JINGGA

JINGGA
96


__ADS_3

“Apa yang terjadi?”


“Kenapa semua berserakan seperti ini? Astaga bau apa ini? Kenapa baunya menyengat sekali?” Teriak Oma, ketika belau baru memasuki rumah Fajar. Satu tangannya memegang hidung dan menjepitnya dengan rapat.


“Non Jingga Oma, sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Ia sudah menghabiskan lebih dari tujuh botol parfum Tuan Fajar dan menyemprotkan dengan asal. Susi melapor begitu saja pada Oma, ia rasa tingkah Jingga beberapa hari ini sudah di luar batas.


Oma menatap Jingga dengan tatapan yang berbeda, ia sedikit menurunkan kacamatanya.


Jingga hanya nyengir kuda mendapat tatapan dari Nyonya Oma.


“Aku sedang kangen suamiku Oma” belanya untuk meredam kemarahan Oma.


Kini Oma, mulai melangkah masuk ke dalam rumah, ia berjalan dengan pelan dan sedikit tertatih. Satu tangannya memegang tongkat untuk memberikan keseimbangan dengan tubuhnya.


“Astaga!” ia memegang dadanya ketika sang kaki baru saja menginjakan kaki di ruang tengah.


“Ada apa dengan ruangan ini?” matanya menatap heran ketika melihat ruang tengah berubah menjadi nuansa kerajaan. Ini sama sekali bukan selera Fajar. Oma paham betul jika cucunya itu lebih menyukai desain yang minimalis dan simpel namun tetap elegan.


Jingga diam tak berani menjawab.


“Apa yang terjadi?” Oma kembali mengulang pertanyannya.


“Mohon maaf Oma, ini keinginan Non Jingga. Seharian tadi dia mendesain ruangan ini menjadi kerajaan. Ia ingin menjadi putri katanya” terang Susi, ia berkata jujur apa adanya. Entah mengapa hari ini Susi merasa sedikit kesal dengan serangkaian sikap majikannya.


Jingga hanya mengerucutkan bibirnya ke depan, sorot matanya menunjukan ancaman pada Susi.


Oma terdiam sesaat. Matanya memindai sekitar ruangan.


“Kau tau cucu menantu, aku suka sekali dengan desain semacam ini. Jika kamu ingin menjadi putri dalam kerajaan ini, maka aku yang akan menjadi ratunya. Mari ita bermain drama ala-ala kerajaan”


Oma menunjukan ekpresi yang berbeda, di luar dugaan Susi, Oma malah menyukai hal ini. Maklum Oma adalah pecinta barbie, keadaan semacam ini menjadikan ia dapat mengekspresikan diri menjadi seseorang di negri dongeng. Kini dua wanita beda generasi sedang asyik untuk bermain ala kerajaan.


Saat ini Oma dan Jingga, sedang berganti kostum sesuai dengan karakter yang mereka inginkan. Jingga mengunakan gaun berwarna pink sementara Oma menggunakan gaun warna biru. Tak hanya menggunakan gaun, keduanya juga kompak menggunakan tiara di kepala masing-masing.


Susi menatap dengan jengah tingkah mereka berdua.

__ADS_1


“Astaga, otakku, hatiku, tenagaku dan tensi darahku semoga kamu baik-baik saja menghadapai dua wanita ajaib di depanmu”. Gerutunya dalam hati, ia mengelus lembut dadanya yang mendadak menjadi sesak tak terkira.


.


.


.


Waktu beranjak malam, Oma memilih untuk berpamitan pada cucu menantunya. Meskipun rasanya tak tega meninggalkan Jingga sendirian di rumah tanpa suaminya, namun Oma sungguh tidak tahan dengan bau menyengat dalam rumah mereka.


“Cucu menantu Nyonya Oma, pulang dulu ya nak. Main-mainlah ke sana jika ada waktu senggang, Aku pasti seneng sekali, nanti akan nyonya Oma tunjukan koleksi Barbie ku” Oma mulai melangkahkan kakinya keluar rumah di ikuti beberapa pelayan yang di bawa khusus dari rumahnya.


Jingga menatap sendu kepergian Nyonya Oma. Kehadiran Nyonya Oma hari ini e rumahnya dapat mengalihkan kegelisahan Jingga akan kabar Fajar. Ia merasa terhibur dan mendapatkan teman baik.


“Nyonya Oma, aku pasti akan merindukanmu” Jingga memeluk cukup lama Omanya.


“Kamu bisa datang kapan saja yang kamu ke rumah. Bukankah rumah kita tak lebih dari tiga puluh menit perjalanan menggunakan kendaraan roda empat” terang Oma, dengan mengelus punggung Jingga.


Jingga menggaruk kepalanya yang tak gatal, betul juga kan rumahnya dekat kenapa harus semelo ini. Bahkan jika mau besok pun bisa ke sana. Jingga senyum tak jelas.


Kini ia meraih tangan Nyonya Oma, mencium ya dengan penuh takzim.


Jingga mengangguk pelan, ia tak mau membangkang akan perintah Oma. Sedikit banyak Jingga sudah paham jika Oma tak suka di lawan terlebih dengan perhatian-perhatian kecilnya.


Kini Susi dan beberapa pelayan yang turut mengantarkan Oma hingga halaman depan. Susi memayungi Oma, mengingat saat itu sedang hujan cukup lebat.


“Aku rasa majikanmu sedang hamil muda. Jadi aku minta tolong untuk turuti saja semua yang di inginkannya. Aku tak mau jia nanti cicitku harus ileran” pesan Oma sebelum beliau naik ke dalam mobilnya.


Susi tertegun untuk sesaat.


Kenapa aku tidak kepikiran ke sana, pantas saja tingkah Non Jingga akhir-akhir ini begitu ajaib. Aku rasa yang di katakan Oma benar jika ia sedang hamil. Hormon kehamilan kan gitu, suka naik turun.


Susi kembali masuk ke dalam rumah, ia tersenyum membayangkan akan kehadiran bayi kecil di dalam keluarga itu.


****

__ADS_1


Cina


Masih di bawah bentangan langit yang sama birunya. Fajar sedang berdiri di sudut ruangan lantai tujuh belas. Ia bersendekap menatap pemandangan yang ada di bawah. Hatinya tertegun untuk sesaat, ia masih tak percaya dengan kebenaran yang ada. Kebenaran yang telah di tutupi selama belasan tahun lamanya.


“Apakah sudah kamu pastikan jika semua data ini valid Za?” Tanyanya pada Reza, ia ingin memastikan akan sebuah kebenaran yang ada.


“Sejauh ini yang saya laporkan valid Tuan, dari yang sudah saya selidiki beginilah kebenaran yang ada Tuan” Jawab Reza dengan yakin.


“Saya juga sudah menemukan orang kepercayaan keluarga Bramantyo, mereka di sekap cukup lama agar tak dapat menunjukan kebenaran yang ada. Lebih dari lima belas tahun beliau beserta keluarga di asingkan hanya demi menutupi semua inis”


“Bagaimana bisa Cakrawala Grup bertindak semacam ini, mereka telah curang merampas secara paksa sesuatu yang bukan menjadi haknya”.


“Betul sekali Tuam, lalu langkah apa yang kiranya akan Tuan ambil setelah ini?”


“Akan ku pastikan Cakrawala Grup kembali dalam genggaman orang yang seharusnya”


Tangan Fajar, mengepal sempurna di kedua sisi, sorot matanya berkobar seakan sedang menahan amarah yang begitu membuncah.


“Lakukan dengan cara yang pelan hingga membuat mereka tak mencurigai rencana kita” titahnya pada sang asisten pribadi.


“Baik Tuan”


Reza memilih untuk undur diri, sudah lebih dari seminggu mereka berada di Cina, naum segala urusan yang Fajar lakukan tak kunjung selesai juga.


.


.


.


Calling Istriku


Wajah Jingga, terpampang nyata memenuhi seluruh layar di ponselnya.


“Kok mukanya cemberut?”

__ADS_1


“Jadi kapan pulang? Mas Fajar kan sudah kaya raya kenapa harus capek-capek kerja terus? Mas Fajar itu kerja apa di kerjain? Apa cuma ngakunya saja yang kaya raya?” serangkaian teror pertanyaan membuka percakapan suami istri tersebut.


Mohon dukungannya kak.Jangan lupa like, komen, jadikan Favorit dan kirim Hadian sebanyak-banyaknya, biar Author makin semangat nulisnya 😊


__ADS_2