
“Tuan, ini adalah rekaman Cctv-nya yang ada di pintu masuk hingga kamar Non Jingga” Reza menyerahkan sebuah Cctv pada Fajar.
“Ini adalah hasil lab tentang kandungan minuman yang telah di minum Non Jingga sebelum insiden itu terjadi” Reza menyerahkan map besar wara coklat di tangannya.
Fajar mulai membuka map tersebut. Matanya memindai satu persatu tulisan yang ada dalam lembar demi lembar laporan di depannya.
“Za, ini maksudnya apa?” Pandangan Fajar, tertuju pada salah satu tulisan yang ada dalam map tersebut.
“Obat untuk mempercepat persalinan?”
“Iya Tuan, benar. Sesuai dengan analisis yang di lakukan Dokter Ambar beberapa hari yang lalu, jika Non Jingga mengalami keracunan. Ada orang yang dengan sengaja mencampurkan obat ini ke dalam minuman Non Jingga”
“Apa?” ekpresi wajah Fajar mulai tak biasa. Ia sedikit murka mendengar penuturan yang baru saja di lontarkan Reza.
“Obat ini biasanya di gunakan oleh para Dokter, untuk mempercepat rangsangan kontraksi pada Ibu yang hendak melahirkan”
“Maksud kamu obat ini akan memaksa seorang bay untu lahir?, tak peduli berapapun usianya saat itu?”
“Betul Tuan” Reza, mengangguk menyetujui pendapat Fajar.
“Siapa yang memberikan minuman ini pada Jingga?”
“Menurut hasil rekaman CCTV yang ada di sini. Susi yang memberikan minuman itu pada Non Jingga”
“Panggil Susi sekarang!” perintahnya dengan lantang.
“Mas, aku rasa kamu harus tenang jangan emosi seperti ini. Aku yakin Susi tidak bersalah, dia tidak tahu tentang apa yang ada dalam minuman itu” Jingga mengelus lembut punggung sang suami mencoba untuk menenangkan.
“Bagaimana aku bisa tenang, sedang nyawa kamu dan bayi kita baru saja menjadi taruhan atas semua yang terjadi saat ini”
Huft....
Jingga menghela nafas panjang. Ia juga tidak bisa menyalahkan Fajar jika saat ini dia sedang menyalahkan Susi, bukan tanpa alasan sebab Susilah pelayan Jingga. Ia yang kerap kari memberikan sesuatu yang di butuhkan Nona mudanya.
“Tuan, panggil saya?” wajahnya sudah pucat pasi seperti kehilangan darah, padahal Susi belum di interogasi. Tapi mimik wajahnya sudah ketakutan lebih dalu, terlebih ketika melihat wajah garang Fajar saat ini.
“Kamu yang mengambilkan susu Jingga sebelum dia masuk ke rumah sakit?”
Susi mengangguk, ia mengiyakan pernyataan Fajar.
“Kamu tahu jika di dalam susu itu ada obat khusus yang dapat membunuh Jingga dan bayinya?”
__ADS_1
Mata Susi terbelalak, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja di dengar.
“Tidak Tuan, saya tidak tahu. Sungguh saya hanya membuat susu seperti biasa” Susi bersimpuh di kaki Fajar, wajahnya memelas memohon rasa iba dari majikannya.
“Bagaimana aku bisa percaya denganmu? Sedang kamu yang setiap hari melayani istriku?”
“Tuan sebaiknya kita periksa kembali CCTV yang ada” ucap Reza yang tak kuasa melihat mimik wajah Susi.
“Silahkan” Reza mulai memasukan memory card menyambungkannya dnegan laptop. Semua mata tertuju pada layar yang ada di depan mereka.
Pukul 07.00 Susi sedang menuju ke dapur untuk membuat susu, tidak ada yang mencurigakan di sana. Ia mulai menuangkan susu bubuk itu dalam gelas dan mengisinya dengan air.
Pukul 07.05 susu coklat untuk ibu hamil sudah siap di hidangkan. Susi menutup gelas tersebut agar terhindar dari lalat dan untu menjaga kestabilan suhu susu dalam gelas.
Pukul 07.07 Susi meningalkan dapur, ia sedang menjawab panggilan seseorang yang tidak tahu persisnya.
“Kamu ingat siapa yang memanggilmu saat itu?”
Susi menggelengkan kepalanya pelan. Saat itu setelah saya membuat Susu ada seorang wanita yang berteriak minta tolong dan sedang kesakitan. Saya spontan lari meningalkan dapur menuju sumber suara. Namun anehnya saat saya menuju sumber suara di sana tidak ada apa-apa. Semuanya hening dan nampak biasa saja.
“Suara itu berasal dari mana?”
“Apa kamu mengenal suara itu?”
Susi menggelengkan kepalanya dengan pelan. Saya tidak tahu pasti, yang jelas itu suara wanita yang sedang kesakitan dan minta tolong.
07.15 Susi kembali ke dapur, ia mengangkat gelas dengan tutupnya dan berjalan menuju kamar Jingga.
“Tunggu Tuan, untuk rekaman CCTV pukul 07.08 sampai 07.15 tidak ada” ucap Reza kemudian. Ia mulai mencondongkan tubuhnya untuk semakin mendekat ke layar monitor laptop, hal yang sama juga di lakukan oleh Fajar.
“Kau benar Za, cari rekaman CCTV area sekitar dapur”
Tanpa banyak bicara Fajar lekas memanggil salah satu petugas keamanan di rumahnya, untuk mengambil rekaman sekitar area dapur saat itu juga. File mulai di masukan ke dalam laptop. Baik Fajar maupun Reza dengan cukup antusias melihat apa yang ada di depannya.
“Tidak ada apa-apa Tuan”
“Coba putar kembali dan buat dengan mode pelan”
Reza menurut semua perintah Fajar.
“Tunggu Tuan! Siapa wanita ini?” Tanya Reza dengan beberapa kali menghentikan laju CCTV, ia seakan sedang mencari moment yang tepat untuk bisa menangkap wajah wanita itu.
__ADS_1
“Zoom”
“Apa kamu mengenal wanita itu Sus?”
Susi hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Tapi dia memakai baju seperti para pelayan di sini. Panggil Bi Asih sekarang!”
.
.
.
“Bi Asih, apa kamu mengenal wanita ini? Apa dia salah satu pelayan di sini juga?”
Bi Asih ketua pelayan yang ada di rumah Jingga, mulai mengamati wajah wanita yang ada di monitor layar. Ia berkali-kali mendekatkan tubuhnya mencoba untuk memastikan.
“Maaf Tuan, tapi saya tidak mengenal wanita itu. Dia bukan pelayan di sini. Saya hafal betul siapa saja pelayan yang ada di sini”
“Apa dia pelayan yang baru?”
“Menurut saya tidak Tuan. Setiap pelayan yang baru masuk dalam rumah ini harus melewati saya terlebih dahulu, bukankah begitu prosedur yang telah Tuan tetapkan sebelumnya”
Hah...
Fajar menghela nafas dengan kasar. Pengamanan yang sudah di rasa ketat di rumahnya masih saja harus kecolongan oleh penyelundup.
“Saya juga tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya Tuan” Asih kembali berbicara dan meyakinkan.
‘Putar lagi Cctv itu Za!”
Pukul 07.08 seorang wanita yang memakai baju pelayan dengan segala aksesoris yang sama dengan pelayan lainnya mulai mengendap memasuki dapur. Ia tampak memindai sekitar dapur, entah apa yang telah di cari. Lantas Cctv di dapur pukul 07.09 hingga 07.15 tida ada rekamnya. Tibalah saat Susi mengambil susu itu dan menyerahkan pada Jingga, Cctv hidup kembali.;
“Saya rasa ada Cctv memang sengaja di matikan Tuan” ucap Reza kemudian.
“Bukankah aku sudah bilang, periksa secara berkala kondisi Cctv di rumah ini. Pastikan semuanya menyala dengan benar!” Ucap Fajr tepat di depan petugas kemanan.
“Saya sudah melakukan pemeriksaan berkala Tuan, tidak ada masalah sama sekali sebelumnya” jawabnya dengan takut.
“Lantas bagaimana bisa seorang penyusup masuk dan kau tidak mengetahui itu!”
__ADS_1