JINGGA

JINGGA
118


__ADS_3

“Brak!...”


Suara gebrakan meja menggema di sudut ruangan. Seorang anak buah Hermawan telah datang melapor. Ia datang dengan cukup tergesa-gesa menghampiri sang atasan.


Brak...


Lagi-lagi suara itu terdengar dengan cukup keras sekali, hingga membuat seluruh penghuni dalam ruangan tersebut harus terperanjat kaget.


“Sialan!”


“Sialan!”


“Dasar bodoh!”


“Bagiamana bisa kalian selengah itu dengan semua ini?” Hermawan bangkit dari tempat dudunya. Ia menatap satu persatu anak buah yang masuk ke dalam ruangannya. Wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus. Tensi darahnya memuncak, emosinya sudah berada di ubun-ubun dan siap untuk meledak.


“Kalian tahu berapa kerugian yang aku dapat dari peristiwa ini? Hah!” Lagi-lagi Hermawan datang untuk mencekal leher anak buahnya. Ia menghempaskan dengan paksa setelah itu.


“Benar-benar ceroboh!” jemarinya saling meremas, dengan raut wajah yang murka.


“Cari tahu siapa dalang dari pembakaran gudang ini” titahnya kemudian, masih dengan emosi yang memuncak.


“Saya rasa orang yang melakukan itu adalah Tuan Fajar” ucap salah satu anak buah memberanikan diri untuk berucap. Meskipun dalam hati masih ragu. Tapi selama ini lawan Hermawan, tidak ada yang mampu untuk menembus gudang kalimantan . Ini kali pertama Hermawan, bersi tegang dengan lawannya dan ia mampu menembus benteng miliknya.


“Sialan!” maki Hermawan kembali. Baru saja seminggu yang lalu pria paruh baya itu merasakan kebahagian kala kehancuran Jingga dan Fajar di depan mata, tapi sekarang keadaan berbalik kembali.


Cih...


Ia meludah, dengan tangan yang berada di pinggang. Sorot matanya masih berkobar kebencian di sana.


“Lakukan sesuatu untuk melenyapkan mereka!”


Terdiam. Kawanan anak buahnya masih terdiam tak memberikan reaksi.


“Lakukan sekarang! Kalian menunggu apa lagi!”


“Jika dalam misi ini kalian tidak berhasil, aku akan memotong tangan kalian. Bahkan lebih dari itu ,keluarga kalian dalam genggamanku!” bisik Hermawan memberikan ancaman pada beberapa anak buahnya.


Ia memilih untuk keluar dari ruangan, membanting dengan cukup keras pintu di sana. Hingga suara hentakan yang timbuk dapat terdengar di sekeliling ruangan. Hermawan melangkah meninggalkan kantor mewahnya. Sebuah kaca mata hitam menghiasi penampilannya pagi ini. Entah apa yang akan di lakukan pria itu setelah ini, hanya saja sebuah mobil mewah sudah menantinya tepat di lobi kantor.


,


,


,


Surabaya


“Sayang, ini sudah lebih dari dua jam kita jalan-jalan. Sebaiknya pulang dulu ya. Kamu juga belum sarapan sejak pagi tadi” ucap Fajar, membujuk Jingga yang sejak tadi pagi berada dalam kursi roda. Mereka berdua sedang berkeliling di komplek perumahan tempat tinggal Fajar.


“Aku masih ingin di luar Mas”


“Tapi ini sudah siang, cuaca juga sudah mulai terik. Aku takut kamu kelelahan dan kelaparan” Fajar duduk berjongkok di sisi kursi roda, memohon pada istrinya untuk mau pulang.


“Kita duduk dulu di sana ya Mas” Satu tangan Jingga, terulur menunjuk pohon beringin yang berdiri tepat di bagian sisi kanan taman.


“Baiklah”


Dengan sabar Fajar menuruti setiap perintah Jingga, sepanjang menemani Jingga jalan-jalan, perasaanya diliputi rasa resah tak tenang. Takut sesuatu hal buruk kembali menimpa istrinya. Terlebih setalah pembakaran gudang kemarin, tentu saja Hermawan tidak akan tinggal diam untuk itu. Cepat atau lambat pria paruh baya itu akan melakukan pembalasan dengan segera.


“Mas, aku pengen makan es puter dan siomay” pinta Jingga kemudian ketika merasakan getar-getar kecil yang menyiksa perutnya.

__ADS_1


“Kita pulang dulu ya, kamu tunggu di rumah. Nanti mas carikan es puter dan juga siomaynya”


Jingga menggelengkan kepala tak mau. Wanita itu menginginkan makan siomay di bawah pohon, dengan melihat beberapa burung yang bertebaran bebas di sana.


Fajar menghela nafas panjang.


“Sayang, ayolah”


Jingga tak menjawab, ia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya.


“Sayang”


“Mas Fajar slalu saja begitu, Mas tidak tahu rasanya orang ngidam seperti apa? Aku tuh pengen sekali makan siomay dan es puter di sini. Mengertilah” Jingga merintih dan memohon.


“Cuma siomay Mas. Aku tidak meminta yang lebih dari itu” ia menunduk seakan sedang mengheningkan cipta.


“Baik, apa sih yang tidak untukmu”


Fajar bangkit dari tempat duduknya. Ia merogoh saku celana yang ada di sebelah kirinya. Matanya mengedar mencari sosok penjual siomay.


“Hay dek” panggilnya pada anak seorang anak laki-laki, berusia kisaran 14 tahun.


“Dek, bisa minta tolong carikan pedagang siomay dan es puter di taman ini. Jika sudah ketemu bawa ke sini beserta orang dan dagangannya”


“Tapi untuk apa kak?” anak itu tampak mengerutkan keningnya dengan heran.


“Istriku sedang ingin makan siomay”


“Kenapa tidak di bawa saja ke sana kak?”


“Istriku ingin makan di bawah pohon ini. Jadi bisakah kamu memanggil mereka dengan segera untuk lekas ke sini”


Fajar mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah dan menyerahkan pada anak itu, berharap ia tak banyak tanya dan lekas melanjutkan perintahnya.


“Mas Fajar, slalu begitu semuanya di tukar dengan uang. Kenapa tidak di panggil sendiri saja toh juga tidak terlalu jauh”


“Mas terlalu menghambur-hamburkan uang” gerutu Jingga kemudian. Bibirnya sudah mengerucut ke depan beberapa cm.


“Lantas apa yang lebih berharga dari pada kamu sayang. Jika uang dapat di cari dengan mudah dan kapan saja. Tapi istri sepertimu sangatlah langka dan tak akan ada duanya. Kamu pikir setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, aku akan membiarkanmu untuk sendiri?”


“Tidak akan sayang. Aku tidak mau sesuatu hal buruk terjadi padamu kembali”


Fajar kembali berjongkok di depan istrinya, ia ingin menunjukan betapa berharganya wanita yang sedang berada di depannya ini.


“Tapi ini di taman Mas, banyak orang di sini”


“Banyak orang tidak menjamin keselamatan seseorang. Bahkan dalam rumah sakit tempat untuk menyelamatkan banyak nyawa saja masih dapat membahagiakanmu” ucap Fajar kemudian.


Jingga tidak bisa menjawab lagi, semua yang di katakan Fajar memang benar adanya, tapi hidup dalam pengawasan yang luar biasa ketatnya sungguh itu tidaklah nayaman. Terlebih di jarak radius aman, ada beberapa bodyguard yang turut menjaganya saat ini.


Huft....


“Nikmati saja hidupmu saat ini sayang” ucap Fajar, ketika menatap ekpresi wajah jingga yang merasa tertekan dengan keadaan yang ada.


“Ternyata jadi orang kaya itu ruwet ya mas?” celotehnya dengan asal.


“Tidak, hanya saja kamu belum terbiasa”.


“Lama” sepuluh menit kemudian, pedagang siomay itu tak kunjung datang menghampiri mereka, sedang perut Jingga sudah terasa tersiksa menahan lapar.


“Sayang, sebentar lagi tunggu ya. Atau kita pulang saja, aku akan membelikan di tempat yang lain. Tunggulah di rumah dengan nyaman”

__ADS_1


Jingga tidak mau, wanita itu menggoyang-goyangkan tubuhnya sebagai jawaban.


“Ini baru sepuluh menit sabar ya”


Jingga masih mengkerut, dulu dia adalah wanita yang bisa menahan rasa lapar, bahkan dalam waktu yang cukup lama. Tak jarang Jingga, sering berpuasa setiap harinya, sebagai wujud tirakat atau hanya sekedar untuk menghemat pengeluarannya. Namun setelah hamil, selera makannya memuncak dengan pesat. Ia tak bia berjarak dengan makanan walau hanya dalam hitungan menit. Moodnya akan lekas naik turun jika merasakan lapar.


“Lama!”


“Lama”


“Lama”


Jingga, mengambil bunga yang jatuh di sebelah kursi rodanya. Ia membuang satu persatu kelopak bunga yang ada.


“Aku tak mengerti sayang, ternyata sepuluh menit itu sangat lama menurut versimu” ucap Fajar yang tak tahan dengan rintihan Jingga, ia memanggil salah satu bodyguard yang ada untuk menjemput kembali tukang somay.


Tak butuh waktu yang lama, bodyguard Fajar menarik dengan paksa penjual siomay yang ada di ujung sebrang mereka saat ini. Tak peduli jika penjual tersebut sedang melayani pembelinya.


“Aku bisa membeli sekalian dengan gerobak mu saat ini juga!”


Suaranya yang keras, tegas dan melotot membuat penjual siomay itu bergidik ngeri. Tak ingin dalam maslaah yang lebih, ia menurut dan mendorong gerobaknya menuju ke tempat Jingga duduk.


“Saya mau somay yang pedas satu” ucap Jingga, ketika melihat tukang somay sudah berada di depan matanya.


“Buatkan yang paling enak untuk istriku. Pastikan semua dalam kondisi yang bersih dan aman” ucap Fajar menambahkan.


Penjual somay itu bersiap untuk meracik, ia menyiapkan bahan-bahan yang ada, mengiris dan menyajikan. Lantas menyerahkan pada Fajar dan Jingga.


“Coba dulu” Fajar menyerahkan sepiring somay itu pada penjualnya.


Tak banyak kata, penjual itu mulai mengambil sesendok siomay tersebut memastikan jika semuanya aman dan tanpa masalah.


“Buatkan yang sama seperti ini!” perintah Fajar kemudian, ia tak mau Jingga makan dari sisa pedagang.


“Mas ayolah, aku bukan seorang presiden yang makan pun harus di jaga dengan sangat ketat seperti ini. Ini hanya sepiring somay”


Jingga memutar bola matanya dengan malas.


“Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu sayang. Setelah makan siomay ini aku mohon kita pulang ya. Di luar terlalu bahaya untuk mu”


Jingga mengangguk patuh, tak ingin melawan dan membuat Fajar banyak pikiran.


Pedagang somay meracik semua siomaynya tepat di hadapan Fajar, “silahkan Tuan Nyonya”


“Biar aku Supian” Fajar meraih piring itu dan mulai memasukan sup demi suap somay ke dalam mulut istrinya. Jingga menerima setiap suapan yang masuk dalam mulutnya dengan senyum. Entah mengapa ketika menginginkan suatu makanan dan dapat terwujud rasanya sangat senang sekali. Ada perasaan lega tersendiri di sana dan mood dari ibu hamil itu pun kembali membaik.


“Aku mau di bungkus juga untuk semua orang yang ada di rumah”


“Baik”


“Bungkus semuanya” Fajar mengedipkan satu mata sebagai isyarat pada para bodyguard untuk membawa semua somay itu ke rumahnya. Tak lupa ia membayar setelah itu.


.


.


.


“Aku rasa mas Fajar harus membayarnya lebih, karena tukang siomay itu, ia sudah melayaniku dengan sangat baik. Ia juga membuat somay dengan sangat enak” celoteh Jingga ketika sedang dalam perjalanan pulang. Saat itu Fajar sedang mendorongnya memasuki gerbang rumah mereka.


“Aku sudah membayarnya lebih dari lima belas juta”

__ADS_1


“Hah! Lima belas juta? Hanya untuk somay?”


__ADS_2