
“Mas ada apa sih?” Jingga memilih untuk menggoyang-goyangkan tubuh suaminya dengan pelan, ia setengah merengek demi untuk menunggu jawaban suaminya.
“Lihat kopi sayang. Warnanya kok beda ya?”
Jingga mengerutkan keningnya. Ia merasa heran dengan perkataan suaminya.
“Beda apanya mas?”
“Warnanya hitam, beda sama kamu. Kamu putih cantik sekali” gombalan receh Fajar pagi itu, yang membuat Jingga tersenyum geli.
“Ngeledek nih, mentang-mentang aku lagi pakai baju putih. Bilang saja kalau aku hitam, terus di suruh perawatan biar putih. Gitu kan maksudnya”.
“Masayaallah istriku yang cantik, aku sedang berkata jujur. Aku sedang memujimu sayang. Kenapa jadi salah?”
Hehehe
Jingga tertawa mendengar ucapan suaminya.
“Boleh aku minum?” tanyanya kembali.
“Silahkan Mas, aku memang membutakan secara khusus untukmu. Dua sendok gula dan satu sendok kopi hitam. Di tambah kasih sayang dan cinta di setiap proses adukannya” balas Jingga kemudian.
“Oh pandai juga istriku”
Srup...
Fajar mulai menyesap sedikit demi sedikit kopi hitam dalam cangkirnya. Ia meneguk deng pelan. Menikmati setiap tetes aliran kopi yang singgah di kerongkongannya.
“Kok masih pahit sayang?”
“Hah, masa sih? Perasaan tadi sudah di tambah banyak gula deh” terang Jingga yang merasa heran. Fajar memang tidak terlalu menyukai kopi. Ia hanya minum kopi di saat-saat tertentu saja. Seperti saat ini. Jingga melihat suaminya sedang dalam banyak pikiran, untuk itu ia membuatkan kopi untuk suaminya. Konon kopi men gandung kafein yang bisa membuat mood seseorang sedikit membaik.
“Beneran sayang”
“Coba kalau seperti ini” Fajar mengangkat sedikit dagu Jingga, hingga keduanya dalam posisi terdekat saat itu. Mata mereka saling mengunci untuk beberapa saat.
“Coba senyum”
Jingga lekas memberikan senyuman termanis yang ia mampu. Sementara Fajar mulai meneguk kembali dengan pelan kopi dalam cangkirnya.
“Manis sayang” ucapnya tanpa berpaling dari wajah sang istri.
“Kok bisa berubah Mas, kan belum di tambah gula. Sini biar aku ambilkan gula” Jingga hendak bangkit dari tempat duduknya.
“Tida perlu sayang. Cukup dengan senyumanmu sudah membuat seluruh duniaku terasa begitu manis dan indah”
Pipi Jingga memerah seketika, ia lekas menunduk ingin menenggelamkan wajahnya saat itu.
“Tuh kan, kalau merah seperti ini jadi semakin cantik”
__ADS_1
“Mas...” rengeknya kembali denan memukul-mukul lengan Fajar.
“Ah sayangnya”
“Sayangnya kenapa?” Jingga lekas menoleh ke arah suaminya.
“Sayangnya baru lahiran, gak bisa itu” Fajar mengedipkan matanya menggoda sang istri.
Lagi-lagi Jingga harus menahan malu sekaligus geram dengan suaminya. Kini Fajar berdiri, ia meraih tubuh istrinya memeluknya dari belakang. Ia menenggelamkan wajahnya cukup lama di pundak sang istri. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang slalu ia rindukan.
“Sayang, untuk beberapa waktu ke depan, aku akan pulang malam. Jangan menunggu kepulanganku. Istirahatlah dulu. Aku tahu kamu pasti capek sekali mengurus Gendhis sendirian. Maafkan aku tidak bisa membantu merawat Gendhis untuk beberapa waktu ini” Fajar semain memper erat pelukannya. Ia masih dalam posisi yang sama, menghirup setiap inci aroma tubuh sang istri yang slalu membuatnya candu untuk mendekat.
“Mas jangan capek-capek ya. Jaga kesehatan, jangan lupa makan. Untuk saat ini aku juga masih belum bisa mengantarkan bekal makan siang e kantor. Aku akan tetap memasakan Mas, tapi aku tidak bisa datang ke sana. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan”
“Jangan memaksa untuk memasak sayang. Aku bahkan bisa makan apa saja yang ada. Tubuhmu sudah terlalu lelah untuk mengurus anak kita. Jadi aku minta jangan terlalu capek”
Jingga menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku tidak capek Mas, biarlah aku menjalankan kewajiban sebagai istrimu. Aku akan tetap memasak dan di bantu pelayan. Gendhis banyak sekali yang jaga di rumah ini. Bantu aku menjadi istri Sholeha Mas”
Fajar menangkup pipi Jingga, ia memandang lekat dua manik mata yang bersinar pagi itu.
“Bantu aku juga untuk menjadi suami yang baik. Belanjalah sayang, itu adalah nafkah dariku. Aku tidak pernah menerima tagihan sepeserpun dari kartu yang telah ku berikan padamu. Aku juga ingin menjadi suami seutuhnya yang bisa menafkahi mu lahir dan batin. Bukankah semakin banyak kamu mengeluarkan uang, maka semakin banyak pula rezki yang akan mengalir padaku” Terang Fajar, ia begitu geram. Sudah hampir satu tahun menikah dengan Jingga. Tapi wanita itu enggan untuk berbelanja kebutuhannya.
“Semua sudah tercukupi mas di sini”
Jingga terkekeh geli mendengar penuturan suaminya.
“Apakah ini pertanda jika rezekimu sedang tidak baik-baik saja mas? Untuk itu kamu memancing dengan menyuruhku berbelanja?” tanya Jingga kemudian.
“Bisa jadi’ jawab Fajar setengah tertawa, meski dalam hatinya meringis jika teringat beberapa investor dalam perusahannya perlahan mulai menghilang.
“Baiklah, aku akan berbelanja setelah empat puluh hari gendis (selapan). Konon kata Oma, wanita setelah melahirkan tidak boleh keluar sebelum lebih dari empat puluh hari”
“Mas, ini sudah jam berapa? Siap-siap ya. Aku mau lihat Gendhis dulu”
.
.
.
Kantor Dirgantara
Hari memang masih pagi, namun ketegangan sudah mulai terasa di sana. Beberapa karyawan sedang sibuk dengan layar monitor yang ada di depannya asing-masing. Guncangan beberapa hari yang lalu membuat sedikit banyak perubahan dalam perusahaan Fajar.
Terlebih ketika beberapa investor yang tiba-tiba menghilang sepihak cukup membuat kepalnya terasa begitu nyeri. Fajar memang berkuasa, ia ahli dalam memimpin perusahaan dan membuat strategi, tapi serangan yang hampir melumpuhkan sistem jaringan informasi di perusahannya sangat berpengaruh pada peforma perusahaan.
Banyak yang beranggapan jika Fajar belum maksimal untuk memimpin perusahan, apalagi usianya yang masih sangat muda jia di bandingkan dengan pengusaha yang lainnya.
__ADS_1
“Za, bagaimana perkembangannya?” tanya Fajar, ketika ia baru saja memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya.
“Investor kita kembali berkurang Tuan. Beberapa investor yang ada di Cina dan Kalimantan mengundurkan diri dari tim kita” jawab Reza, ia memberikan beberapa dokumen pada atasannya.
“Kenapa mereka bisa berpindah?”
“Kami masih dalam proses penyelidikan Tuan. Tapi dugaan kami saat ini, mereka berpindah ke Cakrawala Grup”
“Cakrawala?” Fajar mengerutkan dahinya.
“Betul Tuan. Cakrawala perusahan milik Tuan Hermawan”
“Bukan itu milik istriku!” Mata Fajar menyorot tajam tak terima.
“Iya Tuan”
“Apa yang membuat mereka berpindah e Cakrawala?”
“Tuan Hermawan menawarkan banyak keuntungan yang lebih dari perusahan kita”
Fajar terdiam untuk sejenak, jemarinya saling meremas dan mencoba untuk kembali berfikir memutar otaknya.
“Apa yang harus saya lakukan Tuan?”
“Awasi terus perkembangannya, jangan sampai kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terulang!”
“Baik Tuan”
Reza memilih untuk meninggalkan ruangan Fajar saat itu juga. Sementara Fajar masih duduk dan memikirkan rencana selajutnya. Ini sungguh di luar prediksi dan kendalinya, seharusnya Cakrawala yang kekurangan investor dan bergabung dengannya. Tapi kenapa malah sebaliknya?
Segenap pertanyaan mulai terfikir di kepalanya. Ada rasa tak terima dan berjuang untuk melawan.
****
“Papa lihatlah, apa aku sudah cantik hari ini?”
Hari itu, selepas dari salon dan menghabiskan banyak uang untuk berbelanja. Bu Lia dan Dahlia memilih untuk ke kantor sang Ayah. Ia sengaja ingin memberikan kejutan pada Papanya dengan penampilan barunya.
“Sempurna” jawab Pak Hermawan kemudian.
“Tapi aku rasa masih ada yang kurang?” ia kemudian berdiri mengitari tubuh sang anak yang sedang berdiri di hadapannya.
“Aku rasa kamu harus sedikit mengecilkan perutmu yang ini. Hempaskan semua lemas jahat yanga ada di perutmu itu, baru kamu bisa bergabung dalam perusahan Papa”
“Papa” rengek Dahlia kemudian. Wanita itu sedang memakai kemeja warna biru muda, dengan balutan blazer. Rambutnya di biarkan terurai panjang. Sekilas tampilan Dahlia sudah sangat cantik, bahkan terkesan sempurna namun Pak Hermawan menginginkan yang lebih.
“Padahal aku cuma naik empat kilo, dari berat ideal ku Pa” ia menunjukan wajah yang cemberut manyun.
“Kamu ingin Fajar tertarik padamu bukan?”
__ADS_1