
tiga hari berlalu semenjak kejadian di kafe,dan sudah 2 hari ini Awan berada di dalam sel karena pihak penyidik menjadikanya tersangka atas kematian pelanggan kafe nya
Ia di tuduh lalai dan harus bertanggung jawab,serta pihak keluarga korban tak mau menerima upaya damai dari Awan
Awan sangat pusing dengan keadaanya,di tambah kini kafe nya terancam bangkrut karena berita tersebut beredar luas di internet,hingga masyarakat mengetahuinya sampai di pelosok negri
di saat saat seperti ini,ia sangat membutuhkan dukungan dari orang orang terkasihnya
saat ia tengah termenung memikirkan nasibnya,seorang petugas yang menunggu sel itu masuk dan memberitahu bahwa ada yang ingin bertemu denganya
Awan keluar dari sel dan di antar petugas menuju tempatnya bertemu dengan Jingga saat petugas sudah membuka kunci sel tersebut
Iya tamu yang datang menemuinya adalah Jingga kekasih hatinya
Senyum ceria terbit di wajah tampanya kala melihat kekasihnya datang menemuinya,rasanya kedatangan Jingga bak hujan yan turun di saat kemarau tiba
Kini mereka tengah duduk berhadapan di bangku kayu dan terhalang meja
Petugas penjara berdiri agak jauh dari keduanya
"sayang tetimakasih sudah datang kesini"ucap Awan dan ingin menggenggam tangan kekasihnya itu,namun sayang Jingga menarik tangan nya,seolah tak mau di sentuh olehnya
Awan tergugu kala melihat Jingga menarik tanganya,menolak sentuhanya
"kak,maafkan aku,tapi aku ingin kita selesai"ucap Jingga tegas dengan mimik wajah biasa saja,kata kata itu lolos tanpa hambatan,karena sedari tadi ia sudah menguatkan hatinya agar tak menangis dan tak tega
"sayang,kamu bercanda kan"ucap Awan yang syok mendengar ucapan Jingga,yang ingin pergi darinya,padahal saat ini adalah saat saat ia membutuhkan dukungan dari kekasihnya
"tidak,aku serius,aku minta maaf tapi aku tidak bisa lagi bersamamu"ucapnya pedas
Awan hanya terdiam,ia tak tahu harus bicara apa,rasanya ia tak percaya dengan penuturan kekasihnya,namun meski begitu dadanya sakit seolah tersayat sembilu,perih namun tak berdarah
hening tercipta di antara mereka,tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Awan
__ADS_1
melihat Awan hanya diam,Jingga berdiri dan berjalan pergi begitu saja dari sana
Awan masih duduk di tempatnya,membiarkan kekasihnya pergi
Ia tak ingin bertanya kenapa dan mengapa ia pergi,karena tak ingin semakin sakit mendengar jawaban nya,pada logikanya hanya kenyataan yang menyakitkanlah yang membuat seseorang pergi begitu saja
5 menit sebelumya,ibunya Awan juga datang untuk menjenguk putra nya itu,ia datang membawa rantang untuk makan siang
Saat ia datang,kehadiranya di hadang petugas,petugas mengajukan beberapa pertanyaan padanya
Setelah selesai ia di minta menunggu dulu,karena Awan masih ada tamu
Sang ibu yang cemas pada keadaan putranya pun menanyakan siapa yang menemuinya,ia menanyakan pada petugas apa tamunya itu perempuan
petugas menjawab iya di lengkapi dengan ciri ciri wanita tersebut
Ibunya Awan bahagia setelah mendengar ciri ciri wanita yang petugas jabarkan,ia senang karena Jingga mau datang memberinya semangat
Ia berkata pada petugas jika perempuan itu adalah calon menantunya,dan ia ingin segera masuk,petugas menyetujuinya lalu mengantarkanya kedalam
Saking syoknya ibu hanya diam dan seolah tak mampu bergerak
Ia mundur dua langkah dan hendak jatuh,namun tanganya menggenggam erat rantang yang ia bawa,seolah ia bertumpu pada rantang yang menggantung di tanganya
Petugas yang melihatnya pun dengan sigap membantu ibu
Beberapa saat kemudian Jingga membuka pintu dan berlalu begitu saja,keadaan Jingga yang tak baik baik saja membuatnya tak memperhatikan sekitar,ia tak perduli siapa saja yang ia lewati
Ia berjalan cepat dan keluar dari sana,sampai di jalan ia menyetop taksi yang lewat,lalu masuk kedalam taksi saat taksi sudah berhenti tepat di depanya
Sang ibu melihat Jingga masuk dalam taksi juga melakukan hal yang sama,setelah masuk ia meminta sopir untuk mengikuti taksi di depan
Ibu yang tadinya syok mendengar perkataan Jingga yang ingin meninggalkan putranya terbakar emosi,ia tak ingin putranya kehilangan arah dan tujuan hidupnya lagi
__ADS_1
Ia akan melabrak dan meluapkan emosinya pada Jingga
Ia tak perduli meski itu tidak sopan
Jingga keluar dari taksi lalu berlari ketengah tengah ombak,ia menjatuhkan dirinya di pasir putih dan sesekali ombak menyapanya
Ia menundukan wajahnya memandang jauh ketengah lautan
Membiarkan ombak membasahi sebagian tubuhnya,membiarkan angin pantai menerbangkan rambutnya
Ibu yang melihat hal itu berjalan mendekat,ia ingin segera melabrak Jingga yang tega menyakiti hati putranya,apa lagi kini putranya tengah terpuruk
Saat langkah ibu sudah dekat terdengar isak tangis seseorang
Meski angin berhembus dan suara air bergerak membentuk gulungan gulan indah,menghantam tubuh rapun Jingga,ibu masih dapat mendengar suara tangis Jingga,karena memang kini Jingga tengah menangis meluapkan sesak yang menghimpit dada
Ia berpikir di sini tak kan ada yang mendengar tangisannya,ia ingin mengadu pada air yang bergerak,meski tanpa berbicara
Ibu yang hendak meraih tubuh rapuh itu untuk melabraknya mendadak ragu mendengar tangisan calon menantunya itu
Tangis yang begitu pili dan menyayat hati siapun yang mendengarnya,seolah ia lebih sakit dari pada yang ia tinggalkan
Emosinya mendadak hilang terbang entah kemana,berganti rasa iba yang juga melukai hatinya
dalam hati ia berpikir,ada apa sebenarnya,setelah meminta berpisah bukankah sesorang akan bahagia,atau pun jika bersedih tak kan mungkin sesedih ini
Ibu rasanya tak sanggup jika harus melabrak Jingga,rasanya ia tak kan sanggup andai harus berhadapan pada wajah gadis itu saat ini,entahlah
Ia lalu berbalik dan pergi dari sana,ia tak ingin ikut campur dengan hubungan mereka,meski ia sangat ingin mereka bisa bersatu untuk selamanya
Jingga masih pada posisi yang sama,saat ibu sudah berlalu dari sana dan kini tengah berada di dalam taksi dan menuju pulang
Ia tak jadi mengunjungi putranya,ia bingung dengan apa yang ia lihat
__ADS_1
Sebenarnya siapa yang menyakiti dan di sakiti disini