
“Oma, Oma menangis, lihat itu Oma menitikkan air matanya. Berarti Oma mendengar apa yang kita bicarakan” ucap Fajar dengan lekas mendekat pada Omanya. Ia dengan segera menghapus air mata yang membasahi sudut mata Omanya. Sementara Jingga, ia lekas berlari keluar ruangan untuk memanggil Dokter.
Tak berselang lama, Dokter lekas masuk ke dalam ruangan dengan beberapa perawat lainnya.
“Tolong untuk keluar dulu semuanya. Saya akan memeriksa pasien”
Tanpa banyak bicara Fajar, Jingga dan juga Bu Kinan lekas keluar dari ruang rawat Oma dengan perasaan yang yang cemas. Bu Kinan tampak meremas jarinya dengan resah.
“Nenek, aku takut terjadi sesuatu dengan Nyonya Oma” Jingga menyandarkan kepalanya pada
punggung Bu Kinan.
“Tenanglah Oma kamu adalah wanita yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja. Yakinlah”
Bu Nadin masih berdiri di depan ruangan. Ia sedang menggendong Gendhis yang terlelap dalam tidurnya. Beberapa saat kemudian Dokter lekas keluar dari ruangan.
“Dokter bagaimana dengan kondisi Oma saya?” Fajar dengan segera lekas menghampiri Dokter
tersebut.
“Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Saya rasa
karena hati beliau sedang berbahagia, sehingga alam sadarnya mampu merespon dengan baik. Saya sarankan untuk terus memberikan afirmasi positif pada beliau. Atau ceritakan kisah-kisah yang membuat belau bahagia” Ucap Dokter menjelaskan kondisi Oma terkini.
Fajar dan yang lain dapat tersenyum lega mendengar penuturan sang Dokter.
“Jingga, sebaiknya kamu pulang dulu nak. Ini sudah malam, kasihan Gendhis pasti capek
setelah perjalanan jauh”
“Tapi Ma, bagaimana dengan Oma?”
“Di sini banyak yang menjaga, pulanglah dulu. Besok kamu bisa kembali lagi ke sini untuk menjenguk Oma”
“Jika di perkenankan, saya ingin di sini untuk menemani Laras. Saya ingin bercerita banyak hal padanya” ucap Bu Kinan meminta izin pada keluarga sahabatnya.
“Apakah nenek tak keberatan untuk itu? Saya rasa memang nenek Kinan lah satu-satunya
orang yang sedang di tunggu Oma saat ni” tanya Fajar dengan ragu, ia ingin memastikan ketersedian Bu Kinan. Bagaimana pun juga Bu Kinan pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Apa lagi usianya yang tak lagi muda.
“Tentu saja tidak, aku justru semakin senang jika di izinkan untuk menemani Laras malam ini”
“Baiklah kalau begitu, biar aku dan nenek yang akan menjaga Oma malam ini. Mama dan
Jingga berikut Asih dan Bi Minah pulang dulu. Aku akan meminta sopir untuk segera menjemput kalian semuanya”
“Pulanglah dulu Jingga, nenek ingin berbincang banyak dengan sahabat nenek”
Bu Kinan kembali mengelus punggung Jingga, ia ingin memastikan jika semua akan baik-baik saja.
“Mas aku titip nenek ya, jangan lupa belikan makanan untuk cemilan”
“Iya sayang”
Beberapa saat kemudian, sopir datang dengan membawa Pak Angga sekalian. Pak Angga yang
menyadari hadirnya bu Kinan lekas mencium tangan wanita itu dengan haru. Ia juga memeluk Bu Kinan dengan cukup lama. Mereka sudah seperti seorang anak dan Ibu. Dahulu pak Angga kerap kali menghabiskan waktu bersama Bramantyo jadi beliau sudah hafal betul dengan putra sahabatnya ini. Pak Angga juga sering kali menginap di sana.
Benar, keluarga Jingga dan Fajar memanglah sudah saling mengenal sejak dulu. Bahkan jauh
__ADS_1
sebelum keduanya terlahir di dunia. Bu Kinan adalah sahabat Bu Laras. Pak Angga dan Pak Bramantyo juga bersahabat bahkan sejak kecil, sementara Fajar dan Jingga adalah hasil perjodohan antar persahabatan tersebut.
“Sebaiknya kamu juga pulang dulu Fajar, istirahatlah biar Papa yang menjaga Oma”
“Tapi Pa”
“sudah pulanglah, aku juga ingin bercerita banyak hal dengan Bu Laras. Mama tidak keberatan akan hal itu? Beliau ini sudah seperti Ibu kandungku sendiri” Pak Angga melirik sekilas istrinya dan meminta izin sejurus kemudian ia memeluk
punggung istrinya dengan tersenyum.
“Hem, boleh lah mas, asal jangan merepotkan saja kasian Bu Kinan. Baru datang bukannya di jamu malah di suruh nunggu Oma”
“Tidak masalah, saya suka dengan itu”
Pada akhirnya semua kembali pulang untuk beristirahat malam itu, tinggallah Pak Angga dan
Bu Kinan yang masih menunggu Oma di ruang rawatnya. Bu Kinan sama sekali tak beranjak dari sisi sahabatnya. Ia berbicara banyak hal. Mulai dar pertemuan awal merela hingga bisa saling mengenal. Perjuangan mereka untuk mendapatkan beasiswa, perjuangan mereka untuk tetap bisa bertahan hidup ketika masih
menjadi mahasiswa.
****
Kantor Dirgantara
Satu minggu sudah Fajar tak masuk untuk bekerja. Pagi ini ia sudah bersiap untuk kembali ke bekerja. Ia bahkan berangkat lebih pagi dari biasanya agar segala urusan lekas terselesaikan.
Fajar berjalan dengan cepat di sepanjang lobi perusahan. Seperti biasah ia akan tersenyum ketika berpapasan dengan karyawannya yang menyapa. Fajar lekas masuk menuju ke ruang kerjanya.
Tok..tok..
“Masuk” ucapnya dengan mata yang sibuk memindai tulisan-tulisan yang ada di layar
“Bagaimana Za?”
“Tuan semua peralihan aset kepemilikan Cakrawala telah selsai di laksanakan. Semua sudah berpindah tangan seutuhnya atas nama Non Jingga”
“Bagus, kinerja yang sangat bagus”
“Sidang kasus kejahatan yang di lakukan Hermawan juga sudah di putuskan. Beliau di
tuntut hukuman seumur hidup kerena terbukti atas kejahatan yang di perbuatan dulu dan beberapa saat ini”
“Bagus”
“Memang seharusnya begitu, biarlah dia membusuk di penjara hingga tua nanti”
“Kenapa Tuan Fajar tidak mengajukan banding? Tuan bisa untuk meminta hukuman mati pada
Hermawan menginat ia juga melakukan pembunuhan berencana pada orang tau Non
Jingga beberapa tahun yang lalu”
“Tidak Za, itu terlalu enak untuk Hermawan. Biarlah ia merasakan penyesalan dan kejamnya dunia seperti apa yang pernah Jingga alami dulu”
Reza mengangguk-angguk kepalanya mengerti.
“Lantas untuk persiapan kejutan bagi istriku bagiamana?”
“Aman Tuan semua akan siap dalam lima hari ke dapan. Saya sudah mengirimkan semua
__ADS_1
undangan pada pemegang saham dan juga klian-klian penting. Baik itu di Dirgantara dan Juga Cakrawala Grup”
“Bagus, kamu memang benar-benar dapat di andalkan Za”
“Selepas istirahat siang tolong siapkan sopir untuk menjemput istriku. Aku ingin mengajaknya bersiap dalam acara besar tersebut”
“Baik Tuan”
Reza lekas melenggang pergi meningalkan ruangan atasannya. Ia kembali menjalankan
beberapa tugas yang di perintah oleh Fajar. Sementara Fajar, pria itu tidak sabar menunggu hari itu tiba. Ia sekaligus ingin mengenalkan Gendhis pada semuanya. Mengingat kelahiran Gendhis beberapa waktu yang lalu di rahasiakan
dari publik.
****
Sesuai dengan rencana yang di harapkan Fajar, selepas makan sing ia bertemu dengan istrinya. Ia akan membawa wanita itu untuk berbelanja dan pergi ke salon guna menyiapkan pertemuan besar nantinya. Ia ingin Jingga tampil dengan kesan yang berbeda, mengingat ia adalah pemilik dari Cakrawala Grup.
Jingga tak lagi canggung ketika memasuki kantor suaminya. Dulu ia begitu pemalu ketika
harus masuk ke sana. Bahkan beberapa resepsionis pernah mengusir kehadirannya
kerana ketidak tahuannya jika Jingga adalah istri Fajar. Pada saat itu beberapa karyawan Fajar, lebih mengenal Maura sebagai pasangan atasannya dari pada Jingga.
Kini semuanya telah berubah, ia akan lekas di sambut hangat oleh para karyawan yang
ada ketika kakinya baru saja menapaki lobi kantor.
“Silahkan Nyonya, Tuan Fajar sudah menunggu di ruangnya”
Jingga yang tengah merubah cara berpakaiannya menjadi lebih baik, tentu saja semua ini atas kerja keras Oma dan Bu Nadin. Ia melangkah dengan percaya diri menuju lantai delapan belas tempat suaminya berada.
“Assalamualaikum” sapanya ketika baru saja memasuki ruangan.
“Wassalamu'alaikum salam sayangku. Gendhis mana?” mata Fajar celingukan mencari keberadaan anaknya.
“Dia sedang tertidur jadi aku memutuskan untuk tak membawanya, kasian beberapa hari ini tidurnya tidak teratur”
“Sebenarnya ada apa mas? Kok tumben sampai menyuruhku datang kemari?”
“Aku ingi mengajakmu ke suatu tempat” jawab Fajar dengan tersenyum. Ia meraih tubuh
istrinya untuk bisa duduk di pangkuannya. Sebuah moment langka yang sudah lama
tidak mereka lakukan.
“Kemana mas? Jauh tidak? Apakah lama?” tanya Jingga dengan segera, bayang-banyang Gendhis
terlintas di benaknya ketika akan meninggalkan dalam waktu tertentu.
“Bisakah kau tanya satu-satu sayang? Sungguh kau merusak moment romantis kita siang ini”
alih-alih marah, Fajar justru mencium gemas pipi istrinya.
“Mas malu, kalau ada orang bagaimana?”
“Tidak akan ada yang berani masuk ke sini jika ada kamu di dalam”
“Jadi kita mau ke mana Mas?”
__ADS_1