
“Tuh kan aku bilang juga apa? Kamu duduk manis dulu di sana. Biar Mas saja yang masak untuk kalian”.
Fajar kembali membawa istrinya untuk duduk menunggu di meja makan.
“Dia ini tidak mau masak sayang, jadi bersabarlah biarkan aku yang melayani kalian”
Jingga, mengagumkan kepalanya dengan patuh. Semenjak mengetahui jika mengandung. Ia sama sekali tidak pernah masak. Jingga akan merasakan mual yang tiada terkira ketika mencium bumbu-bumbu dasar untuk memasak, selain itu jika melihat wastafel entah mengapa secara otomatis akan muntah sendiri.
Sepuluh menit kemudian, Fajar datang dengan membawa sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dan kerupuk.
“Silahkan Tuan putri ini nasi goreng cinta, di buatnya dengan senyuman manis penuh rasa kasih sayang. Aku suapin ya?”
“Ayo buka dulu mulutnya”
“Aku bisa makan sendiri Mas!”
“Tapi aku tak memberimu izin untuk makan sendiri” Fajar, kembali meraih sendok dalam genggaman Jingga. Memasukan suap demi suap nasi goreng yang ada di depannya.
“Bagaimana kau suka?”
Jingga menggunakan kepalanya, ia tak kuasa untuk menjawab pertanyaan Fajar. Suaminya sama sekali tak memberikan kesempatan untuk mengosongkan mulutnya sama sekali.
“Bagus, apa masih lapar?”
Lagi-lagi Jingga tak bersuara, ia lebih memilih untuk menganggukkan kepalanya saja.
“Jadi sekarang Tuan Putri mau tidur lagi atau mau di temenin ngapain?”
“Kita tidur lagi saja ya Mas” Jingga menutup mulutnya yang menganga, selepas perutnya terasa kenyang kantuk kembali menderanya.
*****
Kantor Dirgantara.
Lihat saja seberapa bodohnya anak muda ini. Ia dapat dengan mudah menerima tawaran kerja sama dengan Cakrawala. Bahkan dia memberikan investasi tujuh puluh persen dari total asetnya yang ada di sini. Lihat saja apa yang akan terjadi setelah investasi ini berhasil. Ku pastikan jika kamu akan tertular istrimu untuk menjadi gembel.
Hermawan yang di dampingi beberapa staffnya sedang duduk mendengarkan persentasi yang di lakukan pihak Dirgantara. Ia duduk dengan sedikit menyandarkan punggungnya pada kursi, jemarinya bermain-main dengan bolpoin biru yang ada di tangannya. Sudut bibirnya tertarik ke samping seakan sedang menertawakan Fajar beserta jajarannya.
__ADS_1
Lihat saja, sampai kapan wajahmu yang seperti itu akan bisa bertahan untuk tersenyum. Ku pastikan setelah ini kamu akan meringis.
Fajar menatap lawan bisnisnya dari ujung ekor matanya. Ia tersenyum ketika memastikan jika Hermawan masuk dalam permainannya.
“Jadi bagaimana Pak Hermawan adakah hal masih perlu di bahas lagi untuk pembuatan pabrik yang ada di Cina?”
“Saya rasa tidak ada yang harus di permasalahkan semua sudah jelas adanya. Tim saya yang akan memegang kendali untuk pembangunannya di sana berikut untuk pengembangannya”.
“Satu lagi saya minta salinan semua surat-surat yang berkaitan dengan aset untuk pabrik di sana. Saya ingin mempelajari semuanya dengan rinci. Saya tidak mau ada sedikitpun kekurangan dalam prosesnya nanti”.
“Baik, setelah meeting selesai tim kami akan mengirim berkas-berkas tersebut pada Bapak”
Keduanya saling berjabat tangan satu sama lain, dengan dua perasaan yang sama-sama ingin melihat kehancuran.
.
.
.
“Tuan apakah ini sudah menjadi keputusan yang terbaik untuk perusahaan kita. Saya sedikit khawatir jika kita akan kalah dalam permainan ini. Hermawan akan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat besar. Ia akan menjadi penguasa untuk pabrik yang ada di Cina”
“kita akan melakukannya dengan hati-hati. Bagiamana pun juga saya harus mengambil alih semua yang seharusnya milik Jingga. Ini bukan soal gila harta dan ingin menjadi penguasa tapi ini tentang hak. Istriku sudah kehilangan haknya sejak kecil”
“Kumpulkan semua bukti-bukti kepemilikan atas keluarga Bramantyo sebelum pabrik itu jadi”
“Baik Taun”.
Ceklek pintu terbuka.
“Papa? Apa yang membuat papa ke sini?” Tanya Fajar tampak heran, ini kali pertama Pak Angga kembali ke kantor setelah beberapa bulan terdiam di rumah menikmati masa tuanya.
“Kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan Fajar. Hermawan pria yang sangat licik. Dia dapat dengan mudahnya untuk memanipulasi semua yang di inginkan termasuk dengan investasi yang kamu berikan pada perusahaanya”
“Lantas kenapa dulu Papa berniat menjodohkan aku dengan putrinya?” Kening Fajar terkerut mendengar statement yang baru saja di ungkapkan Papanya.
“Tujuanku sudah tercapai Fajar. Aku ingin menikah kamu dengan Jingga”
__ADS_1
“Lantas Dahlia?”
“Aku rasa kamu anak yang cerdik, Papa tak perlu menjelaskan semua ini. Hanya satu pesan Papa. Berhati-hatilah, sedikit saja kamu lengah dalam proyek ini niscaya semua harta kita akan berpindah tangan padanya!” Instruksi Pak Angga dengan menatap tajam sang putra.
Fajar mengangguk-anggukkan kepalanya dengan patuh. Pikirannya kembali mengudara mencari cara untuk menjatuhkan Hermawan nantinya.
.
.
.
“Mas” suara yang familiar dan mendayu-dayu membuyarkan perbincangan serius antara anak dan ayah. Jingga masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Wanita hamil itu, akan melakukan segala cara untuk bisa bertemu suaminya.
Semua mata tertuju pada kehadirannya tak terkecuali dengan Pak Angga yang sedang duduk berlawanan arah dengan pintu. Lelaki tua itu kontan membalikan badannya menuju sumber suara.
“Maaf, saya kira tidak ada orang” Jingga sedikit menurunkan nada bicaranya untuk tak mengeluarkan suara manja.
“Tidak papa” Pak Angga tersenyum menatap menantunya yang tampak sedikit berisi dengan perut yang membuncit ke depan.
“Maaf menggangu” Jingga mendekat dan meraih punggung tangan mertuanya menciumnya dengan penuh takzim, hal yang sama juga di lakukan pada Fajar suaminya.
“Tidak, kami hanya berbicara ringan”.
“Papa makanlah bersama kami, aku membawa banyak makanan untuk siang ini” Jingga menunjukan dua rantang yang ada dalam genggamannya.
“Tidak nak, Papa harus pulang untuk menemani Mama ke salon siang ini. Kita sudah janjian sejak tadi pagi” Pak Angga bangkit dari tempat duduknya memohon izin untuk pulang terlebih dahulu. Ia sengaja memberikan ruang gerak pada suami istri tersebut untuk saling mencurahkan rasa sayangnya. Pak Angga sudah tahu kebiasaan Jingga saat hamil ini, jika menantunya itu tidak bisa makan jika tidak di suapi oleh suaminya.
“Apa dia rewel hari ini?”
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Makan yuk kamu pasti sudah sangat lapar” Fajar membawa istrinya untuk pindah duduk di sofa. Ia meraih rantang yang ada di atas mejanya.
“Tunggu aku ke kamar mandi dulu ya sayang” laki-laki itu memberikan kecupan singkat di kening istrinya sebelum beranjak menuju kamar mandi. Sementara Jingga ia masih duduk di tempat yang sama, Matanya melirik meja Fajar yang tampak berantakan. Ada beberapa lembar file dan tumpukan bendelan yang saling berserakan menindih di atas sana.
Jiwa budak Jingga meronta-ronta. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan, sejurus kemudian berdiri untuk membereskan meja tersebut. Matanya memindai kertas-kertas di sana. Ia menyimpan dan meletakan kertas yang sama dalam satu tempat.
__ADS_1
Tunggu!
Kenapa banyak sekali namaku di sini?