
“Oma...” Kompak Jingga dan Fajar memelas menatap Oma mereka yang sedang menunjukan wajah garangnya.
“Sudah istirahat sana, dasar anak muda. Oh ya Jingga, besok pagi temani Oma ke mall ya, sekalian kita bawa Gendhis jalan-jalan. Bayi itu juga perlu untuk refreshing bukan hanya Ibu dan Bapaknya saja” serkas Oma kemudian, ia sebenarnya tak marah hanya saja ingin mengerjai pasangan muda yang tak tahu tata krama ini.
Meninggalkan anak demi bisa bersenang-senang untuk sesaat.
“Baik Nyonya Oma”
Jingga dan Fajar lekas melangkah naik menuju kamar Gendhis mereka saling mengulum senyum tentang apa yang baru saja mereka lakukan.
“Tidurlah sayang, kamu pasti lelah sekali” Fajar membelai lembut pipi istri dan anaknya secara bergantian. Malam itu mereka berdua memilih untuk tidur bersama di kamar
Gendhis.
****
Seorang pria muda dengan perawakan tinggi. Ia berjalan dengan tegap santai menyusuri
sebuah parkiran pusat perbelanjaan di salah satu Mall mewah yang ada di Surabaya. Ia memakai pakaian yang serba hitam, wajahnya terhalang topi dan juga kacamata hitam yang menutupi wajahnya. Hampir seluruh wajahnya tenggelam di balik topi yang ia gunakan. Sementara satu tangannya menggenggam satu buah tas warna senada dengan bajunya. Ia mulai berjalan semakin mendekat pada sebuh mobil mewah yang terparkir di samping toilet umum Mall tersebut.
Perlahan tangannya mulai bekerja, membuka tas ransel dalam genggamannya. Mengambil
beberapa alat sebelum menyusupkan tubuhnya di bawah kolom mobil mewah itu. Jemarinya sedang sibuk beradu dengan benda yang ada dalam genggamannya. Beberapa menit kemudian ia keluar membereskan barang dan menutup kembali tas ransel tersebut. Pria muda itu lekas meninggalkan parkiran Mall dengan segera. Ia berjalan dengan cukup cepat dan menundukan topi yang ia gunakan.
Sementara di dalam sebuah mall mewah tersebut beberapa wanita sedang sibuk untuk berbelanja. Mereka sedang memanjakan diri untuk membeli berang-barang yang di inginkan. Fajar memberikan kebebasan penuh pada Jingga untuk membelanjakan uangnya.
Mereka saling memilih barang-barang yang hendak di beli. Bu Nadin memilih untuk membeli beberapa tas mahal untuk menambah koleksi tas miliknya. Ia mendatangi salah satui counter tas tersebut. Tangannya sibuk memilih tas keluaran terbaru yang di inginkan.
“Jingga kamu tidak mau beli tas?” tawarnya ketika satu mata tertuju pada sebuah pilihan
tas selempang kecil, yang memiliki warna putih tulang.
Jingga menggelengkan kepalanya.
“Tidak Ma, tas yang kemarin Mama kasih masih bangus”
“Ambillah, pilih yang kamu mau. Kamu bisa menggunakan ketika mendampingi Fajar dalam
acara-acara tertentu. Apa kamu suka yang ini? Atau yang ini? Ataukah yang ini?” Bu Nadin sibuk memilihkan tas untuk menantunya.
“Tidak Ma, trimakasih lain waktu saja. Untuk saat ini aku belum membutuhkannya” Ia kembali mengelak menolak dengan sopan.
“Haduh kamu kelamaan, kayak tidak kenal sama menantumu saja” Serkas Oma memotong
pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Mbak, saya mau yang ini, yang ini, dan yang ini. Bungkus semuanya” jemarinya Oma sibuk menunjuk beberapa tas yang menurutnya bagus dan cocok untuk Jingga.
“Jangan lagi di tawar’i lekas belikan saja. Mana mungkin wanita spesifikasi seperti ini
mau membeli barang-barang yang tidak terlalu bermanfaat”
“Loh jangan salah, ini sangat bermanfaat Oma untuk kelangsungan fashion kita sebagai
kaum hawa”
“Ah sudahlah bungkus mbak!”
Jingga meraih Gendhis dari tangan baby sister nya, ia menyuruh sang baby sister untuk membantu pelayan membawakan beberapa barang belanjaan mereka yang sudah sangat
banyak.
“Kita kemana lagi setelah ini?”
“Nyonya Oma, Mama jika tidak keberatan aku ingin ke baby shop untuk membeli baju-baju
Gendhis. Selama ini aku belum pernah membelikannya baju sedikitpun”
Bu Nadin menepuk keningnya dengan pelan, ia baru teringat jika sejak kehadiran Gendhis, Jingga memang belum pernah membelikan baju untuk putrinya. Semua kebutuhan Gendhis telah di pilihkan oleh Oma dan Bu Nadin.
“Baiklah kalau begitu”
Bu Nadin dan Oma menatap dengan senyum. Sungguh mereka tidak marah, justru mereka
sangat suka ketika virus belanja sudah menular pada menantu di rumah itu.
“Belajarlah nak semau yang kamu mau. Kalau bukan kita yang menghabiskan uang siapa lagi? Untuk apa para suami bekerja keras jika tidak untuk berbelanja seperti ini”
Jingga yang mendapat lampu hijau hanya bisa tersenyum saja. Ia kembali melanjutkan
aksinya untuk berbelanja. Ia bahkan hampir menghabiskan separuh dari isi toko tersebut.
“Ma, aku rasa ini sudah lebih dari cukup. Belanjaan kita banyak sekali. Nanti tidak
muat di dalam mobil”
“Haduh begitu saja kok repot. Kita bukan orang miskin Jingga. Mari kita makan dulu,
biar aku hubungi sopir untuk mengantar mobil lagi” Bu Nadin mulai mengangkat benda pipih, meletakan di samping telinganya. Ia sedang mencoba untuk meminta
mobil lagi.
__ADS_1
“Segera kirim mobil ke sini!” ia lekas mematikan panggilan itu ketika panggilan telah mendapat respon..
.
.
Sudut bibir Dahlia terangkat ke atas. Ia melirik segerombolan wanita yang sedang menikmati makan siang di Mall tersebut. Ia turut mengintai dalam jarak aman “Hah nikmati saja waktu-waktu terakhirmu Jingga, aku akan secepatnya mengirim ke neraka” Dahlia memilih untuk melenggang, meninggalkan minumannya yang masih utuh belum tersentuh.
Satu jam berlalu, semua makanan yang di pesan Bu Nadin dan yang lainnya telah habis bahkan tak bersisa. Siang itu mereka makan berama berikut dengan pelayan dan juga baby sister Gendis. Mereka makan dalam satu meja yang sama tanpa
membedakan satu sama lainnya.
Beberapa pelayan mulai memasukan barang-barang pada mobil yang mereka tumpangi ketika berangkat tadi. Rupanya barang-barang belanjaan mereka sudah memenuhi setengah dari badan mobil. Tinggallah di bagian jok depan yang masih belum terisi.
“Ah kalian yang muda mengalah lah dulu. Biarkan aku pulang lebih dulu. Punggungku sudah terasa sangat sakit ingin lekas merebahkan tulang-tulang ini” Tanpa sebuah persetujuan Oma lekas memasuki mobil itu, meningalkan beberapa wanita yang lainnya.
“Kalian tunggu saja mobil selanjutnya!”
Oma mulai menutup pintu mobilnya dengan kasar. Parkiran mall masih sangat ramai.
Beberapa wanita yang lain lekas menuju lobi pusat perbelanjaan untuk menunggu
mobil berikutnya. Gendhis sudah terlelap dalam tidurnya. Bayi kecil itu begitu anteng dalam dekapan sang mama.
Sopir mulai memijak pedal gas dan memacunya dengan kecepatan sedang seperti biasah.
Oma lekas melambai-lambaikan tangan ketika melewati cucu dan menantunya.
Mobil mewah itu mulai melaju membelah jalanan yang relatif sepi. Sopir mengendarai
dengan santai. Sementara Oma memilih untuk memejamkan matanya. Akan tetapi,sebuah motor tiba-tiba melintas di depan mobil itu. Hingga membuat supir reflek membanting setirnya. Oma terlonjak kaget mendapati situasi semacam ini. Wajah tuanya terlihat sangat panik dan tegang.
“Oma maaf” ucap sang sopir ketika bisa menguasai keadaan yang ada dengan baik. Oma
belum sempat untuk memberikan jawaban, namun tiba-tiba mobil dalam keadaan tak
dapat terkendali. Berkali-kali sopir menginjak rem yang ada di bawah kakinya
saat laju mobil tiba-tiba semakin meningkat laju kecepatannya.
“Apa yang terjadi?” teriak Oma di sela-sela rasa takut yang mendera.
“Laju kecepatan mobil meningkat sendiri Oma, remnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya” jawab Sopir dengan panik, ia masih mencoba untuk menstabilkan keadaan, namun sayang laju mobil tak kunjung dapat di hentikan.
Oma berpegang erat pada apapun yang ada di dalam mobil. Teriakan dari keduanya tak
__ADS_1
dapat di hindarkan lagi. Sejurus kemudian mobil melaju semakin melesak dan..
Bark!!!