
Jingga masuk ke kamar mandi setelah Awan menyiapkan air hangat untuk istrinya,Jingga senang dengan perhatian dari Awan,seharusnya ini tugas istri pada suami tapi nyatanya,kini Awan yang melakukan itu untuknya
Saat Jingga mandi,Awan keluar dari kamar dan membersihkan dirinya di kamar mandi lain,lalu turun dan mendapati semua orang sudah duduk di meja makan
Awan menghentikan langkahnya dan melihat semua orang tengah menatapnya,Awan lalu menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan malam
Awan menutup mata,merasakan nyeri di hatinya,rasanya baru sebentar ia bersama Jingga tapi kini waktu sudah berlalu begitu cepat,lalu bagaimana nanti saat Jingga benar benar telah pergi dari hidupnya,apa dia sanggup menjalani harinya tanpa Jingga
Sekuat tenaga Awan mencoba untuk tidak menangis,ia mengedipkan matanya cepat supaya air matanya tidak jadi keluar,lalu dengan langkah lemahnya ia menuju ke tempat makan,ia akan mengatakan pada sang ibu,tentang penyakit Jingga
saat Awan datang sendiri,ibu hendak bertanya mengapa Jingga tidak ikut
Saat Awan sudah duduk di antara mereka,Awan menceritakan tentang penyakit Jingga,ibu dan Lintang tentu syok mendengar kabar itu,bahkan Hadi wijaya ayahnya Jingga pun juga begitu,karena hanya tahu Jingga menderita kanker,namun tidak tahu jika kondisinya sudah separah itu
Ibu dan Lintang tak kuasa membendung air matanya,karena sedih dengan kondisi menantunya
Awan juga meminta untuk tak ada yang menunjukan raut sedih ketika berada di depan Jingga,Awan meminta keluarganya untuk mendukung dan menemani Jingga apapun yang terjadi
Awan menggenggam tangan ibu,dan memintanya untuk kuat
Setelah mengucapkan semuanya,Awan membawa makan malamnya dengan Jingga di kamar,ia ingin memiliki waktu yang sebanyak banyaknya untyk Jingga istrinya
Awan membuka kamar,dan pemandangan indah pun tersaji di depan mata,ruangan kamar itu kini terlihat remang,karena Jingga mematikan lampu utama,dan menyalakan beberpa lilin di sudut kamar,membuat suasana kamar terkesan romantis
Jingga berdiri di depan jendela,yang sengaja ia buka untuk melihat pemandangan langit malam
__ADS_1
Rambut panjang dan curly nya terbang melambai lambai tertiup angin
Awan yang melihatnya pun menyunggingkan senyum,ia meletakan nampan yang berisi makan malam itu di meja,lalu menghampiri sang istri,memeluknya dari dalam dan menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya
Jingga kaget,namun sejurus kemudian ia tersenyum,mendapati suaminya kini memeluknya dari belakang
"kak,dari mana"tanyanya lembut sambil menggenggam tangan dan menoleh ke wajah suami
"aku mengambilkan makan malam untuk kita"ucapnya lali ia melerai pelukan pada sang istri dan menuntunya ke meja untuk makan"ayo kita makan dulu"ucapnya pada sang istri
Jingga menurut,ia melangkah dan duduk di kursi,sementara Awan duduk di samping sang istri,meraih piring berisi makanan,lalu menyuapkan nasi pada sang istri
"aaa"ucapnya
"aku bisa makan sendiri kak"tolak Jingga
Jingga tersenyum mendapati ucapan Awan,lalu ia membuka mulutnya,menerima suapan itu,ia akan menikmati momen momen bahagia itu
Mereka makan dari piring yang sama,saling menyuap hingga isi piring itu kini kosong
Awan meletakan piring kosong itu di meja,lalu ia berdiri,dan mengulurkan tangan kirinya pada Jingga
Jingga yang melihat uluran tangan itu,bingung,apa maksudtnya,lalu ia menatap pada sang suami 'apa'begitu kira kira yang ingin ia katakan lewat sorot matanya
Awan yang mengerti istrinya kebingungan,menjawab kebingungan Jingga dengan gerakan orang berdansa
__ADS_1
Jingga mengerti arti dari gerakan suaminya,yang berarti Awan mengajaknya berdansa,ia lalu berdiri dang menyambut uluran tangan suaminya,lalu mereka mulai berdansa,tanpa di iringi musik,namun di telinga mereka berdua seolah terdengar alunan musik yang indah,hingga mereka berdansa dengan mesra dan penuh cinta
Lama berdansa,kini Jingga semakin menempelkan diri pada suami,bahkan ia mengalungkan kedua tangan pada leher suami,Awan pun menerima sentuhan istrinya,ia akan menuruti apapun keinginan istrinya
pandangan mata mereka begitu intens,kini Jingga semakin mengikis jarak,menempelkan bibirnya pada bibir sang suami,dan melu***** lembut,Awan pun membalas sentuhan sang istri dengan lembut,bahkan Jingga sengaja membuka mulutnya sedikitnya,membiarkan Awan menerobos masuk dan bermain dengan lidahnya,lama mereka saling memangut,hingga ******* itu berubah menjadi sedikit kasar dan tergesa,seolah menuntut sentuhan yang lebih dari ini,namun Awan seketika sadar dengan kondisi sang istri,hingga ia pelan pelan melepaskan penyatuan bibir itu
Namun Jingga terlihat kecewa karena sang suami justru melepaskanya,meski ia tahu maksud dari suaminya
"sayang,ayo kita istirahat"ucap Awan lembut pada sang istri,karena ia tak ingin istrinya kelelahan
Namun Jingga justru lagi lagi menyatukan bibirnya pada bibir sang suami dan melum****,Awan pun menyambutnya,mebiarkan sang istri menunjukan cintanya,hingga Jingga melepaskan nya dan kini giliran Awan yang terlihat kecewa
"kak,mari penuhi waktu kita yang hanya sebentar dengan penuh cinta,ijinkan aku menjadi istrimu seutuhnya"ucap Jingga lembut
"tapi,sayang,__"ucapan Awan harus terpotong oleh ucapan Jingga
"kakak bilang hari ini aku adalah ratunya,jadi kakak harus menuruti keinginanku"ucapnya dengan mimik wajah yang di buat manja dan menggemaskan
Memang benar tadi Awan bilang begitu,dan kini ia harus memenuhi janjinya itu bukan
"hmm,baiklah"ucap Awan lalu kembali memangut bibir sang istrinya yang sangat ia inginkan
Ia memangut lembut hingga membangkitkan gairah dari diri mereka berdua
Awan membopong sang istri ala bridal style,lalu membawa sang istri ke ranjang pengantin mereka,tanpa melepaskan penyatuan bibirnya,ia membaringkan istrinya di ranjang dengan lembut,lalu melepas pangutanya dan memandang istrinya dengan intens,seolah bertanya pada sang istri' kamu yakin' dan Jingga menganggukan kepalanya tanda jika ia yakin akan hal itu
__ADS_1
Lalu Awan kembali menyatukan bibirnya pada bibir sang istri,memulai penyatuan itu dengan di saksikan cahaya lilin yang menenangkan