
“Maaf Bu kami sudah berusaha, tapi kobaran api semakin membesar dan hampir merusak
sembilan puluh persen kontruksi bangunan hotel ini. Tim kami memutuskan untuk menyudahi evakuasi dan memilih memadamkan melalui bagian luarnya”
“Allah” rintih Jingga dengan menganga.
Ia kembali tersungkur mendengar penuturan yang di berikan pihak pemadam kebakaran,
“Pak bagaimana bisa seperti ini, suami dan anakku masih terjebak di dalam sana. Kalian
harus melakukan sesuatu. Ada dua nyawa yang sangat berharga di sana dalam hidupku. Lakukan sesuatu, lakukan!”
Jingga reflek menarik paksa keras baju yang di gunakan pihak damkar, ia setengah putus
asa melihat kobaran api yang sudah meraja lela.
“Mas kamu di mana? Apa kamu masih di dalam sana?”
“Mas kenapa kau tak membiarkan saja aku terbakar di dalam sana. Untuk apa aku hidup
jika tanpa kalian berdua”
Tangisnya semakin membadai, beberapa orang yang terlibat dalam kebakaran tersebut hanya
mampu menatap pilu keadaan.
“Non Jingga yang sabar ya, kita sudah berusaha dengan maksimal”
“Tidak Asih, tidak!”
“Harusnya aku yang mati terbakar di dalam sana. Mereka yang menginginkan aku mati bukan
suamiku”
Huhuhu
“Asih aku tak sanggup melihat semua ini, aku tak sanggup melihat kematian suamiku di depan mata dengan cara yang seperti ini”
Reza mulai bangkit dari tempatnya duduk, ia berlari dengan sempoyongan menuju ke arah Jingga.
“Non, Jingga tenanglah, berharap lah sebuah keajaiban”
“Keajaiban dari mana Za, kamu lihat bukan api yang ada di depan matamu. Semakin besar! Semain besar!”
“Kau juga mengapa meninggalkan suamiku sendirian di sana untuk mencari anak kami. Begitukah caramu menunjukan bukti kesetiaan pada atasanmu”
Jingga berbicara tanpa sadar, entahlah rasa panik, takut dan bersalah menggenapi hidupnya hari itu. Ia begitu hancur, hancur, sehancur- hancurnya. Bahkan rasanya lebih hancur dari bangunan yang ada di depannya.
“Non, maafkan saya, maafkan saya. Sungguh semua ini di luar dugaan kami”
Reza bersimpuh di kaki Jingga, hal yang sama juga di lakukan Asih. beberapa menit
kemudian pertahan Jingga melemah ia turun tersungkur bersama Asih dan Reza. Ketiganya saling menangis’i Fajar dan Gendhis.
“Tolong...tolong” suara seorang laki-laki terdengar melemah yang berada di bagian belakang bangunan hotel.
Benar saja, pria itu adalah Fajar. Ia berhasil membawa Gendhis keluar dari kepungan
api dengan selamat. Namun naasnya kakinya tak dapat di gerakan. Ia jatuh ke bawah membentur suatu bak yang telah di tumbuhi semaki-semak tinggi.
__ADS_1
“Tolong” ucapnya kembali dengan keras, ketika sakit itu semakin terasa dan kakinya tak
dapat untuk di gerakan. Matanya menatap Gendhis, bayi itu seakan sedang merasakan kesakitan yang sama.
“Tolong..tolong..tolong”
Seakan ada ikatan batin yang tercipta antara belahan jiwa dan juga anak. Jingga lekas
mendongak menatap langit. Matanya dengan segera mengedar mencari arah sumber suara.
“Tolong..tolong. aku ada di sini” Teriak kembali Fajar di sisa tenaganya yang ada. Ia tak mengerti posisi saat ini berada di mana?, belakang, depan atau bahkan samping. Kepulan asap yang membelenggu dan menutupi membuat pandangannya terbatas. Ia khawatir akan kesehatan dan keselamatan Gendhis, bayi itu terlalu dini untuk menghirup udara yang semacam ini.
“Aku mendengar teriakan suamiku”
“Aku mendengar suara mas Fajar”
Jingga lekas berlari menuju sumber suara di sisa tenaganya yang ada. Ia pergi begitu saja meninggalkan Asih dan Reza yang masih di tempat. Telinganya kembali mencoba fokus untuk mendengarkan letak sumber suara yang ada.
“Tolong aku di sini”
Fajar terjatuh di semak-semak yang tinggi membuatnya tak terlihat tertutup tingginya
semak.
“Sabar ya nak, kita akan segera selamat. Kamu pasti merasakan gatal-gatal dan panas ya”
Fajar berkali-kali memberikan kecupan pada bayinya. Ia berusaha untuk menenangkan bayi itu yang mulai gelisah.
“Tolong”
“Mas, mas Fajar di mana? Mas mendengar ku?”
Teriak Jingga dengan sangat keras yang di susul beberapa petugas damkar lainnya.
“Saya sedang mencari keberadaan suami dan anak saya. Saya tadi mendengar suaranya ada
di sekita sini. Tolonglah pak bantu cari mereka”
“Ini sangat bahaya bu jika mau masuk ke dalam sana”
“Kalian bisa mencari di sekitar sini, aku tadi mendengar suamiku meminta tolong. Kalian
mengerti tidak arti ikatan batin? Heh!”
“Lakukan pencarian, tolong selamatkan mereka”
Reza lekas menghampiri Jingga. “Nona tenanglah saya akan mencari Tuan di sekitar sini,
siapa tahu beliau sudah turun dan selamat”
Reza yang di ikuti petugas damkar lainnya lekas menyusuri kawasan belakang hotel yang
tertimbun semak belukar yang sangat tinggi. Dengan peralat penangkap ular mereka mencari Fajar sebagai antisipasi jika ada ular yang tiba-tiba di temukan.
“Tolong” suara Fajar kembali terdengar.
“Benar itu adalah suara Tuan saya, berarti dia ada sekitar sini”
Kini mereka mulai berpencar untuk mencari keberadaan Fajar dengan segera.
__ADS_1
“Tuan”
“Tuan Fajar”
Beberapa menit kemudian Reza berhasil menemukan Fajar dalam konsisi terjatuh dan pria
itu tidak dapat berdiri.
“Za Tolong selamatkan Gendis, bawa bayiku ke rumah sakit sekarang”
“Baik Tuan, baik” tangan Reza terulur untuk meraih bayi kecil itu. Ia mendekapnya dan
berlari ke arah Jingga. Sementara petugas damkar yang lainya membantu mengevakuasi Fajar.
“Non Jingga, non Tuan Fajar dan Gendhis selamat”
Teriak Reza dengan sangat keras, ia berlari di sisa tenaganya yang ada dengan mendekap bayi mungil majikannya. Bajunya sudah lusuh tak berbentuk, bahkan sebagin dari wajahnya
sudah di penuhi warna hitam.
“Anakku”
“Anakku selamat” Jingga lekas memeluk anaknya dengan tangis.berli-kali ia mengecup wajah sang putri yang terbungkus bad caver.
“Alhamdulilah kamu selamat nak. Bagaimana dengan suamiku?”
Mata Jingga lekas memindai mencari suaminya.
“Sayang” teriak Fajar yang tengah di bopong petugas damkar.
“Mas Fajar” Jingga memberikan Gendhis pada Asih. Ia berlari menuju sang suami dan memeluknya dengan sangat erat.
“Kamu selamat mas? Kamu tidak papa?”
“Aku selamat sayang, aku tidak papa. Bayi kita juga selamat”
Fajar tak bisa membalas pelukan Jingga, tangannya masih berpegang pada petugas damkar yang kini berada di sisi kanan dan kirinya.
Hu Huhu
Tangis haru tak dapat di hindarkan lagi.
“Tenanglah sayang aku tidak papa”
“Mas apa yang terjadi padamu? Kenapa dengan kakimu? Kenapa tidak bisa berdiri sendiri”
Segenap pertanyaan dan rasa cemas kembali hadir ketika menyadari Fajar tak membalas
pelukannya.
“Aku tidak papa sayang, ini hanya luka ringan. Sebentar lagi semuanya akan membaik. Tenanglah jangan panik”
“Mas jangan tinggalkan aku, aku takut. Maafkan aku yang telah pergi dari rumah tanpa berpamitan”
Urat malu Jingga rasanya putus saat itu juga. Ia bahkan kembali memeluk Fajar dengan sangat erat meski ada dua orang yang berdiri di samping suaminya untuk membantu pria itu tetap bisa berdiri dengan tegaknya.
“Non Jingga, Non nafas Gendhis terlihat lebih pendek dari biasanya. Sepertinya ia
terkena sesak nafas. Kita harus lekas membawanya ke rumah sakit”
__ADS_1
Teriak Asih yang masih setia menggendong anak majikannya.
“Astaga apa yang terjadi pada anakku?”