
Jingga tercengang melihat itu. Dalam hati berfikir luar biasa suamiku hal sekecil itu saja dia tahu. Tak hanya Jingga, Dokter Ambar pun di buat takjub dengan perhatian Fajar pada istrinya. Selama lebih dari sepuluh tahun menjadi Dokter kandungan, ini adalah kali pertama ia menemukan serang suami yang begitu detail perhatiannya pada istrinya.
“Silahkan naik ke atas ranjang Bu” instruksi dari dokter Ambar yang kemudian di susul dengan Jingga berjalan menuju ranjang. Tangan Fajar, dengan sigap membantu istrinya untuk duduk di ranjang pemeriksaan.
“Mas, aku bisa sendiri”
“Ini terlalu tinggi sayang, aku tidak mau kam dan bayi kita kenapa-kenapa”
“Mas belum tentu juga ada bayinya di sini. Yang jelas ada di sini tuh rawon tadi pagi” jawab Jingga dengan mengerucutkan mulutnya, seakan menambah kadar keimutan dalam dirinya. Sementara Dokter Ambar. Di buat tertawa geli melihat tingkah pasangan muda yang ada di depannya.
“Permisi ya Bu, saya oleskan dulu gelnya”
Jujur saja, saat itu hati Jingga di buat kalang kabut. Ada perasan takut dan juga was-was. Ia akan mengetahui kebenaran setelah beberapa detik kemudian.
“Pak Bu, selamat ya Bu Jingga benar sedang hamil. Ini adalah kantung janinnya. Usia kandungan sudah lebih dari empat minggu” turut Dokter Ambar, beliau sedang menggeser-geser kursor yang ada dalam monitornya.
Jingga dan Fajar masih terdiam untuk beberapa waktu, ketika mendapat kabar tersebut. Tatapan mata mereka fokus pada layar yang ada di depan mata mereka.
“Pak Bu, ini adalah janin calon anak kalian” Instruksi Dokter Ambar untuk memperjelas kondisi Jingga.
“Sungguh Dok istri saya sedang hamil?” Fajar berusaha menyakinkan kembali.
“Iya Pak, usia kehamilan sudah lebih dari empat minggu. Selamat ya Pak Bu atas kehadiran calon anaknya” tutur Dokter Ambar dengan tersenyum pada pasien pertama mereka pagi ini.
Fajar tak kuasa menahan haru. Ia memeluk istrinya saat itu juga. Tetesan air mata bahagia meluncur begitu saja mengenai pelupuk matanya. Fajar yang terkenal arogan sedang menangisi sebuah kebahagian pagi itu.
“Sayang, trimakasih ya sudah mau mengandung anakku. Trimakasih sudah menjadikan aku sebagai laki-laki yang sempurna dengan kehadiran anak di antara kita” Fajar memegang lembut tangan istrinya sebagai ungkapan ekpresi rasa bahagianya.
Dokter Ambar terdiam untuk beberapa saat, ia sengaja menepi untuk memberikan ruang gerak pada pasangan yang sedang berbahagia.
Jingga pun demikian, wanita itu tersenyum dengan haru ketika semua yang di harapkan dari keluarga Dirgantara akan segera terwujud. Mendadak susana ruang pemeriksaan menjadi haru dan romantis.
Fajar kembali membantu istrinya untuk bangkit dari tempat tidurnya. Kabar kepastian anak dalam kandungan Jingga membuatnya begitu hati-hati pada istrinya.
__ADS_1
“Dokter jadi anak saya laki-laki atau perempuan?” tanyanya ketika mereka duduk berhadapan di ruang pemeriksaan. Fajar terlalu bersemangat pagi itu sorot matanya benar-benar menunjukan kebahagian.
Dokter ambar tersenyum mendengar pertanyaan pasiennya. Sejurus kemudian ia membuka suara untuk menjawab “Mohon maaf pak, untuk saat ini kita belum bisa mengetahui jenis kelamin dari calon bayi anda. Usianya masih terlalu kecil untuk itu”.
“Karena usia kandungan Bu Jingga masih dalam trimester satu, sebaiknya Bu Jingga tidak banyak melakukan aktivitas yang berat-berat dulu. Perbanyak asupan makanan yang bergizi serta kurangi rasa stres. Saya akan meresepkan beberapa Vitamin untuk Bu Jingga”.
“Ada keluhan lain kah Bu”
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Biasanya di trimester pertama kehamilan akan cukup rewel. Ibu akan susah untuk makan dan malas untuk beraktivitas”
“Tapi menurut beberapa pelayan yang ada di rumah, beberapa hari ini istri saya semakin aktif Dok. Apakah itu berbahaya untuk janin kami?” Tanya Fajar memastikan mengingat beberapa laporan yang ia dengar dari Susi, jika istrinya banyak tingkah dan terkesan rewel beberapa hari ini.
“Saya rasa tidak masalah jika Ibu tampak aktif. Hanya saja saja saran dari saya jangan terlalu capek ya Bu. Bawaan dari bayi memang berbeda-beda. Ada yang terlihat semakin malas ketika menjalani kehamilan ada juga yang semakin bersemangat saat hamil” Terang Dokter Ambar dengan sangat rinci.
“Adakah pertanyaan lain?”
Jingga menyenggol kaki suaminya yang berada di bawah meja.
“Hem saya rasa boleh, tapi sebaiknya jangan terlalu sering untuk saat ini mengingat usia kandungan Bu Jingga yang masih sangat muda”
Wajah Jingga sudah memerah menahan malu. Bagaimana bisa suaminya bertanya hal demikian pada Dokter. Kenapa tidak mencari tahu sendiri di internet geram Jingga saat itu.
“Terima Kasih Dok” Jawab Fajar dengan entengnya. Ia tersenyum pada istrinya dengan penuh makna.
“Masih boleh sayang, asalkan pelan-pelan, aku akan lebih hati-hati dari biasanya” ucap Fajar pada Jingga tepat di hadapan Dokter Ambar. Sontak pernyataan Fajar membuat Jingga ingin menenggelamkan dirinya saat itu juga. Wajahnya tersenyum kecut menahan malu.
“Baik Dok terima kasih, kami pamit undur diri” Ucap Jingga, menyudahi konsultasi pagi itu sebelum Fajar bertanya hal-hal yang lebih parah dari ini.
.
.
__ADS_1
.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil. Fajar masih tersenyum bahagia sementara Jingga masih kesal dengan kelakuan Fajar.
“Sayang biasanya kalau orang hamil suka menginginkan sesuatu. Kamu sekarang ingin apa?” Tanya Fajar ketika ingin menjadi suami yang baik untuk istrinya.
“Apa kamu menginginkan sesuatu sayang?”
“Lumba-lumba” Jawab Jingga dengan spontan. Tatapan matanya masih lurus ke depan menikmati kemacetan pagi itu.
“Hah!?” Fajar ingin kembali memastikan keinginan istrinya.
“Apa sayang?”
“Lumba-lumba. Aku mau mas Fajar belikan luma-lumba dan di taruh di kolam ruman” ucap Jingga dengan begitu saja yang keluar dari mulutnya.
Fajar menggaruk rambutnya yang tak gatal,
“Sayang kok lumba-lumba sih? Kita cari ikan yang lain ya? Kamu boleh pilih ikan apa saja untuk di pelihara di rumah. Nanti kita buatkan aquarium khusus”.
“Gak mau, aku maunya lumba-lumba” mendadak Jingga menjadi melo, matanya berembun menahan tangis.
“Sayang....”
“Siapa suruh nanyak mau apa, sekarang aku maunya beli lumba-lumba pokoknya”
Fajar kalang kabut, ini adalah permintaan pertama istrinya. Helaan nafas berat mulai terdengar.
“Kenapa gak mau?”
“Gak cinta ya sama aku?”
Hiks...hiks... wanita hamil itu menangis dan merajuk.
__ADS_1