengan orang yang sama” Pak Angga menepuk-nepuk pundak anaknya.
Huft...
Fajar menghela nafas panjang.
“Aku tak menyangka jika Hermawan manusia sekejam itu. Bagiamana bisa Papa bersahabat dengan orang semacam itu?”
Pak Angga terdiam untuk sesaat, ia menghela nafas yang cukup panjang dan berat. Kaki tuanya melangkah menuju ruang tunggu. Di sana ada kursi panjang dari aluminium untuk tempat bersandar. Fajar mengikuti setiap gerak yang di lakukan Papanya.
Pak Angga duduk di bagian ujung kursi, di ikuti Fajar yang memilik duduk bersebelahan, hanya berjarak satu kursi saja. Keduanya menyandarkan punggung mereka seakan rasa lelah menerpa tubuh mereka.
Flash Back On.
Dahulu aku, Hermawan dan Bramantyo adalah sahabat. Kita tinggal dalam satu kawasan yang sama di Surabaya ini. Kita bersekolah di satu sekolah yang sama sejak masih taman kanan-kanak. Kebetulan Oma adalah orang terkaya di Surabaya waktu itu hingga saat ini, sedangkan Hermawan berasal dari keluarga yang sederhana cenderung biasa.
Ibu dan Ayah Hermawan berpisah sejak mereka masih kecil. Perpisahan yang terjadi pada orang tuanya membuat Ibu Hernawan harus bekerja keras demi menghidupi anak-anak mereka. Oma merasa kasihan dengan itu, hingga hati Oma terketuk untuk memperkerjakan Ibu Hermawan sebagi ART di rumah kita.
Kehidupan Hermawan kecil sangat menyedihkan. Hubungan yang tak di restui antara ibu dan ayahnya membuatnya hidup dalam kebimbangan. Keluarga Ayah Herman adalah keluarga terpandang, mereka berpendidikan tinggi dan memiliki kekayaan sedang keluarga Ibunya hanya biasa sajam bahkan cenderung miskin.
Selepas perpisahan yang terjadi pada orang tuanya, membuat interaksi ku dan Hermawan semakin erat terjalin. Semejak ibunya bekerja di rumah kita, kami menjadi sahabat. Begitu juga dengan Bramantyo.
Orang tua Bramantyo dulu menjalin beberapa kerja sama dengan Oma. Hingga membuat kami bertiga sering terlibat dalam interaksi yang sama.
Jika Hermawan berasal dari keluarga yang tak harmonis, berbeda dengan Bramantyo. Bram di besarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan sayang. Orang tuanya hidup dalam ke kedamaian meski tidak memiliki kekayaan sebesar Oma.
Dulu sering kali, aku dan Bram membawa dan menunjukan mainan, atau apapun yang baru pada Hermawan, sementara ia tidak memiliki itu. Ia kerap kali merasa terasingkan sejak dini. Meski aku dan Bram tidak pernah memperlakukannya dengan begitu. Terkadang ia lebih memilih menyendiri di dapur jika aku dan Bram sedang bermain bersama.
__ADS_1
Terlebih ketika musim libur tiba. Keluarga kita kerap kali mengajak keluarga Bram berlibur bersama dengan kondisi orang tua yang lengkap. Hermawan pun turut andil di sana. Ia membantu ibunya untuk menyiapkan segala keperluan kami.
Oma tidak dan orang tua Bram, tidak pernah memandang remeh keluarga Hermawan, hanya saja mereka merasa tersisih saat kita sedang berlibur bersama. Terlebih ketika melihat aku dak Bram sedang bercanda bersama orang tua kami. Maka Hermawan secara otomatis akan pergi dari sana saat itu juga.
Atas kecerdasan yang di miliki Hermawan, ia di terima di sekolah yang sama denganku dan Bram. Kami memang bersahabat tapi kami juga pesaing berat dalam merebutkan juara kelas. Kerap kali dalam perlombaan ini Bramlah yang menjadi pemenang. Aku rasa ada dendam dan rasa iri sejak kecil yang di pupuk oleh Hermawan hingga membuatnya begitu membenci Bram.
Selepas duduk di bangku SMA, Hermawan memilih untuk tinggal bersama Ayahnya di Kalimantan. Kehidupannya berubah drastis, ia menjadi jutawan dan pribadi yang berbeda.
Kabar terakhir yang papa dengan, Hermawan dan Bramantyo menjalin kerja sama waktu mereka kuliah. Mereka membuat usaha dalam bidan minuman. Sejurus kemudian Hermawan kembali menghilang di telan bumi entah kemana keberadaanya. Akibat hilangnya Hermawan, membuat Bram harus berjuang sendiri untuk memajukan usaha mereka.
Namun beberapa tahun kemudian, Hermawan kembali datang pada Bram dan meminta kembali usaha yang telah meraka lakukan bersama. Saat itu Papa sedang melanjutkan pendidikan di luar negri. Papa tidak tahu bagaimana detai kejadian yang ada.
Pak Angga, kembali menghela nafas panjang. Matanya sedikit nanar membayangkan persahabatan meraka dulu. Persahabatan yang di balut rasa persaingan tanpa terlihat.
Aku rasa ada masalah antara Hermawan dan Bram, tapi aku juga tak tahu. Entah tentang usaha yang mereka jalani berdua atau entah tentang rasa iri yang sudah mendarah daging sejak dulu.
Setahu Papa, keluarga Hermawan dari pihak ayahnya bukanlah keluarga baik-baik. Jika tidak salah mereka adalah pengusaha kotor yang kerap menyelundupkan barang haram di wilayah kalimantan dan sekitarnya.
“Jika seperti itu apakah ada hubungannya kecelakaan ayah Jingga dengan Hermawan?” tanya Fajar dengan tegang.
“Tadi kenapa Hermawan meninggalkan Pak Bram di saat merintis usaha dan ingin kembali mengambil alih usaha tersebut setelah berjaya?”
Pak Angga tak dapat menjawab, ia hanya mengangkat bahunya saja.
“Dan Jingga, Jingga adalah putri dari Bram, Dia adalah pewaris yang sesungguhnya atas Cakrawala grup. Hermawan dengan senang hati menjadi wali Jingga selepas kepergian Bram, demi untuk menguasai harta Bram”
“Tapi fakta yang ada, Hermawan tidak pernah memperlakukan Jingga dengan baik. Bahkan ia dengan sengaja menjadikan Jingga pembantu dalam rumahnya sendiri” terang pak Angga, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apakah ada bukti? Karena Jingga sendiri tidak tahu wajah orang tuanya”
“Kau benar, saat itu usianya masih terlalu kecil. Ia masih tiga tahun, papa rasa ingatan anak sekecil itu belum mampu untuk mengingat dengan jelas wajah dan moment bersama orang terkasih”
__ADS_1
“Apakah ada bukti tentang semua ini?”
“Itulah tugas kamu sebagai seorang suami!” pak Angga menatap sekilas anaknya.
Huft....
Keduanya kembali menghembuskan nafas dengan kasar.
“Lantas usaha apa yang di miliki keluarga Hermawan saat ini?”
“Sudah ku katakan bukan, jika keluarga Hermawan adalah penyelundup narang haram. Mereka pemasok untuk wilayah Kalimantan dan sekitarnya!” terang Pak Angga.
“Masuklah, istrimu sudah menunggu di dalam. Perketat penjagaan ruang rawat Jingga. Kirim beberapa orang untuk bersiap di depan ruang rawat. Patikan tidak ada satu pun orang yang masuk selain keluarga inti” instruksi pak Angga yang kemudian bangkit dari tepat duduknya.
Fajar masih terdiam di tempat yang sama, ia berusaha mencerna semua informasi yang di berikan Pak Angga. Pikirannya sedang mencoba untuk merangkai benang merah rentetan peristiwa ini. Ia berkali-kali harus menghembuskan nafas dengan kasar.
Calling Reza...
“Za, tolong cari informasi usaha Hermawan yang ada di Kalimantan” suara Fajar terdengar berbicara pada Reza yang ada di sebrang sana.
“Pak Hermawan tidak memiliki usaha di Kalimantan. Semua usaha yang di cantuman dalam berkas laporan hanya fiksi belaka” terang Reza memberi tahu yang sesungguhnya. Jika sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu usaha keluarga Hermawan di Kalimantan mengalami kebangkrutan.
Fajar kembali terdiam untuk sesaat.
“Tuan...”
“Tuan masih di sana?” tanya Reza memastikan.
“Cari gudang tempat penyelundupan narang terlarang di Kalimantan. Pastikan jika itu adalah milik keluarga Hermawan”
“Baik Tuan”
__ADS_1
“Satu lagi” Fajar kembali terdiam, ia menjeda sesaat ucapannya.
Sejurus kemudian ia kembali memberikan istrusi.“Hancurkan!!!”