
“Apakah Bi Minah tahu di mana makam orang tuaku?”
Bi Minah tersenyum dan menggenggam tangan Jingga. “Aku tahu tempat peristirahatan mereka”
“Antarkan aku ke sana Bi. Aku ingin melihat makam orang tuaku. Aku ingin mengenalnya”
“Esok akan ku antar kau ke sana pagi-pagi. Sekarang pulanglah dulu hari sudah terlalu
tua untuk sekedar ziarah ke makam”
Jingga melirik jam dinding besar yang ada di dinding ruang tamu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Sungguh ini terlalu malam untuk berkunjung ke sana.
“Baiklah Bi, besok pagi-pagi sekali aku akan menjemput Bibi bersiaplah untuk itu. Oh ya
tolong jaga rumah ini dengan baik, dalam waktu dekat aku akan kembali mengambil rumah ini. Minta tolong tetap nyalakan lampu dan pendingin ruangan seperti biasah. Suamiku akan mengcover semua biaya operasionalnya. Bukankah begitu mas?”
Dengan segera Fajar menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Kami permisi dulu Bi, jangan coba-coba untuk tinggalkan aku. Aku sangat membutuhkanmu Bi, engkau sudah seperti nenekku sendiri”
Jingga berpamitan dan memeluk Bi Minah dengan erat. Ia ingin meyakinkan pada wanita
itu jika semua akan baik-baik saja, dan ia sangat membutuhkan kehadirannya.
“Pulanglah, kasihan anak kamu pasti sudah menunggu”
Jingga dan Fajar berlalu meninggalkan rumah besar miliknya. Ia bahkan tak sempat untuk
melihat isi di dalamnya. Hati Jingga terlalu rapuh untuk melihat isi di dalam rumah itu. Bi Minah masih di depan melambaikan tangan hingga mobil Jingga tak terlihat lagi.
****
Sesampainya di rumah, Jingga dan Fajar harus di kejutkan dengan kabar yang kurang baik. Keadaan Oma memburuk sejak pukul tujuh malam tadi. Menurut cerita Mama, Oma sudah tidak sadarkan diri. Ia hanya memejamkan mata saja, bukan tidur melainkan hilang kesadaran.
“Bagiamana bisa Ma? Bukankah tadi pagi Oma masih baik-baik saja. Bahkan beliau terkesan sehat. Oma juga sempat bercerita tentang sahabatnya ketika muda dulu”
“Entahlah Jingga, Mama juga tidak tahu akan hal itu. Tadi selepas sholat isyak Mama buru-buru ke kamarnya, di sana sudah ada Dokter dan beberapa perawat yang memasangkan alat bantu pernafasan untuk Oma”
“Usia Oma sudah sangat tua Ma, beliau tidak bisa jika dalam kondisi berfikir sedikit, atau ada masalah dengan salah satu fungsi tubuhnya. Ia akan kesulitan untuk menghadapi hal itu”
Huft...
Jingga tertunduk lesu dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Rasanya masalah dalam keluarganya tak ada habis-habisnya. Ia bahkan hampir putus asa. Baru saja hatinya di guncang dengan kebenaran yang ada prihal orang tuanya. Sekarang harus kembali lagi di hadapkan dalam situasi yang menegangkan.
“Tidurlah, kamu pasti lelah. Besok kamu ke rumah sakit lagi untuk menjenguk Oma. Mama mau ke rumah sakit sekarang. Kasihan Papamu belum pulang dari kemarin”
“Biar aku saja yang menjaga Oma Ma, biar aku yang mengantikan Papa di rumah sakit”
“Tidurlah, istirahat. Temani istrimu dia butuh kamu”
Tak banyak bicara Bu Nadin, lekas mengambil tas besar yang ada di sisi kanan sofa. Ia memangil pelayan untuk membawakan ke dalam mobil.
“Hati-hati Ma, Oma pasti baik-baik saja”
Jingga lekas menuju kamar Gendhis. Ia membangunkan Asih yang terlelap di samping
anaknya. Mempersilahkan Asih untuk beristirahat dengan tenang tanpa gangguan bayi. Ia lantas meraih tubuh bayinya memindahkan ke kamarnya. Fajar menyusul istrinya untuk turut serta ke kamar.
“Jangan banyak pikiran, semua akan baik-baik saja. Istirahatlah”
Fajar mengelus sekilas rambut Jingga dan memberikan kecupan di keningnya. Tak butuh
waktu yang lama, keduanya lekas terlelap dengan damai menyusul Gendhis menuju alam mimpinya.
__ADS_1
****
Sayup-sayup lantunan suara muazin terdengar dengan sangat pelan dan damai. Rupanya subuh
telah datang. Jingga melihat jam beker yang ada di sisi ranjangnya, waktu menunjukan pukul empat lebih. Ia bangun lebih dahulu dari Fajar. Tak bisanya hal ini terjadi. Lelaki itu masih terjaga, mungkin karena ia terlalu lelah setelah seharian berkeliling. Sementara Gendhis, bayi itu tidur dalam posisi yang berubah-ubah.
Kini kakinya berada di bagian atas sementara kepalanya di bawah. Ia masih terlelap dengan tangan yang terlentang di kedua sisinya.
Jingga lekas membangunkan suaminya untuk menjalankan ibadah bersama. Ia sudah tak
sabar untuk lekas menuju makam orang tuanya. Cukup pelan ia menggoyangkan tubuh Fajar berharap suaminya akan lekas terbangun dari tidurnya.
“Mas ayo bangun”
“Mas bangun”
Pelan sekali Jingga menggoyangkan tubuh Fajar, namun pria itu masih diam saja tak membuka matanya. Jingga menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ia terdiam untuk sesaat. Berhenti untuk menggoyangkan tubuh Fajar. Ia memandang
lekat wajah suaminya yang sedang terlelap dalam damai. Rasanya telah lama sekali mereka tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang bersama. Jemarinya dengan pelan menyusuri setiap inci wajah suaminya.
Kamu masih saja ganteng mas, bahakan jauh lebih ganteng dari yang pertama ku lihat dulu. Ah kenapa kalian berdua mirip sekali, bahkan seperti copy paste.
Jingga melirik wajah Gendhis yang tertidur di sebelah Fajar. Cukup lama ia mengamati keindahan yang ada di hadapannya. Bahkan hinga ia lupa tujuan awalnya untuk membangunkan suaminya. Ia terlalu terlena dengan ketampanan yang di suguhkan Fajar.
“Sudah puas mengagumi ku?” tanya Fajar dengan mata yang masih terpejam rapat tapi
mulutnya berbicara.
“Hah! Kamu sudah bangun mas?”
Jingga terbelalak saat itu juga. Ia lekas memundurkan wajahnya dari wajah Fajar,
“Sejak kapan kamu bangun mas?”
“Sejak kau mengagumi akan kegantengan yang ku miliki sayang”
Tanpa banyak bicara Fajar menarik tubuh istrinya, mendekap hingga jarak di antara mereka tak ada.
“Aku kangen sekali sama kamu. Aku kangen kita yang seperti ini” Fajar semakin menempelkan tubuhnya, ia mengecup beberapa bagian tubuh istrinya dengan lembut.
“Mas sudah subuh, kita sholat dulu. Aku ingin lekas ke makam Mama Papaku mas”
Fajar lekas melepas dekapannya. Ia bahkan hampir lupa agenda untuk hari ini.
“Ayo kita sholat dulu”
.
.
.
Sesuai dengan rencana pagi itu Jingga dan Fajar segera bersiap untuk ke makam orang tuanya. Kali ini ia membawa sera Gendhis dan Asih. Ia ingin mengenalkan Gendhis pada orang tuanya. Fajar kembali untuk tidak masuk ke kantor. Sudah terhitung seminggu pria itu ke kantor hanya dalam hitungan jari. Seluruh pekerjaan untuk sementara di kerjakan di rumah.
Sementara di kantor Reza bertugas untuk menghandle semuanya. Fajar ingin menemani istrinya selama dalam masa-masa sulit seperti ini. Ia juga sudah menyuruh beberapa orang
kepercayaannya untuk menangani kasus Hermawan termasuk dengan pengalihan
harta-harta Jingga kembali.
Bi Minah, dengan langkahnya yang pelan membimbing Jingga pada sebuah pemakaman umum yang letaknya lumayan jauh dari kediaman mereka. Jarak tempuh makam orang tuanya dengan rumah Jingga memakan waktu hampir dari dua jam. Konon kata Bi Minah, Hermawan dengan sengaja memakamkan orang tua Jingga dalam radius yang jauh dari jangkauan agar Jingga tak mudah untuk menemukannya. Namun ia salah, rupanya dengan segala kecerdikan yang ada Bi Minah dapat menemukan makam majikannya. Ia dengan sengaja mengikuti proses pemakaman majikannya tanpa sepengetahuan Hermawan. Kala itu ia juga turut membawa Jingga dalam gendongannya.
__ADS_1
“Dimana Bi tempatnya?”
Mereka masih berjalan menyusuri pemakaman yang tak terawat. Banyak semak belukar yang
tinggi di beberapa sisi bagian makam.
“Di sana”
Satu tangan terulur menunjuk arah di mana makam orang tuanya berada.
“Di sana bi?”
"Di bagian sana, tertutup semak belukar yang menjuntai tinggi"
Dengan segera mereka lekas berjalan ke arah yang telah di tunjukan Bi Minah. Fajar membawa kayu dan juga pisau di tangannya untuk membuka jalan dari semak-semak.
“Ini Nak makam rang tuamu”
Dua gundukan tanah yang terdapat nisan di bagian atas dan bawah. Bertuliskan nama orang tuanya. Makam yang tak terawat dengan banyak rerumputan dan semak belukar yang hinggap di bagian atasnya. Jingga lekas tersungkur saat itu juga. Memeluk dua nisan yang ada di depannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Pertemuan pertama
dengan rang tuanya setelah sekian puluh tahun lamanya tak berjumpa. Mereka harus berjumpa dalam kondisi yang memilukan.
“Mama, Papa. Maafkan Jingga yang baru bisa datang ke makam kalian”
Bi Minah juga turut tersungkur di tanah. Ia meraih bahu Jingga dan menepuk-nepuk nya dengan pelan. Fajar pergi sejenak meninggalkan Bi Minah dan Juga Jingga. Ia mencari keberadaan tukang kebun yang ada, untuk meminta tolong membersihkan makam mertuanya. Sementara Asih, ia berkali-kali memainkan jarik gendongan Gendhis untuk mengusir kerumunan nyamuk yang tertarik dengan darah manis Gendhis.
“Pak bisa minta tolong bantu untuk bersihkan makam yang di bagian sana?”
“Aduh mohon maaf Mas, makam itu memang tak terawat. Sepertinya mereka tidak mempunyai sanak saudara” terang petugas kebersihan makam.
“Makam itu hampir tak ada yang mengunjungi, bahkan menjelang hari raya pun tak ada yang berkunjung ke sana. Beberapa hari yang lalu penduduk di sini berniat untuk melindih makam itu untuk orang baru”
“Jangan Pak, kami adalah anak dan saudaranya. Kami baru tahu keberadaan makan orang tua kami karena suatu hal. Saya mohon tolong bersihkan makam itu secepatnya”
Tak lagi banyak bicara. Fajar lekas merogoh kantung celananya. Ia memberikan beberapa lembar kertas warna biru untuk tukang kebersihan tersebut.
“Ini apa Pak, tidak usah”
“Sedikit rezeki untuk keluarga bapak di rumah. Saya minta tolong sekarang ya di bersihkan”
Masih dengan posisi menangis Jingga mengelus-elus nisan orang tuanya. Sementara
tukang kebun mulai membersihkan area makam. Ia membabat habis rerumputan yang menjulang di tengah-tengah makam. Ia juga menyapu bagian sisi kanan dan kiri makam.
Setelah kondisi makam bersih, Fajar lekas memimpin da’a bersama dengan khusuk. Mereka menunduk menggelar sebuah karpet kecil warna merah. Tangannya menangkup di bagian dada
dengan mata yang terpejam. Meminta pada sang maha pengampun untuk memberikan sebaik-baiknya tempat untuk kedua orang tuanya.
“Mama Papa aku datang, walau terlambat. Aku harap kalian mau memaafkan atas ketidak
tahuanku selama ini. Aku sudah dewasa Ma Pa, aku bahkan sudah menikah dan punya seorang anak. Lihat mereka juga turut hadir di sini untuk mendoakan Mama Papa. Tenang di surga ya Ma Pa. Hidupku sudah bahagia sekarang. Mereka yang sudah berbuat jahat sedang mempertanggung jawabkan kejahatannya”
"Mama Papa, saya berjanji akan menjaga Jingga dan Gendhis dengan sebaik-baiknya"
Jingga mulai menaburkan bunga yang di belina di jalan. Ia juga menyiramkan sedikit air di sana.
“Aku pamit dulu ya Ma Pa. Lain waktu aku akan berkunjung ke sini lagi”
Ia kembali mengelus nisan kedua orang tuanya dan sesekali menyeka sudut matanya yang berair.
“Pal tolong jaga dan rawat makam ini ya” perintah Jingga kemudian ketika berpapasan dengan tukang kebun makam.
Semua rombongan sudah masuk ke dalam mobil termasuk Bi Minah berikut Asih. Fajar mulai menjalankan mobilnya dengan pelan meningalkan pelantaran pemakaman.
__ADS_1
“Bi adakah hal lain lagi yang belum aku ketahui dari ini?”