JINGGA

JINGGA
151


__ADS_3

“Bagiamana?”


“Pak ini ada ponsel yang biasah di pakai Asih” terang salah satu pelayan yang ada di rumah Fajar. Ia turut serta dalam rombongan yang di pimpin oleh Reza.


“Sial, seperti mereka sengaja membuang ponsel Asih” Reza mengambil benda pipih tersebut dan


mengamankannya.


Pencarian baby Gendhis terus di lakukan hingga malam. Sesuai rencana Jingga dan Susi di pulangkan sementara. Fajar membagi tugas dengan segera. Ada yang bertugas menjaga


keamanan di rumah sakit. Ada yang bertugas menjaga keamanan di kediaman rumah


utama dan ada sebagian lagi di kerahkan untuk mencari Gendhis.


Malam itu ia begitu kalut. Semua musibah datang secara bersamaan. Ia bahkan tak berselera makan dari tadi pagi. Bayang-bayang bayi Gendhis yang sedang kehausan menari-nari


dalam benaknya.


Jingga hanya bisa menangis di ruang tamu. Hari ini wanita itu begitu rapuh tak berdaya. Untuk pertama kalinya terpisah dengan Gendhis dalam waktu yang lama. Air mataya meleleh tanpa


suara. Beberapa pelayan datang mendekat untuk menawarkan makanan, namun tak ada satupun yang ia terima. Selera makannya menguap begitu saja.


.


.


.


“Bisa diam tidak? Diam! Diam! Kamu berisik sekali” bentak seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dengan cantik, jemarinya dengan lihai bermain ponsel. Menggeser gambar demi gambar. Ia sedang menertawakan berita yang beredar hari ini.


Oek..oek...oek...


Lagi-lagi suara Gendhis mengurai mengisi rumah yang berukuran tidak terlalu besar. Sebuah rumah yang letaknya juah dari kawasan penduduk. Rumah terpencil dengan bentuk yang aneh.


Tidak ada jendela di sana. Hanya ada beberapa perabotan tua mengisi kekosongan. Tak banyak pintu yang ada. Mungkin hanya ada satu saja. Sebab Asih sendiri di tutup matanya ketika keluar dari mobil. Penutup matanya baru di buka ketika


mereka sudah berada di dalam kamar yang berukuran sempit dan cenderung pengap.


Oek...oek...oek..


Lagi-lagi Gendhis menangis, membuat perempuan paruh baya tersebut stres sendiri mendengar tangisan bayi itu.


“Hah kenapa kamu berisik sekali?” matanya menyorot tajam.


“Maaf Nyonya, sepertinya Gendhis kehausan, ia dari tadi tidak di berikan susu” terang Asih dengan hati-hati. Ia masih setia untuk mengendong anak majikannya.


“Menyusahkan saja!” selorohnya kemudian dengan mendengus kesal.


“Keluarkan kami dari sini Nyonya, agar anada tidak mendengar lagi tangisan bayi ini”


Plak..plak...plak...


Wanita itu menampar Asih, tak terhitung berapa kali Asih menerima tamparan demi melindungi Gendhis.


“Ambil ini” ia melemparkan sekotak susu formula dengan botolnya ke arah Asih.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Asih lekas menerima sekotak susu tersebut, ia dengan cekatan membuat susu demi Gendhis bertahan hidup.


“Mama bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar?” suara panggilan telfon dari seorang wanita yang jauh dari sana.


“Tentu saja, seperti yang kamu mau. Semuanya berjalan dengan lancar. Bagaimana kondisi yang di sana?”


“Hah, sayangnya tidak tepat sasaran, bukannya Jingga yang menaiki mobil tersebut justru Omalah yang naik”


“Baguslah biar mereka semua musnah”


“Kita harus menyusun ulang rencana jika seperti ini” kedua wanita tersebut saling tertawa renyah.


Hingga menjelang pukul dua dini hari, Jingga tak kunjung dapat memejamkan matanya. Ia masih terjaga menunggu kabar dari sang anak. Tangannya tak bisa lepas dari benda pipih yang kini berada di depannya.


Ting...


Satu pesan masuk. Pesan yang berisi suara bayi sedang menangis dan tanpa kata. Mata Jingga lekas membola seketika saat mendengarkan suara itu.


“Gendhis, itu suara Gendhis. Kenapa dia menangis? Pasti dia kehausan atau popoknya sudah penuh” ucap Jingga dalam hati. Ia semakin sedih ketika mendengar suara itu. Pikirannya bertambah resah.


Jingga dengan segera melakukan panggilan pada nomor baru itu, namun sayang tak kunjung di angkat. Justru pemilik nomor membiarkan begitu saja. Jingga kemudian memilih untuk mengirim pesan.


“Jangan sakiti anakku!”


Belum pulih hatinya dihantui kecemasan akan keadaan Oma, kini di hadapkan dalam situasi yang rumit. Rasanya wanita itu ingin menyerah saja akan takdir yang terjadi hari ini.


Jingga terdiam untuk beberapa saat, ia sedang menimbang-nimbang akan tawaran yang di berikan dalam pengirim nomor asing itu.  Ia menggenggam erat ponselnya. Berusaha untuk menelan ludahnya yang terasa tersendat di


kerongkongan.


“Sebaiknya aku ikuti mau orang ini, demi anakku. Demi keselamatan Gendhis” ia masih gusar untuk


Perlahan Jingga bangkit dari tempatnya duduk. Ia berjalan menuju pintu utama yang masih terbuka.


“Mas maafkan aku, izinkan aku untuk menyelamatkan anak kita. Aku tidak akan lama, setelah Gendhis di tanganku, aku akan segera pulang. Tolong jangan di cari” ucap Jingga bermonolog dengan hatinya. Ia lekas mengambil tas selempang kecil yang ada di sebelahnya dan


segera beranjak meningalkan rumah utama.


Ia tak sabar menunggu hingga pagi datang. Saat ini yang terbesit dalam benaknya adalah Gendhis yang sedang merintih dan menangis-nangis. Jingga yang sedang di landa rasa takut dan


cemas tanpa pikir panjang mengikuti apa yang di perintahkan oleh pengirim pesan.


Ia melangkah dengan pelan, bahkan nyaris tak bersuara ketika melewati Susi yang sedang terlelap dalam mimpi.


“Maafkan aku Sus, aku yakin besok saat terbangun kau pasti dalam masalah besar. Tapi ini demi anakku!” ia melangkah melewati Susi, kakinya berjinjit untuk meredam suara. Hal yang


sama juga di lakukan ketika keluar dari rumah. Jingga memilih melewati pintu samping. Pintu yang terhubung dengan taman di rumah itu.


Benar saja, beberapa waktu yang lalu pesan dari orang asing tersebut menawarkan untuk


mempertemukannya dengan baby Gendhis. Mereka menyanggupi itu namun dengan


syarat Jingga harus berangkat sendiri tanpa pengawal maupun pelayan yang lainnya. Satu hal yang terpenting, Jingga harus berangkat malam itu juga.


“Mas jangan pernah marah denganku. Ini hanya sebagian kecil dari wujud kasih dan sayangku untuk putri kita. Tolong apapun yang terjadi maafkan aku. Aku hanay akan pergi sebentar saja” ia memegangi dadanya yang bergemuruh, tak dapat di pungkiri ia ragu akan keputusan yang di ambilnya ini.

__ADS_1


Seorang Ibu, ia akan melakukan apapun demi untuk keselamatan sang anak. Ia pasti akan rela menukar apapun yang ada jika sudah berkaitan dengan keselamatan buah hatinya. Jingga


mulai menaiki taxi on line yang di pesannya saat baru saja keluar dari kediaman Dirgantara.


Satu jam perjalanan, lantunan sholawat dan segenap doa-doa tak henti ia rapalkan memohon keselamatan untuk semuanya. Matanya mengedar menatap sekeliling jalanan yang tampak lenggang bahkan cenderung sunyi sepi, megingat ini sudah lebih dari tengah malam.


Jingga berhenti di sebuah hotel tua. Ia sediri tak tau di mana letak persisnya sebab ini kali


pertama ia melewati jalanan tersebut. Matanya memindai sekitar yang tampak sangat sepi, gelap dan cenderung mencekam.


“Bu mohon maaf, apakah benar ini tujuannya?” tanya sang spir taxi yang merasa ragu ketika meraka baru saja sampai di sana.


“Berdasarkan pesan yang saya baca, memang benar di sini lokasi tempatnya Pak”


“Tapi Bu, hotel ini sepertinya sudah lama tidak lama beroperasi. Lihat saja di bagian depannya.


Banyak sekali tanaman yang sudah terbengkalai” sopir tersebut mengarahkan lampu mobilnya untuk menunjukan keadaan sekitar hotel.


“Tapi saya harus masuk ke sana Pak” Jingga masih kekeh dengan pendiriannya.


“Baiklah, jika memang itu sudah menjadi keputusan Ibu. Hati-hati, saya permisi dulu”


Jingga lekas menuruni mobil tersebut, tangannya mendadak dingin, ia melangkah dengan perasaan meragu. Matanya memastikan semua keadaan di sekitar seperti apa.


Ting.


Satu pesan kembali masuk. Jingga di minta untuk masuk ke dalam hotel tua. Pengirim pesan menyuruh Jingga untuk masuk melalu pintu samping yang ada di sebelah kanan. Bersebalahan langsung dengan kolam renang kecil. Banyak sekali ranting-ranting yang


memanjang menghalangi perjalananya. Hatinya semakin resah, keyakinannya mulai menurun.


“Bagaiman jika ini hanya orang yang iseng?”


“Bagiamana jika ini hanyalah sebuah jebakan?” sederet pikiran buruk kembali datang merasuki


pikirannya. Tapi rasa cinta dan kasihnya pada Gendhis meluluhkan semuanya. Ia kembali melangkah dengan awas.


Ting


Naik ke lantai dua.


Pesan kembali masuk ke dalam ponselnya, ketika ia sudah berada dilantai satu hotel. Penerangan masih berfungsi sebagaimana mestinya. Hanya saja tidak banyak lampu yang menyala. Hanya


beberapa saja, selebihnya gelap gulita tanpa cahaya. Dengan hati-hati jingga mulai menaiki satu persatu anak tangga. Kondisi tangga yang berdebu membuat Jingga hampir saja kehilangan keseimbangan untuk jatuh. Untungnya ia lekas


berpegangan pada pinggiran tangga. Ia kembali melangkah dengan hati-hati bermodalkan cahaya senter ponselnya. Telinganya mencoba untuk mencari sumber suara tangis bayi.


Jingga menghentikan langkahnya saat berada di lantai dua. Ia mulai menetralkan pernafasannya


setelah melewati anak tangga yang cukup panjang untuk ukuran sebuah tangga hotel. Dengan sedikit terengah-engah ia memegang dadanya.


Ting...


Tiba-tiba seluruh lampu di lantai dua menyala. Jingga lekas mengamati area sekitar. Jantungnya bekerja lebih keras dari biasanya, Ini kali pertama ia di hadapkan dalam situasi


seperti ini. Seseorang pria nampak berdiri membelakangi Jingga, ia memakai

__ADS_1


pakaian serba hitam dan meletakkan tangannya di saku celana.


“Maaf apa kamu yang mengirim pesan padaku? Di mana anakku?”


__ADS_2