JINGGA

JINGGA
178


__ADS_3

Hari demi hari kondisi Oma sudah semakin membaik. Luka pada lengan kanannya berangsur membaik. Kakinya pun demikian meskipun ia belum mampu sepenuhnya untuk melakukan


aktivitas sendiri, tapi setidaknya ia sudah mampu untuk berjalan dengan pelan tanpa bantuan tongkat maupun pegangan yang lainnya.


Sudah tiga hari ini Fajar dan Jingga tinggal di kediaman Bramantyo. Jingga ingin menemani Nenek Kinan untuk tinggal di semana sementara. Untuk tempat tinggal Fajar dan Jingga memang memiliki rumah sendiri, tapi Oma dan Nenek Kinan biasanya meminta mereka untuk sesekali menginap di rumah meraka.


“Mas, aku ingin mendekor ulang rumah ini. Aku tak mau semua kenangan Hermawan beserta


keluarganya masih tertinggal di sini” ucap Jingga ketika memasuki area ruang keluarga. Ruang di mana bisanya Hermawan menghabiskan waktunya bersama Dahlia dan Bu Lia.


“Kamu ingin merubahnya seperti apa sayang? Aku panggilkan desain interior ya untuk


membantu mewujudkan keinginanmu”


Jingga terdiam tampak berfikir tentang usulan suaminya.


“Aku rasa boleh mas”


.


.


.


Tak berselang lama Reza berikut Irfan, salah satu desain interior ternama di Surabaya sudah sampai di rumah Jingga. Segala keinginan Jingga adalah sesuatu yang harus di wujudkan saat itu juga. Fajar benar-benar lelaki yang tak ingin membuat wanitanya bersedih.


“Jingga kamu mau pilih kamar yang mana?” tanya Bu Kinan ketika melihat Jingga sedang


berkeliling rumah untuk melihat semua detail yang ada pada rumahnya.


“Entahlah nek, aku masih bingung. Ketika menginjakan kaki di sini yang kurasa adalah


bayang-banyang masa lalu saat tinggal di sini. Nenek mau lihat kamar ku dulu di mana?”


Bu Kinan menganggukkan kepalanya dengan segera “Dimana?”


“Di lantai satu nek”


Jingga yang sedang menggendong Gendhis lekas membimbing Bu Kinan untuk mengikutinya. Ia masih berjalan dengan pelan menapaki ruas demi ruas lantai yang ada di rumahnya. Terkadang Jingga masih belum percaya jika rumah ini adalah peninggalan orang tuanya. Sementara ia di sini, selama lebih dari dua puluh tahun menjadi pelayan.


Ia melewati lorong kecil di sebelah dapur. Tempat yang gelap dan sempit. Tempat ini hampir menyerupai gudang namun berukuran kecil. Di tempat ini, Jingga biasanya bersembunyi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Kerana setiap kali Dahlia melihat Jingga mengerjakan tugas, ia akan memberi pekerjaan baru pada Jingga. Dahlia paling tidak suka jika Jingga dapat menyelesaikan tugas sekolahnya dengan baik.


Ia terhenti untuk sesaat memandang lekat tempat tersebut. Bahkan jika malam tiba


Jingga harus membawa lilin untuk bisa belajar di sana. Hermawan tidak memberikan penerangan di kamar Jingga dan area lorong tersebut.


Tes.


Air matanya meluruh ketika melihat tempat itu dan mengingat segala kejadian yang ada.

__ADS_1


“Aku mau di tempat ini menjadi sudut untuk belajar. Aku akan meletakkan banyak buku-buku di sana. Aku juga akan memberikan penerangan yang paling terang di sana”


Bu Kinan mengelus lembut punggung cucunya.


“Itu nek kamarku?” ucap Jingga dengan menunjukan satu ruang sangat kecil dan tidak


layak untuk di jadikan kamar.


“Boleh nenek masuk?”


“Tentu saja”


Bu Kinan lekas membuka kamar tersebut, kamar yang konon milik Jingga. Matanya lekas


membulat saat itu juga dengan mulut yang menganga.


“Kamu sungguh tidur di sini nak?”


Jingga tak mengeluarkan suara. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Kurang ajar sekali mereka, kenapa mereka begitu jahat memperlakukanmu hingga seperti


ini?”


Jingga tak mampu untuk menjawab, kerana ia sendiri benar-benar tak tahu.


Sakit hati nenek Kinan, ketika melihat kamar Jingga. Kamar berukuran sangat kecil, dua


ada barang yang tersimpan di sana. Tidak ada almari pakaian, baju-baju Jingga tersimpan di atas kardus sisa tempat makanan.


Bu Kinan hanya mampu mengelus dada. Bagaimana bisa mereka memperlakukan Jingga


seperti ini, sedang Jingga adalah pemilik dari rumah megah ini.


“Apakah kamar semua pelayan yang ada di sini seperti ini nak?”


“Tidak Nek, kamar pelayan di sini layak, seperti kamar pelayan pada umumnya. Hanya kamarku


saja yang di buat sedemikian rupa dan di letakkan di dekat gudang penyimpanan barang bekas. Sebenarnya Bi Minah tak keberatan jika aku turut tinggal di kamarnya. Namun jika Bu Lia


mengetahui akan hal itu, ia kan menghukum ku di gudang dalam waktu yang lama” terang Jingga dengan wajah yang sendu.


“Benar-benar gila mereka. Keserakahan telah membuat mata hati mereka tertutup rapat. Lantas apa rencanamu setelah ini?”


“Aku ingin merubah tempat-tempat yang menyakitkan di sini menjadi indah nek. Aku ingin


membuang segala kenangan buruk yang ada dalam rumah ini agar aku tidak merasa


sedih ketika memasuki rumah ini”

__ADS_1


Bu Kinan setuju dengan apa yang di inginkan Jingga. Ia mendukung penuh akan hal itu.


“Sayang, Reza dan Irfan sudah datang, kamu bisa menemui mereka untuk membicarakan renovasi rumah ini”


“Baik Mas, setelah ini aku akan ke sana”


Fajar berlalu meninggalkan Bu Kinan dan Jingga yang masih menikmati waktu mereka berdua. Ia membawa serta Gendhis dalam gendongannya.


“Kalau kamar Mama Papaku di mana nek?” tanya Jingga kemudian. Kerana ia memang sama


sekali tak mengetahui prihal tersebut. Yang ia tahu rumah ini adalah milik Hermawan dan Dahlia.


“Biar ku tunjukan”


Bu Kinan membawa Jingga untuk naik ke lantai dua. Ia masih ingat betul tentang tata letak yang ada dalam rumah ini, mengingat dulu ia turut terlibat ketika proses Pembangunannya.


“Ini kamar orang tuamu”


Bu Kinan lekas membuka kamar tersebut. Kamar berukuran sangat besar terletak bersebelahan dengan kamar Hermawan. Kamar yang tidak boleh di buka oleh siapapun, ketika Hermawan dan keluarga masih tinggal di sini. Namun Bu Kinan dapat dengan mudahnya membuka kamar anaknya.


Kini Jingga yang ganti terperangah melihat isinya.


“Aku rasa tidak ada yang berubah di dalamnya” terang Bu Kinan ketika langkahnya.mulai masuk ke dalam sana.


Kamar tersebut terlihat sangat kotor sekali, penuh dengan debu. Bu Kinan dengan segera


membuka jendelanya untuk mempersilahkan udara masuk. Ia juga menyalakan lampu


di kamar.


“Apa kamu belum pernah masuk ke dalam kamar ini nak?”


Jingga menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada satu orang pun yang boleh masuk ke kamar ini nek. Aku rasa karena mereka takut kejahatannya akan terbongkar jika ada yang bisa memasuki kamar ini”


“Kamu betul nak. Di sini semua wasiat Mama Papamu tertulis rapi” bu Kinan turut membuka almari baju yang ada di kamar dan mengeluarkan tas besar yang.berisi aneka foto dan dokumen penting lainnya.


“Sekarang aku tahu nek, aku akan memilih kamar ini untuk menjadi kamarku. Aku ingin mengenal lebih dekat dengan mendiang orang tuaku. Aku juga akan memakai perlengkapan dan desain yang sama dengan apa yang ada di dalam kamar ini. Aku hanya perlu untuk membeli produk baru dengan model yang sama seperti ini”


“Bagaimana? Apakah nenek setuju dengan keinginanku?”


Jingga tersenyum dan memandang area sekitar kamar orang tuanya.


“Terserah kamu nak. Kamu boleh melakukan apapun di rumah ini. Ini adalah milikmu seluruhnya” terang Nenek Kinan.


Tanpa pikir panjang, Jingga lekas melesat untuk menemu suami dan anaknya yang sedang


menerima tamu di sana. Ia begitu antusias ingin menyampaikan keinginannya saat itu juga.

__ADS_1


“Mas aku mau bikin kamar di sana” teriaknya dengan lantang ketika menuruni anak


tangga.


__ADS_2