JINGGA

JINGGA
138


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, sesuai dengan rencana yang telah di rancang sebelumnya. Hermawan membawa Dahlia untuk turut bergabung di perusahaannya.


Pagi itu, akan ada pertemuan pemegang saham untuk proses pembangunan pabrik yang ada di Cina. Seluruh investor dan para pemegang saham berkumpul bersama di salah satu hotel ternama di Surabaya, tak terkecuali dengan Fajar dan Dahlia.


Fajar yang berangkat di dampingi Reza, sementara Hermawan memilih untuk pergi bersama Dahlia. Meskipun ia tahu sang anak tidak akan mampu untuk memberikan kontribusi apapun dalam berfikir. Tujuan Hermawan membawa Dahlia hanya untuk mempertemukannya dengan Fajar.


Seluruh undangan sudah mulai memasuki gedung acara mengikuti meeting hari ini. Dahlia duduk dengan sangat anggun di salah satu kursi Yang ada di bagian paling depan berdampingan dengan sang Papa. Sementara Fajar, ia baru saja datang dan terlihat sedang mencari posisi yang kosong.


Hermawan melambai-lambaikan tangannya, memanggil Fajar dan Reza agar turut bergabung bersama di mejanya. Sementara Fajar, ia diam saja enggan menanggapi. Ia lebih memilih meja di bagian paling ujung ruangan meeting.


"Dahlia, kamu lihat pria itu. Dia adalah Fajar" terang Pak Hermawan berbisik pada Dahlia, ia sedikit mengarahkan pandangannya untuk menunjukan pada Dahlia.


"Yang mana Pa?" saat itu Fajar sedang berjalan berdampingan dengan Reza.


"Yang pakai kemeja biru" bisik Pak Hermawan kembali.

__ADS_1


Mata Dahlia terbelalak sempurna dan mulutnya menganga. Ia bahkan tak menyadari jika matanya tertuju pada satu objek yang telah di tunjuk Papanya.


"Kenapa Papa, tidak bilang kalau Fajar seganteng dan sekeren itu" desis Dahlia dengan kesal. Sungguh dalam hati yang terdalam ia begitu menyesal telah menolak perjodohannya waktu itu. Saat itu, Fajar memang sengaja menyembunyikan jati dirinya. Ia tak pernah mengunggah apapun di laman sosial medianya. Ia juga hanya memakai foto Naruto untuk icon pesan WA nya.


Lebih dari itu, Fajar juga dengan sengaja menjawab beberapa pesan yang di kirim Dahlia dengan asal. Berusaha untuk menggagalkan perjodohan itu. Ia juga membuat Dahlia ilfil saat mereka berkomunikasi untuk yang pertama kalinya.


"Papa aku mau pindah ke sana"


"Sudah di sini saja"


"Tapi Pa, aku ingin menyapa dia". Dahlia merengek ia sedikit menarik-narik jas yang di kenakan Pak Hermawan.


"Baiklah, lakukan seperti apa yang Papa suruh kemarin"


Dahlia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Fajar dan Reza duduk bersama, seperti biasah ia akan melipat kakinya dan tangan yang bersendekap di dada. Matanya fokus menatap layar persentasi yang telah di sajikan di depan sana.


Dahlia mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia dan Pak Hermawan berjalan beriringan melintasi beberapa rekan lainnya.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Pak Hermawan menyapa lebih dulu. Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Baik Pak" Jawab Fajar dengan singkat tanpa ingin bertanya kembali pada lawan bicaranya. Matanya masih sibuk mengamati setiap tampilan slide yang ada di layar.


"Oh ya Fajar, perkenalkan ini anak Om. Dahlia" kini giliran Dahlia yang mengulurkan tangannya. Ia memasang senyum termanis yang dia mampu.


"Fajar" jawabnya dengan singkat dan tak ingin bertanya tentang Dahlia.


"Sebenarnya Dahlia ini yang akan saya jodohkan denganmu waktu itu, tapi ..." Hermawan menjeda ucapannya sejenak.


"Tapi sayang jodohku bukan anak Om. Trimakasih ya Om sudah merawat dan menjaga jodoh saya selama bertahun-tahun. Terimakasih juga sama Dahlia, yang sudah mengantarkan ku untuk bisa bertemu dengan istriku saat ini" Fajar membalas senyuman di berikan Dahlia.

__ADS_1


Deg...


Teman-teman mohon maaf belum bisa up cerita dengan maksimal, laptop Author dalam masa perbaikan Ikuti terus kisah ini ya, salam hangat penuh cinta 😊


__ADS_2