JINGGA

JINGGA
BAB 132


__ADS_3

“Pa, maafkanlah aku. Lakukan sesuatu untuk merebut kembali Fajar dan kekuasaannya Pa?”


“Pa jangan diam dan dingin seperti ini. Aku tahu Papa sangat sayang sama aku. Aku tahu Papa tidak akan membiarkan aku hidup dalam kesusahan seperti ini”.


“Mama, Papa lakukan sesuatu. Kembalikan semua yang seharusnya menjadi milikku”


“Aku tidak terima ini. Papa, aku putrimu, aku anak semata wayangmu. Tolong Pa, lakukan sesuatu buat Fajar, kembali padaku”


Dahlia menangis meraung sejadi-jadinya. Dadanya bergemuruh tak terima, atas takdir yang tertulis padanya. Ia menolak itu semua. Sungguh tak pantas seorang budak bersanding dengan calon suaminya. Ia menangis, menangis tersedu-sedu hingga nafasnya terasa berat dan tercekat di tenggorokan.


Dahlia masih dalam posisi yang sama, bersimpuh di kaki Pak Hermawan, berkali-kali wanita itu mencium kaki sang Papa berharap rasa iba pada dirinya. Semakin lama tangisnya tak kunjung mereda justru semakin menjadi-jadi namun cenderung melemah. Hingga dalam hitungan beberapa detik kemudian ia tersungkur jatuh ke lantai. Dadanya terasa sesak. Oksigen dalam ruang tamu terasa habis tiada tersisa setelah mengetahui kabar tentang Fajar dan Jingga. Perlahan semua menjadi gelap, dan isakan suara tangis itu menghilang.


“Papa, lihat anakmu!” teriak Bu Lia ketika melihat tubuh Dahlia tersungkur jatuh ke lantai, kepalanya membentur pada dinginnya lantai marmer yang mengkilat malam itu.


“Dahlia!”


Mata Pak Hermawan membelalak, ia memang sedang marah pada putrinya, tapi rasa cintanya jauh lebih besar dari segalanya. Melihat sang putri jatuh tersungkur ke lantai membuatnya reflek mengangkat tubuh anaknya dan memindahkan ke sofa.


“Pa Dahlia kenapa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa nafasnya terasa sangat berat dan cenderung pendek?” Tanya Bu Lia ketika mengamati dada Dahlia, yang naik turun dengan irama yang tak beraturan, bahkan cenderung berbunyi mengi selayaknya penderita asma pada umumnya.


“Puas kamu sudah menyakiti anakmu sendiri? Puas sudah membuatnya menangis hingga dia harus menderita seperti ini!”


“Sudahlah Ma, jangan banyak bicara sebaiknya kita lekas membawa Dahlia ke rumah sakit. Aku tidak mau sesuatu hal buruk terjadi padanya” Ucap Pak Angga, sejurus kemudian ia berteriak memanggil sopir dalam rumahnya untuk lekas menyiapkan mobil dan membawa ke rumah sakit.


Begitulah sebagai orang tua, semarah apapun, sekecewa apapun ia tidak akan tega jika melihat anaknya menderita. Sekalipun dia adalah Hermawan, sosok yang di kenal jahat bahkan cenderung (mentalan), namun tetap saja ia akan luluh ketika melihat sang putri harus jatuh sakit seperti ini. Terlebih ini karena apa yang baru saja menimpa keluarganya.


Panik.


Suasana rumah menjadi panik, pelayan riuh hilir mudik menyiapkan keberangkatan Dahlia ke rumah sakit. Mereka turut mengantar hingga di balik pintu gerbang utama.

__ADS_1


Tak berselang lama, mobil sudah bersiap begitupun dengan sopirnya. Pak Hermawan dan Bu Lia lekas masuk ke dalam mobil membawa sang anak dalam dekapan mereka.


Cemas, begitulah gambaran yang terjadi malam itu. Tak butuh lama, mobil lekas melaju meningalkan pekarangan rumah. Beberapa pelayan langsung kembali ke kamar masing-masing mengingat waktu itu sudah terlalu larut untuk jam bekerja.


“Aku rasa ini adalah karma dari Tuhan untuk keluarga Hermawan. Bukankah sejak awal memang Jingga yang pantas untuk bersanding dengan Tuan Fajar” ucap Bik Surti salah satu pelayan tertua dalam rumah itu. Ia sudah bekerja lebih dari dua puluh lima tahun di sana. Ia berbicara dengan rekan seangkatannya ketika masuk dalam rumah itu.


“Kau benar, suatu saat jika kebenaran terungkap mereka bisa apa? Sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya lambat laun juga akan kembali pada pemiliknya. Aku kasihan juga sama Jingga. Tidak seharusnya ia hidup menderita saat tinggal di sini”


“Kita hanya seorang pelayan, bisa apa untuk membantunya. Diam salah satu cara untuk kita selamat dan tetap dapat pekerjaaan” Jawab Surti, ia pun menghela nafas panjang. Pikirannya mengingat memory puluhan tahun yang lalu saat Jingga masih kecil, saat keluarga Bramantyo yang berkuasa atas segalanya.


“Sudahlah, ini sudah terlalu larut. Sebaiknya kita istirahat dulu. Jangan memikirkan sesuatu yang di luar kapasitas kita” Pamit Surti kemudian. Kedua pelayan tersebut lekas meninggalkan area halaman. Mereka secara bersamaan menutup pintu utama ruang tamu dan lekas menuju kamar masing-masing.


****


Kediaman Dirgantara.


Damai


Begitulah aura yang terpancar di kediaman rumah Pak Angga.


Oek...oek...oek....


Terlebih suara bayi yang khas dan begitu di rindukan dalam keluarga itu, membuat kediaman kian menyeruak dalam rumah mereka. Semuanya terasa begitu sempurna. Tuhan sedang berbaik hati pada keluarga mereka.


Bu Nadin, Oma dan beberapa pelayan yang di tugaskan khusus untuk menjaga Gendhis sudah berjaga dalam kamar bayi itu. Mereka berdiri melingkari box bayi yang berukuran cukup luas.


Oek...oek...oek...


Suara tangis bayi itu menggema mengisi penjara kamarnya. Tubuhnya yang mungil menggeliat bahkan sebelum sang fajar terbit.

__ADS_1


“Astaga kenapa dia secantik ini. Bahkan belum mandi saja sudah terlihat cantik” puji Bu Nadin, ia mengambil Gendhis dari boxnya membawa dalam dekapannya.


“Ambilkan ASIP untuknya” perintah Bu Nadin kemudian, semenjak Gendhis di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Jingga kerap kali memompa asinya. Ia ingin memberikan ASI eksklusif pada sang buah hati meski tak harus secara langsung, karena terbentur jarak dan keadaan saat itu.


“Dimana Jingga?” Tanya Oma kemudian, ketika menelisik ruangan kamar Gendis tak nampak batang hidungnya.


.


.


.


“Mas, awas aku mau bangun” suara serak dan kalem khas orang bangun tidur keluar dari mulut Jingga. Saat itu ia sedang tertidur bersama suaminya. Fajar memeluk sang istri dengan begitu posesifnya, ia tak memberikan celah sedikitpun untuk sang istri menghindar atau berjarak darinya. Terlebih melihat dua gundukan Jingga yang menantang, semakin membuatnya enggan untuk melepas sang istri.


“Hmmm”


Jawab Fajar sekilas, matanya masih terpejam tapi tubuhnya enggan untuk berjarak. Ia menempelkan wajahnya tepat di hadapan sang istri. Membuat Jingga harus terkurung dan susah untuk beranjak dari sana.


“Mas bangun. Aku mau lihat Gendhis” ucapnya lagi dengan pelan.


“Hem” jawabnya kembali.


Jingga tak lagi berucap ia lebih memilih untuk menyingkirkan lengan kekar Fajar yang melingkar di perutnya. Namun saat tangan Jingga mengangkat satu lengan Fajar, tangan itu semakin memeluk dengan posesifnya.


“Duh Mas, jangan gini dong aku mau lihat Gendhis dulu” Jingga mulai sedikit kesal dengan tingkah suaminya pagi itu.


“Gendhis? Siapa Gendhis itu” tanya Fajar dengan sedikit membuka matanya, beberapa detik kemudian ia kembali menutup mata dan memeluk istrinya.


“Astaga”

__ADS_1


__ADS_2