
Dor....
Satu tembakan peringatan mengudara malam itu. Tembakan segala arah sebagai tanda peperangan di mulai. Reza masih mepertahankan laju mobilnya dengan kecepatan penuh, sementara Fajar terdiam sejenak mencoba untuk berfikir langkah apa yang akan di ambil setelah ini.
Dor...
Suara tembakan kembali mengudara. Mobil hitam hampir saja menjajarkan mobil mereka. Reza membanting setir ke kanan dan ke kiri mencari celah agar mobil di belakangnya tak dapat mensejajarkan mobilnya.
“Tuan”
“Aku rasa mereka sedang melakukan cara kasar, baiklah kalau begitu” Fajar tersenyum miring. Ia meraih tas yang ada di sebelahnya duduk. Membuka senjata yang sudah lama tak pernah terpakai sebelumnya. Tangan Fajar dengan cukup cekatan mengisi beberapa peluru di sana.
Dor...
Suara tembakan dari pihak lawan kembali berbunyi, satu tembakan mengarah pada ban mobil yang di kendarai Fajar dan Reza.
“Tuan saya rasa mereka berkelompok” Ucap Reza, kala mengetahui ada mobil putih yang menyusul dengan kecepatan penuh di belakang sana. Kini mobil Fajar berada di tengah-tengah. Dua mobil hitam dan putih tepat berada di belakang mereka dengan jarak yang dekat. Deru suara mesin mobil terdengar sangat mengerikan layaknya kesatria jalanan yang sedang balapan.
Masing-masing dari pengejar sudah menunjukan wujud mereka. Setengah badan mereka keluar melalui jendela di bagian kursi penumpang. Mereka semua di lengkapi dengan senjata yang tajam.
Dor...
Dor...
Dua serangan dadakan saling melesatkan peluru, mereka mengarahkan pada mobil Fajar. Menyadari hal itu, Fajar lekas menaikan kaca pelindung anti peluru pada mobilnya.
“Tuan apa yang harus kita lakukan?” Tanya Reza dengan wajah yang cukup tenang, meski dalam hati tak dapat di pungkiri jika ia juga takut akan keselamatannya sendiri. Terlebih dengan nyawa sang majikan.
“Aku rasa kita harus melawa!”
Dor...
Satu tembakan melesat untuk yang pertama kali dari tangan Fajar, saat mobil putih tepat berada di sebelahnya. Ia mengarahkan tembakan tersebut tepat pada ban mobil mereka, hingga membuat ban bagian belakang mobil tersebut harus pecah seketika.
Pria asing penyerang itu merasa geram, bagaimana bisa hanya dalam satu tembakan mobil mereka harus sudah tumbang. Ia kembali mengeluarkan setengah tubuhnya dan mengarahkan tembakan tersebut kepada Fajar.
Dor..
__ADS_1
Dor...
Dor...
Tak terhitung berapa kali mobil hitam dan putih itu saling memberikan tembakan pada Fajar.
Dor..
Satu tembakan yang mengenai dua buah ban mobil putih membuatnya kehilangan keseimbangan arah. Ia berputar-putar hampir memenuhi jalan, bahkan menutup jalan bagi mobil hitam yang sedang melaju di belakangnya.
“Sialan” maki para penyerang tersebut ketika mendapati hal semacam ini. Fajar tersenyum tipis.
Bruk...
Mobil hitam dan putih saling bertubrukan ketika mobil putih kehilangan keseimbangan dan mobil hitam dalam kondisi melaju dengan kecepatan penuh.
Lagi-lagi Fajar tersenyum tipis melihat lawannya. Ia membalikan badannya ke depan hendak masuk kembali ke dalam mobil.
Dor....
Di luar dugaan, satu tembak tak terduga melesat dari lawan yang ada di belakang.
Rintih Fajar, ketika menyadari satu peluru panas mengenai tangan bagian lengan kirinya.
“Tuan” wajah Reza panik, terlebih ketika melihat lelehan darah dari balik kemeja panjang yang di kenakan Fajar.
“Aku tidak papa, fokuslah pada jalanan!” titahnya kemudian, dengan membekap luka yang mengenai tangannya.
“Tapi Tuan Fajar terluka”
“Semakin kau lekas meninggalkan tempat ini, semakin mempermudah urusanku Za” rintihnya dengan dingin, ia masih memegang lengan kirinya dengan meringis.
Reza menyadari tugasnya, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, keluar dari area sepi tersebut. Matanya melirik spion yang ada di sebelah kanan dan kirinya. Rupanya dua mobil hitam dan putih tak lagi mengikutinya setelah mereka saling tabrakan tadi.
“Tuan, kita ke rumah sakit dulu apa langsung pulang?” tanyanya kemudian sebelum mengarahkan mobil hendak berbelok ke mana.
“Rumah sakit, aku tak mau Jingga melihat tanganku yang seperti ini”
__ADS_1
“Baik Tuan”.
.
.
.
Wanita hamil itu masih enggan untuk memejamkan matanya. Ia sudah menghabiskan dua gelas susu hangat dan secangkir coklat, namun kantuk tak kunjung datang menyapa. Entah mengapa matanya terasa bersinar tak kunjung menemukan rasa lelap.
“Non, ini sudah malam sebaiknya Non Jingga tidur dulu. Nanti kalau Tuan Fajar pulang saya bangunkan” Susi, salah satu pelayan yang masih menemaninya. Ia duduk bersebelahan dengan Jingga di kerajaan yang telah ia bikin beberapa waktu yang lalu bersama Oma.
“Sus aku tidak bisa tidur, kok Mas Fajar belum pulang ya”
“Saya rasa Tuan lagi banyak pekerjaan Non. Ini sudah lebih dari jam sebelas malam, harusnya Non Jingga tidur. Ibu hamil tidak baik kalau tidur terlalu malam” Susi menguap berkali-kali ketika merasakan kantuk yang mendera tubuhnya.
“Aku belum ngantuk Sus, aku harus memastikan jika suamiku tidak papa. Perasaanku tidak enak” Jingga meremas jemarinya dengan resah.
“Apa Non Jingga membutuhkan sesuatu? Atau merasakan lapar? Biar saya buatkan makanan untu camilan”
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan. Kini ia bangkit dari tempat duduknya hendak mengambil ponsel yang berada di samping TV.
“Biar saya ambilkan Non”
Susi bangkit dari tempat dudunya, ia mengambil ponsel Jingga dan menyerahkan pada majikannya.
Calling suamiku....
“Sus, kenapa Mas Fajar tidak mengangkat panggilan dariku ya? Tidak biasanya seperti ini. Apa terjadi sesuatu hal buruk padanya?” hati Jingga benar-benar resah, bahkan detak jantungnya berdenyut lebih cepat dari biasanya. Tangannya juga mendadak gemetaran.
“Non, tenang semua baik-baik saja. Non Jingga jangan resah. Bukankah sudah biasa sebelumnya jika Tuan Fajar akan pulang malam. Bahkan dulu ia sering pulang lewat tengah malam” hibur Susi dengan menyerahkan segelas air putih, berharap dengan sedikit meneguk air putih dapat menghilangkan rasa resah yang ada.
Jingga menerima uluran tangan Susi, ia menghabiskan hampir setengah gelas air putih dalam genggamannya. Kini ia bangkit dari duduknya setelah meletakan gelas itu dalam meja.
Jingga memilih untuk menuju ruang tamu, ia membuka pintu ruang tamu malam itu. Masih dalam rasa khawatir yang di balut dengan resah, Kini Jingga berjalan keluar dan masuk rumahnya. Satu tangan menyentuh pinggang kala merasakan sedikit nyeri di sana.
“Non, duduklah jangan seperti setrikaan seperti itu. Tenanglah semua pasti baik-baik saja. Ini sudah berapa kali Non Jingga keluar dan masuk ke dalam rumah?”
__ADS_1
Susi yang turut resah melihat tingkah majikannya. Ia khawatir jika Jingga akan kelelahan, tentu itu akan menambah beban kerjanya nanti. Terlebih Fajar akan marah karena telah membiarkan majikannya tidak beristirahat.
“Non, kita masuk ya. Udara sudah sangat dingin” Seru Susi kembali, ia duduk dengan pasrah di salah satu anak tangga di teras rumah megah Fajar.