
“Mas...”. Suara lembut yang mendayu-dayu membuat hati yang panas lekas meleleh seketika.
“Hmm, diam ya. Tidurlah ini sudah malam. Kamu pasti lelah sekali bukan?”. Jawab Fajar, masih dalam posisi yang sama.
“Mas, kau butuh sesuatu?”.Sesungguhnya banyak pertanyaan yang ada dalam benak Jingga, saat itu. Tapi sepertinya Fajar enggan untuk membahas semuanya saat ini.
“Aku hanya butuh kamu saat ini dan selamanya”. Fajar sedikit merenggangkan pelukan tangannya, ia menatap lekat wajah cantik Jingga, kemudian tersenyum manis sekali. Fajar mencium sekilas bibir manis, suatu rutinitas yang harus mereka lakukan sebelum tidur.
“Tidur ya sayang, untuk malam ini kita istirahat dulu sampai kamu benar-benar pulih kembali”.
Kini kedua pasangan pengantin yang tak lagi baru sedang menikmati indahnya jatuh cinta yang di balut ikatan sakral pernikahan. Saling berpelukan dan memberikan kenyamanan adalah suatu hal wajib yang mereka sepakati bersama.
.
.
.
Sura kicauan burung sudah saling bersahutan, desiran angin pagi yang berasal dari taman samping rumah mulai menyapa di balik jendela besar yang telah terbuka. Jingga mulai membuka matanya dengan pelan. Ia tersenyum ketika melihat wajah damai sang suami masih terlelap di sampingnya.
Perlahan Jingga, bergerak hendak bangun dari sisi ranjangnya. “Sayang mau kemana?”. Fajar masih menutup matanya, tapi satu tangan menahan Jingga untuk beranjak dari tempat tidur.
“Mau bangun mas ini sudah siang. Mas Fajar tidak ke kantor hari ini?, biar aku siapkan semuanya dulu”. Ucapnya dengan pelan, satu hal yang paling Jingga suka ketika pagi, yakni mengelus lembut wajah suaminya. Rahangnya yang tegas dan guratan wajah yang simetris membuat tangan mungilnya tak bisa berhenti menyusuri bentuk wajah suaminya.
“Aku rasa hari ini tida perlu ke kantor, aku mau menemani istriku saja di rumah”. Kini ia mulai membuka mata, tapi masih enggan untuk bangun dari ranjangnya. Fajar meletakkan satu tangannya sebagai tumpuan kepala agar tak menyentuh bantal. Tubuhnya di miringkan tepat berhadapan dengan sang istri.
“Tapi ini kan buan hari libur mas, kenapa tidak ke kantor?”.
“Karena aku ingin menemani istri yang cantik ini”. Fajar menoel lembut hidung istrinya.
“Mas, aku sudah tidak papa, lihat tubuhku sudah jauh lebih baik bukan. Aku juga nanti akan bekerja, siapa yang menemani Mas Fajar di rumah”.
“Siapa yang menginginkanmu untu kembali bekerja sayang? Setelah apa yang terjadi padamu seperti ini, kamu pikir aku masih memberimu izin untuk bekerja?”. Mata Fajar menatap istrinya dengan memohon.
__ADS_1
“Tapi Mas, kontrak kerjaku masih dua bulan lagi d Resto itu”. Ia menunduk meremas kedua tangannya.
“Sayang tenanglah, aku akan berbicara dengan pemilik Resto, ini prihal keselamatan kamu. Aku tak mau terjadi apa-apa padamu. Kamu juga adalah istri Fajar Dirgantara, bagaimana kalau ada rekan kerjaku yang mengenalimu. Please ya tolong menurut sama suami, ini juga bagian darti salah satu menjaga marwah suami”. Fajar mengelus lembut pipi istrinya dengan pelan. Mata mereka saling menatap sekan sedang berbicara dan memohon.
Jingga masih diam saja, ia bingung harus menjawab apa.
“Apa masih sakit?”. Fajar melihat beberapa luka yang ada di tubuh Jingga, saat ini sudah berangsur menghilang sejak di oleskan salep oleh Bu Nadin semalam.
Alih-alih menjawab, Jingga hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Jika sudah tidak sakit, mari kita segerakan projek baru yang di tunggu keluarga ini”. Fajar kembali menarik lembut tangan istrinya, membawanya bersembunyi di bawah selimut.
.
.
.
Menjelang pukul sepuluh pagi, keduanya baru turun dari kamar. Seperti biasah tatapan Oma dan Bu Nadin slalu terlihat aneh, kerap kali mereka saling melempar senyum, senyum yang di iringi rasa ingin tahu yang luar biasah.
“Sudah nyonya Oma, ini sudah lebih baik”, Jawabnya dengan sopan.
“Ya sehat dong Oma, kan rajin olahraga makanya cepet sehat”. Goda Bu Nadin pada anak dan menantunya.
“Fajar sebaiknya Jingga, tidak perlu bekerja lagi. Lagian di rumah juga semua sudah terpenuhi. Apa jangan-jangan kamu tidak memberinya nafkah hingga dia harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya?”.
“Tidak Nyonya Oma, tidak seperti itu. Mas Fajar baik sekali, mas Fajar juga memberiku uang belanja yang lebih, hanya saja ini memang permintaan Jingga sendiri untuk tetap ingin bekerja”.
“Jika kamu ingin tetap berkarya setelah menikah, kamu bisa membuka usaha sendiri. Mintalah pada suamimu yang kaya raya untuk modal kerja, masak istri pimpinan Dirgantara Grup jadi pelayan”. Dengus Oma dengan kesal, terlebih apa yang baru saja Jingga alami kemarin.
“Hari ini juga aku akan berbicara pada pemilik Resto untuk meminta izin Jingga tak lagi bekerja”.
“Oh syukurlah dengan begitu kalian akan lebih fokus untuk memiliki anak. Tapi bagaimana jika tidak di beri izin sama atasan Jingga?”.
__ADS_1
“Aku akan membeli Resto tersebut saat itu juga”. Tegas Fajar dengan menarik tangan Jingga dan berniat membawa keluar.
.
.
.
Pagi menjelang siang, sepasang suami istri yang sedang kasmaran sedang menikmati padatnya jalanan. Jika dulu perjalanan mereka di habiskan dengan diam seribu bahasa, maka tidak dengan sekarang.
Sepanjang perjalanan Fajar memegang erat tangan Jingga, kerap dalam beberapa kesempatan ia mencium punggung tangan tersebut dengan mesra.
Banyak obrolan yang terjadi sepanjang perjalanan salah satunya rencana untuk bulan madu mereka setelah ini.
Cit....
Tangan Fajar, masih menarik lembut istrinya. Pagi ini Jingga datang dengan berbeda. Ia akan menunjukan jati dirinya sebagai istri Fajar Dirgantara.
Jingga memakai gamis warna biru muda, gamis simple namun terlihat elegan tidak banyak warna dan aksesoris di sana. Hanya terdapat tali di kedua sisi dan sedikit sentuhan bros kecil di bagian depannya. Ia melangkah dengan anggun, saling bergandengan tangan.
Semua mata tertuju pada Jingga, tak terkecuali para rekan-rekan sesama pelayan yang ada di sana.
“Saya ingin bertemu Pak Krisna”. ucap Fajar pada salah satu petugas kasir di sana.
“Baik pak silahkan tunggu”.
Kini Jingga datang sebagai tamu, ia tak lagi melayani pengunjung yang datang. Mereka duduk di salah satu kursi VVIP yang biasah Fajar pesan.
Krisna yang mendapat tamu penting segera datang ke ruang yang telah di tunjukan oleh karyawannya. Seperti biasah ia melangkah dengan pasti. Wajahnya yang ganteng dan ramah slalu tersenyum pada siapa saja, baik itu pada pelayan maupun pada tamu, ia tak pernah membeda-bedakan orang dari latar belakang finansialnya.
“Permisi apakah anda mencari saya?”. Sapa Fajar ketika baru saja memasuki ruangan VVIP tersebut.
Jingga dan Fajar menoleh ke sumber suara, tangan mereka masih saling berpegangan saat itu.
__ADS_1
“Jingga?”.