
Lima menit berlalu sejak kepergian Reza dari ruangan Fajar, yang di susul oleh Boy di belakangnya. Kini tinggallah Fajar dan Dahlia dalam satu ruangan yang sama. Untuk beberapa saat, tak ada obrolan yang yang terucap. Keheningan lebih mendominasi isi ruangan. Samar-samar hanya terdengar suara parfum pengharum ruangan yang menyemburkan aroma wangi dalam ruangan tersebut.
Fajar masih dalam posisinya, ia memilih untuk duduk di singgasana kebesarannya. Memeriksa beberapa dokumen penting yang akan di bahas dalam kerja sama ini. Sementara dahlia, wanita itu duduk di sofa. Sofa di dalam ruangan Fajar, yang di khususkan untuk menerima tamu pentingnya.
Ia duduk termenung untuk sesaat. Pikirannya sibuk merangkai cara untuk mendekat ke Fajar, tanpa sebuah kecurigaan. Matanya mengedar, menatap sekeliling ruangan berharap ada sesuatu yang dapat di gunakan sebagai media untuknya.
Satu titik, pandangan Dahlia tertuju pada satu titik meja Fajar. Di sana ada foto Fajar dan Jingga berikut baby Gendhis yang berada dalam dekapan Jingga. Ia tersenyum kecut ketika melihat itu. Alih-alih mendapat media sebagai pengantar antara dirinya dan Fajar, justru matanya harus ternoda dengan pemandangan tersebut.
“Cih” desisnya dengan kesal, ia sedikit mengerucutkan bibirnya tak terima. Matanya menatap dengan tatapan kecemburuan berikut iri yang tiada terkira pada keberuntungan yang didapat Jingga. Otaknya kembali di peras untuk lekas berfikir bagaimana cara merayu mangsa yang sudah ada di depan mata. Bukankah ini sebuah moment langka, ketika ia bisa berada dalam satu ruang yang sama dengan Fajar.
Sementara Fajar pria itu masih sibuk. Jemarinya saling beradu membuka lembar demi lembar kertas yang ada di tangannya. Ia bahkan melupakan jika saat ini ada tamu dalam ruangannya. Begitulah Fajar, jika ia sudah bekerja dan maka ia akan lupa segalanya.
Baiklah mari kita mulai langkah pertama.
Dahlia mulai mengucek matanya dengan salah satu tangannya. Ia mengucek dengan pelan, hingga mata tersebut memerah. Sejuruh kemudian ia melirik ke arah Fajar, menunggu reaksi dari pria tersebut.
Diam.
Fajar tak bergeming, ia bahan tak melirik sedikit pun apa yang telah di lakukan oleh Dahlia. Dahlia tidak kehabisan cara, ia kembali menunjukan aksinya.
“Tuan Fajar” panggilnya dengan suara yang melembut, selayaknya kapas yang di gunakan untuk popok bayi.
Fajar masih terdiam enggan untuk bereaksi.
“Tuan Fajar, bisakah aku meminta tolong pada Tuan” Dahlia mulai sedikit meningkatkan volume nada bicaranya, namun ia masih sama dengan irama yang lembut dan mendayu-dayu cenderung manja.
Fajar mendongak untuk sesaat. Ia baru menyadari jika dalam ruangannya ada kehidupan lainnya.
“Tuan, mataku kemasukan benda asing. Rasanya sangat sakit dan perih. Bisakah Tuan Fajar membantu untuk mengeluarkannya” rengek Dahlia dengan mengucek-ngucek matanya.
Fajar masih terdiam, namun bolpoin dalam genggaman jemarinya sudah tidak laki bergerak. Ia menatap Dahlia untuk sekilas.
“Aduh perih sekali” Dahlia kembali merengek dan mengiba memohon pertolongan.
Bagian mata Dahlia yang sebelah kiri mulai berair, dan sangat memerah. Tangannya masih sibuk mengucek-ngucek mata tersebut.
__ADS_1
“Tuan ini sungguh sangat menyakitkan, bisakah kau membantuku untuk mengeluarkan binatang yang bersarang di mataku ini?”
Fajar mulai bangkit dari tempat duduknya. Bagaimana pun juga nalurinya sebagai sesama manusia berniat untuk menolong Dahlia. Terlebih ketika melihat reaksi mata dahlia yang sudah berair dan memerah. Fajar mulai mendekat ke arah Dahlia tanpa berfikir yang macam-macam.
“Ini kenapa?” tanyanya ketika meraka dalam posisi yang saling berhadapan satu sama lain.
“Mataku perih sekali ini seperti ada benda atau binatang yang bersarang di sana. Aduh!” Dahlia meringis, untuk memperkuat sandiwaranya.
Mendengar rintihan orang yang kesakitan, membuat reflek Fajar mendekat. Ia menyentuh wajah Dahlia. Mengambil alih mata yang berair tersebut. Fajar semakin mendekat, ingin memastikan apa yang ada di dalam sana.
“Sepertinya tidak ada apa-apa di sana. Jangan di kucek terus nanti semakin memerah” ujar Fajar kemudian ketika melihat sekilas mata Dahlia.
“Tapi ini perih sekali, terasa seperti ada yang mengganjal di sana. Aku rasa ada binatang yang masuk. Tolong di tiup Tuan”
Fajar masih terdiam, ia enggan untuk menuruti perintah Dahlia.
“Aduh, perih sekali, sakit...huh huh huh”
“Tuan, bisakah aku meminta tolong untuk mencium benda ini dan mengeluarkan dari mataku. Aku takut jika dia menggigit mataku akan menyebabkan kebutaan” terang Dahlia, masih mencoba untuk memperpendek jarak di antara keduanya.
“Tuan, aduh. Tolong di tiup, sepertinya benda atau binatang itu masuk ke dalam kelopak mataku” Dahlia masih mengucek matanya bahkan saat ini, ia mengecek dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Huft.
Fajar menghela nafas panjang, mau tidak mau ia menuruti perintah Dahlia. Tenu saja ini semua atas dasar kemanusian untuk menolong sesama manusia. Fajar mendekat, ia meniup mata Dahlia dengan terpaksa saat itu juga.
Wus.
Ceklek...
Pintu terbuka.
Pyar...
Suara tempat penyimpanan makanan yang jatuh ke lantai.
__ADS_1
Benar saja, saat itu. Jingga baru saja memasuki ruang Fajar. Tak ada sekretaris yang sedang berjaga di depan ruangan Fajar. Ini mamang waktu untuk istirahat untuk makan siang.
“Mas!” ucap Jingga ketika melihat pemandangan yang aad di depan mata. Maksud hati ingin memberikan kejutan pada suaminya. Mengantarkan makan siang dan datang ke kantor. Namun rupanya ia sendiri yang harus terkejut dengan pemandangan yang ada di depan mata.
“Sayang”
“Sayang tunggu” ucap Fajar kemudian, ia lekas menjauhkan diri dari hadapan Dahlia hendak menyusul istrinya.
“Sayang” Fajar keluar dari ruangan, mengikuti arah kemana Jingga pergi saat itu. Sementara Jingga, wanita itu berlari menuju lift dengan mata yang sudah basah.
Aksi kejar-kejaran pun tidak dapat d hindarkan saat itu, antara Fajar dan Jingga.
Untungnya saat itu kantor dalam keadaan sepi. Sebagian besar karyawan telah
turun untuk mengisi perut mereka.
“Sayang, dengarkan penjelasanku dulu” Fajar terengah-engah ketika harus mengejar istrinya.
Sementara di dalam ruangan Fajar. Dahlia sedang tertawa bahagia. Ia mendaratkan bokongnya
di sofa Fajar dengan penuh kemenangan.
Ini hanya baru permulaan Jingga. Kau tahu aku akan melakukan yang lebih dari ini. Bukankah sudah ku katakan jika aku akan mengambil kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Sungguh semesta telah mendukungku hari ini.
“Sayang tunggu, kamu mau ke mana?” ucap Fajar ketika tangannya dapat meraih lengan
Jingga.
“Menurut Mas Fajar, aku harus kemana?” jawab Jingga dengan ketus.
“Ke ruanganku sayang”
“Mas pikir setelah apa yang aku lihat tadi, aku masih mau ke sana? Huh” Jingga menunjukan raut ajah kekecewaan, ini kali pertama sepanjang menikah dengan Fajar ia marah dengan suaminya.
“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang” elak Fajar kemudian.
__ADS_1