
“Maaf apa kamu yang mengirim pesan padaku? Di mana anakku?”
Hening, suasana malam itu semakin hening tanpa suara, hanya hembusan angin yang berasal
dari pohon-pohon di samping gedung hotel. Beberapa menit kemudian pria itu berbalik arah, alangkah terkejutnya Jingga ketika melihat siapa yang sedang di depan matanya.
“Tuan Hermawan?” ucapnya masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Hermawan hanya bisa tersenyum dan sesekali menyesap cerutu di tangannya. “Akhirnya aku
bisa ketemu kembali denganmu” ia tersenyum miring ketika mendapati wajah Jingga yang mendadak menjadi pias.
“Tenanglah jangan takut. Aku tidak akan berbuat jahat padamu!” serunya dengan mengikis jarak untuk mendekat ke arah Jingga.
“Apa maksud semua ini Tuan?”
“Apa yang kau inginkan dariku?” Jingga kembali memundurkan langkahnya ke belakang, satu tangannya berpegang pada sebuah tembok yang ada di sisi kanannya.
“Menurutlah apa yang ku mau, jika masih tetap ingin hidup di dunia”
Jingga terdiam dan menunduk, rupanya sebuah kesalahan besar ketika menerima penawaran
ini. Sekarang justru dia menambah masalah baru untuk keluarga Dirgantara. Hilangnya Gendhis, sakitnya Oma dan di tambah lagi dia yang harus terkurung di sini.
“Dimana anak saya?”
“Dimana Gendhis?”
“Oh sebuah nama yang bagus untuk seorang anak bayi yang masih merah. Gendhis, Gendhis yang artinya gula manis menurut bahasa Jawa, namun sayang nasibnya tak semanis namanya!”
Hahahaha
Hermawan Tertawa setengah mengejek.
Jingga memberanikan diri untuk menatap lelaki yang ada di depannya. Matanya mengedar
melihat sekitar hotel. Kamar-kamar di sana begitu sepi, seperti tidak berpenghuni, bahkan lantainya berdebu membuat kaki dapat dengan mudah
terpeleset jika tidak hati-hati dalam melangkah.
“Dimana anakku!” Jingga berteriak, ini kali pertama ia meninggikan suara dengan orang yang lebih tua darinya.
Hahaha Haha....
Suara tawa Hermawan menggelegar mengisi ruangan tersebut. Ia kemudian membuang
cerutu yang ada di tangannya ke lantai, menginjak dengan satu kakinya hingga remuk menjadi beberapa bagian.
“Tenanglah, ikuti semua alur main yang aku tawarkan jika ingin selamat”
“Aku yakin ini hanya akal-akalanmu saja, untuk menjebakku!” Jingga berbalik arah, hendak menuju lantai satu meningalkan Hermawan yang masih tertawa dengan bermain cerutu di tangannya.
“Kerjakan!” perintahnya kemudian.
Jingga masih melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan hotel itu, namun di lantai satu
tepatnya di bawah tangga beberapa anak buah yang memiliki tubuh besar dan tinggi telah bersiap. Mereka menangkap Jingga dengan paksa saat itu juga. Acara saling mengejar tidak dapat di elakan, sejauh apapun usaha Jingga untuk menghindar tetap saja tenaganya tak kuat untuk melawan.
“Lepaskan aku, lepaskan aku!” serunya dengan berteriak.
“Tolong! Tolong...tolong”
Sekuat tenaga Jingga berteriak meminta pertolongan pada siapapun yang ada. Namun
sayang, tak ada jawaban. Hanya keheningan yang berbicara malam itu.
“Bawa dia!” perintah Hermawan kemudian.
Tanpa pikir panjang beberapa lelaki tersebut lekas membawa Jingga ke salah satu kamar yang ada di hotel.
“Ikat dia!” perintahnya kembali dengan garang.
Tanpa pikir panjang semua anak buah Hermawan mulai bekerja, mereka mengikat tangan dan kaki Jingga saat itu juga.
“Lepaskan aku!”
__ADS_1
“Lepas!”
“Lepas, apa salahku padamu!” teriaknya dengan meronta-ronta sekuat tenaga.
“Tenang, tenanglah nak. Jangan berteriak-teriak seperti ini. Percuma”
“Percuma..”
“Kau paham. Percuma!”
“Di sini tak ada satupun orang yang tinggal. Hotel ini telah lama tak beroperasi. Hotel ini juga memiliki kesan yang angker bagi penduduk sekitar sini. Teriakanmu hanya membuat mereka berfikir jika kamu adalah seorang hantu!”
Hermawan mengikis jarak berbicara dengan dekat dan penuh penekanan, sejurus kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“Apa maumu?!” tanya Jingga dengan kesal. Wanita itu mulai kehilangan kesabaran untuk
bersikap lembut.
“Kau tanya mauku?”
“Mauku, hanya satu”
“Hanya satu” jemarinya menunjukan satu ruas yang terangkat ke atas.
“Aku mau suamimu. Aku mau kau meningalkan dia untuk selama-lamanya”
“Tidak!” jawabnya dengan tegas.
“Tidak, itu tidak mungkin. Kami berdua saling mencintai, tidak akan yang bisa memisahkan kami berdua!” teriak Jingga tepat di hadapan wajah Hermawan.
“Oh ya?” kita lihat saja, sejauh mana kau mampu bertahan akan keputusanmu itu”
“Pastikan semua aman dan go” ia memberikan perintah pada anak buahnya untuk memperketat
penjagaan dan meninggalkan Jingga seorang diri di kamar itu. Mereka mengunci pintu dari luar, tak lupa merantai tangan dan kaki Jingga sebagai cara pengamanan ganda.
Hermawan mulai berlalu meninggalkan hotel tersebut untuk kembali ke rumahnya. Ia bersiap
untuk menyusun rencana yang akan d ambil setelah ini bersama dengan anak dan istrinya.
.
.
Azan subuh mulai samar-samar terdengar di telinga. Susi dengan bersusah payah mencoba untuk membuka matanya. Ia hendak membangunkan Jingga untuk menunaikan
sholat. Dalam benaknya sedikit aneh, tidak biasanya anita itu belum bangun. Biasanya Jingga akan bangun lebih awal bahkan melebihi pelayan yang ada di rumah utama.
“Non bangun sudah subuh” Susi muli mencari keberadaan Jingga pa itu. Ia pergi ke dapur, ke kamar mandi dan juga ke kamar Jingga untuk mengetahui posisi tepatnya.
“Dimana Non Jingga? Kok tidak ada di kamarnya?” Susi mulai berjalan menuju kamar mandi, perasaannya sudah tidak enak. Takut jika terjadi sesuatu hal buruk pada majikannya. Jingga dari kemarin belum sempat makan. Ia mengatakan jika tak nafsu, Susi khatir wanita itu akan pingsan di tempat yang tak di ketahui.
Susana kediaman Dirgantara terlihat lebih sepi dari biasanya. Penduduk di sana sedang
sibuk akan masalah yang terjadi. Fajar belum pulang dari semalam. Oma masih belum sadarkan diri ri ruang ICU. Bu Nadin kondisinya masih lemah akibat hilangnya Gendhis. Sementara Pak Angga, peria itu masih di rumah sakit menemani istrinya hingga saat ini.
Susi memilih untuk mengatakan pada satpam yang bertugas, mereka semua lekas mencari
keberadaan Jingga tanpa melapor terlebih dahulu pada Fajar. Mereka ingin memastikan keberadaan Jingga ada di rumah atau tidak terlebih dahulu. Hingga pukul delapan pagi, seluruh pelayan dan penjaga kemanan rumah, tak kunjung untuk menemukan Jingga. Semua penjuru rumah sudah mereka susui, namun sayang hasilnya nihil. Jingga tak kunjung di temukan.
Karena sudah merasa cemas dan lelah, Susi beserta penjaga keamanan memilih utuk
menghubungi Fajar, tentu mereka semua tahu resiko yang akan di dapat setelah ini.
“Tuan, mohon maaf Non Jingga hilang!” suara itu terdengar bergetar dan mengudara di
balik benda pipih yang ada di telinga.
“Hah! Apa yang kau katakan?”
“Bagaimana bisa Jingga hilang?” Fajar murka, ia lekas berbalik arah menuju kembali ke rumahnya dengan segera. Mobil melaju dengan kecepatan penuh membelah jalanan Surabaya yang terasa lenggang saat itu.
Prak....
Ia memukul meja yang ada di ruang tamu, satu tangannya berpegang pada kepala yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
“Bagiamana bisa Jingga hilang seperti ini? Heh! Kalian ke mana saja?”
“Bukankah sudah ku katakan perketat keamanan di sini. Keluarga ini sedang tidak baik-baik
saja. Musuh sedang mengintai kita, entah motif apa yang mereka gunakan!” Fajar terlihat sangat marah, belum selesai kehilangan Gendhis sekarang ia harus di hadapkan atas hilangnya sang istri tercinta.
“Buka kemera CCTV sekarang!” titahnya dengan setengah berteriak, ia menghempaskan
tubuhnya di atas kursi yang ada di ruang tamu.
“Kemana kau pergi sayang!” rintihnya dalam hati, ia sedang menahan sesak di dadanya.
.
.
.
Hotel tempat penyekapan Jingga.
Jingga masih terjaga hingga pagi datang. Wanita itu sama sekali tak tertidur bahkan sampai saat ini. Sorot matanya di penuhi akan rasa dendam yang membara.
“Selamat pagi cantik, kamu pasti sudah lapar bukan. Makanlah! Tuan kami sedang berbaik
hati memberimu makanan pagi ini” dua bodyguard yang memiliki tubuh besar sedang
datang membawa sekotak nasi putih beserta segelas air minum.
“Tidak!” elak Jingga dengan tegas.
“Makanlah dulu, akan banyak peristiwa yang kau alami setelah ini”
“Tidak!” serkas Jingga, ia masih menggaungkan satu kata yang sama untuk menolak makanan
tersebut.
“Aku bilang makan!” mata salah satu bodyguard tersebut melotot, ia memasukan dengan
paksa nasi tersebut di mulut Jingga. Nasi yang hanya di beri taburan garam tanpa ikan dan juga sayuran.
“Makan. Aku bilang makan!” tangan itu masih terulur terus menerus memasukan nasi ke
dalam mulut Jingga. Sementara salah satu bodyguard menarik paksa kerudung Jingga
ketika anita itu tak kunjung menelan nasinya.
“Makan!”
Dengan hati yang teramat sangat dongkol, Jingga menelan butiran-butiran nasi tersebut
ke dalam kerongkongannya. Matanya berair tak lagi bisa menahan genangan tersebut.
Ingin berteriak namun rasanya juga percuma.
“Makanlah, setelah ini Taun kami akan datang ke mari untuk memberi penawaran!”
Tiga puluh menit berlalu, dua pelayan tersebut telah meninggalkan Jingga an kembali
menguncinya dengan tangis. Ia menunduk menyalahkan diri sendiri. Tidak seharusnya ia bertidak gegabah seperti ini. Yang ada kecerobohannya saat ini akan membuat semua orang semakin panik dan khawatir.
Tuk..tuk...tuk...
Suara ketukan sepatu serang wanita mulai terdengar pagi itu. Langkahnya terkesan
pelan namun pasti. Perlahan hentakan kaki itu semakin keras dan berhenti di
depan kamar.
“Buka!” perintahnya dengan segera.
Ia berjalan mendekat dengan cukup elegan layaknya seorang model.
“Dahlia!” ucap Jingga, wajahnya mendongak menatap pada wanita tersebut.
“Iya ini aku. Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sangat hancur bukan?” ia tertawa
__ADS_1
dengan keras terbahak-bahak.