
Seorang polisi yang sedang bertugas menghentikan langkah mereka, ketika mendapati Reza, berkali-kali menerjang rambu-rambu lalu lintas yang ada.
“Mobil anda melanggar peraturan lalu lintas!” teriak polisi itu dengan wajah yang mendengus kesal.
“Kamu membahayakan banyak orang!” polisi itu kembali berceloteh panjang.
“Saya membawa pasien yang gawat” teriak Reza di dalam kemudinya dengan membuka jendela kaca mobil yang di kendarainya. Ia memperlihatkan kondisi Jingga yang sedang berada dalam dekapan Fajar.
“Oh astaga, apa yang terjadi?”
Reza tak punya banyak waktu untuk menjelaskan, terlebih nafas Jingga yang mulai tersengal-sengal.
“Korban kebakaran. Bisakah Bapak mengawal dan memberikan jalan pada kami untuk lekas menuju rumah sakit terdekat” pinta Reza dengan panik.
“Baik, silahkan” Kini polisi itu berjalan mendahului mobil Fajar, ia membunyikan sirine tanda bahaya, untuk memberikan jalan pada mobil mereka.
.
.
.
Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di salah satu rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. Fajar menggendong Jingga dengan berlari melewati koridor rumah sakit. Wajahnya sudah panik tiada terkira saat menuju IGD.
“Tolong, tolong istri saya” ucapnya saat perawat tiba di hadapannya dan membawa satu kasur untuk pasien.
“Baik, silahkan bapak tunggu di depan. Kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu” ucap perawat dengan menutup pintu ruang IGD.
***
Kediaman Dirgantara.
Kabar tentang Rumah sakit Kasih Ibu, yang mengalami kebakaran sudah sampai di kediaman Dirgantara. Bu Nadin, tertunduk lemas tepat di ruang keluarga. Sekelebat bayang-banyang buruk menghantui pikirannya. Hatinya resah takut sesuatu hal buruk terjadi pada menantu dan cucunya.
Ia terduduk dengan lunglai di atas marmer yang dingin. Mendadak kakinya terasa lemas seakan tak bertulang. Kaki itu tak memiliki kekuatan untuk bertumpu. Nafasnya turut tersendat.
Hal yang sama juga di alami Oma. Ia terduduk dengan tatapan kosong, membayangkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi pada keluarganya. Terlebih kehadiran penerus dari Dirgantara yamg telah lama di damba.
Pak Angga masih diam seribu bahasa. Ia duduk di kursi kebesarannya menerka-nerka segala kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran yang tiba-tiba terjadi di rumah sakit. Jemarinya saling bertautan di depan dada dengan tatapan yang menghunus tajam. Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu.
“Nyonya minumlah” Wima datang membawakan dua gelas air putih menyerahkan secara bergantian pada Oma dan Bu Nadin. Ia meminumkan satu persatu pada dua wanita beda generasi tersebut.
__ADS_1
“Papa, ayo kita ke rumah sakit. Aku ingin melihat kondisi Jingga saat ini” rengek Bu Nadin dengan tatapan nanar.
“Kenapa nasib buruk slalu menimpa Jingga. Kasihan anak itu. Sejak kecil hidup sebatang kara tanpa sanak dan saudara hingga besar pun masih sering celaka” Desis Oma menambahkan. Matanya berembun membayangkan segala kesusahan yang telah di alami cucu menantunya.
“Pah, ayo kita ke rumah sakit!” instruksi Bu Nadin dengan menggoyangkan tubuh suaminya pelan.
“Aku akan mengusut semua ini. Aku akan memastikan apa yang terjadi pada rumah sakit kasih ibu murni karena kebakaran atau karena kesengajaan yang mengakibatkan terjadinya kebakaran” Desis Pak Angga kemudian di tengah lamunannya.
Tanpa banyak kata, keluarga Dirgantara lekas menyusul Jingga dan Fajar ke rumah sakit Dian Husada, yang letaknya tak jauh dari tempat terjadinya kebakaran. Mereka berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju ruang rawat Jingga. Sepanjang perjalanan raut wajah tegang dan resah menyelimuti mereka.
.
.
.
Fajar masih terdiam di sudut ruang tunggu. Ia duduk di lorong rumah sakit dengan perasaan bersalah, tak kala meninggalkan Jingga sendirian. Kenapa bisa selengah itu, meninggalkan sang istri sedang bahaya jelas mengintai. Rumah sakit yang menurutnya tempat aman sebagai penyelamat setiap manusia, namun tidak berlaku untuk istrinya. Jingga harus terkapar tak berdaya karena terluka di sana.
Berkali-kali ia menghela nafas yang panjang, menanti dengan resah kabar dari Dokter yang telah memeriksanya.
Kalian tanya Reza di mana?
Reza terdiam, ia duduk di susut lorong yang berbeda. Matanya berembun membayangkan kejadian yang baru saja terjadi pada Nona mudanya. Ia teringat kejadian beberapa tahun silang. Kebakaran yang telah merenggut paksa kehidupan keluarga kecilnya yang damai. Hingga harus berujung pada hidup di panti asuhan. Orang tua Reza, meninggal saat terjadi kebakaran yang menimpa rumahnya.
****
Masih dalam alam yang sama. Sebuah senyuman menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Ia tertawa dengan sempurna ketika mendengar kabar yang terjadi pada Jingga dan Fajar hari ini. Raut wajah puas terpancar sempurna di sana.
Masih dalam kursi kebesaran yang ia duduk’ki. Ia memutar-mutar kursi tersebut tanpa berniat untuk turun dari sana. Tubuhnya berputar-putar dnegan tangan yang menengadah ke atas dan senyum menggelegar.
“Bagus. Kerja yang bagus”
“Saya suka cara kalian” ia kembali tersenyum dengan menatap satu persatu anak buahnya yang berada dalam ruangan.
“Dari sini kita tahu, siapa yang lebih kuat” Hermawan mulai bangkit dari tempat duduknya menghampiri satu persatu anak buah yang ada di depannya.
“Ini hanya permainan awal, tapi lihat mereka, hah! mereka bahkan sudah tak berdaya”
“Fajar...”
“Fajar, rupanya kau tak sekuat yang aku bayangkan. Kesalahanmu sudah dalam genggamanku” ia tersenyum sinis, dengan perasaan remah pada pihak lawannya.
__ADS_1
“Tapi Tuan, kita sudah membahayakan banyak nyawa untuk hari ini” ucap salah satu anak buahnya dengan menunduk.
“Lantas kenapa? Kamu pikir aku peduli dengan hal itu? Siapa yang salah? Siapa yang memulai? Dan siapa yang berani merenggut paksa kebahagian anakku? Heh?”
Di luar dugaan, Hermawan menarik kepala sang anak buang dengan bringas ketika sang anak buah dengan berani mengatakan hal itu padanya.
“Pergi!”
“Aku akan memberikan bonus lebih untuk kinerja alian hari ini” instruksi Hermawan dengan tersenyum menggelegar.
Tanpa banyak kata, dan tak ingin dalam masalah semua anak buah yang telah selesai menjalankan misi tersebut lekas pergi meninggalkan ruangan sang atasan. Yang terpenting dalam benaknya saat ini hanyalah uang dan bonus untuk dapat melanjutkan kehidupan ini.
Sementara Hermawan. Pria itu kembali melanjutkan tawanya seolah sudah menang dalam pertandingan ini. Hermawan seperti orang gila.
.
.
.
Kembali ke Rumah Sakit Dian Husada.
Derap langkah panik mulai terdengar dari lorong yang sepi. Ketiga anggota keluarga Fajar sedang datang menuju ruangan Jingga dengan perasaan was-was. Mata mereka memandang Fajar yang tampa resah duduk di sudut lorong rumah sakit.
“Bagiamana kondisi Jingga?” tanya Bu Nadin panik, keringat dingin mulai singgah di pelipisnya.
“Jingga tidak baik-baik saja. Ia mengalami cidera di sekujur tubuhnya. Lebih dari itu dokter memprediksi jika ia mengalami patah tulang kaki” Terang Fajar dengan raut wajah yang sedih.
Oma hanya bisa menganga mendengar penuturan cucunya. Ia terdiam syok untu beberapa saat.
“Lantas bagaimana dengan kandungannya?” tanya Pak Angga kemudian.
“Bayi dalam kandungannya selamat, tapi Jingga dalam kondisi yang tidak baik-baik saja” sudut mata Fajar hampir meleleh. Ia menatap ke langit-langit rumah sakit. Mencoba untuk bersikap tenang dan kuat di hadapan keluarganya.
“Dengan keluarga pasien Jingga?” seorang Dokter keluar dari IGD. Tanpa banyak kata Fajar lekas datang menghampiri suara tersebut.
“Iya Dok, saya suaminya”
“Pasien akan di pindahkan di ruang rawat setelah ini. Silahkan di urus administrasinya” ucap Dokter kemudian.
“Lakukan apapun yang terbaik untuk menantu saya” jawab Pak Angga menambahkan. Pria paruh baya tersebut turut datang menghampiri Dokter yang menangani Jingga.
__ADS_1
Jingga sudah di pindahkan di ruang VVIP, seluruh keluarga sedang berada di sampingnya menunggu wanita hamil itu untuk membuka mata. Rasa cemas dan resak menyelimuti keluarga tersebut tak kala Jingga tak kunjung untuk membuka matanya.
“Fajar, apa yang terjadi pada istrimu? Ini sudah lebih dari tiga jam kita menunggunya. Kenapa Jingga tak kunjung membuka matanya?”